Aelsana Jamira, mahasiswi cerdas yang baru lulus kuliah, menerima pekerjaan di Hanggara Group tanpa menyadari bahwa atasannya, Raksa Hanggara, adalah ayah dari Langit, anak yang selama ini ia rawat sebagai pengasuh sekaligus guru lesnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puja Mardika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Sejak mengakhiri pernikahannya yang penuh tipu daya dengan Sheila Maheswari, dia sudah lama tidak memperhatikan perempuan mana pun.
Ya, setelah bercerai, hidupnya hanya berisi pekerjaan. Kehadiran Sana seperti percikan api. Tidak terlalu panas, tapi percikan kecil saja bisa menyulut api besar.
Begitulah perasaannya pada Sana sekarang. Dia tidak lagi melihatnya sebagai orang biasa, tapi sebagai seorang perempuan yang menarik perhatiannya.
Namun pengalaman masa lalu membuatnya ragu melangkah. Dia hanya bisa bicara lembut padanya dan sesekali menunjukkan kepedulian, sambil tetap mengamati.
Dia masih bimbang, apakah akan membuka hatinya yang sudah lama tertutup untuk Sana, perempuan yang tiba-tiba memasuki hidupnya dan mengubah suasana hatinya.
"Pak Raksa, menurut saya lebih pas kalau tetap Pak Raksa. Wajar, baik di kantor maupun di rumah keluarga Hanggara," simpul Sana sambil menyelipkan rambut panjangnya ke samping.
Sebenarnya berduaan dengan Raksa tidak seburuk yang dia bayangkan. Dulu dia selalu gugup. Beberapa kali terakhir dia begitu terpesona oleh penampilannya sampai terbata-bata atau jantungnya berdebar. Sekarang, ya, mungkin belum benar-benar tenang, tapi dia jauh lebih wajar.
"Kalau begitu sudah diputuskan." Raksa tidak bicara lagi, karena lift sudah sampai di basement dua. Dia keluar lebih dulu.
"Pak Raksa, saya mau tanya beberapa hal lagi soal yang Bapak sampaikan tadi pagi." Sana segera menyusul, menatap punggungnya yang tinggi sejenak, lalu terlarut dalam pikirannya.
Sadar, Aelsana, sadar!
Sana menggeleng. Dia kembali tenggelam dalam khayalannya, dan itu gawat. Bagaimana kalau nanti dia sering melamun menatap Raksa? Bukankah itu memalukan?
Kalau sekadar mengagumi pria tampan, tingkah Sana sekarang masih bisa dimaklumi. Hanya saja dia selalu berusaha keras mengingatkan dirinya untuk tetap rasional.
Karena posisi Raksa, sikapnya pada Langit, dan pernikahannya di masa lalu, semua itu terus menariknya kembali ke kenyataan, meski dia sudah terpikat.
Sana baru saja lulus kuliah. Selama kuliah dia tidak pernah kekurangan yang menyukainya, tapi tidak ada satu pun yang memberi kesan pertama sekuat Raksa.
Di luar penampilannya, ketenangannya dan kesuksesannya yang dia raih sendiri saja sudah cukup membuat Sana mengaguminya tanpa bisa ditolak. Ditambah wajahnya yang tampan, Raksa jelas pria yang memikat.
"Kita bicara di mobil saja."
Raksa melihat Sana hendak mengeluarkan sesuatu yang dia sembunyikan di dalam tas. Dia segera mengulurkan tangan, menggenggam tangan Sana, dan memberi isyarat agar mereka bicara di dalam mobil.
Hampir semua perusahaan besar memasang kamera pengawas di area parkir, dan Hanggara Group tidak terkecuali.
Meski rekamannya tanpa suara, Raksa tetap sangat waspada. Dia tidak mau "ikan" yang sedang dia pancing tahu bahwa Sana membantunya.
"Baik." Anehnya, Sana merasa dia bisa memahami pikiran Raksa dengan sangat baik. Kekompakan diam-diam mereka begitu bagus sampai dia sendiri sulit percaya.
Seolah punya telepati, Raksa dan Sana masuk ke mobil dengan wajah tenang. Mobil melaju pergi, dan area parkir kembali sunyi.
※※※
"Aelsana, kita bahas soal tadi pagi sambil makan malam!"
Untuk memecah keheningan, Raksa memutar kemudi ke arah yang berlawanan dari rumah keluarga Hanggara. Dia memutuskan bicara dengan Sana berdua saja.
"Oke... eh, tunggu, Langit bagaimana? Bapak mau menghindari pulang supaya nggak perlu menghabiskan waktu dengan Langit lagi?" Sana, yang duduk di kursi penumpang, menatap Raksa dengan tidak puas.
"Bukan. Menurut saya urusan bisnis tidak seharusnya dibahas di rumah. Dan saya lapar."