Kisah cinta seorang wanita yang berlumuran dosa yang dipertemukan dengan lelaki sholeh
Thara dijodohkan dengan Ayaz lantaran tidak tahan dengan sikap anaknya yang liar dan diluar kendali. Surya yang merupakan ayah dari Thara memilih Ayaz, yang merupakan murid teladannya dulu. Dia yakin bersama Ayaz, Thara akan berubah menjadi wanita baik-baik. Mengingat reputasi Ayaz yang gemilang dan juga ke shalehannya.
Namun keluarga Ayaz tidak setuju anaknya dinikahkan dengan wanita liar seperti Thara. Ibunya takut hal itu akan membuat malu nama baik keluarga. Namun karena Surya banyak berjasa pada Ayaz. Membuat pria itu mau tidak mau menyetujui perjodohan itu.
Lalu bagaimana rumah tangga mereka, mengingat sifat mereka yang sangat jauh bertentangan.
Apakah Ayaz mampu mendidik istrinya? membuat Thara jatuh cinta atau malah menyerah karena tidak tahan dengan wanita itu.
"Tidak ada yang menginginkan pernikahan ini! untuk apa ditanggapi dengan serius. Urus, urusanmu sendiri. Jangan ikut campur dengan urusanku!!"
"Memang kita tidak menginginkan pernikahan ini, tapi ketahuilah bahwa segala sesuatu yang terjadi atas kehendak ALLAH. Kau adalah amanah dari ayahmu untukku, Thara. Dan tanggung jawabku begitu besar terhadapmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aff18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
THARA POV
Astagfirullahalazim! ini manusia satu kenapa sih?! kok tiba-tiba nangis, kesambet apa?
"Keterlaluan kamu Thara. Liat ini Fatma jadi nangis gara-gara kamu! mau kamu apa sih?!"
Aku membuka lebar mulutku. Ini Mama Gina juga kenapa malah nyalahin aku. Harusnya aku yang marahin Fatma karena udah nanya dengan cara kayak gitu didepan Ayaz. Dan sekarang tatapan Ayaz jadi dingin ke aku. Ah sial!
Ini semua gara-gara Viky!!
"Demi Allah, Fatma nggak ada maksud apapun kok, Thara. Kenapa kamu salah paham gitu. Wajar kalo Fatma nanya, kan kamu istrinya Mas Ayaz." aku mencebik kesal saat Fatma terisak kayak gitu. Seolah dialah yang paling tersakiti disini.
Oh Tuhan....
"Kamu nggak salah Fatma. Tapi cara kamu nanya jangan gitu! gimana kalo-"
"Udah cukup! Thara, pergilah kekamar kamu."
Aku kaget saat Ayaz tiba-tiba memotong ucapanku. Apa dia juga marah sama aku?
"Oke, dari pada kalian semua salah paham sama aku, biar aku jelasin. Tadi itu mantan pacar aku. Dia emang dateng nemuin aku. Tapi aku menghindar karena aku juga nggak mau terjadi fitnah. Kami sempet adu mulut karena dia nggak Terima aku ninggalin dia gitu aja. Tapi sekarang udah selesai kok. Aku yakin dia gak bakal ganggu aku lagi." Aku menjelaskan ke mereka dengan sekali tarikan nafas. Namun sayangnya raut wajah mereka keliatan banget nggak percayanya.
"Terserah kalian mau percaya apa enggak! yang penting aku udah jelasin."
Aku langsung pergi kekamarku dengan perasaan kesal. Biarlah mereka berpikir seperti apa aku ini. Yang terpenting Ayaz percaya sama aku. Itu udah cukup buat aku.
****
AUTHOR POV
"Ayaz? airnya udah Thara siapin, katanya mau mandi?!"
"Iya, iya ini udah mau selesai."
Ayaz merenggangkan ototnya, saat merasa semua pekerjaannya telah selesai. Kini dia menutup laptopnya dan membereskan semua pekerjaanya. Kemudian berjalan mendekati Thara yang masih berdiri didaun pintu kamar mandi.
Ayaz mengangkat sebelah alisnya. "Nggak sekalian ikutan mandi?"
Thara menaikan sudut bibirnya. Dia bukanlah tipe wanita pemalu yang saat digoda hanya memperlihatkan semburat merah di pipinya. Justru Thara senang setiap kali Ayaz menggodanya.
"Enggak deh! Thara udah mandi."
"Beneran...?"
"Apasih Ayaz. Kayak anak abg aja pakek basa basi segala. Bilang aja mau Thara mandiin, iya kan?" ucap Thara berbalik menggodanya.
"Tuh tau."
"Yaudah ayok. Thara mah siap lahir batin kalo itu." Thara terkikik sendiri dengan ucapannya. Sungguh momen seperti ini membuatnya sangat terhibur.
Thara ikut masuk kesana. Ayaz merendamkan tubuhnya di air hangat, sementara Thara mengambil sabun untuk menggosok punggungnya.
Thara menelan salivanya berkali-kali saat melihat tubuh Ayaz yang tak berbalut kain. Punggungnya begitu keras dan berotot namun terlihat licin dan putih bersih. Thara menelusuri dengan jarinya. Menyentuh setiap jengkal tubuh suaminya yang cukup menggoda iman.
"Thara... " suara Ayaz tiba-tiba membuatnya saat akan perbuatannya. Thara segera melepaskannya.
"Eemm."
"Kalo punggunya udah bersih, pindah kedepan dong! Saya mau lihat muka kamu."
Thara mengikuti keinginan Ayaz. Yang kini telah berada di hadapannya. Meski tubuh Thara tidak ikut masuk kedalam bathup namun cukup membuat kedekatan diantara mereka seakan tak berjarak.
Ayaz menatap wajah istrinya. Sebelum menyentuh tangan Thara yang sibuk dengan menggosok tubuhnya. Hingga kegiatan itu terhenti dan membuat Thara juga menatapnya.
"Masalah hari ini... tolong jangan diulangi lagi. Saya nggak suka liat kamu ngobrol sama mantan pacar kamu itu."
"Thara juga gak ada niat buat ngeladenin si Viky. Dia sendiri yang dateng terus ngajakin adu mulut. Kamu nggak suka karena cemburu, atau karena nggak mau terkesan jelek dihadapan semua orang?"
"Saya bukan tipe orang yang peduli sama omongan manusia. Dan masalah perasaan... saya nggak tau apa ini cemburu atau enggak. Tapi kalau iya, hal itu wajar karena saya ini suami kamu."
Thara terdiam sejenak. Sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya kearah Ayaz untuk menyatukan bibirnya. Menyesapnya dengan penuh perasaan, kemudian memberikan gigitan kecil dibibir bawahnya. Ayaz tidak menolaknya, justru dia menyambut dengan antusias. Mengikuti setiap gerakan istrinya yang erotis dan penuh pengalaman. Sampai akhirnya Thara melepaskan pertautan mereka dengan sedikit menariknya.
Thara menatapnya sendu. "Ayaz... kalo Thara bilang, Thara sayang sama kamu. Apa kamu marah?"
Ayaz mengusap wajah istrinya dengan jari jemarinya. "Kenapa harus marah? terimakasih sudah menghadirkan rasa itu untukku."
"Thara sayang sama Ayaz... lebih dari apapun didunia ini."
Thara menunggu Ayaz mengatakan bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Namun sayangnya kata itu tidak juga terucap dari mulut suaminya. Hal itu cukup membuat Thara kecewa.
Apa aku nggak sepantas itu untuk dicintai oleh pria seperti kamu, Ayaz...
"Jangan... jangan terlalu mencintaiku. Jika suatu saat kamu kecewa sama saya, maka kamu akan merasakan sakit yang teramat sangat."
Sontak hal itu membuat dada Thara sedikit nyeri. "Apa kamu berencana untuk mengecewakan aku?"
"Tidak, bukan begitu. Hanya saja, saya ini manusia biasa Thara. Hal yang menurut saya baik, belum tentu kamu juga menyukainya."
"Kalau begitu jangan pedulikan perasaanku. Lakukan saja apa yang menurut kamu baik. Kamu syurgaku, dan aku milikmu... " entah kenapa ucapan itu mengalir begitu saja. Dan Ayaz sempat tertegun mendengarnya. Meski datar, namun Ayaz bisa melihat sorot mata istrinya yang penuh makna. Thara benar-benar sudah jatuh dalam pesonanya. Dan hal itu membuatnya nekat untuk mempertahankan pernikahannya walau apapun yang akan terjadi.
Ayaz melengkungkan senyumannya. "Tunggulah aku ditempat tidur. Aku ingin memelukmu."
"Kenapa nggak disini aja?"
"Nanti kamu ikut basah. Kamu bilang nggak mau mandi."
Thara mengangguk setuju. Dia mengikuti titah suaminya dan keluar dari sana. Menyiapkan pakaian Ayaz sampai akhirnya berbaring ditempat tidur sesuai keinginan suaminya.
Jantung Thara berdetak keras saat pikirannya melayang memikirkan apa yang akan dilakukan Ayaz nanti.
Apa bener, Ayaz cuma mau meluk aku doang? atau dia akan...
Ah sial!! otakku kenapa jadi gini sih.
****
"Jeng Thara, ikutan arisan kita yuk. Lumayan loh buat tabungan." salah seorang jamaah yang bernama Mirna menawarkan padanya. Mereka berjalan beriringan untuk kembali ke rumah masing-masing.
"Boleh, tapi Thara ijin suami dulu ya mbak. Kalo Thara sih, mau aja. Nggak tau sama Ayaz."
"Bener itu, nggak kayak kau Mirna. Ngutang aja, laki kau nggak tau. Akibatnya kena sembur terus kau kan?!" suara Mak muna menyahuti.
Mirna mencebik kesal. "Sok tau, kau Mak Muna. Emangnya tiap kali laki aku marah, aku selalu siaran langsung gitu! masalahnya cuma pasal utang. Ya enggak lah."
"Iya, tapi Rata-rata, masalah kau kalo nggak ngutang ya nelantarin kerjaan rumah. Mertua kau tiap hari ngomongin kau sama aku."
"Halah... mertuaku mah emang gitu orangnya. Nggak usah didengerin. Dia kalo laki aku marah, paling duluan ngasih kayu buat mukulin aku. Mangkanya aku ngadain arisan ini, biar bisa cepet-cepet punya rumah sendiri dan misah dari mertua. Capek aku gelut terus sama dia."
Thara sendiri hanya diam memperhatikan Mak muna dan Mirna yang membicarakan tentang rumah tangga mereka. Tanpa sadar, dia sudah tertinggal jauh dari rombongan yang tadi jalan beriringan dengannya..
Rupanya bukan cuma aku aja yang punya masalah sama mertua. Rata-rata menantu mengalami hal yang sama.
"Thara... "
Thara memutar malas bola matanya saat Viky kini sudah ada didekatnya. Ck, mau apa lagi sih nih orang!
thara menag banyak juga, masah bersenang2, sex bebas, hura2, poyah2, dan akhiratnya dapat lelaki yang mencintanya, dan menerima dia apa adanya, bahkan berjuang untuknua
atas lelaki sejati,
fatma miris, berjuang mendapatkan hati lelaki pujaanya tapi miris pujaannya malah nikah dengan wanita lain, dan dia dihujat karena mencinta suami orang, dan miris sekali hidupnya author hukum dia dengan diperkosa dan diperlakukan sangat hina dan kasar
satu kesalahan besar fatma bukan mencintai suami orang tapi fatma mencinta suami pemeran utama wanita karena dasarnya author dan readernya wanita jadi mereka ngehalu diposisi pemeran utama wanita jadi pelakor mereka laknat habis tapi pebinor mereka jaga
*saat fatma melakukan kesalahan mereka beramai menhujat, melaknat dan memaki fatma
tapi
*saat viky melakukan kesalahan meraka diam, tidak mempermasalahkan itu
inilah sikap egois wanita yang dibawa reader dalam berkomentar
*mereka akan melaknat wanita yang menyukai suami alias pelakor
*tapi memaklumi dan terkesan baper dengan lelaki lain yang menyukai mereka, jadi semua kelakuan lelaki itu mereka maklumi bahkan mbenarkan
aku tunggu ucapan thara "maafkan karena tidak sempurna dan Terima kasih suamiku karena ikhlas menerima aku apa adanya" ucapan ini simple tapi sangat banyak maknanya
*membuat suami merasa dihargai dan dianggap
*membuat thara merasa bersukur dan berterima kasih
*membuat thara naik derajatnya karena peka terhadap perasaan suami
*membuat thara naik derajat karena sadar akan kesalahannya
tapi sayang sekali thara tidak pernah mengucapkan kalimat itu