Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C018: Memulai Dari Nol
...Selamat Baca...
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela-jendela besar di lantai khusus gedung Sterling Enterprises yang telah dialihfungsikan menjadi studio pribadi "Virlan Arts".
Ruangan itu luas, modern, dan dipenuhi peralatan canggih: kamera sinematik, lampu studio, komputer editing spesifikasi tinggi, dan ruang rekaman kedap suara.
Namun, yang lebih mencolok daripada alat-alat tersebut adalah orang-orang yang berkumpul di dalamnya.
Liana duduk di sofa kulit putih, menatap tablet di tangannya dengan mata berbinar. Di sebelahnya,
Alexander sedang menyeruput kopi hitamnya, sambil sesekali melirik layar laptop yang menampilkan grafik kenaikan statistik.
"Alex, lihat ini..." ucap Liana, suaranya bergetar antusias.
"Dalam kurang dari 24 jam setelah live streaming kemarin... subscriber kita naik dari 12.000 menjadi 15.000."
Alexander tersenyum puas. "Aku bilang juga, Li. Orang tidak hanya membeli musik. Mereka membeli cerita."
"Kemarin malam, mereka 'bertemu' denganmu. Dan tentu saja..." Alexander mengedipkan sebelah mata,
"...mereka sangat penasaran dengan 'Pak Bos' misterius yang memanggilmu Ratuku."
Liana tertawa malu, pipinya merona. "Itu karena kamu terlalu dramatis masuk ke frame dengan topeng itu."
"Dramatis? Itu disebut branding, Sayang," goda Alexander.
"Tapi serius, angka 15.000 ini adalah fondasi. Sekarang saatnya kita memperkuat struktur agar fondasi ini tidak retak."
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka. Masuklah Allen, sutradara video musik Liana yang kini telah resmi menjadi Kepala Kreatif.
Di belakangnya, berdiri empat anggota kru inti lainnya—penata cahaya senior, penata suara ahli, dan asisten produksi—yang sebelumnya bekerja di perusahaan produksi besar.
Kontrak mereka di sana sudah habis, dan karena kekaguman pada bakat serta kerendahan hati Liana selama syuting MV pertama, mereka memilih hengkang dan bergabung menjadi tim pribadi Liana.
Di sisi lain ruangan, berdiri lima orang baru dengan penampilan yang berbeda—lebih kasual namun sigap.
Ini adalah tim operasional harian yang baru saja direkrut Alexander untuk melengkapi kebutuhan konten sehari-hari.
"Selamat pagi, Tuan Alexander. Nona Liana," sapa Allen sopan. Tim kreatif di belakangnya juga memberi hormat singkat.
Wajah-wajah mereka tampak bersemangat, membawa notebook dan tablet.
Alexander berdiri, menyambut mereka dengan jabatan tangan yang tegas namun ramah. "Selamat datang di rumah baru kalian. Terima kasih sudah meninggalkan kenyamanan perusahaan lama dan memilih bergabung dengan proyek independen ini."
"Saya tahu, bekerja di sini berarti bekerja dalam kerahasiaan total. Tapi saya jamin, hasilnya akan sebanding dengan kepercayaan kalian."
Liana juga berdiri, merasa sedikit gugup memimpin pertemuan pertamanya sebagai "pemilik" dari tim kreatifnya sendiri.
"Terima kasih, Sutradara Allen. Terima kasih juga untuk teman-teman tim kreatif. Aku senang bisa bekerja dengan kalian lagi. Kalian bukan sekadar karyawan bagi saya, tapi rekan seni."
Allen tersenyum hangat. "Kami senang bisa mendukung visi Nona Liana. Energi di set syuting kemarin sangat berbeda. Kami merasa ini adalah karya yang tulus."
Alexander kemudian menunjuk ke arah lima orang baru di sisi kanan. "Dan ini, tim pendukung harian kita. Karena karya Nona Liana tidak hanya tentang MV berkualitas tinggi,"
"Tapi juga tentang keterhubungan dengan fans setiap hari. Kita butuh kecepatan dan konsistensi."
Alexander memperkenalkan satu per satu dengan nada formal namun akrab:
"Pertama, Elena." Seorang wanita paruh baya berkacamata dengan penampilan rapi dan tegas.
"Dia adalah Agen dan Manajer Pribadi. Elena akan mengurus semua jadwal, negosiasi kontrak dengan pihak eksternal, filter tawaran sponsor, dan memastikan privasi Liana tetap terjaga."
"Jika ada wartawan atau pihak ketiga yang mencoba menghubungi, mereka harus lewat Elena dulu." Elena mengangguk, wajahnya serius.
"Siap, Nona. Saya sudah menyiapkan protokol keamanan media sosial dan jadwal konten untuk bulan depan. Privasi Anda adalah benteng utama kami."
"Kedua, Leo." Pria muda dengan kamera mirrorless tergantung di lehernya. "Dia adalah Kameramen Harian."
"Berbeda dengan tim Allen yang menangani MV sinematik dengan proses panjang, Leo akan mendokumentasikan keseharian Liana."
"Vlog, behind-the-scenes lucu, latihan vokal santai. Konten yang lebih spontan dan cepat."
Leo tersenyum lebar. "Siap, Bos! Saya sudah punya ide beberapa angle menarik untuk vlog perdana Nona Liana hari ini."
"Kita buat fans merasa seperti teman dekat Nona."
"Ketiga, Ryan." Pria berkacamata dengan laptop di tangan. "Dia adalah Editor Khusus Konten Harian."
"Jika tim Allen mengedit MV dengan standar film, Ryan akan mengedit vlog dan reel media sosial dengan cepat agar tetap relevan dengan tren algoritma. Editan siap dalam hitungan jam."
Ryan mengacungkan jempol. "Fast response, Nona. Jangan khawatir, hasil editan tetap estetik meski cepat."
"Keempat, Marco." Pria dengan tatapan artistik yang tajam.
"Dia adalah Fotografer Resmi. Marco akan menangani foto-foto promosi, foto profil media sosial, dan dokumentasi visual berkualitas tinggi untuk kebutuhan press kit di masa depan."
Marco mengangguk singkat. "Saya akan pastikan setiap foto Nona Liana terlihat seperti karya seni majalah internasional."
"Kelima, Mia." Wanita muda yang sigap dan ramah.
"Dia adalah Asisten Pribadi & Logistik. Tugasnya memastikan kenyamanan Nona Liana selama syuting atau perjalanan."
"Mengurus logistik, makanan, transportasi, dan membantu tim teknis jika dibutuhkan. Dia juga berfungsi sebagai pengawal ringan untuk menjaga privasi di tempat umum."
Mia tersenyum manis. "Siap melayani, Nona! Apa pun yang Nona butuhkan, dari kopi favorit hingga jas hujan dadakan, saya ada."
Allen, sang sutradara, lalu melangkah ke depan untuk menjelaskan pembagian kerja strategis. "Nona Liana, dengan struktur ini, kita memiliki dua sayap kekuatan yang saling melengkapi:"
"1. Divisi Musik & Karya Utama (Tim Saya): Fokus pada kualitas tinggi (high-end). Lagu, MV, dan performa panggung."
"Kami akan memastikan setiap karya musik Anda adalah masterpiece yang tahan lama."
"2. Divisi Konten & Branding Harian (Tim Lima Orang Ini): Fokus pada kuantitas, kecepatan, dan kedekatan (engagement)."
"Vlog harian, interaksi media sosial, dan foto-foto spontan. Mereka akan menjaga agar nama 'Putri Bangsawan' tetap hangat di pembicaraan sehari-hari fans di antara rilis lagu."
'Tuan Alexander akan berperan sebagai Investor Utama dan Pelindung Strategis. Beliau tidak akan terlibat dalam teknis harian,"
"Tetapi beliau akan tetap muncul dalam konten-konten tertentu sebagai 'Pak Bos' misterius,"
"Karena data menunjukkan bahwa chemistry antara Anda dan beliau adalah aset terbesar saat ini."
Liana mendengarkan dengan seksama. Rasanya aneh namun membanggakan. Dulu, dia hanya seorang istri yang diabaikan di rumah mewah yang sunyi.
Sekarang, dia memiliki tim profesional yang bekerja khusus untuk kariernya. Ada Allen yang visioner,
Elena yang tegas, Leo yang kreatif, Ryan yang cepat, Marco yang artistik, serta Mia yang suportif.
Ini bukan lagi sekadar pelarian. Ini adalah Kerajaan Kecil miliknya. Sebuah perusahaan produksi independen yang mungkin masih kecil secara skala, tapi memiliki hati, visi, dan loyalitas yang besar.
"Jadi," kata Liana, menepuk tangan pelan untuk mengumpulkan fokus tim. "Apa rencana pertama kita?"
Elena, sang agen, membuka notebook-nya dengan cekatan. "Pertama, Leo akan mulai merekam vlog harian Nona Liana mulai hari ini."
"Judulnya: 'Sehari dalam Hidup Putri Bangsawan: Behind the Scene Studio Baru'. Kita akan tunjukkan sisi manusiawi Nona Liana: pilihan baju,"
"Suasana kerja dengan tim Allen, dan tentu saja... interaksi lucu dengan Pak Bos."
Alexander terkekeh. "Interaksi lucu? Hati-hati, Elena. Jangan sampai rahasia ketampananku terbongkar terlalu cepat. Fans belum siap."
Semua orang di ruangan itu tertawa. Suasana tegang pecah, digantikan oleh rasa kekeluargaan dan semangat tim yang solid.
Liana memandang sekelilingnya. Dia tidak sendirian lagi. Dia memiliki pasukan terbaik yang percaya padanya bukan karena nama keluarganya, tapi karena bakat dan hatinya.
"Baiklah," ucap Liana, senyumnya bersinar cerah di balik topeng imajiner yang kini telah menjadi bagian dari jiwanya.
"Mari kita mulai bekerja. Aku ingin dunia tahu, Putri Bangsawan Virlan bukan sekadar nama samaran. Aku adalah nyata, dan aku akan terus bersinar."
Alexander menatap Liana dengan bangga. Dia tahu, langkah ini adalah titik balik permanen. Liana tidak lagi bangkit sendirian. Dia kini didukung oleh struktur yang kuat.
Dan bagi Alexander, melihat Liana bersinar seperti ini adalah kepuasan terbesar yang pernah ia rasakan. Lebih besar daripada menutup deal miliaran rupiah. Karena ini adalah deal hatinya.