Bagi Roselia, musuh dia hanya satu: Gabriel, putra Adipati saingan keluarganya.
Dua keluarga Adipati itu sudah bermusuhan turun-temurun, jadi tontonan seluruh istana.
Sampai sebuah fitnah keji dari Pangeran Ke-4 menjatuhkan keluarga Roselia. Ia dibuang ke perkebunan terpencil yang kumuh.
Roselia pikir hidupnya sudah berakhir.
Sampai takdir mempertemukan mereka lagi.
Ia menemukan Gabriel — sang musuh bebuyutan yang sombong itu — hanyut pingsan di sungai dekat perkebunannya.
Saat terbangun, Gabriel menatapnya kosong.
"Siapa... aku?"
Dia hilang ingatan!
Dendam Roselia membara. Inilah kesempatannya!
Ia menjadikan pewaris Duke yang angkuh itu sebagai pesuruh kebunnya. Disuruh mencuci, memanen, tidur di gudang!
Balas dendam kecilnya terasa manis... sampai Roselia sadar, Pangeran Ke-4 yang menghancurkan keluarganya, ternyata juga dalang di balik kecelakaan Gabriel.
Mereka dijebak. Diadu domba sejak awal.
Kini, saat ingatan Gabriel perlahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawah Kabut Tebing
Malam makin larut. Kabut tebal merayap turun dari puncak pegunungan utara, membungkus pepohonan pinus dan menyamarkan jarak pandang hingga hanya tersisa beberapa langkah di hadapan mata.
Suara jangkrik malam tersapu oleh gemuruh dingin air terjun yang bergelora di dasar tebing utara.
Dua sosok berkerudung gelap bergerak cepat tanpa suara di antara batuan cadas. Roselie memimpin di depan, mengenakan pakaian berburu ringkas berwarna hitam dengan pisau belati terselip di pinggangnya. Di belakangnya, Gabriel berjalan mengawal dengan langkah yang teramat senyap—refleks alami seorang komandan yang mahir bergerak di wilayah musuh.
Di dalam saku mantel Roselie, sebuah tabung tembaga kedap air yang berisi dokumen pemalsuan stempel Pangeran Cedric tersimpan rapat.
"Di depan sana ada pos patroli kecil Vane," bisik Roselie seraya menghentikan langkahnya di balik pohon pinus raksasa.
Gabriel memiringkan kepalanya, menajamkan pendengarannya di balik kabut pekat. "Dua prajurit. Satu sedang menyalakan obor, satu lagi berjaga di tepi jalan setapak."
"Aliran sungai utama ada lima puluh langkah di bawah tebing itu," bisik Roselie lagi, melirik tabung tembaga di sakunya. "Jika kita melemparkan tabung ini dari atas sini, arusnya akan membawanya langsung ke muara barat dalam waktu dua jam."
Gabriel menatap ke arah dua prajurit berzirah hitam yang samar-samar terlihat di balik kabut. Pria itu menarik napas panjang, melirik Roselie dengan tatapan tenang yang menghanyutkan.
"Alihkan perhatian mereka ke arah barat, Nona," usul Gabriel halus. "Saya yang akan menyelinap ke bibir tebing untuk meluncurkan tabung itu."
Roselie menyipitkan mata, mengamati raut wajah Gabriel dari balik kerudung matanya. ‘Pria ini benar-benar tidak ragu sedikit pun... Apakah dia benar-benar melakukan ini demi melindungiku, atau karena dia tahu dokumen ini adalah kunci kehancuran Cedric?’
"Gunakan ini," Roselie menyerahkan tabung tembaga itu ke genggaman tegap Gabriel. Jemari mereka bersentuhan sejenak di tengah dinginnya udara malam. "Jangan sampai jatuh ke dasar batu, Gabriel. Nyawa Ayahku dan masa depan kita ada di dalam tabung itu."
Gabriel menerima tabung tembaga tersebut. Mengingat kata 'masa depan kita' yang diucapkan Roselie dengan nada manis yang dibuat-buat, sudut bibir Gabriel terangkat sangat tipis di balik kegelapan.
"Saya mengerti, Nona Roselie," janji Gabriel serak.
*Srett!*
Roselie memetik batu kecil di tanah lalu melemparkannya keras-keras ke arah semak-semak sebelah barat. Suara ranting patah bergema nyaring di tengah keheningan malam.
"Siapa di sana?!" teriak prajurit Serigala Hitam seraya menghunus pedangnya dan bergerak mengecek sumber suara bersama rekannya.
Memanfaatkan kelengahan musuh selama beberapa detik, Gabriel melesat bagaikan bayangan malam menuju bibir tebing utara. Gerakannya begitu presisi, melompati batuan licin tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun.
Di tepi jurang yang curam, angin malam berhembus sangat kencang. Deru air sungai di bawah sana terdengar bagaikan gemuruh guruh.
Gabriel berlutut di tepi cadas, memegang tabung tembaga berisi dokumen rahasia itu. Sebelum melemparkannya ke dalam pusaran air deras di bawah sana, Gabriel menatap tabung itu dengan mata biru jernih yang berkilat tajam.
‘Ayah... kebenaran tentang pembantaian keluarga kita ada di sini,’ batin Gabriel dengan dada yang bergetar oleh gejolak emosi. ‘Pangeran Cedric akan membayar setiap tetes darah yang dia tumpahkan di ibukota.’
Dengan ayunan tangan yang kuat dan terukur, Gabriel melemparkan tabung tembaga itu ke tengah pusaran sungai!
Plasssh!
Tabung itu menghantam permukaan air deras dan langsung terbawa arus cepat menuju muara barat—tempat kurir laut rahasia keluarga Hazel telah bersiaga.
Gabriel bernapas lega. Misi pertama mereka berhasil diselesaikan.
Namun, saat Gabriel hendak berbalik dan kembali ke posisi Roselie, sebuah suara gesekan besi yang sangat familiar terdengar tepat di belakang tengkuknya!
Sret...
Ujung pedang panjang berbau minyak zirah menempel dingin di leher Gabriel dari balik kabut.
"Jangan bergerak," suara serak dan berat bergema di balik punggung Gabriel.
Kapten Vane melangkah keluar dari balik pepohonan pinus seraya menyunggingkan senyuman culas yang mengerikan. Pria berwajah parut luka itu berdiri memegang pedangnya, menatap Gabriel dari jarak sangat dekat.
"Pembersih kotoran kuda yang bodoh..." terkekeh Kapten Vane dengan nada dingin. "Kau pikir aku tidak curiga melihat seorang pekerja biasa berkeliaran di tebing utara pada tengah malam yang pekat seperti ini?"
Dari balik semak-semak yang tak jauh dari sana, jantung Roselie seakan berhenti berdetak seketika. Matanya membelalak lebar menyaksikan Kapten Vane menodongkan pedang tepat di leher Gabriel!
---
panik Khan Rosalie..
kebayang malunya gimana 🥲. Rosalie udh donk jangan sandiwara trus. Gabriel udh inget itu 😭😭😭
eeehhhh🤭🤭🤭
trus gimana donk.. satu2nya jalan keluar Gabriel terjun ke sungai.. tapi..... 😮💨😮💨
. Gabriel udh inget lagi...🤭🤭🤭 gmNa nasib Rosalie yang mentah2 membohongi Gabriel..🤣🤣🤣 aduuhh pasti abis ini Gabriel pura2 deh sama Rosalie.. mau ngapain coba dia🤣, nggak mungkin kalo nggak balas dendam