WAJIB FOLLOW AKUN OTHOR!!!
Dan ngobrol bareng di GC BULAN ( Grupnya cek profil )
Nadira tidak pernah menyangka dengan pernikahan yang ia pilih ternyata jalan menuju luka.
Ia dipaksa menjadi babu yang secara suka rela menyumbangkan tenaga, hati, dan juga pikirannya.
Begitu malangnya nasibku ini, yang memiliki suami amat sangat perhitungan bahkan tidak mempunyai pendirian sekalipun.
Hidupnya terlalu bergantung dengan ibunya, sehingga apapun yang ibunya katakan, suamiku tidak pernah membantahnya sedikitpun. Sementara aku? Aku istrinya, tapi diperlakukan sangat tidak adil.
Lalu sanggupkah aku bertahan dalam rumah tangga penuh duri ini?
Apakah suamiku bisa berubah?
Inilah dilema rumah tanggaku..
Selamat menyaksikan !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliraa al syifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Setelah aku putuskan dengan matang, keesokan harinya aku mendatangi kantor pengadilan agama untuk mendaftarkan perceraianku dan Bang Angga.
Aku sangat beruntung, karena tidak perlu menunggu waktu lama untuk mendapatkan surat cerai yang harus aku dan suamiku tandatangani.
Aku mulai mencoretkan tinta di atas maretai yang tertera disurat itu.
"Tandatangani-lah Bang!" Aku menyodorkan kertas itu beserta pulpennya pada bang Angga.
Bang Angga tampak murung dan lesu menatap lembaran kertas di tanganku. Lagi-lagi air matanya mengalir begitu saja.
Tetapi maafkan aku Bang, segimanapun kamu memohon, aku tetap pada keputusan ini, kita bercerai!
"Ra.."Dia memanggil dan menatapku dengan suaranya yang gemetar. Tatapannya memohon, tangisannya adalah reaksi dari keputusan ini, sebuah penyesalan tersirat di matanya.
"Setelah Abang tandatangani, beritahu Dira. Sekarang Dira mau membereskan semua barang-barang milik Dira dan Rama," aku meninggalkan bang Angga yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Aku mulai memasukan satu-persatu pakaian milikku dan juga Rama kedalam bag besar.
Tidak ada keraguan sedikitpun dengan keputusan yang sudah kuambil. Aku tidak ingin berdrama atau melihat banyak drama di rumah terkutuk ini.
4 Tahun lebih sudah lebih dari cukup aku merasakan pahitnya hidup dengan suami seperti bang Angga dan mertua seperti ibunya.
"Apa sudah ditandatangani bang?" Tanyaku saat sudah selesai membereskan semua barang-barang milikku.
"Abang gak sanggup Ra, Abang mohon tarik semua kata-katamu! Abang mohon!" Bang Angga berlutut di hadapanku sambil menangis. Akupun ikut menangis melihat itu, tetapi sekali lagi maafkan aku atas keputusan ini bang. Sekarang saatnya rasa penyesalanmu tiba dan kebebasanku menanti.
"Bangun Angga, bangun! Kamu tidak pantas berlutut pada perempuan gak tau diri ini. Bangun Angga, dan cepat tandatangani surat cerai itu!" Ibu mertuaku meminta anaknya supaya segera menandatangani surat cerai kami.
Tetapi semua itu bagus, karena Bang Angga selalu nurut dengan Ibunya dan pada akhirnya dia menandatangani surat itu.
'Kupikir, kamu akan melawan Ibumu kali ini bang. Tetapi ternyata masih sama, dan keputusanku untuk berpisah darimu adalah hal yang paling tepat' Bathinku.
Aku mulai menenteng koper dan bag besar yang berisi baju-bajuku dan juga Rama.
Aku mulai melangkahkan kaki keluar dari rumah yang penuh kenangan selama hampir 5 tahun itu.
"Tunggu dulu!" Ibu mertuaku tiba-tiba menghentikanku begitu saat saat aku dan Rama melangkah pergi.
"Buka koper sama tas kamu itu, siapa tau barang berharga di rumah ini hilang begitu saja. Secarakan kamu itu sudah bercerai dari Angga, sudah pasti kalian itu sekarang tidak punya apa-apa," ucap mertuaku dan dengan senang hati aku membiarkannya untuk memeriksa koper tmdan tasku sepuas mereka.
"Ibu, jangan keterlaluan dong sama Mbak Dira, semua ini gak perlu bu. Lagian barang berharga apa yang ibu maksud? Bukannya barang berharga itu sudah ibu ambil? Bahkan bukan milik ibu pun merampasnya," ucap Linda.
"Diam kamu Linda, jangan kurang ajar kamu sama orangtua!"
"Orangtua yang bagaimana dulu, kalau orangtuanya seperti ibu itu wajib ditegur, karna ibu sudah salah,"
Plak...
"Abang gak pernah ngajarin kamu buat kurang ajar sama ibu, Linda!" Bang Angga menampar Linda karena ucapannya.
Linda tersenyum kecut,"Dan keputusan Mbak Dira buat ninggalin Abang itu adalah keputusan yang sangat tepat. Selamat datang di masa penyesalan Bang, ini adalah giliranmu, karna aku dan Mas Ilham sudah mengalaminya," Linda berlalu pergi setelah mengatakan itu pada kakak dan juga ibunya.
Like, komen, vote yang banyak ya!
TBC.