Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PENUH DOSA 2
Aku menggendong tubuh Vika memasuki rumahnya yang kini terlihat dipenuhi barang-barang yang kami beli tempo hari. Kubawa tubuhnya langsung kekamar. Menurunkannya dengan perlahan keatas ranjang kayu berwarna putih dengan kasur terbalut sprei merah muda.
Wangi semerbak bunga sedap malam disudut kaca rias Vika semakin membuatku gelap mata.
Kuciumi lehernya hingga membuatnya mendesah semakin memacu hasrat biologiku. Vika juga terus menerus mengundangku dengan sentuhan-sentuhan menggetarkan setiap belai jemarinya disekujur tubuhku.
Hhh.... Aku terpancing. Menyingkap gaun Vika yang menutupi paha mulusnya. Menciuminya dari atas kepala hingga ujung jari kakinya. Vika membuatku khilaf dan akhirnya menerobos palang pintu yang memang sudah sejak lama menunggu kubuka.
Malam ini malamku penuh dosa. Aku menangis merasakan bahagia yang berbeda. Ada senang ada juga sedih disana. Aku tak tahu, lebih dominan kemana. Tapi malam ini, Ranti dan Jingga seolah menghilang dari fikiranku. Berganti dengan kerakusan dan sifat binatangku ******* dan menikmati Vika yang juga menyukainya.
Aku telah menjadi hewan piaraan yang tak lagi punya hati nurani. Menjilat dan meremas semua yang tersaji. Begitu lezat karena syetan ikut berpesta pora bersamaku.
Aku tak sangka, bahwa aku bisa bertindak kejam seperti ini. Kami melakukannya lagi dan lagi. Hingga tersadar kalau burung kebanggaanku terasa perih karena lecet.
Vika juga sudah menyerah kalah terlentang tak berdaya dengan tubuh tanpa sehelai benangpun menutupinya. Aku bergegas ke kamar mandi. Mengguyur tubuhku yang panas karena nafsu birahi. Menangis ditengah guyuran shower yang menghujaniku karena kebodohanku.
Dika Dewantara. Kamu kalah oleh nafsumu sendiri. Kamu kalah dengan hatimu sendiri. Semua yang kamu bangun perlahan, kerja keras, usaha dan cinta..... ambruk seketika diatas fondasi iman yang lemah. Kamu pria paling menjijikkan sekarang ini. Kamu tidak bisa lagi berdiri tegak dengan segala aura kebanggaanmu. Hhh... !!!
Aku menangis dalam diam. Diantara setiap tetesan shower. Lama aku menyesalinya.
Aku telah melakukannya. Kesalahan yang selama ini aku takutkan. Dan aku akhirnya terjatuh dikesalahan itu. Ranti, maafkan aku! Jingga, maafkan papa, Nak!"
Aku masuk kamar Vika. Vika sudah tertidur lelap sekali. Tubuhnya pun sudah terbungkus selimut. Aku mengambil hp-ku. menulis pesan di wa Vika, yang isinya memberitahukan kepulanganku. Aku juga mengatakan, bahwa kekhilafan ini cukup untuk yang pertama dan terakhir kali. Karena aku tak ingin menyakiti hati Ranti. Aku memintanya mengerti aku.
Pukul 2 malam aku pulang kerumah. Perlahan berjalan memasuki kamar. Pintunya terbuka dan kulihat istrikutertidur di bawah ranjang dengan wajah menghadap ranjang Jingga.
Kuraih tubuhnya dan menaruhnya diatas ranjang. Ranti terkejut. Ia memandangku dan meraih pinggangku. Dipeluknya aku dengan erat.
"Maafin aku, mas! Maaf ya mas!... Tolong maafkan aku! Please mas...!! Itu murni kesalahanku. Semuanya!"
Aku menelan air ludah. Merasa amat bersalah mengingat apa yang kulakukan dengan Vika.
Kuraih tangan Ranti. Membawanya kebibirku dan menciumnya. Ranti menangis dibahuku.
"Tidurlah, yang! Kamu pasti lelah seharian ini. Yuk, tidur! Besok aku juga ada rapat bersama para pemegang saham. Ada presentasi baru dikantor bulan ini."
"Iya mas!"
Aku mencium kening Ranti. Memeluknya diatas tempat tidur. Berusaha melupakan semua yang terjadi malam ini. Istirahat adalah jalan terbaik saat ini untukku. Walau kutahu akan sulit memejamkan mata karena pengaruh wine juga diminumanku tadi.
....
Keesokan hari semua berjalan seperti biasa. Aku pergi bekerja dan Ranti seperti biasa mengurus Jingga dan rumah. Istriku adalah istri yang baik. Dan selalu kusyukuri semua itu.
Pukul 9 pagi Vika mengirimkan pesan di wa ku. Ia hanya mengatakan maaf, dan akan selalu mengerti diriku. Itu saja. Tak ada kata lain.
Aku berdebar dengan harap-harap cemas, apakah Vika masih akan mengirimiku makan siang seperti biasa. Tapi ternyata tidak. Aku senang tapi juga sedih. Semudah itukah ia memahamiku setelah apa yang kami lakukan semalam? Apakah Vika memang hanya ingin bertaruh bahwa aku bisa memberinya kenikmatan dan setelah didapatnya ia hanya tertawa puas menyaksikan kebodohanku mengikuti permainannya? Hhh....entahlah. Aku bukan pria berpengalaman dalam bercinta. Hanya Ranti satu-satunya wanita yang pernah kupacari dan kutiduri selama ini. Entah permainanku bagus atau standar, aku tak tahu dan tak bisa menilai.
Makan siangku terasa begitu hambar. Hingga tersisa banyak dipiring. Aku kembali tenggelam dalam kesibukan.
Tak ada pesan lagi dari Vika. Membuatku bertanya-tanya. Apakah diriku kurang memuaskannya semalam? Bukankah kami melakukannya berkali-kali? Bahkan bila kuingat melebihi kegiatanku ketika malam pertama bersama Ranti. Apa aku kini sudah tak lagi membuatnya tergoda lagi? Apa ada yang salah yang kuperbuat semalam padanya?
Haissh!.... Aku mengusap wajahku. Pergi kewastafel toilet kantorku. Membasuh wajahku yang memanas karena fikiranku.
Aku harusnya senang, Vika tak lagi menggangguku. Bukankah itu yang aku inginkan selama ini? Bukankah momen-momen ini yang kutunggu sedari dulu? Agar aku kembali menjadi diriku yang dulu.
Ataukah saat ini Vika mulai memburu pria lain yang menggoda hatinya? Kembali mencari pria yang bisa memenuhi hasratnya?
Hhh....! Kenapa aku ketakutan ketika memikirkan itu. Kenapa juga ada getar cemburu mengaliri nadiku. Pusing kepalaku!
Ranti menelponku, memintaku menjemput ayah menginap dirumah kami. Karena besok ada gladi resik manasik di tempat travel umroh ayah. Bapak mertuaku sudah lebih dulu dirumah. Aku mengiyakan.
Aku harus fokus pada keluargaku. Tidak boleh terus memikirkan Vika. Apalagi saat ini kami sedang sibuk menyiapkan keberangkatan ayah dan bapak umroh minggu ini. Bahkan Ranti berencana mengadakan syukuran dirumah kami dengan mengundang tetangga dan beberapa anak yatim piatu.
Ranti sudah bersusah payah mengurus semuanya ditengah kerepotannya mengurus Jingga yang tengah aktif-aktifnya pertumbuhannya. Dan aku sebagai suami bukannya membantu justru sibuk memikirkan wanita lain diotakku. Kutepuk dahiku membuat Cecil yang kala itu memberiku buku akuntansi langsung berkata,
"Ada yang salah bukan, Pak?"
"Oh engga' Cil! Semua bener koq!"
"Saya fikir ada yang salah, pak! Hehehe...!"
"Thanks ya Cil!"
"Sama-sama pak!"
Aku tersenyum malu. Hhh...! Ayo, fokus! Fokus! gumamku dalam hati. Sebentar lagi Ashar. Aku bergegas meninggalkan meja kerjaku supaya bisa duduk di shaf paling depan di mushola gedung. Aku harus lebih tekun beribadah, meminta maaf pada Allah atas kebejadanku semalam.
Lepas pulang kantor aku kerumah ayah. Menjemputnya seperti permintaan Ranti.
Malam ini rumah kami ramai. Ada ayahku, bapak Ranti dan juga adiknya beserta istrinya yang baru 9 bulan dinikahinya.
Kami makan bersama dengan riang gembira. Celotehan Jingga kadang menjadi bahan tawaan kami. Malam ini Jingga bintangnya.
Aku oenasaran akan kabar berita Vika. Dengan hati-hati menyelidik bertanya pada Ranti.
"Tumben sahabatmu itu ga gangguin kita." kataku memancing jawaban Ranti.
"Oh, Vika! Katanya dia mulai sibuk ikut seminar-seminar. Buat jadi bahan acuan mau buka usaha apa gitu mas! Vika juga coba cari teman, buat bantu dia nanti."
"Syukur deh!" timpalku sekenanya. Padahal aku sedih juga mendengarnya. Itu pertanda ia benar-benar sudah melepasku dan kembali cari buruan baru yang lebih menggoda hatinya.
Hhh..... ternyata hanya segitu saja rasa cintanya padaku. Tidak seperti ucapannya yang memintaku untuk selalu disampingnya. Ternyata semua omongnya hanya bullshit semata. Kata-kata manis bibir beracun wanita. Sial, aku hampir mempercayai omongannya.
Bersambung-
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..