Barra Malik Bramantyo, seorang aktor sekaligus model papan atas yang tengah naik daun karena telah meraih beberapa penghargaan bergengsi itu, terpaksa harus menikahi seorang gadis berkerudung yang bernama Eira Fara Damira.
Kehidupan Barra yang penuh dengan kebebasan sebelumnya, harus berakhir di tangan seorang gadis sholehah yang jauh dari dunianya selama ini.
Sepasang manusia yang baru saja menyelesaikan ijab kobul tadi pagi itu bingung, apa yang harus mereka lakukan di saat malam pertama?
Pertemuan yang terjadi hanya satu kali itu, seminggu kemudian mereka harus Menikah Tanpa Pacaran sebelumya.
Akankah seorang Eira dengan ketabahan hatinya yang seluas samudera itu bisa merubah kehidupan dari seorang Barra Malik Bramantyo? seorang lelaki yang mempunyai kehidupan bebas di luaran sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon parida hakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The first night 2
•
•
•
Nyatanya,
Tidur berdua di ranjang yang sama malam ini membuat keduanya sama-sama merasa gelisah. Barra dan Rara menjadi serba salah, mereka berdua sama sekali tidak bisa memejamkan matanya walau hanya untuk sebentar.
*Duh .. kenapa aku gak bisa tidur?
Kenapa jadi seperti ini sih*?
Gerutu keduanya saat mata mereka sulit sekali untuk dipejamkan. Padahal mereka berdua sudah sama-sama lelah dan mengantuk. Mereka sengaja menyimpan bantal guling di tengah keduanya sebagai pembatas.
Rasa kantuk yang sebelumnya sempat menyerang, kini telah hilang dan berganti menjadi rasa gugup yang sangat luar biasa. Berbagai cara sudah mereka lakukan agar malam ini bisa tertidur dengan pulas, tapi .. tetap saja tidak ada satupun caranya itu yang berhasil. Mereka tidur saling memunggungi. Barra tahu, kalau gadis itu belum tidur. Pun dengan Rara, ia juga tahu kalau sampai saat ini suaminya itu belum masuk kedunia mimpinya.
Duh .. kenapa tiba-tiba suasana di kamar ini jadi terasa panas?
Barra lantas menyerah, lelaki itu terbangun dan duduk seraya bersandar di kepala ranjang. Dan hal itu justru membuat gadis yang berada di sampingnya itu pun ikut terbangun seketika. Cowok itu mendesah seraya mengusap wajahnya gusar saat melihat gadis itu juga ikut terbangun.
"Kamu belom tidur?"
Kepala gadis itu menggeleng pelan. "Belum, Mas."
"Kenapa?" ia melirik ke arah gadis itu.
"Eum .. gerah, Mas." Padahal, bukan itu alasan sebenarnya. "Mas Barra sendiri, kenapa belum tidur?"
"Belum ngantuk aja." Sungguh, lelaki itu pun merasa kalau itu hanya alasannya saja. Padahal sebenarnya, bukan itu alasan mereka berdua kenapa sampai saat ini mereka tidak bisa memejamkan matanya.
Hening kembali terjadi. Baik Barra maupun Rara, mereka berdua sama-sama terdiam.
Barra berdehem untuk memecah keheningan yang terjadi di antara mereka berdua.
"Ka - eh, Ra?" Duh .. kok jadi gugup kayak gini sih?
"Ya, Mas. Kenapa?"
"Katanya kamu gerah, padahal ac udah nyala loh?" tanya cowok itu basa-basi.
Gadis itu tersenyum kaku, "Iya .. tadi gerah aja, Mas." Rara menggigit bibir bawahnya seraya menunduk.
"Kalo kamu gerah, kenapa masih pake kerudung?" gadis itu mengangkat wajahnya. "Ya, maksud aku __ kalo mau tidur gak usah di pake kerudung nya, biar gak gerah."
Gadis itu tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang tersusun rapih. Barra, lelaki itu lagi-lagi terpaku menatap senyuman gadis itu.
"Gak apa-apa kok, Mas. Udah biasa."
"Kalo aku yang minta untuk melepasnya gimana?"
"Maksud Mas Barra apa?"
"Membuka kerudung kamu, gak ada larangannya kan kalau aku yang lihat rambut kamu?"
Sesaat gadis itu sedikit terkejut. Lalu, segera tersardar saat lelaki itu kembali memanggil namanya.
"Ra .."
"Ah .. iya, Mas.?"
"Kenapa diam?"
Gadis itu gelalapan, kenapa tiba-tiba dadanya kembali lagi berdebar seperti ini?
"Bukannya kita sudah menikah? jadi gak papa kan kalau kamu tidak memakai kerudung saat akan tidur?"
Sesaat mata mereka bertemu, sebelum akhirnya cowok itu menarik ujung bibirnya ke atas sehingga tampak jelas seperti sebuah senyuman saat gadis itu menganggukan kepalanya pelan.
Saat Rara hendak membuka tali kerudung instan yang menutupi kepalanya, tiba-tiba saja terdengar dering ponsel milik cowok itu terdengar nyaring di telinga. Barra menoleh, pun dengan Rara yang tidak jadi melepas kerudungnya itu.
Sesaat cowok itu berdecak malas saat tahu siapa orang yang telah menghubunginya malam-malam seperti ini.
"Mau apa sih? malam-malam gini?" gerutu cowok itu tapi masih dapat terdengar oleh Rara.
"Mas .. kenapa gak kamu angkat?"
"Males. Biarin aja."
Gadis itu mengernyit dengan dahi yang terlipat dalam. "Siapa tahu penting, Mas."
Lelaki itu menoleh seraya mendesis.
"Memangnya siapa yang nelpon?"
"Bukan urusan kamu."
"Ya udah, kalo kamu izinkan biar aku yang angkat teleponnya."
Lelaki itu mendesah pelan. "Jangan pernah berani mengangkat telpon dari hape aku?"
"Maaf, Mas." Ujarnya seraya menunduk. Sungguh, gadis itu sendiri tidak tahu kenapa ia bisa seberani itu. Seharusnya ia tidak ikut campur. Lagi pula itu bukan urusannya juga kan?
Di saat Rara sedang menunduk, di saat itu juga lelaki itu bangun dari duduknya seraya merampas ponsel yang tergeletak di atas ranjang. Kemudian ia berjalan, membuka pintu balkon untuk mengangkat panggilan teleponnya.
Rara yang melihat pun hanya bisa diam saja saat laki-laki itu menjauh darinya.
Sebenarnya, siapa yang menelpon suaminya malam-malam seperti ini?
Di menit selanjutnya, lelaki itu kembali masuk ke dalam kamar dengan raut wajah yang terlihat sedikit berbeda. Rara bisa melihat, kalau sekarang lelaki itu sedang tidak baik-baik saja.
"Mas ..?" Panggil gadis itu saat melihat Barra hanya diam saja. Bahkan lelaki itu tampak beberapa kali mengusap wajahnya frustrasi.
"Mas, ada apa?" tanya Rara kembali saat ia sudah berdiri di samping lelaki itu.
Barra menoleh seraya mengusap wajahnya gusar.
"Gak apa-apa. Aku ngantuk, aku mau tidur." Ujar cowok itu sembari berjalan menuju ke tempat tidur. Barra membaringkan badannya, lalu menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya. Dengan perasaannya yang tidak menentu, akhirnya ia pun terpejam.
Sementara Rara, gadis itu tidak ingin menerka-nerka dengan apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya itu. Rara memilih untuk mengikuti Barra, ia pun tidur di samping suaminya dengan tubuh yang saling membelakanngi satu sama lain.
Baru saja tertidur beberapa menit yang lalu, gadis itu harus kembali terbangun saat mendengar suara Barra. Ya, sepertinya lelaki itu sedang bermimpi buruk.
"Tidak .. "
"Mas?"
"Tidak .. jangan.!"
"Mas, bangun."
"Jangan Ambar. Jangan .. "
Ambar? siapa dia?
"Aku mohon jangan .."
"Astagfirullah, Mas. Bangun? Mas Barra sedang bermimpi." Rara berusaha untuk membangunkan suaminya itu. Sepertinya Barra benar-benar sedang bermimpi buruk, lelaki itu terus meracau bersama keringat yang membasahi wajahnya.
Apa yang sedang lelaki itu mimpikan?
Kenapa Barra seperti orang yang ketakutan seperti itu?
Ya, sepertinya lelaki itu tidak ingin kehilangan sesuatu.
Rara, gadis itu ingin mengambilkan air putih yang berada di atas meja nakas. Tapi sebelum itu terjadi, tiba-tiba saja ia tersentak saat Barra menarik tubuhnya lalu memeluknya dengan erat.
"Ya ampun .. Mas.!"
"Jangan pergi." ujar lelaki itu tanpa melepaskan pelukannya.
"Mas .." Suaranya tercekat, ia hampir kehabisan nafas karena Barra semakin erat saat memeluknya.
"Jangan tinggalkan aku."
"Mas .. kamu kenapa?"
"Aku mohon, aku tidak ingin kehilangan kamu." ucapnya pelan.
"Mas .. aku __ aku __" Ya Tuhan .. ada apa dengan suaminya ini?
"Aku mencintai kamu."
"Apa, Mas?"
"Aku masih mencintai kamu, Ambar."
"Ambar?"
Tidak butuh waktu lama untuk gadis itu mengerti. Jadi .. suaminya ini sedang memimpikkan gadis lain di malam pertama pernikahan mereka.
Siapa Ambar?
Siapa gadis yang bisa membuat suaminya seperti ini?
Apa hubungan mereka berdua?
Tanpa terasa, satu tetes air bening berhasil keluar dari matanya yang indah. Sungguh, ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba saja air matanya bisa keluar begitu saja. Padahal Eira tahu, kalau laki-laki itu tidak mencintainya. Seharusnya, nama yang terucap malam ini dari bibir suaminya itu adalah namanya, bukan nama gadis lain seperti yang baru saja lelaki itu ucapkan.
"Aku bukan Ambar, Mas." ia menyeka sudut matanya yang berair. Lalu, melepas tangan lelaki itu yang masih setia memeluk tubuhnya. Rara mengurai pelukannya, lantas menidurkan kembali suaminya yang masih terpejam.
Ia pandangi wajah suaminya yang sedang terlelap seraya tersenyum miris.
"Bukan Ambar, Mas." Bisik gadis itu tepat di telinga sang suami.
"Aku Eira, istri kamu."
......................
Bagi like, komen dan votenya juga dong?
Jangan lupa ya?
ikuti IG aku yuk?
@hakimparida
Makasih semua .. 🤗
Next di episode selanjutnya .. Yes !!
sikap barra memang tdk bisa di terima,dia laki"...pertanggung jwban semua letak nya pada yg namanya lelaki..
aaa..sdh lah...lanjut lah thor...
lelaki pengecut...
sadarlah..kau itu wanita sprti apa...bikin malu makhluk lain yg bernama wanita...
percaya dgn casanova sprti barra...
ingat ucapanmu sendiri barra...kau tdk suka dan tdk cinta sama rara..kau menghina nya...kau jilat ludahmu sendiri skrng...
barra yg akan rugi nti nya..membuang berlian dan memilih kaca,yg sdh retak.pula/Chuckle/