kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
waktu yang di curi
BAB 10 - waktu yang di curi
Sisa rasa pahit dan amis yang pekat seolah enggan beranjak dari kerongkongan Agus. Ia terus terbatuk, berusaha memuntahkan sisa mual yang masih mengganjal. Tubuhnya gemetar hebat, sementara keringat dingin mulai membanjiri punggungnya. Ia tak lagi punya nyali untuk melirik benda menjijikkan yang tergeletak di atas tanah, apalagi menatap Indra yang justru duduk tenang di sampingnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Tiba-tiba, keheningan hutan pecah. Sebuah tawa melengking terdengar menyayat udara, bergema di antara pepohonan yang gelap.
"Hi..Hi..HIHIHI…!"
Agus tersentak. Panik seketika menjalar ke seluruh sarafnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung jatuh bangun berlari menuju motor yang terparkir di pinggir jalan setapak.
"Dra, buruan cabut dari sini!" teriak Agus dengan suara parau dan bergetar.
Berbeda dengan Agus yang nyaris kehilangan akal, Indra bangkit dengan gerak-gerik santai. Tanpa ada rona ketakutan di wajahnya, ia melangkah perlahan menuju motor.
"Berisik. Dasar penakut," sahut Indra dingin.
Agus segera menyambar kunci dan menghidupkan mesin. Suara raungan knalpot motornya seolah menjadi satu-satunya pelindung dari sunyinya hutan yang kini terasa mengintimidasi. Tangannya yang masih gemetar menarik tuas gas berkali-kali, tidak sabar ingin segera melesat meninggalkan tempat itu.
Indra naik ke boncengan dengan gerakan yang sangat tenang, hampir tanpa beban. Namun, saat motor mulai bergerak perlahan membelah kegelapan jalan setapak, sebuah ingatan mendadak melintas di pikiran Agus, membuatnya menginjak rem dengan tiba-tiba.
"Tunggu, Dra... tunggu dulu," ucap Agus terbata. "Bukannya tadi ban motor ini bocor parah? Tapi kok sekarang..."
Belum sempat Agus menyelesaikan ucapannya, Indra langsung menyambar.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Dari tadi ban motornya tidak bocor, kok," potong Indra dingin.
Mendengar perkataan Indra, batin Agus bergejolak. Ia ingat betul bagaimana motor itu terasa berat dan oleng saat mereka baru sampai tadi. Ia yakin seratus persen ban itu kempis total. Namun sekarang, motor ini melaju mulus tanpa kendala.
Agus menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering. Apa aku sedang bermimpi? tanya batinnya ragu. Ia refleks menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba mencari penjelasan logika atas keganjilan yang baru saja terjadi.
Atau... memang anak ini yang sedang berbohong padaku?
Agus melirik sedikit ke arah spion, namun tatapan Indra yang datar membuatnya segera membuang muka. Ia memutuskan untuk tidak memperpanjang perdebatan. Rasa takutnya terhadap hutan itu jauh lebih besar daripada rasa penasarannya.
"Ya sudahlah," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Yang penting aku bisa keluar dari hutan terkutuk ini sekarang juga."
Agus memutar tuas gas lebih dalam. Motor itu menderu, membawa mereka menembus kabut tipis yang mulai turun, sementara tawa melengking tadi masih terngiang samar di antara pepohonan.
Setelah perjuangan panjang menembus kegelapan, aspal jalan raya akhirnya terlihat. Agus memacu motornya secepat mungkin tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun, hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah dengan selamat.
Napas Agus masih memburu saat ia menyandarkan motornya di teras. Ia merasa sangat lelah, seolah-olah seluruh energinya telah habis diperas. Perutnya mendadak keroncongan hebat, sebuah reaksi alami tubuh setelah melewati ketegangan yang luar biasa.
Saat melangkah masuk ke ruang tengah, matanya tertuju pada meja makan. Di sana ada sebuah piring berisi pisang goreng sisa tadi sore yang ditutupi tudung saji. Bau manis tepung goreng itu biasanya akan membuatnya langsung kalap, namun detik itu juga, ingatan Agus berputar ke belakang.
Ia kembali melihat bayangan singkong rebus di tangannya yang berubah menjadi pembalut berdarah. Ia seolah kembali mencium bau amis yang menyengat dan merasakan tekstur lembap yang menjijikkan itu di ujung jarinya.
Seketika, rasa lapar yang tadi mendera berubah menjadi asam lambung yang naik ke tenggorokan. Agus menutup mulutnya rapat-rapat, hampir saja memuntahkan cairan pahit di tengah ruangan. Ia bergidik ngeri; kini semua makanan di depannya tampak seperti tipuan. Ia tidak tahu lagi mana yang nyata dan mana yang kiriman setan.
Agus memalingkan wajah dengan cepat, berusaha mencari pengalihan dari rasa mualnya. Namun, saat itulah pandangannya terjatuh pada jam dinding yang tergantung di atas pintu dapur. Langkahnya mendadak terhenti.
Agus mengucek matanya, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Dra... coba liat jam," ucap Agus dengan suara gemetar. "Jam satu lewat lima belas?"
Indra hanya melirik sekilas tanpa ekspresi, lalu melengos masuk begitu saja.
Agus terpaku di tempatnya. Perasaannya tidak mungkin salah. Mulai dari ban yang bocor, teror suara ketawa, sampai perjalanan panjang di hutan tadi, seharusnya hari sudah hampir pagi. Minimal, jam sudah menunjukkan pukul empat dini hari.
Ia memeriksa ponselnya untuk memastikan. Angkanya tetap sama: 01:15 WIB.
Agus merasakan bulu kuduknya kembali berdiri. Seolah-olah waktu telah dicuri darinya, atau mungkin... mereka memang tidak pernah benar-benar pulang sendirian dari hutan itu. Ia akhirnya menyerah pada rasa kantuk dan trauma yang hebat. Malam itu, Agus tertidur dengan lampu kamar yang menyala terang, berharap cahaya itu bisa mengusir sisa-sisa tawa melengking yang masih terngiang.
BERSAMBUNG
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁