“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
•••
Siang itu di cafetaria kampus tempat biasa Giselle serta dua sahabatnya singgah untuk sekedar makan dan bercerita terasa heboh karena reaksi berlebihan Karina.
Orang-orang sampai menatap tak suka, merasa terganggu karenanya.
"Astaga kau benar-benar mendapatkan nomornya untukku, terima kasih banyak Giselle... aku menyayangimu..." Pekik Karina, memeluk Giselle.
"Lepaskan... Aku tidak bisa bernafas!"
Yesha terlihat kebingungan akan maksud keduanya.
"Nomor siapa? Kenapa hanya aku yang tidak tahu apa-apa?"
"Siapa suruh kau hanya sibuk dengan Yohan saja."
Giselle menyenggol pinggang Karina, sedikit melotot kepadanya, "Karina meminta nomor telepon Yoshi kemarin. Jadi aku memberinya, dan lihat responnya agh... berlebihan."
"Kau sungguh tertarik padanya?"
Karina mengangguk yakin atas pertanyaan Yesha.
"Iya aku akui itu karena aku tidak seperti Giselle yang akan menyangkal saat ditanya 'Apa kau tertarik pada Jio?'.”
“Dan aku tidak sepertimu yang akan terus menyukai Yohan dalam diam. Jadi aku harus menunjukkan perasaanku."
"Sekarang aku tahu kenapa Giselle sangat ingin membunuhmu. Giselle, jika kau mau membunuhnya saat ini maka aku akan membantumu dengan senang hati."
"Baiklah Yesha, lakukan eksekusi sebelum dia kabur."
"Hey, calm down girls... Why you guys so serious?"
"Kau benar-benar menyebalkan bagaimana bisa aku berteman denganmu?"
"Itu juga jadi pertanyaanku, kenapa aku mau berteman dengan kalian? Apa lagi Giselle, dia kan benar-benar gila..."
"Lihat. Baru beberapa menit lalu kau memujiku, sifat aslimu sudah keluar saja."
Cengiran di bibir Karina melebar, ia sangat menyayangi Giselle juga Yesha.
Dia bersyukur memiliki sahabat seperti keduanya walaupun cara mereka mengungkapkan kasih sayang berbeda dengan kebanyakan orang.
Dan Karina menyukainya, Karina suka cara mereka menjalin persahabatan.
"Oh aku hampir lupa, aku harus menemui Jio dia pasti menungguku sekarang."
"Yang ada Jio bersyukur karena kau tidak mengganggunya barang sehari saja."
"Tidak mungkin, mengganggunya sudah ada dalam daftar kegiatanku dan itu mutlak tidak dapat dihapus.”
”Sudah aku pergi."
"Aku ikut.”
Karina tersenyum pada Giselle yang menatapnya.
"Bukankah aku harus menambahkan Yoshi dalam daftar kegiatanku juga?"
"Baiklah, ayo."
"Kalian mau meninggalkanku? Tega sekali."
Giselle terkekeh, "Ya ampun Yesha, nanti sore kita akan bertemu lagi. Hari ini kita ada pemotretan bersama bukan?"
"Ya, baiklah aku akan menemui Ryn dan Wilona lalu berangkat bersama mereka nanti."
"Oke, sampai bertemu nanti Yesha."
•••
Giselle dan Karina mendatangi departemen Economics Business menuju kelas Jio serta Yoshi berada.
"Jio kelasmu sudah selesai?"
"Seperti yang kau lihat."
Karina menggigit pipi dalamnya mencoba menahan untuk tidak meledakkan tawanya sekarang, sedang Yoshi terkekeh.
"Giselle bersabarlah menghadapinya, dia tak pandai berbasa-basi."
"Tak apa Yoshi aku sudah paham dan memaklumi akan bagaimana sifatnya itu.”
Diliriknya Jio–orang yang dimaksud.
"Ayo Kak Jio kau harus mengantarku pulang dulu sebelum ke tempat pemotretan. Karina, Yoshi kami pulang dulu ya..."
Giselle bergelayut manja menggandeng tangan Jio erat membuat pria itu pasrah atas apa yang dilakukannya. Berjalan meninggalkan Karina yang menatap Yoshi.
"Yoshi, kemarin aku meminta Giselle untuk mendapat nomor teleponmu. Aku rasa dia mendapatkannya dari Jio.
“Tak apa, jika aku menyimpannya?"
Yoshi tersenyum, "Hanya menyimpannya, tak mau menghubungiku?"
Karina menatap tak percaya, "Bolehkah?"
Yoshi mengangguk.
"Baiklah akan kulakukan, kalau begitu aku... pulang dulu?"
"Kau pulang sendiri?"
Karina mengangguk cepat.
“Mau aku antarkan?" Lanjut Yoshi.
"Aku menunggumu mengatakan itu."
Yoshi tertawa mendengar ucapan Karina, gadis ini sederhana juga jujur. Dia bicara sesuai dengan apa yang dirasakannya, bahkan dipertemuan awal mereka Karina tak malu-malu memuji ketampanan Yoshi.
Karina sama beraninya dengan Giselle meski cara penyampaian mereka berbeda.
"Ayo, aku antar ke rumahmu."
"Dengan senang hati."
•••
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Giselle tak hentinya bercerita panjang lebar tentang banyak hal. Untung saja Jio sudah cukup terbiasa akan ocehan Giselle.
"Jio kau tahu–“
"Tidak."
"Tck... diam dulu aku belum selesai bicara.”
Giselle mendengus, "Kau tahu? Karina menyukai Yoshi. Astaga, aku tidak percaya akan hal itu. Yoshi belum memiliki kekasih bukan?"
Jio menggeleng, itu membuat Giselle lega.
"Syukurlah… setidaknya Karina punya kesempatan.”
“Bayangkan saja jika Yoshi sudah memiliki kekasih bagaimana perasaan Karin–“
“Eh… tunggu-tunggu, tapi Karina hanya mengatakan kalau dia tertarik bukan suka. Jio, rasa tertarik dan suka itu berbeda, kan?"
"Kau sudah di tahun kedua kuliahmu tapi tidak bisa membedakan dua hal itu?"
"Ish... bukan tidak bisa, aku hanya bertanya karena pendapat setiap orang itu berbeda jadi aku ingin tahu bagaimana menurutmu."
"Terserah kau saja."
"Dasar menyebalkan..."
Giselle beralih memandang wajah Jio yang tengah fokus mengemudi.
Rahang tegas serta hidung mancung yang tampak dari samping tersebut terlihat begitu menawan, harusnya Jio gunakan itu untuk memikat hati para gadis tapi pria itu justru menyia-nyiakannya, sayang sekali bukan.
Sadar dirinya diperhatikan Jio berdeham, "Apa?"
"Tidak. Ada yang ingin aku tanyakan."
"Kau akan tetap bicara walaupun aku tak menyetujuinya."
Giselle membola, "Kenapa tidak bawa motor saja saat aku memintamu menjemputku atau mengantarkan aku pergi, dan kenapa selalu membawa mobil? Ya, meskipun mobilmu bagus sih."
"Kenapa?"
"Astaga… aku bertanya, harusnya kau menjawabnya bukan balik bertanya juga."
"Aku tidak mau memboncengmu dengan motorku."
"Kenapa?! Padahal aku lebih suka naik motor agar aku bisa memelukmu seperti waktu itu."
"Nah, itu sebabnya."
Giselle menatap horor ke arah Jio, sedang Jio fokus memarkirkan mobilnya saat tiba di basement apartemen gadis itu.
Jio menoleh, "Sudah sampai, turun."
Giselle menurut kemudian turun dari mobil, keduanya berjalan menuju unit milik Giselle.
"Dua empat tujuh tiga enam lima."
Pintu unit itu terbuka.
"itu password apartemenku. Kau harus mengingatnya."
"Untuk apa?"
"Kau mungkin akan membutuhkannya suatu saat nanti."
Jio tak menghiraukan ucapan gadis itu, memilih masuk lebih dulu ke dalam apartemen.
Giselle terkekeh geli, "Sebenarnya ini rumah siapa?"
Jio duduk di sofa panjang ruang tamu Giselle, merebahkan tubuhnya di sana.
Memejamkan mata.
Pria itu sedikit lelah hari ini, tugas kuliahnya menumpuk dia juga harus belajar ekstra untuk mata kuliah bisnisnya ditambah dengan banyak permintaan Giselle membuatnya harus mengeluarkan tenaga lebih.
"Kau bisa tidur di kamarku jika mau. Pemotretannya nanti sore. Masih tiga jam lagi sebelum itu, kau bisa istirahat dulu."
"Tidak perlu."
"Kau kelelahan, tidurlah di kamarku."
"Kau tahu aku kelelahan tapi masih merepotkanku. Aku bisa istirahat di sini."
"Dasar keras kepala, ya sudah aku mau mandi."
Giselle memasuki kamarnya, menuju kamar mandi. Beberapa saat setelah selesai mandi gadis itu mengganti pakaiannya, dan kembali ke ruang tamu.
Dilihatnya Jio tertidur dengan posisi yang tidak nyaman. Giselle mendekat lalu membenarkan posisi kepala Jio, memberinya bantal.
"Keras kepala, badanmu akan sakit karena tidur di sini." Gumam Giselle.
Giselle beralih duduk di sofa tunggal sebelah Jio.
Meraih ponselnya, dengan iseng memotret pria yang tengah tertidur tersebut. Giselle tersenyum puas saat melihat hasil jepretan yang ia dapatkan, tangan itu asik menggeser layar ponsel hingga tak sengaja menampilkan foto Jio saat di underground.
Gadis itu kembali melirik Jio di sampingnya.
'Aku lupa, kau menuruti semua permintaanku karena ini.'
Senyum itu memudar.
Jemari Giselle beralih keluar dari galeri ponselnya, meng-klik aplikasi delivery order lalu memesan beberapa makanan juga minuman untuk dirinya dan Jio.
Sembari menunggu makanan diantar, Giselle membaca buku novel yang diambilnya dari rak bawah meja di ruang tamu tersebut.
Setengah jam kemudian bel apartemen berbunyi, pesanannya datang. Setelah mengambil pesanannya Giselle kembali masuk dan menyiapkan makanan itu di piring lalu membawanya ke ruang tamu.
Meletakkannya di meja.
Gadis itu hendak membangunkan Jio dengan hati-hati, memandang wajah pria tersebut dan mengusapnya pelan.
Rupanya usapan tadi membuat tidur Jio sedikit terusik, seulas senyum terlukis pada wajah Giselle. Gadis itu kembali melanjutkan usapan tangannya.
Jio yang semakin terusik perlahan membuka mata, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah cantik Giselle tersenyum lembut di hadapannya dengan tangan mengusap sebelah pipinya.
Wajah gadis itu terlampau dekat hingga Jio dapat merasakan hangat nafasnya, hal itu membuat Jio terdiam merasakan desiran aneh pada tubuhnya.
Jio terpaku pun dengan Giselle, keduanya sama-sama menatap mata satu sama lain hingga Giselle meraba dadanya sendiri. Jantung itu kembali berdetak lebih cepat, Jio tersadar lalu mengalihkan pandangannya.
"Eh... Jio b-bangunlah, aku… ekhm... aku pesan makanan tadi, jadi ayo bangun lalu makan hehe..."
'Sialan kenapa aku jadi gugup?' Giselle merutuki diri.
Jio mengangguk, "Aku akan membasuh wajahku dulu. Di mana kamar mandinya?"
"Kau bisa gunakan kamar mandi di dalam kamarku. Mau aku antar?"
Jio menggeleng, "Tak perlu."
"Tapi apa tidak apa-apa jika aku masuk ke dalam kamarmu?"
"Astaga... aku bahkan tidak keberatan jika kau mau aku berbagi ranjang denganmu. Bagaimana?"
Giselle terkekeh melihat Jio menatapnya tajam seraya menghela nafas, Giselle selalu tahu sefrontal apapun ucapan serta kelakuannya Jio hanya akan merespon dengan helaan nafas.
Jio terlampau sabar dalam skala menghadapi gadis gila seperti dirinya, Giselle akui itu.
Segila apapun Giselle tentu dia tidak akan mengijinkan pria manapun masuk ke dalam kamarnya.
Jio pengecualian.
•••Vienbluu (annavienbluu)