Entah bagaimana caranya Seorang pujangga mampu mendeskripsikan cinta seketika menjadi indah hanya dengan pembendaharaan diksi yang mereka punya. Padahal cinta tidak semudah mengubah suku kata menjadi barisan rima.
Begitu juga cinta yang dirasakan seorang Adha Abhimana, pelatih renang yang lisensinya tidak bisa digunakan ketika menyelami dalamnya tatapan mata seorang Aruna Nureda. Sales promotion girl yang tak sengaja ditemuinya di kota Batam. Abhi memanggilnya Red, tak hanya bibirnya, nama itu juga semerah lukanya yang basah.
Semacam karma yang dibayar tunai, Abhi jatuh hati kepada Red yang statusnya bukan gadis biasa.Cinta,harapan dan impian Runa masih untuk Rangga yang hampir tak mungkin dimilikinya.Berhasilkah perjuanan Abhi? atau harus rela Runa kembali dengan mimpinya?
Ini kisah tentang pengkhianatan sekaligus kesetiaan, luka sekaligus antiseptiknya.
WARNING : SIAPKAN ASPIRIN KARENA MUNGKIN MENGIKUTI KISAH INI AKAN MENIMBULKAN EFEK PUSING.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANTE BURUNG HANTU
Runa memasukkan kembali almamater warna merah hati ke dalam ranselnya. Tidak hanya gerah, dia juga stress karena BAB empat yang tersusun rapi saat dia ajukan tadi, sekarang sudah mirip visual wajah mafia, banyak codetnya. Ditambah dosen pembimbingnya mencoret dengan tinta merah seolah penelitiannya sangat berlumur dosa.
Lelah dan rasanya ingin berakhir disini saja. Otaknya bisa roboh jika harus berpikir banyak masalah dalam satu waktu bersamaan.
Runa harus segera pulang, pemilik kontrakan sudah menelponnya beberapa kali menanyakan uang sewa bulan ini. Bagaimanapun galaknya pemilik rumah, belum lagi tetangga yang semuanya punya hasrat kepo dan julid luar biasa, Runa belum terpikir untuk pindah dari sana.
Walau bangunan rumah itu sangat kecil, hanya terdiri dari ruang tamu, satu kamar dan lorong dapur kecil tempat kamar mandi dan ruang masak yang sempit, sangat susah di tengah kota mencari kontrakan yang sesuai dengan kemampuannya saat ini.
Runa berjalan kaki menyusuri jalan paping blok setelah turun dari angkutan kota. Dilihatnya Ibu Eti sudah menunggu di kursi hijau depan rumahnya.
"Huh akhirnya kamu sampai juga, Runa. Ibu sudah nungguin dari jam tujuh pagi di sini, Ibu telpon kamu gak jawab-jawab," rutuk wanita yang juga pemilik warung di gang ini.
"Astaga Bu, saya kan udah bilang mau ke kampus dulu karena harus bimbingan. Saya gak mungkin lari dari tanggungjawab Bu, lagian itu motor saya yang saya tinggalin bisa ibu jual ku kalau emang saya nipu," protes Runa.
"Hehe. Iya kamu tau sendiri lah Run, Ibu juga lagi butuh," keluh Bu Ety.
"Hmmm, Ini ya Bu."
Runa menyerahkan amplop coklat yang berisi 9 lembar lima puluh ribuan. Bu Eti menempelkan jari telunjuk ke ujung lidahnya sebelum menghitung jumlah uang ditangan.
Runa mengernyit geli.
"Kebiasaan si Ibu!"
"Hehehe, Pas ya, Run. Ibu terima uangnya," ucap Bu Ety.
"Bu, boleh gak uang sewa bulan depan dipake buat benerin genteng ruang tamu sama jendela samping kamar?” tanya Runa.
“Loh genteng jendela samping kamar kenapa?”
“Kan udah hancur bu, kalau hujan agak berangin sedikit aja, itu air hujan masuk dari ventilasi bu,” ungkap Runa.
“Oke deh, nanti Ibu pikirkan ya,” jawab Bu Eti
Runa mengajak Bu Eti melihat kondisi atap samping kontrakan, kanopi jendela yang memang sempurna hancurnya, hanya meninggalkan kayu-kayu penyangga yang kapan saja siap menimpa pemilik rumah.
Bu Eti dan Runa masih asik berdiskusi, terdengar kehebohan dari arah jalan. Tak mau ketinggalan, Bu Eti meninggalkan Runa yang masih berbicara demi melihat kehebohan apa yang terjadi di depan.
Runa tidak tertarik, dia memilih masuk ke dalam rumahnya dari pintu samping, ternyata Bu Eti kembali dan mengejarnya.
“Runa … Runa,” panggil Bu Eti menahan langkah Runa.
“Ada apa, Bu?”
“Itu si Sulis sama pacarnya di geret keliling kampung karena ketahuan abis nginap di kos-kosannya. Duh anak zaman sekarang udah loss doll urat malu mereka,”
"Loh Bu, sampe diarak keliling komplek?"
"Iya, karena udah disuruh nikah tapi yang cowo bilang belum siap, dia masih sekolah,"
"Ohhh ...."
Cukup tau hukum yang berlaku di lingkungan masyarakat daerahnya. Runa tak ingin banyak bertanya, karena Bu Eti tidak akan habis ceritanya, dia harus segera masuk dan merevisi skripsi selagi niatnya masih ada.
***
Dihempaskannya badan dan kepala yang berisi risau dan kegundahan di atas kasur yang tidak seberapa empuk itu. Ditatapnya langit-langit kamar yang putih penuh dengan bercak kekuningan.
Runa meraih ponsel untuk menghubungi Rangga sesuai rencananya, tapi layar enam inchi itu malah memunculkan nama Abhi, teman barunya tadi.
"Abhi?"
"Hay Red," sapa Abhi dari sebrang.
"Kamu menginap di hotel mana? Sampai kapan di Batam?"
"Aku ... Aku gak nginap, ini sebentar lagi mau pulang," ungkapnya gugup, padahal dia sudah beberapa menit yang lalu sampai di club.
"Gitu?"
"Iya ... Iya kek gitu, eh gimana bimbingannya?"
"Kamu ngajakin aku ngobrol?"
"Itu kalau boleh sih, kalau sibuk gak masalah."
"Engga juga sih, tapi pusing banyak banget revisian."
“Emang udah sampai mana?”
“BAB empat!”
“Udah jauh, dikit lagi sidang.”
“Iya udah jauh, tapi mau sampai ke tahap ini rasanya aku stress beneran.”
“Kamu jurusan apa sih kalau boleh tau?”
“Psikologi.”
“Wah mau jadi psikolog?”
“Gak juga, Cuma mau lulus kuliah aja, udah.”
“Hahahha, Red … Red.”
“Ketawa kan, kamu? Dulu aja pas ngajuin judul entah berapa kali aku nangis,” ungkap Runa.
Padahal waktu itu dia menangis karena bertepatan dengan puncak masalah rumah tangganya.
“Segitunya? Boleh tau judulnya?”
“Judul ku yang tertolak itu, judulnya … Pengaruh Kebiasaan Membaca Novel Online terhadap tingkat kehaluan ibu rumah tangga.”
“Hahahhahaha.”
Runa terdiam, betapa renyahnya tawa Abhi dari sebrang sana.
“Itu judul dari mana kamu carinya? Ya syukur aja ditolak, kamu mau menghitung tingkat kehaluan pakai teori apa?”
Red akhirnya bisa ikut tertawa, lebih tepatnya menertawakan dirinya. Diakuinya, dia sangat payah di bidang akademik, nilai sekolahnya tidak pernah lebih dari tujuh. Selama tujuh semester, IPK tertingginya hanya dua koma Sembilan, tidak sudi bertambah walau nol koma sekian.
“Red, hem .. kalau aku ke Batam, kita boleh ketemu lagi, kan?”
“Kalau pas aku gak kerja sih gak ada masalah.”
“Oke, yasudah aku akhiri dulu ya, sebentar lagi mau mulai latihan,”
“Loh katanya masih di Batam dan baru mau pulang? Latihan apa?”
“Ah iya maksud aku mau cepet pulang karena harus latihan.”
Hampir saja belangnya ketahuan.
***
Di sebuah taman kecil, seorang wanita paruh baya bersama cucunya tampak santai diatas ayunan bundar. Ibu Suri sedang membacakan sebuah buku fantasi untuk Razqa, seperti ayahnya, Razqa sangat gemar membaca.
Bibi asisten rumah tangga menyampaikan pada Ibu Suri bahwa ada tamu yang mencarinya.
“Sebentar ya nak, Oma lihat tamunya dulu,” ucap Oma Suri.
Ibu Suri berpas-pasan dengan Achy yang sedang mengambil minuman dingin di belakang.
“Nah Achy kebetulan kamu ada disini, tolong temenin Razqa dulu ya di taman, Mama mau ke depan, ada tamu,” pinta Ibu Suri.
“Razqa dimana, Ma?”
“Itu lagi di ayunan, ini bukunya tolong kamu bacain!” perintah Ibu Suri.
Achy berjalan menghampiri Razqa, mungkin Razqa bisa jadi alat untuk mengambil hati Rangga. Pikirnya.
“Hay Boy!” serunya duduk di sebelah Razqa, balita itu bergeser menjauh dan hanya menatap heran ke arah Achy.
“Kenalin, nama aku Achy, kamu boleh panggil Mama Achy, okay?” tukas Achy berpura-pura girang, perkenalannya dengan Razqa harus berkesan.
“Kok takut sih? Sini, mama Achy yang lanjut bacain bukunya ya.”
Achy membuka kembali buku yang berjudul malaikat jatuh yang tadi diberikan Ibu Suri.
Razqa masih tidak bersuara dan semakin menjauh.
Achy mulai geram, bagaimana cara menjinakkan bocah ini. dillihatnya Razqa menatap wajah dan bagian perutnya yang sudah mulai membesar.
“Oh iya, kamu suka ade bayi ga? Ini di perut mama Achy ada ade bayinya loh,” pancing Achy.
“Baby?” seketika Razqa tampak antusias, sudah lama dia menginginkan kehadiran seorang adik. Dia kerap membahasakan dirinya “Abang” saat berbicara dengan Daddy dan Miminya.
Melhat Razqa yang mulai tertarik menjadi angin segar untuk Achy.
“Iya Baby, adik bayi. Adiknya kamu,” ucap Achy lagi sambil mengelus perutnya, “sini deh, Abang Razqa mau bicara gak sama Baby?”
Tentu saja Razqa ingin, tapi sebelum dia mendekat, Rangga datang menghampiri.
Razqa turun dari ayunan dan berlari memeluk ayahnya.
"Achy, kamu ngapain?" selidik Rangga curiga dengan sebelah tangan yang mendekap anaknya.
"Em ... Itu tadi Mama cuma minta tolong aku nemenin Razqa aja kok, Mas. Iya kan Razqa?" ucapnya selembut mungkin.
Razqa mengangguk dalam dekapan ayahnya, kemudian dia memutar badan kini berhadapan dengan Achy.
"Daddy, kata Tante itu di dalam perut Tante itu ada baby, adiknya Abang Razqa. Bener ya, Dad?"
Wajah Achy pucat, pasalnya Rangga sangat melarang Achy melakukan hal itu. Achy tak menyangka Razqa akan langsung melaporkan pada ayahnya.
Ibu Suri kembali menghampiri, perhatian Rangga beralih sejenak. Achy menggunakan kesempatan itu untuk memberi Razqa ancaman kecil.
Dia membelalakkan matanya ke arah anak itu sambil merapat-rapatkan gigi agar Razqa takut dan tidak mengadu lagi.
"Kenapa Tante? Kok matanya tiba-tiba berubah seperti burung hantu, sih?"
Rangga seketika menoleh, seketika itu juga wajah Achy kembali manis seperti semula.
Bapak sama anak saja menyebalkannya.
Rutuk si burung hantu pemakan serangga.