NovelToon NovelToon
Transmigrasi Petarung Ke Istri Yang Tidak Dianggap

Transmigrasi Petarung Ke Istri Yang Tidak Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:24.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Xaviena Avanzi seorang petarung bebas di Mexico tidak pernah tau siapa orang tua kandungnya.
Hidup seorang diri membuat Xaviena hanya peduli dengan dirinya saja. Tidak pernah berusaha mengetahui dunia luar, dan hanya fokus pada pekerjaannya sebagai petarung. Xaviena tertidur panjang karena diracuni oleh seorang pria yang tidak terima dikalahkan oleh gadis itu.

Saat membuka mata, dia terkejut karna terbangun di tubuh seorang wanita asal Spanyol yang sudah menikah. Bukan pernikahan yang bahagia tapi pernikahan yang hanya membawa kesakitan dan penolakan untuk sang wanita. Xaviera bertekat untuk membalas semua kesakitan dan perbuatan suaminya.
Bagaimana jika jiwa Xaviena, si petarung bebas yang bodoh amat, masuk ke dalam tubuh Xaviera, si istri yang sangat mencintai suaminya?
Dan apa yang terjadi pada tubuh Xaviena? ikuti kisah mereka.

Ayo mampir, dijamin ga bikin bosen!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter eighteen

Malam merayap perlahan di Mansion Vargas,membawa keheningan yang kontras dengan keriuhan Mansion Vargas sepanjang siang tadi. Satu per satu anggota keluarga besar sudah kembali ke kamar masing-masing atau beristirahat di kamar tamu. Aula belakang yang siang tadi penuh dengan kotak dekorasi kini sudah rapi dan sepi.

Di kamar milik pasangan utama kita, lampu gantung sudah dipadamkan, menyisakan lampu tidur di sudut ruangan yang memancarkan pendar keemasan yang hangat.

Xaviera baru saja selesai mengeringkan rambutnya setelah mandi. Begitu melangkah mendekati ranjang, ia mendapati Xaviero sudah bersandar di kepala tempat tidur. Lelaki itu tidak lagi memakai kaus hitam tipisnya, melainkan bertelanjang dada, memperlihatkan balutan perban kecil yang tersisa di bahu dan punggungnya. Tatapan hijaunya langsung terkunci pada Xaviera sejak perempuan itu melangkah masuk.

"Belum tidur?" tanya Xaviera, berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang, tepat di sisi suaminya.

"Aku menunggumu," jawab Xaviero singkat. Suaranya terdengar lebih rendah dan serak dibanding siang tadi, khas pria yang menahan kantuk atau sesuatu yang lain.

Xaviera meraih salep yang terletak di atas nakas. "Sini, aku periksa dulu perbannya sebelum tidur. Tadi siang kamu terlalu banyak bergerak, kan?" Xaviero tidak membantah. Ia sedikit menggeser posisinya, membiarkan Xaviera memeriksa bahunya.

Jari-jari lentik Xaviera bergerak memeriksa pinggiran perban, memastikan tidak ada darah yang merembes. Napas hangat Xaviera yang teratur menerpa kulit leher Xaviero, membuat jakun pria itu naik-turun.

"Aman. Tidak ada yang terbuka," gumam Xaviera lega. Namun, saat ia hendak menarik tangannya kembali, pergelangan tangannya dicekal lembut oleh Xaviero.

Xaviero membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Xaviera. Tatapan mereka bertemu di bawah remang lampu kamar.

"Tadi ada yang memotong pembicaraan kita," bisik Xaviero, merujuk pada gangguan Clara dan Axelian.

Xaviera menahan senyum, pura-pura tidak ingat. "Pembicaraan yang mana? Seingatku siang tadi kita cuma membahas kue pernikahan Xena."

"Bohong," tuduh Xaviero lembut. Ia menarik tangan Xaviera perlahan, membawa telapak tangan istrinya itu untuk menyentuh dadanya yang berdegup kencang. "Jantungku hampir lepas siang tadi karena menahan diri. Sekarang sudah malam. Dan di sini.. tidak ada Clara, tidak ada Axel, tidak ada siapa pun."

Pipi Xaviera perlahan memanas. "Xavi, lukamu belum sembuh total."

"Luka di bahuku sudah tidak sakit, Sayang. Tapi yang di sini..." Xaviero membawa jemari Xaviera naik ke rahangnya, lalu mengecup ujung jari perempuan itu satu per satu dengan mata yang terus menatap dalam. "...terasa sangat menyiksa kalau kamu menjauh terus."

Xaviera menghela napas pasrah, kehilangan seluruh argumennya jika menghadapi Xaviero yang mode seperti ini. Sikap dingin sang suami yang biasanya ditakuti orang luar, benar-benar runtuh dan berubah menjadi kelembutan yang menuntut di depan istrinya.

Perlahan, Xaviero memajukan wajahnya. Jarak di antara mereka kembali terkikis. Xaviera bisa mencium aroma sisa sabun maskulin bercampur wangi khas tubuh Xaviero yang selalu membuatnya tenang.

Ketika bibir mereka kembali bertemu, suasananya jauh berbeda dengan waktu tadi di balkon. Jika sore tadi penuh kerinduan yang manis, malam ini ciuman itu terasa lebih dalam, pekat, dan penuh kepemilikan. Xaviero melumat bibir istrinya dengan ritme yang lambat namun menuntut, seolah ingin menyesap habis seluruh napas Xaviera.

"Ngh..." Lenguhan tipis lolos dari sela bibir Xaviera saat tangan kekar Xaviero merayap turun ke pinggangnya, menarik tubuhnya hingga menempel tanpa jarak pada dada bidang suaminya.

Xaviera tanpa sadar mengalungkan kedua lengannya ke leher Xaviero, berhati-hati agar tidak menekan bahu suaminya yang terluka. Sentuhan kulit mereka mengirimkan sengatan hangat yang membuat malam dingin itu terasa memanas.

Ciuman Xaviero perlahan turun ke rahang, lalu mengecup leher jenjang Xaviera, membuat perempuan itu sedikit mendongak dan mencengkeram bahu kokoh suaminya. Suara napas mereka yang memburu memenuhi keheningan kamar.

"Xavi..." panggil Xaviera lirih, suaranya sedikit bergetar saat kecupan Xaviero semakin intens..Xaviero menjauhkan wajahnya beberapa senti, menatap wajah Xaviera yang memerah dengan netra biru yang tampak sayu karena gairah. Xaviero tersenyum sangat tipis, jempolnya mengusap bibir bawah istrinya yang sedikit basah.

"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Xaviera," bisik Xaviero tulus, sebuah pengakuan yang selalu terdengar magis di telinga Xaviera setelah semua badai yang mereka lalui.

Xaviera menarik napas dalam, mencoba menstabilkan debar jantungnya sendiri yang sudah tidak karuan. Ia menyatukan kening mereka, tersenyum manis. "Aku tahu, Aku juga mencintaimu."

Xaviero terkekeh pelan, suara tawanya yang berat terdengar begitu seksi di telinga Xaviera. Akhirnya dia mendengar kata cinta dari bibir istrinya.

Pria itu kemudian mengecup singkat hidung istrinya sebelum menarik Xaviera ke dalam pelukannya, merebahkan tubuh mereka bersama di atas ranjang yang empuk, menyelimuti malam panjang mereka dengan kehangatan yang utuh.

Xaviero memosisikan tubuh Xaviera dalam dekapan dekapannya, menyandarkan kepala perempuan itu di dada bidangnya yang tidak terluka. Satu tangan kekarnya melingkar protektif di pinggang sang istri, sementara tangan lainnya mengusap lembut rambut panjang Xaviera yang masih menyebarkan aroma sampo yang menenangkan.

Kamar itu benar-benar hening sekarang, hanya menyisakan suara detik jam dinding dan helaan napas mereka yang perlahan mulai teratur.

Namun, Xaviera bisa merasakan detak jantung Xaviero di bawah telapak tangannya masih berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia mendongak, menatap dagu kokoh suaminya dari bawah.

"Katanya mau tidur?" goda Xaviera pelan, jemarinya iseng memainkan anak rambut di dada Xaviero.

Xaviero menurunkan pandangannya, menatap mata biru istrinya yang memantulkan cahaya temaram lampu tidur.

Senyum tipis yang sarat akan arti muncul di bibirnya. "Bagaimana bisa tidur kalau bidadarinya sedekat ini?"

Xaviera langsung mendengus geli, tapi pipinya tidak bisa diajak kompromi karena kembali memanas.

"Sejak kapan seorang Xaviero Davíde Costa jadi sepintar ini merayu, hm? Dulu saja dinginnya seperti es di kutub."Xaviero terkekeh, suara beratnya bergetar di dada yang sedang dipeluk Xaviera. Ia mempererat pelukannya, mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang. "Itu karena dulu aku bodoh dan gengsi. Sekarang, setelah hampir kehilanganmu, aku tidak mau menyia-nyiakan satu detik pun untuk menunjukkan seberapa gilanya aku padamu."

Mendengar kalimat itu, gurauan Xaviera seketika menguap. Matanya melembut, dipenuhi rasa haru yang mendalam. Ia menggeser tubuhnya sedikit ke atas, menyamai posisi duduk Xaviero sehingga wajah mereka kembali sejajar.

Xaviera mengulurkan tangan, membingkai wajah tegas suaminya dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Ibu jarinya mengusap lembut rahang Xaviero.

"Terima kasih karena sudah bertahan hidup untukku, Xavi," bisik Xaviera tulus. Matanya sedikit berkaca-kaca mengingat malam mengerikan saat Xaviero tertembak demi melindunginya. "Saat melihatmu berlumuran darah waktu itu... duniaku rasanya runtuh."

Xaviero menatap dalam mata istrinya, melihat ketulusan dan cinta yang begitu besar di sana. Ia menggenggam pergelangan tangan Xaviera yang ada di pipinya, lalu mengecup telapak tangan itu dengan lembut.

"Aku tidak akan pernah membiarkan diriku mati sebelum membahagiakanmu, Sayang," balas Xaviero dengan nada suara yang begitu dalam dan bersungguh-sungguh. "Setiap kali aku merasa lelah di ruang operasi, suara tangisanmu yang memanggil namaku selalu menarikku kembali. Kamu adalah alasan jantung ini masih berdetak sampai sekarang."

Atmosfer di antara mereka berubah menjadi begitu emosional dan penuh keintiman. Jarak yang sempat tercipta akibat kesalahpahaman masa lalu kini benar-benar telah melebur, menyisakan ikatan suami istri yang semakin kuat.

Xaviero memajukan wajahnya perlahan, menghapus jarak yang tersisa. Kali ini tidak ada gairah yang menggebu-gebu, melainkan kecupan-kecupan kecil dan lembut yang ia daratkan di kening Xaviera, turun ke kedua kelopak matanya, lalu ke pipinya yang merona, sebelum akhirnya berhenti di bibir ranum sang istri.

Ciuman itu mengalir begitu tenang, seolah menyampaikan semua janji setia yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata. Xaviera memejamkan matanya, menikmati kehangatan dan rasa aman yang selalu ia dapatkan setiap kali berada di pelukan suaminya.

Saat ciuman itu terlepas, Xaviero menyandarkan dahinya pada dahi Xaviera, mengulum senyum tipis melihat wajah istrinya yang terlihat sangat cantik dalam jarak sedekat ini.

"Sekarang... ayo tidur. Besok pagi kita harus membantu Xena dan Dominic lagi," bisik Xaviera pelan sambil mengelus bahu sehat Xaviero.

"Tidur di dalam pelukanku?" tanya Xaviero memastikan.

Xaviera tersenyum manis, mengangguk kecil. "Iya, Tuan Tua. Di dalam pelukanmu. Selamanya."

Xaviero tersenyum puas. Ia mengecup singkat bibir Xaviera sekali lagi sebagai kecupan selamat malam, lalu membawa tubuh istrinya kembali ke dalam dekapannya yang hangat, siap menyambut hari esok yang dipenuhi kebahagiaan baru di Mansion Vargas.

Tapi apakah mereka tidur? Tentu tidak. Setelah beberapa kali berpindah posisi karena tidak bisa tidur, gairah kembali membakar Xaviero, dengan lembut dan penuh cinta akhirnya malam pertama yang tertunda bertahun-tahun mereka lakukan malam itu.

1
Memyr 67
xaviera xaviero, kebolak balik namanta. dahlah babay
Memyr 67
episode membingungkan. mana yg xaviena mana yg xaviera, sepertinya othornya bingung. episode berikutnya nggak jelas mana xaviena mana xaviera aku babay
Memyr 67
xaviero masuk perangkap betmen
Memyr 67
visual xaviera benar benar cantik. siapa sih?
awesome moment
visual xavier yg gemoy mana? pake AI jg boleh
Osie
terkadang aku kurang suka inilah..udahlah disakiti sp mati eh gitubidup lagi typ aja bertahan jd istri..bego aja sih menurutku..apa g bisa dibuat xaviera lepas gitu dr xaviero..enek bgt
Osie
je jeeee aku mampir dimari nih sambil nunggu yg ono up..selalu suka cerita transmigrasi dgn sosok MC tangguh..smart..licik..gak menye menye n cantik..
Jennifer
nggak banyak yg suka ya, pdhl sdh sejauh ini🥲
Fitrian
woowwww😱
badassss🤣👍
Muft Smoker
kak terimakasih buat update an cerita ny ,,
duuuh kalo liat cara kerja mafia ,,
ngeri2 sedaaap🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
si kulkas raksasa udh ketemu pawang ny jugaa ,,
ayooooo qta lihaat masa2 Xander bucin ke axel 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
si dingin Jovan udh punya pawang ny yg luar biasa poloos 🤭🤭🤭
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
meski gx detail kak ,, tp bikin readers senyum malu2 kak🤭🤭🤭🤭
Kadek Muliarti
foto kurang jelas kak
Muft Smoker
😁😁😁😁 semua org udh menemukan kebahagiaan ny masing2 ,, cuma ad yg sadar ,, Dan ad beberapa yg gx sadar🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
awwwww ,, axel ,, jgn bilang km melon makan melon 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
waaaah kakak skrang rajin up ,,
sayang byk2 ,, 🫰🫰🫰🫰🫰
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
aaaa sweet km mereka ,,
mafia juga manusia kn ,, bisa sakit ,, bisa manja ,, bisa Nangis juga ,, 🤭🤭🤭🤭 ,,

semoga kalian selalu bahagia ,, 😁😁
lanjuuuut kak ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!