Demi pergi bersama selingkuhannya seorang wanita bernama Camila tega menempatkan saudari kembarnya bernama Camelia disisi suaminya bernama Dion. Camila lebih memilih pria selingkuhannya lantaran Dion selalu saja bersikap kasar dan menyiksanya saat sedang kesal kepadanya.
Malam pertama ketika Camelia berada di kediaman Dion, semua pelayan merasakan sesuatu yang janggal pada sikap Camelia yang mereka anggap adalah Camila. Tentu saja karena Camelia dan Camila memiliki sikap yang sangat bertolak belakang, lagipula tidak ada yang mengetahui bahwa Camelia dan Camila adalah saudari kembar termasuk Dion.
Bagaimana hari-hari yang akan dijalani Camelia sebagai wanita samaran untuk Dion?
Apakah Camelia bisa menempatkan dirinya sebagai Camila tanpa sepengetahuan Dion?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia bukan Camila!
"Lepaskan aku!" ucap Camelia menghempaskan genggaman tangan Dion dari lengannya.
Sikap yang di tampakkan Camelia tentu saja memancing kegeraman Dion yang sedari tadi kesal lantaran menunggu istrinya kembali.
"Aku tanya darimana saja kau? Kenapa kau pulang terlambat, hah?" teriak Dion seraya kembali meraih lengan Camelia dan mencengkramnya dengan kuat.
"Apa kau tidak lihat apa yang aku bawa?" balas Camelia menatap tajam Dion.
"Kau ...."
Dion merasa ada hal yang aneh pada sikap wanita yang ia pikir adalah istrinya.
"Jawab saja pertanyaan ku ... kau tak perlu bertanya balik!" seru Dion semakin kesal.
"Aku baru saja pulang berbelanja dan lihat semua yang aku pegang saat ini! Lihat ... ini semua barang belanjaan ku, tadi." sahut Camelia.
Dion sekalipun tidak melirik pada kantung belanjaan yang di genggam Camelia, matanya terus tertuju pada tatapan dingin yang seolah sedang menusuk tatapan miliknya.
"Sejak kapan Camila berani melawan ku?" gumam Dion dalam hatinya merasa ada hal janggal pada sosok wanita yang berada di hadapannya.
Dion seakan ingin memberikan pelajaran untuk istrinya yang ia anggap telah berani melawan dirinya. Dion pun menyeret Camelia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu serta menguncinya dari dalam. Sementara itu dari sisi anak tangga Bella ternyata sedang menguping serta memperhatikan bagaimana sikap Camelia yang tampak sangat berbeda dengan Camila.
"Heh, aku yakin wanita itu bukanlah nyonya Camila! Hehehe, akhirnya tuan Dion menemukan siapa lawannya!" ucap Bella dalam hatinya sembari menyunggingkan senyuman tipis dibibirnya serta menuruni anak tangga dan melanjutkan pekerjaannya sebagai pelayan bersih-bersih di rumah itu.
Dion menghempaskan tubuh Camelia keatas sisi ranjang tidur dengan kasar. Semua kantung belanjaan yang semula ada dalam genggaman Camelia berhamburan di lantai kamar. Camelia yang baru saja jatuh disisi ranjang itu langsung duduk dan menatap Dion yang tampak begitu kesal kepadanya.
"Kau pasti berbohong padaku!" ujar Dion sembari menunjuk kearah Camelia.
"Apa maksudmu?" tanya Camelia.
Dion lalu menyergapnya dan mencengkram wajah Camelia dengan kuat.
"Kau pasti menghabiskan waktumu bersama pria selingkuhanmu, kan? Disaat aku sedang bekerja, kau malah menikmati waktumu bersama pria selingkuhanmu!" ucap Dion dengan nada datar dan semakin lama semakin terdengar meninggi hingga berteriak.
Camelia menatap sorot mata Dion yang tak sesuai dengan perbuatannya saat itu.
"Sorot matanya tampak ada kesedihan, tapi sikapnya sangat kasar." gumam Camelia dalam hatinya.
"Pria ini pencemburu!" gumam Camelia lagi berhasil membaca sifat seseorang hanya dari sorot matanya saja.
Merasa diacuhkan istrinya, Dion pun semakin murka. Ia lantas melepaskan cengkraman tangannya dari wajah Camelia dan melangkah menghampiri lemari serta membuka lemari tersebut. Camelia melebarkan kedua matanya saat ia melihat Dion mengambil sebuah cambuk yang siap menghantam kulit tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Camelia tanpa melepaskan pandangannya dari cambul yang telah berada dalam ganggaman Dion.
"Kenapa, hah? Apa kau takut?" ucap Dion sambil menyeringai lebar.
Dion melangkah semakin dekat dan mengayunkan tanganya untuk menghantam ujung cambuk itu ke tubuh Camelia.
"Jangaaaann!!!" pekik Camelia.
Cettaaarr ....
Ujung cambuk itu pun berhasil mendarat di kulit tubuh Camelia bagian punggungnya. Dion terus saja melayangkan ujung cambuk itu ke tubuh Camelia walaupun ia mendengar dengan jelas bahwa Camelia berteriak kesakitan. Entah keberapa kalinya Camelia merasakan pedihnya ujung cambuk yang seakan membuat kulitnya terkelupas.
"Aku benar-benar tidak tahan lagi!" ucap Camelia dalam hatinya.
Merasa tidak tahan dengan sikap kasar Dion, Camelia pun memberanikan diri untuk bangkit dan mendorong tubuh Dion sekuat tenaganya.
Bbrraaakk...
Tubuh Dion terhuyung dan menghantam lemari kecil yang ada di samping ranjang tidur. Dion sangat-sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan wanita yang biasanya hanya menangis saat menerima siksaan darinya.
"Beraninya kau ...."
Dion lantas segera menyerang Camelia sehingga mereka berdua sama-sama terjatuh di sisi ranjang tidur itu. Dion menggenggam kedua pergelangan tangan Camelia dengan satu telapak tangannya saja sementara telapak tangan yang satunya lagi kembali mencengkram wajah Camelia dengan kuat.
"Berani sekali kau melawan ku!" ucap Dion dengan wajah bengisnya.
"Kau benar-benar monster!" balas Camelia seakan sangat membenci Dion.
"Aaarrgghh!!!"
Plllaakk ....
"Aaakkhh!!!" jerit Camelia saat telapak tangan Dion mendarat di pipi kanannya hingga bercap merah, lalu Dion kembali mencengkram wajahnya lagi.
"Jika aku melihatmu bersama pria selingkuhanmu itu, aku akan benar-benar menghabisi kalian berdua saat itu juga!" ucap Dion tampak begitu murka.
"Apa kau tau kenapa aku lebih memilih pria lain dari pada kau?" ucap Camelia dengan wajah seakan menantangnya, sementara Dion terus menatapnya dengan wajah bengis.
"Karena kau monster! Kau tidak tau bagaimana caranya menyikapi seorang wanita ... apalagi wanita yang kau cintai! Kau pria pencemburu dan kau menjadi buta karena kecemburuanmu itu!" ucap Camelia lagi.
"Kau ...."
Dion tak habis pikir kenapa tiba-tiba saja Camila yang biasanya takut serta selalu cengeng di hadapannya seketika berubah menjadi wanita dingin nan pemberani yang memiliki sorot mata tajam bagaikan pembunuh.
"Siapa kau?" celetuk Dion membuat jantung Camelia berdetak kencang.
"Lepaskan aku!" seru Camelia berusaha untuk mendorong tubuh Dion yang menimpa tubuhnya diatas ranjang itu.
Dion semakin mengencangkan tenaganya membuat Camelia tidak dapat mendorongnya sedikitpun. Dion terus saja menatap sorot mata tajam yang tampak begitu asing baginya.
"Menjauh dariku Di ...."
Cuuupp...
Camelia melebarkan kedua matanya saat Dion tiba-tiba saja mencium bibirnya.
"Eeerrmm ... eerrmm!!!" pekik Camelia dengan bibirnya yang tak dapat terbuka lebar lantaran dilumat paksa oleh Dion.
Puas mencium secara tiba-tiba dan memaksa, Dion pun melepaskan ciuman itu lalu menatap ekspresi wajah Camelia yang tampak begitu memerah lantaran kesal bercampur dengan malu.
"Kau monster messsuummm!!!" pekik Camelia sangat kesal pada Dion.
Ekspresi wajah itu membuat Dion menyunggingkan senyuman tipis disudut bibirnya.
"Heh, mereka pikir aku pria bodoh! Mereka memberikan wanita samaran untukku!" ucap Dion dalam hatinya.
"Dia bukan Camila!" ucap Dion lagi.
Terus berontak akhirnya genggaman tangan Dion pun melonggar dari pergelangan tangan Camelia. Camelia menarik satu tangannya dan menampar sisi wajah Dion dengan keras.
Plllaaakk ....
Dion terdiam sementara Camelia ketakutan.
"Beraninya kau menamparku, hah!!!" teriak Dion kembali murka.
"Karena kau pria messsumm!!!" pekik Camelia.
"Baiklah, akan aku tunjukkan padamu seberapa messumnya diriku, hehehe," ucap Dion sembari terkekeh jahat.
Melihat ekspresi wajah Dion yang terkekeh jahat padanya, membuat Camelia langsung bergidik ngeri.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Camelia gemetar ketakutan saat Dion memantapkan dirinya untuk siap menggagahinya.
"Membuatmu segera hamil, Camila ... hehehe," bisik Dion berniat untuk menerima permainan yang diberikan kepadanya.
"Kau istriku kan dan aku berhak menuntutmu memberikan keturunan untukku!" bisik Dion lagi.
Camelia menggelengkan kepalanya karena menyadari bahwa dirinya bukanlah Camila.
"Kenapa? Apa kau tidak mau memberikan keturunan untukku, hah? Kita sudah setahun lebih menikah, tapi kau tak kunjung hamil ... jadi untuk itu aku rasa kita harus bekerja lebih ekstra dalam melakukannya! Bukankah begitu, Camila sayang, hehehe," bisik Dion lagi dan lagi.
"A-aku be-belum si-si-siap ...." ucap Camelia gugup untuk menolaknya.
"Kau pikir aku peduli!" seru Dion.
"Jangan Dion!" ucap Camelia menggelengkan kepalanya.
"Kau bilang aku monster messum kan?" bisik Dion di telinga Camelia.
"Ma-maafkan aku ...." ucap Camelia.
"Sudah terlambat!" seru Dion.
Wkwkwkwkwk....
Bersambung...
Vote dan like yang banyak ya sobat! Biar aku semakin semangat nulisnya.