21+++++ tolong bijak, kalau tak suka bisa di lewati.
cinta adalah anugrah dari Tuhan, dengan siapa kita mencintai itu juga sudah di jodohkan oleh takdir.
Tapi bagi seorang pria seperti Aris, cinta adalah sebuah kesengsaraan dan luka, tapi dia baru menyadari apa itu cinta saat bertemu dengan gadis yang bisa mencuri hatinya di pandangan pertama.
Ayu seorang gadis sederhana yang mampu menggoyahkan hati juragan kasar itu, tapi sebuah kenyataan melukai cinta mereka.
Apa mereka akan bahagia, atau malah akan Sengsara?
Apa cinta Aris tulus atau itu hanya cinta sementara yang membutuhkan kehangatan saja?
Dukung terus yuk karya otor yang satu ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
belah semangka
setelah resepsi, Aris dan Ayu melewatkan malam begitu saja, pasalnya keduanya sangat lelah.
sedang di rumah Eko, pria itu sedang kesusahan karena Ambar yang terus bergerak tak mau diam.
"berhenti dek, kamu bisa teluka, diam dong... mas masih berusaha ini," terang Eko yang sudah bercucuran keringat.
"mas lemah ah... kelamaan sudah kepingin ini..." jawab Ambar.
"ya Allah... kalian begitu heboh masalah mau bukan semangka saja, sudah dini ibu saja," kesal mertua Eko melihat tingkah pengantin baru itu.
Ambi hanya tertawa melihatnya, pasalnya mereka tak mengira jika belah semangka saja serepot ini.
"Ambi, besok di adakan pertunjukan wayang di dekan makam lama bukan?" tanya ayahnya.
"iya pak, sesuai perintah juru kunci, bos juga sudah menyiapkan segalanya," jawab Ambi.
mereka pun beristirahat, pasalnya besok masih ada banyak kegiatan, terlebih pernikahan massal ini baru pertama kali di adakan.
keesokan harinya, Ayu merasakan ada sesuatu yang sedang mengelitiki dirinya.
Ayu terbangun dan kaget melihat suaminya sudah bermain di gunung kembar istrinya.
"mas .... masih pagi... mm..."
"semalam kita kelelahan, sekarang mas meminta jatah milik mas," jawab Aris yang sudah membuat Ayu berteriak dan mendesah.
Aris tak percaya istri kecilnya itu begitu menggoda saat telah melepas segalanya, bahkan rambut panjang hitam itu melengkapi kecantikan istrinya.
mereka pun melakukan hubungan suami istri di pagi itu, ayu berkali-kali meraih kepuasan, tapi Aris masih bertahan dengan kokoh.
akhirnya keduanya pun kelelahan, Aris terus memeluk istrinya itu, bahkan tubuh mereka berkeringat saat AC di kamar itu menyala.
"ah... kamu begitu enak dek, terus membuat ku ketagihan," bisik Aris di telinga ayu.
dia pun malu dan langsung mencubit perut Aris, baru pertama kali ayu melihat tubuh pria.
tubuh kokoh dengan semua otot, bahkan ada beberapa tato juga yang menghiasi tubuh dari Aris.
"mau lagi.."
"nanti saja mas, kita harus ke rumah Mbah, kita sudah kesiangan," mohon Ayu yang sudah merasakan sesuatu lagi.
"mmm..."
mereka pun kembali mengulanginya, bahkan tak ada yang bisa menganggu mereka.
sedang di rumah Ambar dan Eko, keduanya tak jadi menikmati waktu pengantin baru karena jadwal menstruasi dari Ambar.
"maaf ya mas," kata Ambar sedih
"tidak apa-apa, itu juga tak bisa di undur kan," jawab Eko yang mencoba tersenyum.
sebenarnya dia juga merasa begitu tak berdaya, impian malam pertama buyar begitu saja.
"mas mau kemana?" tanya Ambar yang melihat Eko bersiap pergi
"biasa dek, mau ke tempat bos besar, untuk melihat semua persiapan untuk acara nanti malam," jawab Eko.
"baiklah mas, hati-hati ya, oh ya bawa makanan untuk mereka juga, ini pepes ikan kesukaan dari Ayu," kata Ambar.
"siap bos," jawab Eko mencium bibir istrinya.
dia pun bergegas pergi, dan saat sampai di rumah Aris, masih nampak sepi.
Eko menekan tombol bel, tak buruh waktu lama Aris membukakan pintu dan terlihat baru selesai mandi
"seger amat bos?"
"ya biasa lah, kamu mau apa ke sini pagi-pagi?" tanya Aris yang sebenarnya belum mau di ganggu.
"aduh ketusnya, biasa bos, mau membahas sawah, ini juga ada titipan untuk ibu bos," kata Eko menaruh kotak yang di bawanya.
"dia masih tidur karena kecapean karena resepsi pernikahan, sudah, ayo ikut aku ke rumah pak Mun," ajak Aris.
mereka pergi dengan mengunakan motor, sedang ayu di lantai dua melihat kepergian suaminya.
Ayu masih belum mandi karena Aris yang dari tadi tak mau melepaskan dirinya.
"ternyata rasanya sesakit itu, tapi kenapa banyak orang yang menyukainya hingga berzina," kata ayu menyentuh bekas merah yang di berikan Aris.