NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Tubuh

Rahasia Dua Tubuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.

Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.

Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.

"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mendapatkan Kontrak

Udara pagi Kota Surabaya terasa cukup terik ketika Bara dan Udin memarkirkan sepeda motor mereka di depan sebuah gedung perkantoran bergaya modern minimalis yang berdiri megah di kawasan pusat kota.

Di tangan Bara, selembar alamat berlogo Vortex Records tergenggam erat. Meski berusaha menyembunyikannya, debaran di dada kedua remaja itu terasa begitu nyata.

Hari ini adalah hari penentuan yang akan mengubah jalan hidup mereka selamanya.

Setibanya di lantai lima gedung tersebut, mereka disambut oleh seorang wanita berbusana rapi yang langsung mempersilakan mereka masuk ke sebuah ruang rapat berbalut kaca transparan.

Di dalam ruangan, Satria, produser eksekutif paruh baya yang sempat menelepon beberapa hari lalu, sudah menunggu bersama seorang pria berkacamata yang mengenakan setelan jas kasual—direktur kreatif label tersebut.

"Selamat datang, anak-anak muda berbakat! Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan kalian," sambut Satria dengan senyuman hangat, menjabat tangan Bara dan Udin bergantian.

Suasana rapat yang awalnya menciutkan nyali cair seketika berkat pembawaan Satria yang ramah namun profesional. Mereka tidak bertele-tele. Setelah memuji habis-habisan karya yang ditampilkan saat festival sekolah tempo hari, sang direktur kreatif langsung memaparkan draf kerja sama di atas meja.

"Kami dari Vortex Records melihat potensi komersial yang luar biasa dari kolaborasi kalian. Vokal bariton Bara yang kuat berpadu sempurna dengan flow rap tajam milik Udin. Kontras itu adalah daya tarik utama yang langka di industri musik saat ini," jelas Satria sambil menyodorkan dokumen kontrak berwarna biru gelap.

"Kami ingin kalian memproduksi satu album penuh. Enam lagu, semuanya harus sudah rampung digarap dan direkam dalam kurun waktu satu bulan ke depan. Bagaimana, kalian sanggup?"

Udin menoleh sekilas ke arah Bara, matanya membelalak tak percaya. Enam lagu dalam satu bulan adalah target yang sangat ambisius, tetapi kesempatan emas seperti ini tidak akan datang dua kali. Bara mengangguk pelan, memberikan isyarat persetujuan penuh pada sahabatnya.

"Kami sanggup, Pak," jawab Bara mantap mewakili Udin.

Tanpa buang waktu lagi, di atas meja rapat itu, Bara dan Udin membubuhkan tanda tangan mereka di atas lembar kontrak resmi.

Sebuah tepuk tangan ringan dari Satria dan timnya menandai resmi dimulainya babak baru dalam karier musik dua remaja SMA Bangsa tersebut.

Jauh dari hingar-bingar dunia musik dan kilau lampu studio rekaman, suasana kontras tersaji di sebuah ruangan mewah berukuran besar di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di jantung kota Surabaya.

Ruangan itu didekorasi dengan gaya industrial modern, didominasi warna gelap dan dinding kaca utuh dari lantai hingga langit-langit yang menawarkan pemandangan seluruh lanskap kota dari ketinggian.

Seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam elegan berdiri membelakangi pintu masuk. Kedua tangannya disilangkan di belakang punggung, menatap lurus ke luar kaca, memperhatikan lalu-lalang kendaraan yang tampak kecil bagaikan semut di bawah sana.

Di belakangnya, berdiri tegak dua sosok laki-laki dengan postur tubuh yang memancarkan aura intimidasi yang kuat: Danu dan Dani, dua petinggi Four Men Crew yang selama ini ditakuti di jalanan kota.

Wajah mereka yang biasanya angkuh dan garang kini tampak jauh lebih tenang, bahkan menyiratkan sikap hormat di hadapan pria misterius yang memunggungi mereka.

Pria di depan kaca itu perlahan membalikkan tubuhnya. Usianya mungkin berada di kisaran akhir tiga puluhan, namun tatapan matanya begitu tajam, dingin, dan penuh perhitungan tipe pemimpin absolut yang mengendalikan segalanya dari balik bayang-bayang. Ia adalah sosok tertinggi di balik rantai kekuasaan gelap kota ini.

"Bagaimana perkembangan wilayah kita, Danu? Aku ingin laporan lengkap hari ini," suara pria itu terdengar tenang, namun berbobot, langsung memecah keheningan ruangan.

Danu maju satu langkah, menunduk sedikit sebagai tanda hormat sebelum mulai berbicara. "Semua berjalan sesuai rencana, Bos. Situasi di jalanan sudah sepenuhnya berada di bawah kendali kita."

Pria itu menyeringai tipis, berjalan pelan mendekati meja kerja besar di tengah ruangan sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada Dani dan Danu.

"Mulai dari kelompok pecundang itu... apa kabar mereka sekarang?" tanyakan pria itu merujuk pada Big Bang.

Dani mendengus sinis. "Big Bang sudah tinggal sejarah, Bos. Setelah bentrokan besar beberapa minggu lalu di markas mereka, ketua mereka yang bernama Galang terpaksa bertekuk lutut dan menerima syarat kita. Seluruh sisa anggota mereka kini resmi membubarkan diri dan sebagian kecilnya sudah kita jadikan buruh suruhan di sektor timur. Tidak ada lagi perlawanan dari mereka."

Pria itu mengangguk-angguk kecil, puas mendengar jawaban tersebut. "Bagus. Kelompok kecil yang keras kepala memang harus dihancurkan sampai ke akarnya agar yang lain tahu diri. Lalu... bagaimana dengan Ghostel?"

"Ghostel masih patuh pada batas teritorial yang kita tetapkan," sahut Danu melanjutkan laporan.

"Mereka tidak berani macam-macam setelah melihat bagaimana kita memperlakukan Big Bang. Arus setoran bulanan dari klub malam dan arena taruhan di wilayah utara juga berjalan lancar tanpa hambatan berarti."

"Bagus," balas sang pemimpin singkat. Ia mengambil gelas berisi cairan anggur di atas meja, menyesapnya pelan sebelum melanjutkan interogasinya ke arah faksi berikutnya.

"Bagaimana dengan God Tiger? Aku dengar ada sedikit gesekan di perbatasan wilayah barat bulan lalu."

Wajah Dani sedikit mengeras. "God Tiger sempat mencoba mencari muka, Bos. Mereka memanfaatkan situasi saat perhatian kita terpecah di timur untuk memperluas daerah kekuasaan judi darat mereka. Tapi Danu sudah mengirim beberapa pasukan pilihan untuk memberi mereka pelajaran telak minggu lalu. Sekarang, ketua God Tiger sudah mengirim utusan untuk meminta maaf dan melipatgandakan jumlah setoran proteksi."

Pria itu tersenyum miring mendengar laporan tersebut. Kekuasaan Four Men Crew memang dibangun di atas rasa takut, uang, dan dominasi mutlak. Tidak ada ruang bagi pengkhianat atau kelompok yang mencoba berdiri di jalur mereka.

Namun, tiba-tiba raut wajah pria itu berubah sedikit serius. Ia meletakkan gelasnya kembali ke atas meja, lalu menatap tajam ke arah Danu dan Dani. Matanya menyipit penuh selidik.

"Dan yang terakhir... Vortex" ucap pria itu menyebut nama sebuah entitas yang membuat Danu dan Dani tertegun sejenak.

"Aku dengar ada pergerakan investasi baru atau kerja sama bisnis yang melibatkan nama itu di sektor hiburan kota ini. Apa kalian sudah memantau pergerakan mereka? Jangan sampai ada celah bagi musuh lama atau pihak luar untuk menanam pengaruh di wilayah kekuasaan kita melalui jalur komersial."

Danu dan Dani saling bertukar pandang sekilas. Nama Vortex yang kini tidak hanya dikenal sebagai label rekaman tempat Bara dan Udin meneken kontrak, tetapi juga memiliki jaringan bisnis hiburan malam di bawah permukaan—menjadi topik yang cukup sensitif.

"Kami sedang memantau mereka, Bos," jawab Dani hati-hati, berusaha menyembunyikan fakta bahwa dunia yang disentuh oleh Vortex saat ini mulai bersinggungan dengan anak-anak sekolah biasa seperti Bara dan Udin.

"Belum ada ancaman langsung terhadap dominasi aliansi kita, tapi kami akan memperketat pengawasan di seluruh lini, baik jalanan maupun sektor hiburan."

Pria itu terdiam sejenak, mengangguk pelan sambil melipat kedua tangannya di dada. "Bagus. Ingat, Four Men Crew tidak boleh lengah sedikit pun. Kota ini milik kita, dan siapa pun yang mencoba bermain-main di luar kendali kita, harus disingkirkan sebelum mereka sempat besar."

Dari balik dinding kaca pencakar langit yang tinggi itu, kota Surabaya tampak terbentang luas, menyimpan sejuta rahasia, konflik bawah tanah yang kejam, serta mimpi-mimpi baru yang sedang dirajut oleh anak-anak muda di studio rekaman—sebuah benturan tak terelakkan yang cepat atau lambat pasti akan mempertemukan dua dunia yang sangat berbeda ini.

1
Jian Fitriana
jangan lama’ thor update nya 🤭
rey
semangat thor 🔥🔥
RR
halo teman-teman sekalian. tolong bantu berikan ulasan yaa agar saya lebih semangat untuk memberikan tulisan-tulisan terbaik. jangan lupa like nya terimakasih
rey: semangat thor 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!