Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Izin. Saya Rapikan
Begitu pintu lift menutup, lemari besi itu bergerak. Gerakan yang halus, namun cukup terasa. Cukup membuat tubuh sedikit tertarik ke belakang.
Itu yang dialami Shafiya.
Ia baru saja masuk sepenuhnya.
Belum sempat menyesuaikan posisi.
Kakinya pun bergeser.
Sedikit kehilangan keseimbangan.
Refleks--tangannya mencari pegangan.
Dan yang lebih dulu melihat adalah Agam.
Reflek pula ia bergerak.
Tangannya terangkat.
Menahan di lengan Shafiya.
“Hati-hati, Nona…”
Pelan. Cepat. Spontan.
Hanya untuk memastikan perempuan itu tidak jatuh.
Shafiya langsung menegakkan diri.
“Tidak apa-apa…”
Jawabannya sama pelannya.
Menatap Agam sesaat. "Terima kasih."
Namun sebelum momen itu benar-benar lewat--tatapan lain sudah lebih dulu sampai.
Sagara.
Ia melihat semua itu. Memang Diam.
Tidak ada kata.
Tidak ada perubahan raut wajah.
Tapi arah pandangnya jelas.
Tertuju ke tangan Agam yang masih memegang lengan Shafiya.
Lalu pandangan itu bergeser pada Shafiya.
Hanya beberapa detik.
Namun cukup membuat Agam menarik tangannya. Cepat. Lalu mengambil satu langkah menjauh. Kembali ke posisi semula. Berdiri lebih tegak. Dan
Lebih formal.
Lift itu kembali sunyi.
Namun kali ini--sunyinya berbeda. Seolah ruangan menjadi Lebih sempit dari ukurannya.
Dalam pada itu Sagara bergerak.
Ia maju Satu langkah, mendekat ke Shafiya.
“Pindah ke dekat saya.”
Perintah dengan nada pelan. Datar.
Tapi tatapannya tidak memberi ruang untuk ditolak.
Shafiya terdiam sesaat. Sebelum kemudian menurut. Ia maju satu langkah. Kini posisinya lebih dekat ke Sagara. Berdiri stabil.
Tanpa perlu dijelaskan--semua tahu alasan di balik itu.
Sagara sudah kembali diam.
Seolah kalimat itu hanya bagian dari pengaturan situasi.
Lift berhenti di lantai paling atas.
Lantai yang tidak tersedia di panel umum.
Tidak semua orang bisa mencapainya.
Karena akses ke sana… tidak sekadar ditekan. Melainkan diotorisasi.
Pintu lift terbuka.
Dan suasana langsung berubah.
Lebih sunyi.
Lebih dingin.
Sagara terlebih dulu menatap ke Shafiya sebelum keluar. Seolah memastikan ia tetap mengikuti. Bahkan di depan pintu ia masih berdiri sebentar--seolah memastikan Shafiya keluar dengan posisi aman.
Lantai itu tidak seramai di bawah.
Tidak ada lalu lalang.
Tidak ada suara percakapan.
Hanya hamparan karpet tebal yang meredam setiap langkah.
Koridor panjang terbentang.
Dinding kaca di satu sisi menampilkan kota dari ketinggian.
Gedung-gedung tampak kecil.
Seolah dunia… berada jauh di bawah sana.
Shafiya melangkah tetap di dekat Sagara, namun dengan jarak yang tidak dipangkas sepenuhnya.
Dan sejak langkah pertama itu--ia sadar.
Tempat ini… bukan untuk semua orang.
Beberapa staf yang berada di ujung koridor langsung berdiri.
“Selamat siang, Pak.”
Nada mereka lebih tertahan.
Lebih hati-hati.
Namun--bukan hanya pada Sagara.
Tatapan mereka sempat bergeser.
Pada Shafiya. Singkat.
Namun jelas--ada pertanyaan di sana.
Siapa?
Dan kenapa… bersama?
Sagara tetap berjalan.
Tidak memperlambat langkah.
Seolah semua itu… bukan hal yang perlu diperhatikan.
Di ujung koridor--seorang wanita berdiri dari balik meja kerja. Penampilannya rapi.
Cara berdirinya tegak.
“Selamat siang, Pak.”
Ia sedikit menunduk.
Namun kali ini tatapannya tidak langsung kembali ke layar. Berhenti sejenak pada Shafiya.
Lebih lama.
Bukan bermaksud tidak sopan.
Namun jelas sedang mencari jawaban.
Sagara hanya memberi anggukan tipis.
“Meeting siap?”
“Sudah, Pak.”
Jawaban itu cepat. Profesional.
Namun sebelum ia kembali duduk--ia masih sempat melirik sekali lagi.
Ke arah Shafiya.
Lalu menahan dirinya.
Sagara melangkah melewati meja itu.
Menuju pintu besar di ujung.
Tanpa plakat nama. Tanpa tanda.
Namun justru itu--yang membuatnya terasa lebih eksklusif.
Pintu besar dibuka oleh Agam.
Dan ruang itu menyambut.
Luas. Namun tidak berlebihan.
Didominasi warna gelap. Kayu solid.
Dan kaca tinggi dari lantai hingga langit-langit.
Cahaya masuk bebas. Menyorot kota dari ketinggian. Meja kerja berdiri di tengah.
Bersih. Licin. Nyaris tanpa benda.
Tidak ada tumpukan berkas di atasnya.
Tidak ada hal yang tidak perlu.
Semuanya terukur. Teratur.
Seperti pemiliknya.
Shafiya menahan langkahnya sejenak di depan ambang pintu. Sampai Agam menyilakan dengan tangannya.
"Nona."
Shafiya melangkah masuk.
Dan sekali lagi--ia bisa merasakan bahwa
Ruang ini… bukan sekadar tempat bekerja.
Tapi pusat kendali. Tempat semua keputusan diambil. Tanpa ragu. Tanpa kompromi.
Dan saat pintu itu menutup--tatapan-tatapan di luar…
benar-benar terputus.
Menyisakan hanya mereka bertiga.
Dan satu pertanyaan yang belum diucapkan siapa pun.
"Masih ada waktu." Suara Agam memecah hening. "Lima menit. Saya siapkan semuanya."
Sagara mengangguk. Tangannya terangkat sedikit melonggarkan lilitan dasi. Tatapan itu lalu bergeser ke Shafiya yang berdiri hampir di tengah ruang. Kaku. Seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Kamu di sini." Sagara menunjuk sofa di sudut ruangan. "Tunggu. Saya tidak lama."
Shafiya mengangguk. Sebelum kakinya melangkah menuju sofa buatan luar negeri itu, Sagara menekan panel kaca di sudut meja kerjanya. Tiba-tiba kaca ruangan berubah buram. Cahaya terhalang masuk. Dan ruang itu tak lagi benderang. Memberikan efek menenangkan jika ingin melewatinya sambil rehat siang.
Shafiya sempat tertegun. Sebelum akhirnya ia menyadari itu bagian dari kecanggihan tekhnologi dan exklusifitas ruangan ini.
Ia melangkah ke sofa duduk di tepinya yang begitu empuk. Ac yang sejuk membelai tubuhnya. Shafiya menghela napas pelan.
Sagara menatapnya sejenak. Sebelum pandangan itu bergeser ke Agam yang sudah siap dengan dua tablet di tangan.
"Sudah, Pak."
Sagara mengangguk. "Langsung."
Ia mengambil langkah keluar diikuti Agam.
Namun, satu panggilan menahan langkahnya. "Mas, sebentar."
Shafiya bangkit. Berjalan ke Sagara. Berhenti cukup dekat. Tangannya lalu terangkat hendak menyentuh bagian leher lelaki itu.
Sagara reflek menghindar. Tatapannya tajam. Ia tidak pernah suka disentuh orang lain, apalagi tanpa izin.
"Krah kemejanya kurang rapi, Mas." Shafiya berkata cepat. Itu membuat tatapan Sagara berubah sedikit.
"Izin. Saya rapikan."
Sagara diam. Shafiya mungkin menganggapnya persetujuan. Gerakan tangannya yang sempat terhenti. Maju membetulkan bagian krah kemeja itu yang tertekuk ke dalam, meski dengan tatap ragu.
Agam tersenyum singkat. Mengalihkan pandangan ke pintu yang masih tertutup.
"Sudah." Shafiya kembali menurunkan tangannya. Mundur satu langkah.
Sagara mengangguk. Kembali melangkah. Namun sebelum mencapai pintu ia menoleh ke Shafiya. "Jangan keluar ruangan."
"Baik."
Pintu itu kemudian menutup. Meninggalkan Shafiya sendirian di tengah ruangan luas yang kini berubah buram.
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering