Elena Larasati, tidak pernah menduga jika tiga tahun menikah dengan Angga Mahardika, membawa hidupnya dalam kehancuran.
Cinta yang selama ini ia genggam dan jaga dengan baik, ternyata dibalas pengkhianatan yang menyakitkan.
Elena tidak pernah tahu jika selama ini ada wanita lain yang juga berperan seperti dirinya di sisi Angga.
Hingga sebuah peristiwa membongkar semuanya, dan Elena merasa dunianya hancur seketika.
"Ceraikan aku sekarang juga, Mas. Aku nggak sanggup kalau harus berbagi," desak Elena.
"Tidak. Saya tidak akan pernah menceraikan kamu, Elena!" tolak Angga tegas.
"Aku nggak bisa, Mas! Aku mau kita pisah!"
"Tidak akan, Elena. Saya sangat mencintai kamu. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istri saya!"
Bagaimana Elena melewati kehidupan rumah tangganya dengan kenyataan ada istri lain di sisi suaminya?
Disclaimer hanya untuk yang kuat saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaga Bicaramu, Cindy
Pukul 5 sore, Angga baru tiba di apartemen Cindy. Wanita itu terlihat sangat bahagia, menyambut Angga dengan senyum lebarnya.
"Akhirnya kamu datang juga, Mas," ucapnya seraya memeluk Angga.
Angga hanya diam beberapa detik, lalu tangannya terulur menyentuh rambut Cindy.
"Ayo kita masuk dulu. Tutup pintunya," pinta Angga.
Cindy mengangguk dan melepaskan pelukannya. Ia pun menutup pintu seperti perintah Angga, setelah itu duduk di samping pria itu di atas sofa.
"Sore sekali kamu datang, mas? Aku tadi hampir tidak makan."
"Tapi kamu makan kan?"
"Iya, karena tadi ada yang membawa makanan kesukaanku datang."
"Itu orang suruhan saya. Saya yang meminta mereka untuk menyiapkan semua keperluanmu."
Cindy tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu Angga. "Aku tahu itu pasti kamu mas. Makanya aku mau makan. Tapi tetap saja aku inginnya kamu di sini."
"Sekarang saya di sini."
"Apa kamu akan menginap?"
Angga menoleh ke arah Cindy, lalu menatapnya. "Tidak, Cindy. Malam ini saya tidak menginap."
Cindy pun menarik dirinya dari bahu Angga dan menatapnya. "Mas, kapan kamu menginapnya? Kemarin kamu sibuk dengan Elena, karena dia baru saja melihat kita bersama."
"Sehari setelahnya kamu juga masih sibuk karena dia ternyata sakit. Dan hari ini apalagi? Apa karena gangguan kejiwaan yang kau sebutkan tadi?"
"Cindy..." tegur Angga.
"Maaf, aku tidak bermaksud—"
"Kondisinya belum stabil. Dia masih kesulitan makan dan juga sempat pingsan. Karena itu saya belum bisa meninggalkannya."
"Pingsan?"
"Iya."
"Kok bisa? Dia kan nggak hamil mas, dan tubuhnya sehat-sehat saja. Apa kamu nggak berpikir kalau dia hanya drama nggak mau makan hingga pingsan supaya kamu tetap di sisinya? Bisa saja dia hanya menarik simpati kamu, Mas agar kamu tidak menjenguk calon anakmu di sini."
"Jaga bicaramu Cindy! Elena seperti ini juga karena kamu!" ujar Angga dengan kemarahan tertahan.
Cindy tersentak. "Apa mas? Karena aku?"
"Ya. Siapa yang menyuruhmu mengirimkan foto kita berdua kemarin saat saya tidur di sini kepada Elena hah?! Bukankah saya sudah mengatakan kepadamu untuk jaga perasaan Elena dulu? Seharusnya saat ini dia belum tahu tentang pernikahan kita, Cindy."
"Ya terus aku gimana mas? Kalau yang kamu jaga selalu perasaan Elena, bagaimana denganku? Elena memang sudah seharusnya tahu hubungan kita, mas. Dia harusnya bisa mengerti. Kamu mau tunggu sampai kapan? Sampai perut aku membesar?"
"Cindy...saya tidak pernah mengabaikan semua tentangmu selama ini kan? Saya hanya minta kamu pahami saya. Apa keinginan kamu yang tidak saya berikan, hmm? Tidak ada kan?"
Cindy terdiam. Ia tahu Angga telah memberikan semua yang ia inginkan sejak ia dinikahinya. Apartemen, mobil mewah, tabungan emas dan masih banyak hal lainnya.
"Saya hanya butuh pengertian kamu. Kamu tahu kita menikah dibawah tangan dan saat itu saya sudah memiliki Elena kan?"
"Iya, mas. Maafkan aku. Aku hanya takut kalau kamu meninggalkan aku."
"Saya tidak akan meninggalkan kamu, Cindy. Jadi jangan buat keributan dan bersabarlah untuk sementara ini."
"Iya, mas.Maafkan aku. Aku terlalu mencintai kamu, sampai takut kehilanganmu," ucap Cindy mencoba memeluk Angga.
Pria itu pun tidak menolaknya dan membiarkan Cindy bersandar di dadanya.
"Kamu tidak akan kehilangan saya, selama kamu menuruti saya, Cindy. Kamu sedang mengandung anak saya. Saya akan bertanggung jawab atas itu."
****
Sementara itu, di mansion Angga Mahardika, Elena tengah makan malam. Ia tidak lagi makan di dalam kamar karena ia merasa tubuhnya sudah lebih baik.
"Iroh, apa mas Angga tidak ikut makan?" tanya Elena seraya menyendok makanannya.
"Maaf nyonya, Tuan pergi sejak sore tadi."
Mendengar itu, dada Elena terasa nyeri. Pergerakan tangannya terhenti dan sendok itu diletakkan kembali di atas piring.
"Pergi kemana?"
"Saya tidak tahu, nyonya. Tuan tidak mengatakan apa-apa."
Elena hanya tersenyum getir. Ia kembali menyendokkan nasi itu lalu memakannya dengan paksa sambil meneteskan airmata.
Dia pasti menemui perempuan itu!
Kenapa? kenapa hatiku masih saja sakit? Seharusnya aku telah membenci Mas Angga kan?
Tapi kenapa hatiku masih saja terasa begitu sesak?
Susah payah Elena menelan makannya karena sambil menangis. Tiba-tiba saja suster Eni mendatanginya.
"Nyonya Elena, dokter Evan berkunjung ingin memastikan kondisi anda," ucapnya.
Sontak hal itu membuat Elena terkejut hingga tersedak makanan.
"Uhukk...uhukkk."
Evan terkejut dan segera mengambil air mineral di meja lalu memberikannya kepada Elena.
"Pelan-pelan, Elena.."
Elena terhenyak, ia minum air mineral itu dari tangan Evan sambil menatapnya.
Kenapa dia memanggilku Elena bukan nyonya Elena?