💞 NOVEL ini sedang dalam tahap REVISI demi perbaikan kualitas karya. Namun, alur dan isi tetap sama. Pemberitahuan akan saya hapus setelah REVISI SELESAI. Terimakasih.
Bunga seorang gadis desa yang mengawali karirnya sebagai karyawan biasa menjadi seorang asisten pribadi CEO tampan dan mapan yang sangat cemerlang di kantornya, harus pasrah dengan keadaan. Setelah berpisah dengan Dirga, lelaki yang sudah menjadi tunangannya dalam waktu empat tahun karena perjodohan kesalah pahaman keluarga saat itu. Dia pergi menjelajahi tempat-tempat yang pernah di singgahi untuk mengenang jejak kebersamaan mereka. Hidup begitu pilu baginya. Hingga ia teringat dengan seseorang yang selalu ingin ada di dekatnya.
Bunga mengenang kegagalan percintaan di masa lalunya dan bercerita pada kakak angkatnya Jeny. Namun belum sempat Bunga menceritakan keseluruhan kisah hidupnya, Jeny mengatakan agar Bunga tidak perlu risau akan hari esok, sebab Ryan sang CEO tampan mantan bosnya akan membuatnya bahagia.
Nb: Ini kisah sedih petualangan hidup gadis desa, menguras emosi dan air mata.
"Jika penasaran... baca terus lanjutan ceritanya ya... jangan lupa like dan komentar positifnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang Lia Taufik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghilang Tanpa Kabar
Bunga terkulai lemas tak sadarkan diri dalam pangkuan Ryan, Ryan memilih duduk di kursi belakang agar bisa membaringkan tubuh Bunga. Sementara Ferdi memilih mengemudikan mobil milik Ryan. Ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Tak lama kemudian mereka berada di ruang UGD sebuah Rumah sakit.
Ryan berjalan mondar-mandir cemas sebab dokter tak kunjung keluar dari ruangan tempat Bunga di rawat.
"Pak ..." panggil Ferdi yang mengagetkan Ryan seketika.
"Ada apa?" tanya Ryan.
"Bunga tidak ada keluarga disini, administrasi nya atas nama kantor ya Pak?" tanya Ferdi yang membuat Ryan geram.
"Kamu hal kayak gitu saja tanya, kalau tahu sedang genting ya Kamu harus bisa ambil keputusan sendiri dong?!" jawab Ryan marah membentak Ferdi sebab sedang mencemaskan keadaan Bunga.
"Maaf Pak ... saya cuma takut salah!" balas Ferdi kemudian.
"Kamu hubungi siapa dari tadi?" tanya Ryan penasaran.
"Dirga Pak," jawab Ferdi yang membuat Ryan semakin murka mendengarnya.
"Apa? Untuk apa?!" tanya Ryan yang tersentak kaget dan semakin geram dengan perlakuan Ferdi.
"Dia tunangan Bunga Pak, nanti keluarga akan menyalahkan pihak perusahaan jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada Bunga. Dirga yang berkewajiban menjaganya, Bunga tanggung jawabnya saat ini." jelas Ferdi.
"Baiklah, lakukan jika memang prosedur. Tapi ingat, kabari aku jika Dirga tidak mau datang kemari!" ucap Ryan yang memberikan perintah pada Ferdi.
"Nggak diangkat Pak, sudah 25x panggilan lebih. Saya bahkan juga sudah mengirimkan pesan juga." jelas Ferdi.
"Hubungi Jeny, suru ambil pakaian ganti untuk Bunga dan segera kemari. Jeny akan menjaga Bunga, malam hari aku akan menggantikan nya nanti." ujar Ryan kemudian.
"Baik Pak, Bapak mau kembali ke kantor sekarang?" tanya Ferdi yang membuat Ryan berbalik dan menatap tajam Ferdi.
"Tentu saja aku akan menemui Bunga terlebih dulu, lagi pula Jeny belum sampai kemari." jawab Ryan, kemudian seorang dokter berjalan menghampiri nya.
"Maaf Pak ... siapa keluarga dari Saudari Bunga?" tanya dokter yang menangani Bunga.
"Keluarganya jauh dokter, saya boss nya. Ada apa ya dok?" tanya Ryan yang penasaran dengan keadaan Bunga.
"Tidak, Mbak Bunga sudah sadar dan sudah bisa di temui. Tapi masuknya bergantian ya?!" ucap dokter tersebut kemudian berlalu pergi.
Ryan meminta Ferdi menunggunya di mobil, sebelum itu Ferdi mengurus administrasi Bunga terlebih dahulu. Sementara Ryan memilih menemui Bunga dan menjaganya sembari menunggu kedatangan Jeny untuk menggantikannya.
"Bunga ... kamu kenapa?" tanya Ryan sambil mengelus lembut rambut di kepala Bunga.
"Saya hanya lelah Pak, maaf saya ijin tidak masuk kerja dulu." balas Bunga sambil menundukkan kepalanya.
"Hal terpenting adalah kamu sembuh dulu. Usahakan hubungi tunangan kamu, agar nanti perusahaan tidak di salahkan keluargamu. Jika ada apa-apa jangan ragu memberi tahuku!" jelas Ryan sambil tersenyum sinis ketika menyuruh menghubungi Dirga.
"Baik Pak," balas Bunga sambil meraih gawai diatas nakas.
"Gimana? Ada kabar dari tunangan kamu?" tanya Ryan.
"Panggilan telepon saya tidak di jawab Pak, saya kirim pesan pun tidak ada jawaban." jawab Bunga dengan wajah sendu dan berkaca-kaca.
"Kamu nggak usah khawatir, nanti malam aku akan datang bersama Ferdi. Aku kembali ke kantor dulu ya?! Kamu istirahat biar cepat sembuh, untuk sementara Jeny akan menemani kamu." jelas Ryan sambil tersenyum dan menunjuk Jeny yang telah memasuki ruang perawatan Bunga kala itu.
Ryan pun meninggalkan Bunga dan Jeny untuk kembali ke kantornya.
"Bunga, Dirga ada kabar enggak? Kata si Ferdi gak bisa di hubungi?" tanya Jeny yang prihatin dengan kondisi Bunga.
"Enggak kak." balas Bunga dengan wajah sendu.
"Kamu kalau ada apa-apa ngomong sama kakak saja Bunga, gimana kakinya?" tanya Jeny khawatir.
"Masih panas kak, padahal udah di oles salep." jawab Bunga.
"Sudah makan?" tanya Jeny sambil mengeluarkan berbagai macam roti dari tasnya.
"Sudah kak." jawab Bunga singkat.
"Tidur sana, aku nunggu sambil tiduran di sofa ya?!" ucap Jeny sambil tersenyum ramah. Kemudian mereka berdua pun tertidur lelap.
"Bangun Jen ...!!" teriak Ferdi yang mengagetkan Jeny seketika. Ferdi mengguncang-guncangkan tubuh Jeny berkali-kali tapi tidak lekas bangun.
"Uuuh ... kamu bikin kaget saja." balasnya sambil menggeliat dan suara serak khas bangun tidur.
"Ada Pak Ryan, ayo aku antar pulang sudah malam." ucap Ferdi kemudian.
"Aku nggak mungkin tinggalin mereka berdua." ucap Jeny dengan wajah sendu.
"Tenang saja, saya tidak akan membiarkan nama putra saya tercemar!! Tapi saya juga tidak mungkin membiarkan Bunga sendirian jauh dari keluarganya. Kami berdua yang akan bermalam disini. Kalian pulang saja, besok kerja." kata Mery yang membuat Jeny tersentak kaget dan langsung berdiri. Sementara Bunga tersenyum melihat tingkah kakak angkatnya tersebut.
Saat Jeny hendak pulang, Bunga berteriak memanggil hingga Jeny membalikkan badannya.
"Kak ...!!! Bantu aku mandi dan ganti baju dulu." rengek Bunga pada Jeny.
"Aduh ... maaf ya dek, kakak lupa." ucap Jeny yang kemudian membantu Bunga lalu berpamitan pulang.
Ryan mengamati pergerakan Bunga sambil duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut tanpa berkedip. Bunga yang menyadari prilaku Ryan menundukkan wajahnya.
"Bunga ngobrol sama Ryan dulu ya, Ibu mau beli keperluan kamu Bunga?!" ujar Mery yang membuat Bunga menganggukkan kepalanya.
"Bu ... jangan repot-repot, Bunga tidak butuh apa-apa." jawab Bunga.
"Ah nggak repot kok, Ryan titip Bunga sebentar ya?!" ucap Mery kemudian berlalu pergi.
Ryan berjalan mendekati Bunga, dan mengelus rambutnya dengan lembut.
"Kakinya masih terasa panas?" tanya Ryan yang melihat telapak kaki Bunga memerah.
"Sudah mendingan Pak, tolong jangan sentuh saya Pak. Bunga sudah bertunangan, lagi pula tidak enak jika ada yang lihat. Bapak harus jaga nama baik keluarga dan perusahaan Pak!" jelas Bunga yang membuat Ryan semakin mendekatkan wajahnya, Bunga gemetar ketakutan saat Ryan menatapnya tajam.
"Aku lebih paham harus bersikap apa." jawab Ryan kemudian memundurkan tubuhnya.
"Kamu membuatku marah Bunga, pertunangan ini bukan keinginan kamu tapi kamu terima, memangnya kamu tidak curiga dengan Dirga yang selalu tiba-tiba pergi tanpa kabar?" tanya Ryan dengan wajah merah padam menahan amarahnya.
"Itu keputusan orang tua saya Pak, saya nggak mau jadi anak durhaka dengan penolakan. Kata ayah pantang menolak lamaran, nanti bisa gak laku." jawab Bunga dengan wajah polosnya membuat Ryan tertawa terbahak-bahak.
"Kamu percaya?" tanya Ryan menggoda.
"Ya ... iya Pak," jawab Bunga.
"Tahu gitu aku yang lamar Kamu lebih dulu." ujar Ryan sambil tersenyum.
Mery kembali sambil membawa paper bag berisi beberapa baju yang sengaja ia beli untuk Bunga.
"Besok sudah boleh pulang kok Bu?! Kenapa beli bajunya banyak banget?" tanya Bunga.
"Enggak apa-apa buat baju ganti." jawab Mery sambil tesenyum ramah.
"Aku boleh tanya?" tanya Ryan lagi.
"Tentu Pak, ada apa?" balas Bunga yang kembali bertanya sambil melirik Ryan.
"Kamu kenapa tadi bisa tiba-tiba pingsan di kantor?" tanya Ryan yang penasaran dengan penyebab Bunga yang akhir-akhir ini kurang fokus dalam bekerja.
Bunga membelalakkan matanya terkejut dengan pertanyaan Ryan, Bunga bingung harus menjawab apa. Sedangkan ia tahu tidak mungkin berkata jujur jika Dirga menyuruhnya menyiapkan segala keperluannya, sebab itu hanya akan menambah amarah Ryan saja.
Bersambung ...
🍁 Jangan lupa kasih jempol dan komentar positifnya ya...
🍁 Jangan lupa sumbangan vote-nya ya... biar aku semakin semangat berkarya.