Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Melisa POV
Bel pulang sekolah membuatku lega pasalnya berhentinya ejekkan dari Rio, Rini dan Alex. Mereka sangat ingin merasakan bogem mentah dariku untungnya pengendalianku sangat baik. Hal ini bersumber dari tugas pak Agus, selain itu aku kesal belum mendapat informasi dari Rini “hah..”
Aku sudah berada digerbang sekolah melebarkan mata sambil menepuk dahi “ Aku lupa” kataku sambil berbalik mencari makluk es. Aku harus merayakan anniversary yang bahkan tidak kuinginkan. Tapi aku harus melakukannya agar tidak ada yang curiga.
Aku melihat Elgartara sedang berbicara dengan seseorang perempuan. Perempuan muda dengan kucir kuda membuatku mudah mengenalinya tokoh utama perempuan protagonis.
Aku membelalak kedua mataku saat Olivia melakukan trik murahan untuk mendapatkan simpati Elgartara dengan pura-pura terjatuh. Aku melihat Elgartara cepat menolongnya kemudian membawanya ke ruangan UKS. Aku mengintip melalui jendela yang tirainya tidak tertutup sempurna. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Olivia begitu senang atas perhatian yang Elgartara berikan. Bahkan wajahnya sesekali memerah dengan senyum yang merekah. Setelah Elgartara berbalik kakinya yang tadi sakit bisa digerakkan dengan baik begitu Elgartara menghadapnya wajahnya menampilkan ringisan ‘Aku berterimakasih kepada Melisa asli untuk hal ini’.
Elgartara keluar dari UKS aku segera memasang senyum manis “Tunanganku” kataku dengan memegang lengannya sambil membuka pintu UKS. Kami terlihat mesrah “Hari ini hari aniversery jadi kita rayakan di taman emmm aku tunggu jam tujuh” kataku dengan menaikan volume agar Olivia mendengar percakapan kami. Elgartara tampak berpikir “ Aku harus menyiapkan semuanya jadi aku pergi dulu” kataku meninggalkan Elgartara dengan langkah gembira.
Saat dibelokkan aku berhenti senyum masih menghiasi wajahku menginggat wajah Olivia yang cemburu ‘Aku senang sekarang aku bisa melihat semuanya’. Aku melirik Elgartara pergi dari UKS aku segera kembali ketempat mengintipku. Aku penasaran dengan langkah apa yang Olivia ambil.
---
“Aku ingin anak buahmu mengangguku mulai pukul 6 sore sampai Elgartara datang” perintah Olivia pada seseorang.
“Pokoknya kalian harus membuatku terlihat seperti korban didepan Elgartara” perintah Olivia.
----
Olivia keluar dari UKS aku sembunyi dibalik taman dengan ponsel yang merekam kejadian tadi. Sampai sebuah ponselku berdering pertanda ada telefon masuk. Aku melihat sekeliling memastikan bahwa Olivia tidak melihatku. Segera aku angkat “ Halo kak ada apa?” tanyaku kepada kak Rayhan.
“ Melisa aku boleh minta tolong?” tanya kak Rayhan ragu-ragu.
“ Bisa kak minta tolong apa?” tanyaku kepada kak Rayhan
“ Aku binggung memilih hadiah untuk nenek” kata kak Rayhan
“ Akan aku bantu kak” kataku
“ kamu masih ada disekolah?” tanya kak Rayhan
“ Masih kak” jawabku
“ Tunggu disitu akan kujemput” kata kak Rayhan.
“ Oke kak” kataku mengakhiri obrolan kami. Aku menaruh ponselku kedalam saku berjalan dengan langkah ringgan ke gerbang sampai suara yang berat menganggu pendengaranku. Aku tidak peduli lanjut berjalan tanpa gangguan. Sampai gerbang kak Rayhan sudah menjemputku dengan montornya. Aku segera naik ke montor kak Rayhan dengan senang hati.
Kak Rayhan mengajakku ke pasar. Ini pertama kalinya aku kepasar ketika tiba didunia ini. pasarnya tidak jauh berbeda dengan pasar duniaku.
“ Aku binggung harus memberikan apa karena nenek selalu menerima kado yang aku belikan tapi nenek tidak pernah memakainya” keluh kak Rayhan
“ Peralatan makan pasti digunakan. Kita pilih peralatan makan yang klasik dan unik saja” saranku kepada kak Rayhan
“ Mengapa kau bisa berpikir begitu?” kata kak Rayhan penasaran dengan pemikiranku.
“Karena saat pertama kali aku datang kerumah nenek interiornya mengarah kesana” kataku sambil menginggat
“ kalau begitu ayo” kata kak Rayhan menuntunku. Kami jalan kedalam pasar. Jalanan pasar tidak rata dengan penuh lubang dan licin. “ Hati-hati licin” kata kak Rayhan memperingatkanku. Tapi terlambat kakiku terpeleset menubruk kak Rayhan yang berada didepanku. Posisi kami seperti aku memeluknya dari belakang.
Aku merasa kita jadi tontonan orang membuatku berlahan melepaskan pelukanku “ maaf” kataku lirih. Sepatuku yang hitam sekarang berwarna tanah. Akhirnya kami sampai ditempat yang dituju. Aku terpana melihat pernak pernik perkakas rumah tangga yang unik-unik dan klasik sangat indah. Aku jadi ingin memiliki semuanya tanpa terkecuali.
“ Menurutmu mana yang bagus?” tanya kak Rayhan kepadaku
“ semuanya bagus” kataku spontan aku takjup dengan keunikannya. Tanganku tidak tinggal diam memegang satu persatu barang disini. Memfoto satu persatu barang-barang yang tidak pernah kulihat. Membuat penjual, kak Rayhan dan beberapa orang yang melihat tertawa dengan tingkahku.
“ Kau bisa melihat yang banyak didalam” kata penjual kepadaku menyuruhku masuk kedalam toko. Aku terpana dengan semuanya memotret semua sisi.
Setelah waktu yang lama kak Rayhan mendekatiku “ menurutmu mana yang bagus”
“ Semuanya bagus” kataku spontan
“ Kau mungkin bisa merekomendasikan untuk hadiah nenek?” tanya kak Rayhan.
“ Beli semuanya” kataku dengan percaya diri yang dibalas dengan helaan nafas. Akhirnya kak Rayhan memilih model yang menurutnya disukai nenek. Aku diajak pulang sebelum itu pak penjual memberikanku gelas yang berasal dari tanduk sintetis ‘bagus banget’. Aku berterimakasih pada pak penjual.
Selanjutnya kami berkeliling pasar hanya untuk melihat-lihat. Karena lelah kami beristirahat ditempat es krim kaki lima. “Kak mau es krim?” tanyaku kepada kak Rayhan.
“Boleh” jawab kak Rayhan dengan senyum manisnya.
“Pak saya beli es krim rasa strawberry satu dan rasa vanila satu” pesanku kepada pak penjual yang dibalas anggukan. Kak Rayhan menyukai rasa vanila aku tau saat kami berkirim pesan.
“Satu lagi rasa coklat” kata seseorang dengan suara berat yang familiar. Aku melihat untuk memastikan bahwa bukan dia “ El” gumanku rendah menyadari makluk es disini.
“Kalian saling kenal?” tanya kak Rayhan kepadaku.
Aku mengangguk “ Dia Elgartara teman sekelasku kak” kataku menjelaskan singkat siapa Elgartara.
“Aku Rayhan” kata kak Rayhan ramah kepada Elgartara yang dibalas tatapan tidak suka “ Elgartara” katanya
dingin.
Aku mengusap lengan kak Rayhan “ Jangan dimasukkan dalam hati maklus es memang begitu dari lahir” kataku menengkan kak Rayhan yang dibalas senyuman. Aku merasa punggungku panas ‘mungkin efek rumah kaca’.
“ mbak, mas ini pesanannya” kata pak penjual yang memberikan pesanannya kepada kami. Aku menerima es krim strawberry dan vanila yang aku berikan kepada kak Rayhan rasa vanila. Aku merasakan manis dan dinginnya es krim yang meleleh dalam mulutku.
Drett sebuah bunyi telepon dari kak Rayhan membuatku sadar kedunia. “ Melisa ayo kita pulang” ajak kak Rayhan kepadaku. Kak Rayhan mengandengku pergi sebelum itu kak Rayhan memberi salam kepada Elgartara. Kami sudah berada diparkiran.
“Ada apa kak?” tanyaku kepada kak Rayhan sambil memakai helm.
“Aku ada jadwal pemotretan” kata kak Rayhan yang membantuku memakaikan helm.
Kak Rayhan naik keatas montor yang disusul diriku “ Sudah siap?” tanya kak Rayhan. Aku mengangguk mulailah montor berjalan kerumahku. Sampainya didepan rumahku aku melepaskan helm yang dibantu kak Rayhan.
“ Aku duluan Melisa” kata kak Rayhan dengan senyum manisnya.
“ Hati-hati kak” kataku sambil melambaikan tangan bersamaan dengan melajunya montor kak Rayhan. Aku segera masuk kedalam rumah menuju kamar. Aku berganti pakaian yang kukenakkan. Kemudian aku keluar bersama pak mamat menuju sebuah salon.
Aku masuk kedalam salon “ Gettela” kataku lirih kepada salah satu pelayan. Aku langsung dibawa kesebuah ruang dibawa tanah. Aku datang kesini untuk menemui Tris yang merupakan salah satu anak buahku dan ketua informan tempat ini. Aku melihatnya sedang duduk dengan tumpukan berkas-berkas. Tempat ini terlarang untuk dimasukki kecuali diriku. Saat dia melihatku meminta seluruh anak buahnya meninggalkan kami. Aku menghelan nafas kasar ‘kenapa dulu Melisa tidak menggunakan fasilitas sebesar ini malah menyewa pembunuh bayaran’. “ Nona Melisa” sapa ketua yang berpenampilan rapi dengan membukukan badan tanda memberi hormat. Wajahnya tampan dengan kumis tipisnya mungkin usianya sekitar 30 an.
Seekor citah mendekatiku meminta belaianku. Citah ini milik Melisa asli yang diselamatkan saat dijerat pemburu. Aku membelai citah “ Kepemakaman keluarga Rikardo dan rumah sakit X” perintahku kepadanya yang dibalas anggukan “ Sebelum itu kita ubah penampilan”
Matahari sudah tenggelam tidak meguburkan niatku. Aku sudah berganti gaya dan menjelaskan rencanaku kepadanya. Aku memakai rambut berjat pink dengan pakaian yang nyaman. Dengan aksisoris perlindungan diri ditambah pistol didalam tas toscaku. Aku berperan sebagai idol girlgroup sedangkan anak buahku menjadi Menejerku yang bernama Kang. Dia memakai topeng skin yang bisa membentuk wajah orang lain dengan pakaian selayaknya manajer. Mobil abu-abu selayaknya mobil girlgroup berjalan keluar dari salon.
Kami berhenti disebuah tempat pemakaman. Aku masuk kedalam menuju pemakaman keluarga Rikardo menaburkan bunga untuk mereka. Disana aku berakting seolah kehilangan agar menarik mangsa. Aku mendengar langkah kaki disampingku air mataku kuusap dengan berlahan.
“ keluarga Rikardo memang baik. Kalau boleh tahu anda siapa?” kata nenek yang memakai pakaian adat pasti penjaga pemakaman.
“ Saya keponakan jauh mereka” kataku sopan
“ Maaf aku tidak pernah melihat anda kemari” kata nenek menginggat.
“ Itu karena saya masih masa trenee dan agensi tidak mengizinkan saya keluar dari asramah... ”kataku lirih
“ itu wajar untuk jadi artis terkenal perlu kerja keras” kata nenek menghiburku ‘ berhasil’. Aku melihat nenek mengenang “ Keluarga Rikardo orang yang baik kasihan Caraka ditinggal sendiri. Caraka selalu datang kemari setiap bulan untuk mendoakan kedua orang tuanya tapi tidak pernah berdoa untuk makam adiknya” kata nenek.
“ Nenek... bukankah namanya Arjeno?” tanyaku memancing
“ Caraka julukan untuk Arjeno tidak banyak orang tahu” kata nenek menjelaskan “.
“ Nenek tahu dimana Caraka?” tanyaku menambah bukti.
“ Seingat nenek dia tinggal dijalan Bantal” kata nenek memberikan informasi.
“ Terimakasih nek” kataku sambil menekan jam tangan untuk memanggil anak buahku.
“ KIKIS ayo” kata Tris yang berlagak manejer.
“ Nek aku harus pergi manajerku sudah mencariku” kataku sambil memberikan amplop yang berisi uang ziarah.
Aku masuk kedalam mobil hitam kami. Aku mencopy hasil rekamanku diberbagai tempat. Kemudian kami pergi kerumah sakit X untuk mengambil data kematian Yoana. Rumah sakit X yang amat besar dengan warna putih yang dominan. Salah satu rumah sakit milik keluarga Sebastian yang memiliki fasilitas terlengkap, pelayanan teramah, dan terbaik dinegara ini.
Aku memasukki rumah sakit dengan percaya diri kemudian dihadang satpam yang bertugas “ Ada keperluan apa anda kemari?” tanya satpam ramah.
“ Saya datang kesini untuk membawa jenazah kakak saya” kataku sesegukkan sesekali mengusap air mataku.
Mereka saling menoleh dan memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah. “ Baiklah ikut kami” kata salah satu satpam membawaku keruang registrasi.
“ Ada yang bisa saya bantu” kata pegawai resgistrasi dengan ramah
“ Saya ingin mengambil mayat kakak saya yang bernama kak Tari 39 tahun. Ini berkas-berkasnya” kataku to the poin dengan wajah sedih dan air mata berlinang hidung merah tersumbat. Sangat cocok untuk orang yang sedang berkabung.
“ Tunggu sebentar” katanya sambil mencari data. Tak lama aku melihat mereka semuanya menunduk membuatku penasaran.
“Ada keperluan apa seseorang datang tidak pada waktunya?” tanya seseorang yang bersuara familiar ditelingaku. Suara Alex penuh kecurigaan membuat detak jantungku berdebar. Aku sedikit menunduk menutupi wajah dengan rambutku berharap Alex tidak mengetahuiku ‘gawat’. Saat mbak registrasi akan menjawab terpotong oleh sebuah suara.
“ Tuan Alex” panggil seseorang dari kejauhan ‘suara siapa ini?’.
“ Ya.. tuan Caraka, anda sudah datang” kata Alex ramah.
“ Ada apa?” tanya orang yang bernama Caraka
“ Tidak ada apa-apa. Bagaimana kalau kita langsung membicarakan hal yang saya kirimkan” kata Alex mengajak Caraka pergi.
“ Baiklah” kata Caraka
“ Mari” kata Alex sopan mengantarkan orang bernama Caraka
Setelah mereka melangkah pergi aku menoleh untuk mengetahui siapa caraka itu. mataku membelalak melihat orang yang dipanggil Caraka oleh Alex adalah Arjeno. DRETT getar ponsel yang menandakan pesan anak buahku yang memintaku untuk keluar ‘ada apa?’ batinku. Aku segera merubah mimik wajahku.
“ Permisi maaf saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi” kataku mengitimidasi.
“ Kami masih proses pemindaian data. Berikan kami waktu beberapa menit lagi” kata registrasi menengakanku
“ Saya tidak bisa ada urusan mendadak dan ini” kataku sambil memberikan no telepon “ Hubungi saya dinomer ini” pesanku kepada pihak rumah saki. “ kalau begitu saya permisi dulu” kataku memberikan salam perpisahan. Aku tersenyum nomer yang kuberikan merupakan nomer keluarga asli ‘ Terimakasih Tari semoga kau tenang” doaku dalam hati.
Aku masuk kedalam mobil menuju keberadaan anak buahku. Aku menepikan mobilku didepan anak buahku dan menyuruhnya masuk.
“ Maaf nona saya tidak bisa mendapatkan data kematian Yoana” kata Tris menyesal.
“ Plan B” kataku fokus menyetir yang dibalas anggukan dari anak buahku.
Aku sudah berada didepan rumah dengan penampilan sebelumnya. Rambutku sudah berganti warna semula namun pakaianku tetap sama. Aku masuk kedalam rumah ‘gelap’ itulah yang pertama kali kulihat segera mencari saklar dan menyalakannya. KLIK seketika ruangan terang bersama amarah ayah.
***
Lanjut episode 19