Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 | Ketahuan?
"Permisi."
Suara interupsi bernada dingin dan rendah itu mendadak memutus percakapan mereka. Luna dan Xabiru kompak menoleh. Di ujung koridor beberapa meter dari tempat mereka berdiri, Orion berjalan santai didampingi seorang perawat. Pria itu sudah rapi dengan kaus hitam dan celana longgarnya. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan membuat tatapan mata abu-abunya terlihat sangat intens.
Orion berhenti melangkah, sama sekali mengabaikan keberadaan Xabiru, dan hanya mengunci pandangannya pada Luna.
"Nanae," panggil Orion santai, menggunakan nama panggilan privat mereka tanpa rasa dosa sedikit pun di depan orang lain. "Jadwal konsultasiku bukannya lima menit lagi? Kenapa masih berdiri di sini?"
Luna melotot, panik setengah mati. Bisa-bisanya Orion memanggil nama itu di depan kak Biru!
Xabiru serta-merta menggeser posisinya, bergerak secara naluriah untuk berdiri sedikit di depan Luna, menghalangi pandangan Orion dari adiknya. Insting polisinya langsung menangkap aura tidak beres dari pria berwajah pucat tersebut.
"Siapa dia, Luna?" tanya Xabiru pelan, matanya menyipit menatap Orion dengan sorot menilai yang tegas.
"D-dia... Orion. Pasien baru yang menjadi tanggung jawabku, kak," jawab Luna dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup.
Orion yang melihat Xabiru menutupi sosok Luna justru menyunggingkan senyum tipis yang penuh provokasi. Mata abu-abunya melirik sebentar ke arah kantong makanan di tangan Xabiru, lalu beralih menatap plester di leher Luna.
"Psikiaterku sepertinya sangat sibuk hari ini," ujar Orion dengan nada suara yang sengaja dibuat sedikit manja namun berat, melangkah satu langkah mendekati mereka. "Tapi lehermu... apa plester yang kupasang–maksudku, plester yang kamu ganti tadi pagi tidak lepas, kan?"
Mata Xabiru seketika membelalak kaget mendengar ucapan membingungkan dari pasien tersebut. Ia langsung menoleh menatap Luna dengan raut wajah penuh tanda tanya. Sementara Luna rasanya ingin runtuh ke dasar bumi saat itu juga. Orion benar-benar sengaja ingin memancing keributan!
"Plester yang kamu pasang...?" ulang Xabiru lambat.
Suara ramah khas seorang Xabiru yang beberapa detik lalu menenangkan kini berubah tajam. Rahang tegapnya mengeras. Sebagai seorang polisi, instingnya langsung mendeteksi adanya ketidakberesan yang sengaja disembunyikan di balik kepanikan wajah Luna.
Xabiru memutar tubuhnya, menatap Luna lurus-lurus. "Maksud dia apa, Lun? Plester apa yang dia maksud?"
Luna merasa oksigen di sekitarnya mendadak menyusut. Wajahnya pucat pasi, matanya bergerak liar antara Xabiru dan Orion. "Ng-ngga ada, kak! Dia... dia cuma asal bicara! Orion ini punya gangguan delusi, dia sering mengarang cerita!"
Luna melirik Orion dengan tatapan membunuh, menyiratkan peringatan agar pria itu menutup mulutnya.
Namun, Orion justru makin menikmati panggungnya. Pria bertubuh tinggi itu menyandarkan punggungnya di dinding koridor, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya santai yang luar biasa menyebalkan. Mata abu-abunya berkilat jahil saat menatap Xabiru yang kini memasang badan di depan Luna.
"Aku tidak delusi, Nanae," sahut Orion tenang, suaranya sengaja diperberat agar menggema di koridor yang mulai sepi itu. "Tadi pagi kamu sendiri yang panik gara-gara plester medis di lehermu sedikit lepas. Kenapa sekarang pura-pura lupa?"
Deg.
Rasa malu dan panik membuat Luna ingin menghantam wajahnya sendiri. Ia ingin sekali menyumbat mulut Orion menggunakan sarung tangan lateks detik itu juga.
Xabiru melangkahkan kakinya selangkah, memotong jarak antara dirinya dan Orion. Tubuh tegap khas aparat milik Xabiru berhadapan langsung dengan postur jangkung dan aura dominan Orion. Intimidasi dua pria itu membakar udara di sekitar mereka dalam hitungan detik.
"Saya tidak tau siapa anda," ucap Xabiru dingin, matanya menyipit menatap Orion dari atas ke bawah. "Tapi berbicara tidak sopan dan memancing hal yang tidak perlu pada psikiater anda... jelas melanggar batasan pasien."
"Dan kau siapa?" balas Orion santai. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi tatapan menusuk dari seorang polisi. Sudut bibirnya justru terangkat, membentuk senyuman miring yang provokatif. "Suaminya? Pacarnya? Atau cuma... orang luar yang terlalu ikut campur tangan?"
Xabiru mengepalkan tangannya di samping tubuh, meremas kantong kertas berisi makan siang Luna hingga agak kusut. "Saya kakaknya."
"Oh... kakak," bisik Orion, menekankan kata 'kakak' dengan intonasi yang sarat akan sindiran halus, seolah ia tau ada sesuatu yang aneh dari cara Xabiru menatap adiknya. "Pantas saja sangat protektif. Tapi maaf, kakak... sekarang jadwal terapi pribadiku. Dan adikmu ini sudah berjanji tidak akan meninggalkanku."
"Cukup!" sela Luna setengah berteriak, tidak sanggup lagi menahan tensi gila yang makin memuncak.
Ia dengan nekat menerobos ke tengah-tengah antara Xabiru dan Orion, merentangkan kedua tangannya untuk memisahkan mereka berdua.
"Kak Biru, tolong... ini cuma masalah pekerjaan," ucap Luna memohon, matanya menatap Xabiru dengan sorot panik dan keputusasaan yang nyata. "Makan siangnya Luna terima, makasih banyak ya, kak. Tapi sekarang Luna harus kerja. Tolong kak Biru kembali ke kantor dulu, ya?"
Xabiru menatap Luna dalam-dalam. Maut di matanya perlahan mereda saat melihat adiknya gemetar. Ia tahu Luna sedang dalam posisi tertekan, dan ia tidak ingin membuat Luna makin ketakutan di depan orang banyak.
"Baiklah," ujar Xabiru akhirnya. Ia menyerahkan kantong kertas itu ke tangan Luna, lalu mengusap bahu wanita itu pelan. "Aku pulang dulu. Tapi nanti malam aku jemput. Kita bicara di rumah, Luna." Xabiru memberi penekanan pada kata 'bicara', menandakan bahwa interogasi soal plester leher itu belum berakhir.
Sebelum berbalik pergi, Xabiru melemparkan satu tatapan dingin dan penuh ancaman ke arah Orion. Orion hanya membalasnya dengan lambaian jari yang malas dan senyuman penuh kemenangan.
Begitu sosok Xabiru menghilang di balik pintu kaca lobi utama, Luna memutar tubuhnya secepat kilat. Ia menatap Orion dengan napas memburu, matanya memerah menahan amarah yang meledak-ledak.
"Maksud kamu apa, Orion?!" bisik Luna ketus, suaranya bergetar hebat. "Kamu sengaja mau menghancurkan hidup saya?!"
Orion melangkah mendekati Luna, memangkas jarak hingga ia bisa merunduk dan berbisik tepat di samping telinga wanita itu.
"Aku cuma tidak suka ada pria lain yang menyentuh kepalamu dan menatapmu seperti itu, Nanae..." bisik Orion rendah, napas hangatnya menyapu leher Luna yang tertutup plester. "...meskipun dia mengaku sebagai kakakmu."
☆☆☆
Xabiru menghentikan langkahnya di depan pintu kaca lobi utama. Langkah kakinya terasa amat berat. Insting polisinya yang terlatih selama bertahun-tahun berteriak nyaring bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Luna. Ekspresi wajah Luna yang panik setengah mati, ketakutan yang tidak wajar, hingga senyum provokatif dari pasien berinisial Orion itu... semuanya terasa salah.
Ia tidak bisa pulang begitu saja. Tidak sebelum tau apa yang sebenarnya terjadi di balik plester medis di leher Luna. Xabiru memutar tumitnya, melangkah tegas menuju lorong bagian belakang rumah sakit menuju ruang sistem keamanan dan kontrol CCTV.
"Maaf, Pak. Area ini terbatas hanya untuk staf keamanan rumah sakit," cegah seorang petugas jaga saat Xabiru hendak membuka pintu baja ruang kontrol.
Xabiru tidak membuang waktu. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan dompet kulit hitam, dan membeberkan kartu identitas kepolisiannya tepat di depan wajah petugas tersebut. Sorot matanya berubah seratus persen menjadi sorot mata penyidik yang dingin dan tak tersentuh.
"Inspektur Xabiru, Kepolisian Daerah," ucapnya singkat, suaranya berat dan mengintimidasi. "Saya sedang melakukan penyelidikan terkait laporan potensi ancaman keselamatan staf di bangsal VIP. Saya butuh akses rekaman CCTV ruang konseling Dokter Rellunae Keller dalam 24 jam terakhir."
Petugas keamanan itu menelan ludah, berkeringat dingin melihat seragam dan wewenang polisi di depannya. "Tapi Pak... akses rekaman ruang konseling itu sangat rahasia karena menyangkut privasi medis–"
"Ini perintah penyelidikan resmi," potong Xabiru dengan tekanan suara yang begitu rendah hingga membuat bulu kuduk petugas itu meremang. "Atau kamu mau saya bawa ke markas atas tuduhan menghalangi penyidikan petugas?"
Gemetar, petugas itu akhirnya membungkuk dan membukakan pintu. "B-baik, Pak. Silakan."
Ruang kontrol itu remang-remang, hanya diterangi oleh puluhan layar monitor yang menampilkan berbagai sudut RSJ Silver Oak. Petugas keamanan dengan cepat mengetikkan beberapa perintah di papan ketik, mencari arsip rekaman CCTV ruang konseling milik Luna sesi kemarin siang.
"Ini rekamannya, Pak," bisik petugas itu pelan, lalu bergeser memberi tempat untuk Xabiru.
Xabiru melangkah mendekat. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap layar monitor besar yang menampilkan rekaman video beresolusi tinggi tanpa suara.
Di dalam layar, terlihat Luna sedang duduk di sofa cokelat susu. Di sebelahnya, pria bertubuh jangkung itu, Orion, sedang duduk terlalu dekat. Xabiru mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih saat melihat bagaimana lancangnya jemari Orion menyentuh ujung jubah putih Luna.
Biasa saja, ini cuma taktik manipulasi pasien, batin Xabiru mencoba menenangkan gejolak di dadanya.
Namun, detik berikutnya, apa yang ditangkap oleh kamera CCTV membuat dunia Xabiru serasa berhenti berputar seketika.
Di layar monitor, terlihat Orion tiba-tiba menangkup wajah Luna. Luna membeku. Kemudian, dengan gerakan yang begitu lambat dan sarat akan dominasi, Orion menundukkan kepalanya... lalu mendaratkan bibirnya tepat di ceruk leher Luna.
Napas Xabiru seketika tercekat di tenggorokan.Matanya membelalak sempurna menatap layar monitor dengan tatapan syok luar biasa yang bercampur dengan amarah membara. Ia menyaksikan bagaimana pria gila itu tidak hanya mengecup, tapi menyesap area leher Luna dengan begitu dalam, memberikan tanda kemerahan di sana, tanda yang tadi pagi ditutupi Luna menggunakan plester.
Yang makin membuat rahang Xabiru mengeras hingga bergertak adalah reaksi Luna di dalam video. Wanita itu memang sempat menolak, tapi ia tidak berteriak ataupun memukul Orion. Luna justru bergetar hebat hingga akhirnya... menangis.
"Bangsat..." umpat Xabiru rendah, suaranya begitu pecah oleh amarah yang meledak-ledak.
Petugas keamanan di sampingnya ikut menelan ludah, ketakutan setengah mati melihat aura membunuh yang menguar dahsyat dari tubuh polisi muda itu. Ruangan kontrol mendadak terasa begitu dingin dan mencekam.
Jadi ini alasan kamu bohong sama aku, Renae?! batin Xabiru murka. Wajah ramah dan penyayang yang biasa ia tunjukkan pada Luna menguap tanpa sisa. Bajingan itu sudah berani menyentuhmu... dan kamu malah melindunginya dariku?!
Xabiru memajukan tubuhnya, menekan tombol pause di papan ketik, membekukan gambar tepat saat bibir Orion menempel di leher Luna. Ia menatap wajah Orion di layar monitor dengan kilat mata yang sangat berbahaya.
"Kirim berkas rekam medis dan data lengkap pasien bernama Orion ini ke ponsel saya sekarang," perintah Xabiru dingin pada petugas CCTV, tanpa berpaling dari layar.
"B-baik, pak Polisi! Segera!"
Xabiru menegakkan kembali tubuhnya, merapikan kemejanya yang sedikit kusut dengan jemari yang mengepal erat. Rasa protektif dalam dirinya kini telah bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya. Orion baru saja membangunkan monster yang salah.