Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Siapa yang Menjual Gemilang
Foto pintu apartemen Keira membuat ruang keamanan hening.
Rayhan mengambil ponsel dari tangan Keira tanpa meminta izin. Kali ini Keira tidak protes. Ia masih menatap foto itu, pada nomor unitnya yang terlihat jelas, pada keset kecil yang dibeli Mama Lina, pada gantungan pintu bertuliskan jangan lupa bahagia yang mendadak terasa bodoh.
"Kamu pulang ke rumah orang tuamu malam ini," kata Rayhan.
"Apartemen saya..."
"Bisa dikunci."
"Arya ada di atas."
Rayhan menatapnya. "Itu bukan jawaban yang membuatku tenang."
Keira hendak membalas, tetapi Ci Lien lebih dulu menyentuh lengannya. "Keira, malam ini ikut saranku. Pulang ke Rumah Khiu."
Pada akhirnya, Keira menurut. Bukan karena Rayhan memerintah, melainkan karena ia membayangkan Mama Lina melihat foto itu dan jantungnya sendiri langsung mengecil.
Driver kantor mengantar Keira sampai Tangerang Selatan. Rayhan mengirim dua petugas keamanan Gemilang untuk memeriksa area apartemen tanpa seragam mencolok. Arya menelepon tiga kali. Keira menjawab panggilan keempat.
"Kamu di mana?"
"Rumah Papa Mama."
"Kenapa tidak bilang? Aku lihat lampumu mati."
"Ada urusan kantor."
"Keira, jangan begitu. Kalau ada orang mengancammu, aku harus tahu."
Keira menutup mata. Di ruang tamu, Papa Hendra sedang memasang rantai pintu tambahan walau rumah mereka tidak ada hubungannya dengan foto itu. Mama Lina membuat teh jahe tanpa banyak tanya.
"Mas Arya, aku tidak ingin semua orang panik."
"Aku bukan semua orang."
Kalimat itu lembut, tetapi menekan. Keira terlalu lelah untuk menjawab.
"Besok aku cerita," katanya, lalu menutup telepon.
Pagi berikutnya, Dita dipanggil ke ruang kecil di samping legal. Bukan ruang interogasi, tetapi cukup tertutup untuk membuatnya menangis bahkan sebelum duduk.
Rayhan tidak hadir di awal. Hanya Keira, Ci Lien, dan satu staf HR.
"Dita," kata Ci Lien, "kami punya rekaman kamu mengambil file dan menyerahkannya di basement. Kalau kamu berbohong, kasus ini langsung masuk legal."
Dita menutup wajah. "Saya tidak mau, Ci."
Keira menggeser tisu ke depannya. "Siapa yang menyuruh?"
"Nona Selene bilang cuma fotokopi lama. Dia bilang keluarga Kie sendiri yang minta, tapi karena Pak Rayhan pelit akses, harus lewat saya. Saya bodoh, Ci. Ibu saya butuh obat, Nona Selene kasih uang."
"Ancaman ke nomor saya?"
Dita menggeleng cepat. "Bukan saya. Saya cuma ambil map. Saya tidak tahu soal foto apartemen."
Keira percaya bagian itu. Ketakutan Dita terlalu mentah untuk orang yang bisa mengirim ancaman sedingin itu.
Ketika Rayhan masuk, Dita langsung berdiri dan hampir jatuh.
"Pak, saya..."
"Kamu akan menulis kronologi. Jujur. Setelah itu HR memutuskan statusmu. Kalau kamu membantu legal, aku pertimbangkan tidak melaporkanmu sebagai pelaku utama."
Dita menangis makin keras. "Terima kasih, Pak."
Rayhan tidak terlihat tersentuh. Namun ia juga tidak menghancurkan gadis itu di tempat. Keira melihat perbedaan kecil itu dan tahu kalimatnya semalam tentang manusia mungkin masuk ke telinga Rayhan lebih jauh daripada yang ia kira.
Sore harinya, Bella dipanggil kembali ke Gemilang.
Ia datang dengan wajah pucat, tanpa tas mencolok, tanpa parfum mahal yang biasanya mendahului langkahnya. Di ruang rapat, Rayhan meletakkan beberapa tangkapan layar di meja: foto dokumen yang dikirim Bella ke Selene, riwayat pesan, bukti akses lamanya sebelum kontrak diputus.
"Saya tidak tahu akan dipakai untuk apa," Bella berkata cepat.
"Kamu tahu itu dokumen internal."
"Selene bilang hanya untuk melihat contoh anggaran. Saya pikir karena dia keluarga..."
"Keluarga bukan izin."
Keira duduk di sisi ruangan sebagai notulis. Bella menatapnya sekali, mata penuh permintaan tolong yang terlambat.
"Kei, aku tidak bermaksud mencelakai kamu."
Keira menatap teman lamanya. Dulu di toilet ballroom, ia sudah berkata jangan dekat-dekat. Bella memilih lampu yang lebih cantik.
"Kamu tidak pernah bermaksud," kata Keira pelan. "Tapi kamu selalu tahu apa yang sedang kamu ambil."
Bella menunduk.
Rayhan menutup folder. "Mulai hari ini, nama kamu masuk daftar hitam vendor Gemilang dan afiliasi. Legal akan mengirim somasi. Kalau dokumen ini keluar lagi, kamu ikut bertanggung jawab."
Bella menangis tanpa suara.
Keira tidak merasa puas. Ini bukan kemenangan yang manis. Ini hanya akibat.
Selene tidak dipanggil.
Justru itu yang membuatnya gelisah.
Di lantai administrasi, Selene berjalan seperti biasa, menyapa beberapa staf, bahkan sempat bertanya kepada Keira apakah warna lipstiknya terlalu pucat untuk makan malam keluarga.
"Cocok," kata Keira. "Seperti orang yang belum tahu akan ada badai."
Selene tertawa. "Aku suka badai."
"Semua orang berkata begitu sebelum atapnya lepas."
Sore itu Keira sempat kembali ke apartemen untuk mengambil beberapa pakaian kerja. Dua petugas keamanan Gemilang berdiri jauh di area lobi, tidak memakai seragam, tetapi Keira tahu mereka orang Rayhan. Arya turun begitu melihatnya dari lift.
"Jadi benar ada yang memotret pintumu?"
Keira memasukkan kemeja ke tas. "Sudah ditangani."
"Oleh Rayhan?"
"Oleh kantor."
"Kamu selalu membuat batas kalau soal dia."
Keira berhenti melipat. "Karena ini memang urusan kantor."
Arya melihat dua petugas di lobi, lalu tertawa hambar. "Aku tinggal satu lantai di atasmu, tapi yang menjagamu tetap dia."
"Mas Arya, jangan jadikan ancaman orang sebagai ajang cemburu."
Kalimat itu membuat Arya diam. Wajahnya menyesal, tetapi luka kecil sudah telanjur jatuh di antara mereka.
Malam sebelum tender, Rayhan meminta Keira dan Ci Lien lembur di ruang kerja. Dokumen asli sudah dikunci di server terpisah, hard copy final hanya dicetak tiga rangkap. Keira mengecek angka sampai matanya perih.
"Besok Pak Gunawan akan masuk dengan angka salah," kata Ci Lien.
"Kalau dia pakai file umpan," jawab Keira.
Rayhan menandatangani halaman terakhir. "Dia akan pakai. Orang serakah tidak suka membuang barang yang dikira bocoran."
Keira memasukkan dokumen ke map hitam. "Lalu Selene?"
"Selene akan melihat orang yang ia pilih jatuh dulu."
"Bapak tidak takut Pak Hendrik marah?"
Rayhan menatapnya. "Aku lebih takut membiarkan orang bodoh menjual perusahaan karena merasa punya darah Kie."
Kalimat itu dingin, tetapi untuk pertama kalinya Keira mendengar sesuatu yang menyerupai luka keluarga di dalamnya.
Pukul sebelas malam, Keira pulang ke Rumah Khiu lagi. Di meja makan, Mama Lina menyisakan sup ayam dan telur kukus. Papa Hendra duduk menunggu meski matanya sudah merah.
"Besok penting?" tanya Papa.
"Penting, Pa."
Papa mengangguk. "Kalau begitu makan. Orang perang juga butuh nasi."
Keira tertawa kecil, lalu makan sampai mangkuknya bersih.
Keesokan paginya, saat mobil Gemilang memasuki gedung tempat tender, ponsel Rayhan menerima pesan dari Darren.
Gunawan sudah masuk. Dia bawa angka umpan.
Rayhan membaca pesan itu, lalu menatap Keira.
"Kita mulai."