NOVEL DEWASA
Dalam bulan-bulan penuh kesepian sesudah kematian ayahnya, seorang gadis belia yang terpaksa hidup dalam pengasuhan paman dan bibinya yang begitu kejam dan menganggap dirinya sebagai beban dan malah memperlakukannya seperti seorang babu -- bertekad melarikan diri saat mengetahui rencana busuk sang bibi yang hendak menjual dirinya ke luar negeri.
Dalam pelariannya, gadis belia 18 tahun itu bertemu dengan seorang bodyguard tampan, Jack Peterson. Sang penyelamat yang memberikannya kehidupan baru dan identitas baru untuknya: Rose Peterson.
Dalam sekejap, segalanya berubah menjadi indah. Selayaknya dalam kisah Titanic, Jack dan Rose saling jatuh cinta.
Sayangnya, kehidupan bahagia seperti itu tidak selalu berjalan mulus. Ketika mereka memutuskan untuk menikah, ancaman datang kepada Rose. Dia harus memutuskan jalinan cintanya dengan Jack demi menyelamatkan nyawa calon ibu mertuanya dari kekejaman musuh yang tak dikenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juliana S Hadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Phobia
Ctek!
Listriknya padam dan segalanya berubah jadi gelap. Gelap gulita. Tanpa setitik pun cahaya. Dan, seketika, jantungku berdebar sangat kencang, seolah-olah hendak keluar dari dada. Dadaku mulai terasa sesak, kesulitan bernapas. Seolah-olah udara di tempatku berada semakin menipis. Aku panik. Aku... aku mulai ketakutan.
"Rose?"
"Lepas. Lepaskan aku."
"Rose, Hei. Kenapa?"
"To--tolong, tolong... lepaskan aku," aku tersengal. Sesak napasku semakin jadi.
Dan, ketika kurasakan tidak ada lagi beban bobot tubuh di atasku, aku beringsut bangkit. Berdiri dengan susah payah, lalu meraba-raba di dalam gelap. Lalu, ketika kurasakan sentuhan tangan memegangi tanganku, aku memekik, kaget, lalu refleks menepisnya.
"Mundur!" pekikku. "Mundur! Jangan dekati aku!" Aku histeris. "Pergi! Pergiiiii...!"
Kembali, aku meraba-raba, kudapati pegangan pintu, lalu membukanya dan segera berlari dari sana. Mencari cahaya.
Cahaya. Di sana. Dari arah pintu beranda yang terbuka.
Dengan dadaku yang sesak, aku berlari, berhenti di tepi beranda. Mencengkeram tepiannya dengan kuat, sementara satu tangan mencengkeram dada. Aku masih saja ketakutan meski sekarang cahaya sudah memenuhi penglihatanku yang kabur oleh air mata. Wajahku sudah basah sedari tadi.
Dalam siksaan rasa sesak itu, kepalaku terasa pusing, dan bayangan wajah ayahku yang sedang sekarat membanjiri ingatanku. Aku terduduk di lantai beranda, lemas.
Ayah sayang padamu....
Suaranya menggema di kepalaku. Kata-kata terakhir yang kudengar darinya itu membuat hatiku sakit. Kata-kata yang terucap di saat ia sekarat -- dengan peluru terbenam di dadanya. Dan darah, tubuhnya bersimbah darah, lalu... lalu dia mengembuskan napas terakhirnya di pangkuanku.
Sesak. Aku tidak suka mengingat kisah itu. Bukan sosoknya yang mati tidak berdaya yang ingin kuabadikan dalam ingatan. Tapi aku tidak bisa lupa. Tidak pernah bisa.
Ini menyakitkan!
Aku terisak.
"Rose?" panggil Bang Jack. Dia berdiri kaku di hadapanku, seolah takut untuk mendekat. Dan, bisa kulihat raut kekhawatiran di wajahnya ketika aku menatap pria yang seakan tak berdaya itu.
Namun, rasa sesak di dadaku belum meredam. Aku merasa resah dan gelisah. "Beri aku waktu sebentar." Aku menarik napas dalam-dalam. Mencoba untuk menjadikan segalanya kembali normal.
Dia mengangguk, kemudian, dengan perlahan dan berhati-hati, ia memberanikan diri untuk mendekatiku. "Tenanglah," katanya, dia duduk menekuk lutut di hadapanku. "Tenang. Aku tidak akan berbuat jahat padamu, oke?"
Aku mengangguk. "Aku tahu," kataku. "Maafkan aku."
"Kamu baik-baik saja, Rose?"
"Aku... aku tidak tahu."
"Apa ada yang bisa kulakukan?"
Aku tidak tahu apa yang bisa dia lakukan. Aku tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi pada diriku.
"Aku takut gelap," akuku. "Aku tidak bisa berada di tempat gelap. Tidak bisa tanpa cahaya. Aku takut. Aku... aku takut."
Dan tangisku pecah lagi.
Lagi, Bang Jack mengangguk. Lalu, dengan perlahan, dia merangkulkan tangannya ke tubuhku dan, memastikan aku tidak akan histeris lagi karena sentuhannya, barulah dia mendekapku. Memberiku pelukan yang erat dan menenangkan. Hingga beberapa saat kemudian, ia menyeka air mataku, lalu bangkit untuk berdiri. Dengan kedua tangan memegangi bahuku, dia berkata, "Listriknya sudah menyala. Kita masuk ke dalam, ya?"
Dia mengangguk untuk meyakinkan aku, dan aku bangkit perlahan-lahan, kakiku gemetar bagaikan batang bunga yang rapuh tertiup angin.
"Biar kugendong," kata Bang Jack lagi.
Aku tidak menyahut, juga tidak mencegahnya. Kubiarkan dia membawaku ke kamarku, lalu mendudukkan aku ke tempat tidur kemudian ia langsung membuka jendela.
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan, masih merasa resah dan gelisah. Ketika melihat handuk yang tersampir di tempatnya, aku bangkit dan masuk ke kamar mandi.
"Kamu mau apa?" tanya Bang Jack.
Aku merasa kacau. Apalagi saat ini, menyadari aku hanya mengenakan pakaian dalam, aku merasa tidak nyaman. "Aku mau mandi," kataku. "Bisa aku membiarkan pintunya tetap terbuka? Aku takut kalau... aku takut gelap."
"Ya. Aku tidak akan masuk," katanya.
Dan aku jadi tidak enak hati. Tapi perasaanku masih kacau. Aku belum ingin membahas apa pun.
Aku butuh waktu....