Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di Kekaisaran ini, seorang "Adidaya" adalah legenda hidup, keberadaan yang tak tertandingi. Keterkejutan melanda seluruh arena, terutama bagi anggota Perguruan Langit Membara dan Perguruan Wijaya. Jarak kekuatan mereka dengan Padepokan Awan Beku kini telah melebar sejauh langit dan bumi.
Juan melesat keluar untuk memeluk Faisal yang telah pingsan karena luka parah dan rasa malu yang meluap. Ia membungkuk hormat kepada Luhur Pangestu. "Tuan Perguruan Luhur, mohon kemurahan hati Anda. Tetua Faisal bertindak impulsif karena cemas. Ia telah menerima pelajaran dari Peri Citra. Masalah ini mohon jangan diperpanjang."
Luhur Pangestu mendengus marah, namun ia tahu situasinya sudah cukup kacau. "Anggap saja dia sudah menerima ganjarannya. Masalah ini selesai di sini. Tapi jika terulang lagi, hak perguruan kalian akan dicabut selamanya!"
Semua mata kembali tertuju pada Citra. Arka melangkah maju, tersenyum tipis menatap punggung wanita itu. "Peri Citra, terima kasih telah menyelamatk—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sosok biru itu telah menghilang, kembali ke tempat duduknya di tribun tanpa sepatah kata pun. Arka tertawa pelan, sebuah tawa yang sarat akan makna rahasia.
Tak lama kemudian, pertandingan perempat final kedua dimulai: Yogi melawan Umar. Karena keduanya berasal dari perguruan yang sama dan Umar tahu ia takkan sanggup menghadapi Yogi, ia memilih jalan yang mengejutkan.
"Aku menyerah," ujar Umar dengan helaan napas panjang.
"WHOA—!!" Penonton tercengang. Umar, praktisi tingkat sembilan Alam Bumi, menyerah begitu saja di hadapan Yogi. Keputusan itu memastikan langkah sang jenius muda menuju semifinal.
"Yang mengambil inisiatif untuk mundur bukan Yogi... melainkan Umar..."
Arka pun tak kuasa menahan keterkejutannya. Dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya, kekuatan yang diperlihatkan Umar benar-benar mencengangkan. Semua orang mengira Yogi akan kalah, atau setidaknya menyerah lebih dulu karena perbedaan tingkat kekuatan. Tak seorang pun menduga bahwa justru Umar-lah yang memilih melapangkan jalan bagi adik seperguruannya.
"Berarti... lawan Arka besok adalah Yogi?" Larasati tanpa sadar menghela napas lega. Bagaimanapun, tingkat enam Alam Bumi terdengar jauh lebih tidak mengancam dibanding tingkat sembilan.
"Jangan-jangan karena Yogi adalah putra Ketua Perguruan, Umar tak berani mengalahkannya di depan publik?" Banu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tampak bingung.
"Tidak." Arka menggeleng pelan, alisnya sedikit berkerut. Tatapannya tertuju pada Yogi yang sedang tertawa riang saat turun dari arena. "Jika Perguruan Pedang Surgawi adalah tempat yang penuh sandiwara, mereka takkan pernah menjadi kekuatan nomor satu di negeri ini. Hanya ada satu kemungkinan: kekuatan Yogi melampaui Umar. Dan itu berarti pertarungan besok akan sangat berat."
Tak lama kemudian, pertandingan ketiga dimulai. Yoga berhadapan dengan Ratih. Duel antara dua murid inti kekuatan besar ini biasanya menjadi laga final di tahun-tahun sebelumnya. Namun, hasilnya justru lebih cepat dari dugaan siapa pun.
"Ratih, kau boleh menyerah sekarang," ucap Citra tiba-tiba, tepat saat Ratih hendak melompat ke arena.
Ratih terdiam sesaat, lalu mengangguk patuh tanpa membantah. "Baik, Guru."
Bagi orang luar, keputusan ini mungkin tampak seperti menyerahkan harga diri. Namun Citra mengucapkannya dengan ketenangan mutlak. Baginya, perbedaan kekuatan antara Ratih dan Yoga saat ini terlalu jauh; bertarung hanya akan mengakibatkan luka parah yang sia-sia.
Kini hanya tersisa satu murid Padepokan Awan Beku: Ratna Pradana—yang secara teori memiliki tingkat kekuatan paling rendah di antara rekan-rekannya. Lawannya adalah murid inti Perguruan Wijaya, Guntur Wijaya, yang tingkat kekuatannya berada di atasnya. Jika Ratna kalah, padepokan mereka akan tersingkir dari posisi tiga besar.
Sementara itu, prestasi Arka telah memastikan Kerajaan Surya Kencana menembus empat besar individu. Siapa pun yang tidak buta dapat melihat bahwa Satya Wibowo, yang biasanya tenang, kini tertawa hingga wajahnya berkedut. Gigi serinya hampir copot karena rasa bangga yang meluap-luap.
“Pertandingan keempat perempat final—Ratna Pradana dari Padepokan Awan Beku melawan Guntur Wijaya dari Perguruan Wijaya!”
Ratna dan Guntur adalah wakil terakhir dari masing-masing faksi. Suasana kembali sunyi senyap saat keduanya memasuki arena.
"Bakat Ratna memang mengejutkan. Di usia tujuh belas tahun ia sudah mencapai tingkat delapan Alam Bumi," ujar Jatmika, Ayah sekaligus pemimpin Perguruan Wijaya kepada Guntur. "Tapi kau punya pengalaman lebih banyak. Jangan meremehkannya. Gunakan Pedang Penggetar Bumi jika perlu."
Guntur mengangguk penuh percaya diri. "Tenang, Ayah. Jika aku kalah dari seorang gadis muda, aku takkan punya muka untuk kembali pulang."
Guntur melesat tinggi, meloncat lebih dari seratus meter ke udara sebelum mendarat ringan di tengah arena. Sebuah pedang panjang telah terhunus sebelum kakinya menyentuh tanah, suaranya jernih dan tajam menantang langit.
Di sisi lain, Dewi hanya memberi nasihat singkat kepada muridnya. "Tekan kekuatanmu sebisa mungkin. Jangan terlalu banyak mengungkap kartu truf."
"Ya, Guru," jawab Ratna lembut. Tubuh anggunnya melayang ringan, mendarat lembut di hadapan Guntur. Sebilah pedang es transparan muncul senyap di tangannya, memancarkan hawa dingin yang mistis.
"Namaku Guntur Wijaya. Mohon petunjuk atas Seni Awan Beku milik Peri Ratna!" serunya sambil tersenyum congkak.
Guntur ingin memamerkan kekuatannya di hadapan wanita secantik Ratna. Tubuhnya berputar cepat, membentuk pusaran angin hijau giok. Bayangan seekor rajawali ganas tampak samar di belakangnya, menciptakan aura yang menggetarkan panggung.
Namun, gerakan Ratna jauh lebih tenang dan bersih. Tanpa sepatah kata pun, ia menusukkan pedang esnya lurus ke depan.
Sring!
Seketika, sekuntum teratai es yang megah mekar di ujung bilah pedangnya, membekukan udara di sekitar mereka dalam sekejap mata.
Sebelum kedua bilah pedang benar-benar beradu, angin tajam yang menyertai gerakan mereka telah lebih dulu bertabrakan dengan teratai es.
Clang!
Teratai es itu seketika hancur berkeping-keping digiling badai pedang yang ganas. Namun, kelopak es itu tidak lenyap begitu saja. Pecahannya berubah menjadi bongkahan es padat yang tak terhitung jumlahnya, lalu berbalik menghujani Guntur menembus pusaran angin. Dalam sekejap, angin topan yang membawa serpihan es itu berputar mengelilingi keduanya, membentuk tornado salju di tengah arena yang panas.
Clang! Clang! Clang!
Di tengah rentetan bunyi benturan, kepingan es terpencar dihantam angin pedang Guntur. Namun, energi dingin di dalamnya jauh lebih berat dari perkiraannya. Setelah seluruh serpihan berhasil dihalau, kedua tangan Guntur telah memerah karena beku.
Ia mundur setengah langkah, tersenyum tipis untuk menutupi rasa terkejutnya. "Aku sudah lama mendengar bahwa Seni Awan Beku tiada tanding di bawah langit. Ternyata memang pantas menyandang reputasi itu. Sekarang, aku akan sedikit lebih serius. Peri Ratna, harap berhati-hati."