NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Lagi

Cintai Aku Sekali Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.



Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.


Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.


Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.


Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?


Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?


Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10

#10

“Sudah sejauh itu?!” pekik Miranda. 

Ersha hanya bisa menunduk dalam, anggukan wajahnya terlihat menyedihkan. Batin Miranda jadi ikut menjerit pilu, pantas saja Abizar terlihat lebih kurus dari biasanya, pasti karena ikut merasakan kesedihan karena berada di tengah dua orang yang sedang perang dingin. 

“Sebagai pengacara, dan sebagai teman baik kalian. Sejujurnya aku tetap menyarankan kalian untuk memikirkannya kembali, sebaik apapun perpisahan, tetap saja meninggalkan dampak buruk yang tidak bisa dianggap main-main. Terutama dampaknya ke anak kalian yang masih kecil ini,” tutur Miranda, tangannya tetap mengusap kepala Abizar yang sedang sibuk dengan mobil-mobilan barunya. 

“Aku pun tak berharap demikian, sejak awal aku menerima pinangan Bang Firza, aku tak bisa membohongi diriku, bahwa cinta di hati ini hanya untuknya. Tapi— jika perasaanku tak sejalan dengannya, aku bisa apa, Mir?” 

Dilema juga bagi Miranda, bila ada di posisi Ersha ia pasti tak akan memaksa. Percuma memiliki raganya, bila hati dan perasaan hanya tertuju untuk yang lain. Bukankah berpisah akan jauh lebih baik, bila bersama tapi memaksakan? 

“Baiklah, aku paham, jadi sekarang, kita tunggu saja keputusan Firza?” 

Ersha mengangguk. 

Miranda tahu, baik Ersha maupun Firza, keduanya sama-sama baik. Bila memang harus berpisah, ia yakin mereka tak akan pernah meributkan finansial, dan pasti akan tetap mengutamakan kepentingan anak mereka, Abizar. 

•••

Ditempat lain. 

Resha berjalan cepat, ia meninggalkan rumah sakit padahal proses kemoterapi sedang berjalan, dan pada saat itu ia diharuskan untuk bedrest, karena tubuhnya pasti melemah setelah mendapatkan suntikan obat untuk mematikan sisa sel kankernya. 

Tapi, Resha memaksakan diri keluar paksa dari rumah sakit, karena Firza mengajaknya bertemu. Tak hanya memaksakan diri, Resha juga sengaja berpenampilan terbaik siang ini. 

Sepanjang jalan ia tak henti melirik cermin mungil yang ada di tasnya, tapi sengaja mengabaikan dering ponselnya, panggilan dari Nyonya Yu. Wanita itu mencari-cari Resha, padahal hanya ditinggalkan sebentar untuk mengurus administrasi. 

Tangan Resha terasa dingin, wajahnya sedikit pucat, namun, menampilkan senyum bahagia tiada tara. 

“Apa yang ingin Firza bicarakan, ya? Hingga sengaja mengirimkan pesan padaku?” 

Pertanyaan itu muncul berkali-kali dalam benak Resha. 

Dari mana Firza tahu nomor ponsel Resha, wanita itu sengaja menuliskan nomor barunya pada salah satu lembaran foto yang ia kirimkan pada Firza. Benar-benar bulat tekadnya untuk mendapatkan kembali sang kekasih, meski statusnya adalah ayah dan suami orang lain. 

Beberapa saat kemudian, taksi yang ditumpangi Resha tiba di sebuah kafe, kafe itu adalah tempat favorit Firza, Biru, dan Miranda. Suasananya sepi, karena terletak sedikit jauh dari keramaian kota. 

Firza duduk menunggu Resha di tempat paling ujung, karena di sana ia bisa memandang asrinya pemandangan taman buatan. Wajah Resha berbinar ketika dari kejauhan melihat Firza yang sedang duduk diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. 

Bagi Resha, Firza adalah pria pribumi paling tampan dan baik hati yang pernah ia kenal, beruntunglah wanita yang bisa memiliki segenap hati dan jiwanya. 

Tok! 

Tok! 

Resha mengetuk meja, sebelum menyapa pria yang mengajaknya bertemu. “Hai,” sapanya ketika Firza menoleh padanya. 

“Hai juga, maaf, aku mengganggu waktumu.” Pria itu berdiri, dan reflek saja menarik sebuah kursi untuk Resha duduki. 

“Kebiasaan lama memang sulit hilang,” gumam Resha senang. Ini harapan lagi untuknya. 

Namun, tentu saja Firza tak mendengar itu semua. “Silahkan kalau mau pesan makanan, tapi, maaf, aku tidak lapar.” 

Resha menggeleng, karena ia pun tak bisa makan di sembarang tempat seperti dulu, sebelum didiagnosa memiliki penyakit berat. 

“Apa kabarmu? Aku minta maaf untuk pertemuan pertama kita yang lalu,” kata Resha, basa-basi karena Firza terlihat canggung, meski wajahnya tidak segarang pertemuan mereka sebelumnya. 

“Tidak apa-apa, lagipula kamu tak salah, anakku yang—”

“Tidak, tidak, jangan salahkan anakmu. Dia belum mengerti apa-apa.” 

Firza menghembuskan nafas sejenak “Kita langsung saja ke topik permasalahan.”

Resha mengangguk, jantungnya berdebar kencang, menanti kalimat Firza selanjutnya. 

“Apa maksudmu mengirimkan foto-foto itu padaku?” 

Sesuatu yang harus Firza cari kejelasannya, karena sudah mengganggu kedamaian hidup yang selama ini ia jalani bersama Ersha. Apalagi kini ada Abizar diantara mereka. 

Deg! 

Jantung Resha kembali berpacu kencang, bukan soal pertanyaan, tapi ekspresi marah dalam sorot mata Firza yang membuatnya terdiam dalam gelisah. 

“A-aku … masih ingin memperjuangkan hubungan kita.” 

Firza tertawa sumbang, “Aku sudah memulai langkahku dahulu, tapi kamu pergi begitu saja tanpa memberiku kejelasan. Kamu pikir hatiku terbuat dari batu?!” tanya Firza penuh penekanan, tidak tinggi, tidak pula rendah. 

“Tapi penyakit ini membuatku terpaksa melakukannya.” 

Resha menangis penuh sesal, karena dampak dari keputusannya dahulu, kini terasa sangat menyakitkan. Firza telah berkeluarga, padahal Resha datang dengan berjuta asa penuh harapan akan hubungan mereka. 

“Beberapa tahun yang lalu, aku bermaksud pergi mendatangimu. Jika memang papaku tak bisa memberikan restunya, maka tak mengapa kita kabur dan menikah di suatu tempat. Tapi, tiba-tiba … tiba-tiba aku pingsan, dan tersadar 14 jam kemudian di sebuah rumah sakit, sekujur badanku tak bisa digerakkan secara leluasa.”

“Apa kamu pikir aku akan tega membebani hidupmu dengan wanita penyakitan sepertiku? Tidak, Firza, aku memikirkanmu,” kata Resha mengakhiri kisah dibalik kepergiannya yang tanpa kabar berita. 

Tetap saja, Firza tak bisa menerima penjelasan tersebut, buktinya ia tetap diam di tempatnya meski Resha mulai sesenggukan. 

“Aku masih berharap akan hubungan kita, siapa nanti yang akan membimbingku dalam beribadah, jika bukan kamu?” Resha kembali memohon. 

“Jangan jadikan agama sebagai alasan, karena kamu bisa menemukan pria dengan pengetahuan agama yang lebih hebat dariku—”

“Tapi aku memilihmu!” sela Resha, “Aku menginginkanmu sebagai imamku.” 

Firza menggeleng, “Maaf, aku tak bisa, aku tetap memilih keluargaku—”

“Meski hatiku sendiri harus hancur berkeping-keping karena harus melupakanmu,” sambung Firza dalam hatinya. 

Tak ayal lagi, keputusan itu memukul telak keinginan Resha. Membuat rasa dengki dan bencinya pada Ersha semakin menjadi, karena wanita itulah yang dipilih oleh semesta untuk menjadi istri Firza. 

Firza berdiri, menyambar ponsel yang tergeletak diatas meja. Pria itu melangkah pergi dengan perasaan yakin, bahwa Ersha dan Abizar adalah segalanya, mungkin sekarang baru sebatas sayang untuk wanita yang telah memberinya seorang anak itu. Tapi Firza yakin, bahwa Tuhan jualah yang maha membolak-balikan hati manusia. 

Sret! 

“Jangan pergi, kumohon,” isak Resha, wanita itu memeluk Firza dari arah belakang, hingga air matanya membasahi punggung Firza. 

“Lebih baik aku mati daripada harus kehilanganmu.” 

Tangan Firza terus berusaha melepas belitan tangan Resha, namun, Resha tak bergeming. Sebaliknya ia makin mengeratkan pelukan. 

Dengan sepenuh tekad, Firza akhirnya berhasil meloloskan dirinya. 

Langkahnya pun kembali berlanjut. 

“Jika kamu tak bisa menjadikan aku sebagai satu-satunya, maka aku rela menjadi yang kedua!” pekik Resha, berharap Firza bersedia menoleh atau kembali, tapi nihil. 

Brug! 

“Nona!”

“Nona!” 

1
Patrick Khan
semoga niat jahat resa keduluan end tamat modar😂😂😂ahh jahatnya q😂🔪
Inarrr Ulfah
jagn mati dulu ya sa,,pengen liat aja kamu kejang2 liat er dapt yg lebih dari si Firza,dan semoga Firza gila talak...
Anonim
balikan????? gak seru ah
Hasanah Purwokerto
Aku ketularan bang Ahtar,,senyum senyum sendiri...😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Tuh bang Ahtar...ada jalan buat pe de ka te,,,manfaatkan...🤣🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Hasanah Purwokerto
Cieeeee..yg lagi modus...😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Busuk hati bgt si Resha
Hasanah Purwokerto
Ersha bukan kamu ya,,yg hobinya merusak rumah tangga orang,,kamu tuh yg sukanya sm suami orang...😡👊👊👊
Hasanah Purwokerto
Maaf cuma dimulut saja
Hasanah Purwokerto
Ga akan bahagia kalian..
Hasanah Purwokerto
Setan berwujud manusia itu Er..
Hasanah Purwokerto
Cih....sundel bolong....pake pura pura
Hasanah Purwokerto
Maafmu ga ada guna Fir..
Hasanah Purwokerto
Biarin Firza sendirian..ga usah diajak ngobrol..
Hasanah Purwokerto
Preeeetttt laaaahhhj
Hasanah Purwokerto
Ersha ga melarang,,tp kamu yakin,,? Resha akan membiarkanmu pergi menemui Abizar..?
Hasanah Purwokerto
Tetap semamgat ya Rs...masa depanmu msh panjang,,semoga lebih cerah dr sblmnya...
Hasanah Purwokerto
Smg Ersha berjodoh dg Atar..
toh sama" single
Hasanah Purwokerto
Resha culas,,bermuka dua...😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!