"aku harus mendapatkan pria dingin itu!" tekad seorang gadis sembari menyeringai.
Dia adalah Queensha Karren Bramantyo yang tergila gila dan terobsesi pada seorang pria bernama Darren Austin Keith yang memiliki paras tampan dan menawan tapi memiliki sifat dingin dan sulit untuk didekati.
Semakin dalam gadis itu menggali informasi tentang pria itu, dia semakin tahu karakter dan latar belakangnya yang menarik.
Bagaimana kisah cinta mereka berdua? apakah Queen berhasil mendapatkan cinta pria pujaannya?
Ini adalah squeel novel DOKTER CANTIK ISTRI KETUA MAFIA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona manies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menemani Queen
"tuan!" Jonathan berdiri, dia tersenyum kaku dan salah tingkah.
Queen yang melihat aura Darren tidak bersahabat segera berlari dan mendekati pria tampan itu "tuan" ucapnya lirih, gadis itu memegang tangan Darren.
Membuat pria itu tersentak tapi tetap membiarkan Queen, tatapan matanya masih belum melembut dan masih setajam silet.
"tolong temani aku jalan yuk" ujar Queen riang, dia tersenyum manis sekali.
Darren tertegun sebentar, lalu melepaskan tangan Queen "ayo pergi jo!" ujarnya tegas, dia segera melangkahkan kakinya tapi lagi-lagi tangannya dicekal oleh Queen.
"oh ayolah tuan.. temani aku jalan, apa kau tidak kasihan melihatku yang seorang gadis cantik dan manis ini jalan sendirian?" ujarnya memohon tapi diselipi pujian untuk dirinya sendiri.
Pria angkuh itu menghela nafas panjang, dia melangkah pergi begitu saja meninggalkan Queen.
"tuaaan... teganya dirimu" ujar Queen mulai mendrama "kalau begitu kakak Jo saja yang menemaniku" ujarnya sembari tersenyum manis pada pria itu.
"kakak jo?" Darren menoleh dan menatap tajam Queen yang tampak tak mempedulikannya lagi, sekarang gadis itu malah berbicara terus menerus pada asistennya.
Pria itu merasa kesal tiba-tiba, tangannya terkepal erat "ayo!"
Queen dan Jonathan menoleh kearah wajah garang pria yang berdiri beberapa langkah didepan mereka, mereka berdua saling tatap karena bingung sebenarnya siapa yang dia ajak.
Darren melangkah mendekati kedua orang yang masih saling diam , lalu menarik tangan Queen agar menjauh dari asistennya "kau pulanglah dulu!" ujarnya tanpa menoleh kearah Jonathan.
Jonathan mengangguk "baik tuan" menunduk sembari melipat mulutnya kedalam, dia sekuat tenaga menahan agar tawanya tak meledak melihat kelakuan big boss nya itu.
"anda cemburu kan tuan?" begitulah arti tatapan Jonathan saat ini, dia yang memang supel dan mudah akrab dengan siapa saja tentu akan cepat nyambung saat dihadapkan dengan gadis se bawel Karren, tapi siapa sangka kalau tuannya itu malah memberikan reaksi tak terduga.
Bukankah dia selalu kesal jika digoda oleh Karren? tapi tadi.. dari tatapan matanya Jonathan dapat mengartikan kalau tuannya itu sedang cemburu padanya.
Sedangkan disisi lainnya, Darren masih menggenggam tangan Queen.
Gadis itu sesekali memperhatikan tangan mereka yang masih tertaut, hatinya berbunga dan jantungnya berdendang sedari tadi.
Queen yang biasanya selalu berbicara terus sekarang diam seribu bahasa, sepertinya gadis itu tengah menikmati moment dan kalau sampai dia bicara sudah pasti pria itu langsung melepaskan tautan tangan tersebut "jangan bicara dulu.. tahan.. tahan.."
Tapi setelah sekian lama, Darren masih tak berbicara membuat mulut Queen gatal saja "kita mau kemana?" akhirnya bertanya juga karena penasaran dan sudah tak tahan untuk terus diam.
Dan benar saja, saat Queen berbicara pria itu seperti tersadar lalu melepaskan tangannya "maaf" ujarnya kikuk.
Queen tersenyum lalu menggandeng tangan Darren kembali "aku suka kok, jadi jangan dilepas" menarik tangan itu lalu menariknya agar melangkah mengikutinya.
Darren menarik sedikit sudut bibirnya, entah kenapa tadi saat melihat keakraban gadis ini dan asistennya hatinya merasa panas dan pias, entah apa yang dia rasakan tapi melihat gadis yang selalu menggodanya begitu akrab dengan laki laki lain dia tak terima.
Queen membawa Darren menuju stand ice cream, dia memesan untuk dirinya sendiri "anda mau?" tanyanya dan dijawab gelengan kepala dari pria itu, Darren memang tak terlalu menyukai makanan manis.
Queen mengangguk, lalu melepaskan tangannya yang masih menggenggam tangan Darren untuk mengambil dompet.
Tanpa diduga Darren menarik tangan Queen kembali, lalu membayar ice yang sudah ada ditangan gadis itu.
Queen sedikit tertegun tapi setelah itu senyum samar tercetak jelas dibibir tipis miliknya, dia mengikuti langkah kaki pria yang masih menggandeng tangannya, Darren mencari tempat duduk agar gadis itu dapat menikmati ice dengan nyaman.
Setelah menemukan bangku dan duduk bersisian Queen menoleh kearah wajah pria yang tampak dingin itu "tuan.. sebenarnya anda kenapa?" Queen yang melihat Darren bersikap seperti itu heran, tapi cenderung ke takut.
Mengulurkan tangannya mengecek suhu tubuh pria itu "tak panas kok!" ujarnya, tapi melihat sikap yang berubah padanya menjadi seratus delapanpuluh derajat membuatnya benar benar ngeri.
"atau tadi sebelum kesini kepala anda terantuk sesuatu?"
Darren mendengus mendengar ocehan gadis cantik itu "diam dan makanlah ice itu!"
Queen mengangguk menurut saat suara Darren mengintrupsi, sesekali dia melirik pria yang masih saja diam memperhatikan lalu lalang orang yang lewat "dia kenapa sebenarnya? jangan jangan dia berbuat baik begini ada maunya" mulai muncul pikiran negative gadis itu.
"jangan sampai nanti dia malah membawaku lalu membunuhku! karena selama ini aku selalu mengganggunya" melirik dengan takut "tapi tak mungkin lah.. kalaupun dia berbuat jahat sudah pasti dialah yang akan mati terlebih dahulu! aku kan gadis hebat kebanggaan dad Arsen yang menguasai ilmu bela diri"
Darren menoleh kesamping saat tak mendengar suara gadis itu, dapat dia tangkap dari tatapan mata Karren kalau saat ini dia sedang curiga padanya "apa?" tanyanya ketus dijawab gelengan kepala oleh Karren.
"tidak, saya hanya sedang menikmati pemandangan indah ciptaan Tuhan yang sangat sempurna" ujarnya mulai memberikan gombalan., dia menatap penuh kagum pada wajah Darren.
Wajah dengan rahang yang tegas, mata biru yang benar-benar cantik dihiasi oleh bulu mata yang panjang, alis yang hitam dan lebat tertata rapi menambah kesan menawan pada pria dihadapannya ini.
Tapi yang menurutnya paling dia suka adalah tatapan yang mengintimidasi dan kelihatan kejam, dia suka sekali melihat tatapan itu karena menurutnya jadi lebih macho dan lakik sekali.
Darren mendengus, malas meladeni ucapan Karren karena dia tahu kalau gadis itu hanya mengelak saja.
"tuan.. kenapa anda tampan sekali? aku tak ada rasa bosan sama sekali saat memandangmu" ujar Queen jujur, dia memang benar-benar sudah tergila-gila pada pria dihadapannya ini.
"pandang terus sampai bola matamu keluar!"
Mendengar suara ketus pria itu bukannya takut malah Queen terkekeh geli "kalau keluar aku masukan lagi, mudah kan?" seloroh Queen sembari menaik turunkan alisnya.
Sepanjang mereka duduk, hanya Queen yang terus berceloteh dan berbicara tak ada hentinya, Darren hanya diam dia sesekali menimpali ucapan gadis itu meski hanya dengan bergumam atau iya-iya saja.
Queen mengangkat tangannya dia menyingkap lengan jaketnya sedikit "astaga.. sudah tengah malam" ujarnya panik lalu menoleh kearah Darren "maaf ya aku harus pulang sekarang"
"mau kuantar?"
Queen menggeleng "aku bawa motor" mengangkat kunci motornya.
Darren mengangguk lalu berdiri dan membantu gadis itu berdiri juga. dia hendak mengantar Karren menuju keparkiran.
"semoga saja mom sudah tidur"
Darren yang mendengar gumaman Queen menoleh "apa dia galak?"
Queen mengangguk "galak sekali, anda tahu.. aku sering sekali dijewer olehnya untung saja telingaku antara kanan dan kiri masih sama panjangnya! karena mom selalu menjewer telinga kiriku"
Darrren tergelak sedikit membuat Queen lagi lagi terpesona "astaga.. bisa pingsan lama-lama kalau aku terus menerus melihat ekspresi di wajahnya"
Setelah sampai diparkiran Queen memakai helm "aku pulang.. bye tampan" ujarnya lalu menarik gas motornya meninggalkan Darren yang masih setia memperhatikannya.
Danzel Danzel,,,, kamu salah ngomong di depan mereka yg jaillll hahahahahaha
otw malam pertama