Menjadi istri kedua bukanlah keinginan Erina, wanita muda yang baru saja kehilangan suami dan anaknya dalam waktu yang berdekatan.
Akibat hutang suaminya yang begitu banyak, Erina terpaksa menikah dengan seorang CEO bernama Adrian yang saat ini istrinya sedang koma dan anaknya yang baru lahir membutuhkan ASI.
Keadaan Erina dimanfaatkan Adrian untuk menyusui anaknya yang baru saja lahir.
Namun ibu Adrian yang bernama Heni malah memaksa Adrian menikahi Erina karena ia sangat membenci menantunya yang saat ini sedang koma.
"Hutang almarhum suamimu akan ku anggap lunas, jika kau mau menyusui anakku sampai dia tidak membutuhkan mu lagi." Adrian.
"Tidak! Jangan hanya itu. Kau juga harus menikahi dia, Adrian!" Heni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasih sayang
Pagi itu Cintya sedang berjemur di samping rumah bersama sang perawat.
Ia menatap pemandangan yang sangat indah. Rumah besar dan mewah itu mempunyai beberapa pohon yang rindang dsn juga tatanan bunga yang indah.
"Nyonya, kenapa tidak di teman belakang saja?"
"Tidak, aku yakin pasti sebentar lagi Erina dan Arga akan duduk di sana seperti kebiasaan mereka yang kau lihat selama ini," ucap Cintya lirih.
"Nyonya Erina hanya ingin membuat Tuan Muda Arga sehat, itu saja."
"Ya, sepertinya kau juga sudah terhasut oleh kebaikannya yang pura-pura itu." Cintya tersenyum sinis.
"Maaf, Nyonya." Perawat hanya mampu menundukkan kepalanya.
"Antarkan aku ke sana, aku yakin baru saja mendengar suara mereka." Cintya menunjuk taman belakang.
Perawat segera pergi ke arah taman belakang. Di sana, mereka melihat Erina dan Arga sedang duduk di bangku taman. Terlihat Arga begitu tenang duduk di pangkuan Erina. Entah mungkin karena itu adalah kebiasaan mereka selama ini sehingga Arga yang seharusnya berlari kesana kesini karena sedang aktif aktifnya tetap bisa duduk tenang.
"Stop." Cintya memberi isyarat tangan agar perawat menghentikan laju kursi rodanya. ia memerhatikan Erina dan Arga yang masih duduk tenang di sana.
setelah cukup lama mengamati Cintya pun mendengar kalimat-kalimat tidak biasa yang diucapkan Erina kepada Arga.
"Coba ucapkan lagi, Mama Cintya."
"Ama, ia."
"MAMA, TYA."
"Ma, ma, ya."
"Wah pintar. Coba sekali lagi, Mama, Tya."
"Mama, ya."
"Yeayy anak pintar. Sekarang turun ya." Erina menurunkan Arga. Sepertinya ia hendak mengajak Arga berkeliling taman untuk sekadar berolahraga raga, melatih otot-otot kaki mereka.
Keduanya pun berjalan dengan Arga yang memimpin karena ia sudah hapal jalurnya. Namun, saat baru beberapa langkah, Arga tersandung dan jatuh dengan bagian tubuh depan yang menghantam rerumputan meski tidak kuat.
"Astaghfirullahalazim, Arga!" Erina langsung menggendong Arga dan meneliti seluruh tubuhnya.
Arga yang merasa kegelian malah tertawa.
"Sayang, ada yang sakit?" Erina masih meraba seluruh tubuh Arga.
Arga langsung menggeleng dan tertawa.
"Aduh, Sayang, jangan tertawa. Ayo ke dalam, Bunda akan mengobati mu dulu." Erina lekas membawa Arga ke dalam rumah.
Setelah melihat kejadian itu, Cintya akhirnya tahu bahwa Erina memang benar-benar tulus menyayangi Arga. Bahkan Erina berusaha mendekatkan Arga pada Cintya.
"Apa memang seperti itu caranya menjaga anakku?" tanya Cintya.
"Ya, Nyonya, bahkan dulu Nyonya Erina sampai tidak mau tidur satu malam penuh saat Arga sakit."
"Aku mengerti, sekarang bawa aku masuk. Aku ingin bicara dengannya."
Perawat pun membawa Cintya masuk ke dalam rumah untuk menemui Erina. Di kamar Erina yang pintunya sedikit terbuka, terlihat Erina sedang memeriksa seluruh tubuh Arga yang kini tidak dibalut selai benang pun ia ingin memastikan bahwa Arga baik-baik saja.
"Alhamdulillah, ternyata kau baik-baik saja, Sayang, Bunda sampai khawatir." Erina memeluk serta mencium pipi gembul Arga.
"Jatuhnya tidak keras dan hanya menghantam rerumputan, tentu saja dia baik-baik saja." tiba-tiba saja Cintya masuk ke dalam kamar Erina sendirian karena ia sudah menyuruh perawat untuk menunggu di depan lift.
"Cintya!" Erina terkejut dengan kedatangan Cintya.
"Sepertinya kau khawatir sekali padanya."
"Tentu saja, aku tidak akan bisa tenang jika dia kenapa-kenapa."
"Padahal dia anakku."
"Tapi aku sangat menyayanginya."
Cintya menatap Erina dengan lekat. Tak berselang lama keluarlah satu kalimat dari mulut Cintya yang membuat Erina terkejut.
"Terima kasih."
Gw suka sama ceritanya..