Raisa terlahir sebagai anak yang ceria selayaknya anak pada umumnya. Namun, setelah kejadian hilangnya sang adik semua kehangatan dan kebahagiaan yang dulu ia dapatkan di rumah sirna seketika. Hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang hilang berada di jalanan, melepas semua beban dan merasakan kebebasan yang telah lama terkurung dalam sangkar. Karena trauma masa lalu yang berbekas di hatinya, memaksanya terlihat kuat di hadapan semua orang. walau sebenarnya hatinya sangat rapuh, sampai dia tak tahu artinya pelukan hangat, pujian yang membanggakan dan kasih sayang yang tulus. Akankah Raisa menemukan jati dirinya lagi yang selama ini ia kubur dalam-dalam dan menemukan seseorang yang mampu melelehkan hatinya yang telah membeku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sjulerjn29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. CAUGHT IN WRATH
Begitu pandangan ayah Raisa jatuh pada pria yang tadi berdiri di samping putrinya, matanya langsung merah menyala. Napasnya terengah, dada naik turun seperti bara yang baru disiram bensin. Ia merasa pengkhianatan dan kelalaian itulah yang membuat Raisa babak belur.
Alex yang masih terdesak masih menyempatkan untuk melirik ke arah Raisa untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Sedangkan Ayah Raisa masih dengan tatapan memburu terhadap dirinya seakan amarah telah mengendalikan akal sehatnya.
"Enggak kok, saya cuma nenangin Raisa om gak lebih sama bantuin dia turun dari motor, itu aja...ampun om." Kejujuran terlihat dari matanya, namun Ayah Raisa tidak melihat itu.
"Lantas kenapa wajah kalian babak belur kaya gini? Seperti habis berkelahi..dan kenapa jaket kalian berdua sama? Itu jaket couple kan? Kamu pasti ada hubungan sama anak saya kan? JAWAB..!!" Tangan kekarnya mencengkram erat kerah baju Alex.
"Aduh rempong nih, gimana jelasinnya ya..apa aku iyain aja kali ya...tapi..."
"JAWAB..." Ayah Raisa tak bisa menahan emosinya alhasil Alex jadi sasaran empuk untuk melampiaskan kekesalannya.
PLAK!!
"Gara-gara kamu dia hampir mati!!” teriak sang ayah, suara parau penuh luka.
“Kamu pikir kamu siapa?! Pacarnya?!” Mata Alex terbelalak, buru-buru menggeleng. Tangannya terangkat, berusaha menjelaskan.
Tanpa aba-aba, tubuh kekar mantan atlet itu melesat. Pukulan tinju mendarat telak di wajahnya, keras, meledak seperti petir.
“A..aah..Om, jangan salah paham… Saya gak ada niat jahat… Saya cuma.." pukulan di wajahnya mendarat bertubi-tubi. Tangan Alex mencoba menahan namun kekuatannya kalah telak.
“Cuma apa?! Cuma ajak anak gadis saya buat keluyuran malam-malam?! Cuma bikin dia terluka kaya gini?!”
"Saya mohon om percaya sama saya, saya gak ada niat jahat..saya hanya.." Dia terus melangkah mundur perlahan sambil memohon hingga suara berderit pintu gerbang terdengar membuat Alex semakin terdesak. Tangannya tak hentinya memohon namun Ayah Raisa tak percaya sedikitpun dengan ucapannya.
“Tutup mulutmu!!” bentak sang ayah, tubuhnya melangkah maju dengan goyah namun penuh amarah. “Kau kira aku bodoh? Kau bawa anak saya diam-diam… lalu pulang dalam kondisi begini?!”
Tinju keras mendarat di rahang anak buah itu. Ia terhuyung, cairan merah merembes di sudut bibir, tapi tak sekalipun ia berani membalas.
"A..aah.." suara desahannya terdengar miris.
Raisa mendengar semuanya, dia segera menghampiri mereka, tubuhnya yang lemah mencoba menahan, tapi kakinya yang pincang membuatnya nyaris jatuh. Ia hanya bisa meraih lengan ayahnya dengan gemetar.
"KENAPA KAU BIARKAN ANAKKU SEPERTI INI!” suaranya menggelegar, bukan lagi suara seorang ayah, tapi seperti singa yang kehilangan anaknya.
“Yah, jangan salahkan dia!” jeritnya. “Ini semua salah aku! Bukan dia yang paksa aku!”
Sahabat Raisa pun ikut melerai, memeluk erat dari belakang. Tapi tubuh atletis yang terbiasa bertahun-tahun ditempa itu seperti besi panas yang mustahil dikendalikan. Ia meronta, tangannya masih berusaha menghantam.
"Lepaskan aku! Orang ini harus membayar!!” teriaknya lagi, suara bercampur pilu dan amarah.
Bobby hampir terseret, Raisa terdorong mundur dengan wajah pucat penuh air mata. Semua terasa kacau terdengar jeritan, suara hantaman, derap langkah yang tak terkendali.
Namun di balik amarah brutal itu, ada kepedihan mendalam. Ayah Raisa tidak lagi hanya memukul Alex, ia sedang memukul rasa bersalahnya sendiri, melampiaskan ketidakberdayaan karena putrinya terluka, menghukum siapa pun yang bisa disalahkan, termasuk dirinya.
“Ayah cukup… Ayah… tolong, cukup…” Tangisnya pecah.
Tapi sang ayah tak mendengar. Atau lebih tepatnya, tak bisa mendengar apa pun. Otaknya hanya diisi oleh satu hal yaitu Putrinya terluka, dan ini karena orang asing yang dianggap membawanya pergi.
Tangannya terangkat lagi, hendak memukul sekali lagi. Namun tangan itu ditahan. Alex hanya bisa pasrah, tubuhnya terkapar tak berdaya, noda merah kini menodai seluruh pakaiannya, namun tatapan matanya tak lepas dari Raisa.
"Raisa walaupun tubuhku sakit akibat pukulan yang ayahmu berikan,tapi percayalah aku akan tetap di sisimu dan aku tahu luka di tubuhku gak sebanding dengan luka di hatimu sekarang," benaknya, ia masih sempat memandang wajah gadis yang tak berdaya untuk menghentikan aksi Ayahnya. Sedangkan dia hanya bisa pasrah tanpa perlawanan.
Napas Ayahnya berat, bahunya naik turun. Matanya berair, tapi bukan karena sedih semata, tapi karena takut kehilangan dan tak tahu harus menyalahkan siapa.
Anak buah Raisa tetap terdiam, masih menahan rasa bersalah, dan tetap tidak membela diri walaupun tubuhnya saat ini sedang rapuh.
"Om percaya sama saya, saya gak bohong om,"Anak buah itu berusaha bertahan, tapi tenaga ayah Raisa jauh di luar batas. Tinju bertubi-tubi, tendangan keras menghantam tubuhnya.
"Saya gak percaya sama kamu!!"
Ayah raisa menampar dan memukul ulu hati Alex hingga tubuhnya tersungkur dan ada suatu cairan merah menyembur keluar dari mulutnya, sehingga menodai piyama keropi milik ayah Raisa.
“Ini semua gara-gara kamu!"
"Ayah..cukup Yah, dia gak salah apa-apa! Ayah salah paham.." teriak Raisa berusaha menarik lengan Ayahnya.
"Gak, Ayah harus kasih pelajaran buat dia! Dia udah buat kamu kaya gini, Ayah gak akan kasih ampun!"
"A...ampun om, sumpah om saya gak ngapa-ngapain anak om.." Alex berusaha bangkit namun tubuhnya tak mampu berdiri tegak.
Namun kata-kata itu bagai angin lalu. Bagi sang ayah, amarahnya sudah menutup telinga. Yang ada hanya bayangan putrinya meringis, luka, dan seorang pria yang dia kira telah menodai kepercayaannya.
“Jangan bohong kamu!!” Pukulan berikutnya melayang, lebih keras, membuat pria itu jatuh tersungkur ke tanah.
“Ayah!! Hentikan!!” Raisa berteriak, suaranya pecah. Air matanya jatuh deras, tubuhnya gemetar saat mencoba menahan, meski kakinya pincang membuatnya hampir terseret.
“Dia bukan seperti yang Ayah pikirkan!! Dia bukan pacar Raisa… dia hanya berusaha menenangkan ku…!”
Tapi ayahnya tak mendengar. Suara Raisa seperti teredam dalam kabut amarah dan trauma. Ia terus menghantam, tubuhnya seolah dikendalikan rasa takut kehilangan yang berubah menjadi kemarahan buta.
Dan di sela-sela itu, anak buah Raisa hanya bisa menahan sakit sambil terus memohon,
“Om… percaya sama saya… demi anak om, Raisa…” Nadanya lemah nyaris berbisik.
Ayah raisa berusaha memukul Alex yang masih terbaring di tanah, namun kedua lengan berototnya ditahan oleh Raisa dan Bobby, tapi tenaga Ayah Raisa sangat kuat sehingga mereka kesulitan menahannya.
Pukulan demi pukulan akhirnya berhenti. Napas sang ayah terengah-engah, bahunya naik-turun, tatapannya masih menyala bagai api yang tak padam. Anak buah Raisa sudah tersungkur, cairan merah menetes dari bibirnya, namun tetap menunduk tanpa melawan.
"Ayah...tenang dulu ya, semua bisa dibicarain baik-baik! Malu jika ada yang liat Yah.." Bobby menarik tubuh Ayah Raisa sekuat tenaga.
Ayah Raisa akhirnya menuruti perintah Bobby, tapi tatapannya beda, ia berbalik menoleh ke arah Bobby dan menghampirinya seakan dia sasaran berikutnya. Bobby menelan ludahnya, tubuhnya terpaku saking takutnya.
"Waduh bahaya nih, sekarang giliranku yang babak belur. Aku bakal diamuk habis-habisan nih, apalagi tadi aku peluk-peluk anaknya erat banget lagi mana diulangi lagi...ah bodohnya diriku," Bobby mundur perlahan namun tak ada jalan keluar untuk kabur dari tatapan Ayah Raisa yang memburunya.
Bersambung....
Apa yang akan dilakukan Ayah Raisa terhadap Bobby?
Apa Bobby akan menjadi sasaran berikutnya?
Apa mereka bisa menghentikan amarah sang Ayah?
Kawal terus kelanjutannya ya, jangan lupa kasih suport seperti vote, like, komen dan subscribe agar tidak ketinggalan ceritanya ya.. terimakasih yang sudah setia.
Semoga aku tetap semangat melanjutkan kisah Raisa..