Demi menjalankan misinya mencari tahu mengenai pelaku pembantaian massal keluarga Anthony, dengan rela Tuan Vigor menikahkan putri tunggalnya dengan seorang mafia yang merupakan putra sahabatnya untuk melancarkan misinya dan mendapatkan harta yang ia inginkan. namun lain halnya dengan si mafia, yang mempunyai tujuan lain dengan adanya ia masuk kedalam keluarga elit itu untuk bisa menguasai dan mengendalikan keluarga itu lewat Calon istrinya yang saat ini mendapat julukan Bloody Queen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionnaclareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Leo berhasil membawa istri itu keluar dari dalam bar dengan di ikuti asisten pribadinya yang saat ini sedang membawa tas kecil milik Yoona. Sementara itu Yoona masih terus memberontak dan berulah di atas pundak Leo.
"YYAKK turunkan aku, kenapa kau membawaku dengan cara seperti ini,,,,Turunkan aku, kau membuat perut ku sangat mual sekarang." Protesnya yang membuat leo langsung menurunkan Yoon dari atas gendongannya.
Dan yang benar saja setelah nya ia turun, Yoona langsung mengeluarkan seisi perutnya. "Huekk, Huekk, uhuk uhuk, Huekk." "Argh sial,,,"
"Kemari biar ku bantu." Tawar Leo saat melihat Yoona yang hendak berdiri.
"Nggak usah, aku bisa jalan sendiri, kau pikir aku tidak punya kaki untuk digunakan untuk berjalan." Tolaknya dengan begitu keras kepala dan langsung berjalan dengan kaki pincangnya, sementara Leo hanya pasrah menatap nya.
"Luca, sebenarnya ada apa dengan kakinya? Kenapa kau tidak memberitahuku?" Tanya Leo pada Luca yang memang bertugas mengikuti Yoona dari siang.
"Noona Yoona tadi habis jatuh dari tangga saat hendak turun dari gedung dan menghindar dari tuan Luan, sepertinya itu yang membuat nya mendapatkan luka di bagian lutut dan siku, serta kaki nya terkilir." Jelas Luca.
"Apa? Astaga dia jatuh dari tangga? Kenapa kau tidak memberitahuku, dan lagi kenapa kau tidak membawanya kerumah sakit, aku menyuruhmu bukan hanya untuk memantau nya Luca tapi juga menjaganya." Protes Leo.
"Maafkan saya tuan, tapi jika saya menampakkan diri mungkin saya tidak akan bisa lagi mengikutinya." Jawab Luca.
"Aduh,,, arghh." Rintih Yoona yang tiba tiba terjatuh karena tersandung batu dan membuat dua orang yang sedari tadi sedang berdebat itu menuju ke arahnya.
"Yoona,,,,," panggil Leo yang langsung menghampiri Yoona.
"Apa ku bilang, makanya jangan keras kepala, kau pikir kau bisa jalan dengan keadaan setengah waras seperti ini!!"
"Kau marah padaku Leo?"
"Apa?"
"Aku sedang sakit kenapa kau marah padaku?" Tanya Yoona yang saat ini sudah benar benar mabuk dan tidak bisa mengendalikan emosi pikirannya sendiri, sementara Leo masih terbungkam dengan sikap manis istrinya itu.
"Yoona, apa ini kau, apa kau kerasukan setan di sini, Yoona apa mungkin kau demam." Ucap Leo sembari memeriksa kening Yoona.
"Sepertinya Noona benar benar mabuk berat Tuan, akan lebih baik tuan segera membawanya pulang." Sahut Luca.
"Ayo pulang, aku akan mengobati mu dirumah." Ucap Leo yang langsung meraih tubuh istrinya itu dan menggendong nya kembali.
Luca segera membukakan pintu mobil untuk tuannya agar dia bisa lebih mudah meletakan Yoona di dalam mobil. "Tuan, tas milik Noona sudah saya simpan di kursi belakang, dan ini,,,," ujarnya sembari memberikan paper bag besar yang sedari ia pegang pada leo
"Apa ini Luca?"
"Ini minuman alkohol yang Noona minum tadi, saya sempat memesannya untuk tuan atas nama Noona."
"Apa?" Leo membuka paper bag besar itu dan terlihat dua botol besar yang masih tersegel rapat di sana. "Astaga kenapa kau membelinya Luca."
"Saya membelinya untuk anda tuan, minuman ini tidak dijual di sembarang orang, hanya Noona Yoona dan tuan Laurent yang bisa meminum nya."
"Ohhh begitu rupanya, baiklah kalau begitu, terimakasih." Ucapnya.
"Dan iya Luca besok datang ke kantor pukul 9."
"Ke kantor?"
"Iya besok langsung temui aku di kantor ada beberapa hal yang ingin ku tunjukkan padamu, dan iya terima kasih untuk hari ini kau bisa istirahat." Jawabnya.
"Oohh iya tuan, tidak masalah." Ucapnya sementara itu leo pun langsung masuk kedalam mobilnya.
Sesampainya Leo disana, Leo pun langsung menarik dan memakaikan sabuk pengaman pada Yoona yang masih menutup kedua matanya, namun saat ia benar dekat dan hampir ingin mengaitkan sabuk pengamannya itu tiba tiba saja kedua mata wanita itu terbuka dengan begitu lebar.
"Kau tidak tidur? kukira kau tidur." Tanya Leo sembari menatap wajah Yoona yang begitu dekat dengannya sekarang.
"Jangan terlalu dekat dengan ku, kau membuat dadaku sakit jika kau terus menatapku seperti itu." Ucap Yoona sembari mendorong tubuh Leo hingga menjauh darinya.
"Sakit? Kenapa, apa sangat sakit, apa kau merasa sesak?" Tanya Leo sekali lagi khawatir karena ucapan Luca tadi.
Yoona tersenyum tipis sembari menggeleng. " Tidak, aku baik baik saja, aku tidak merasa sesak tapi jantungku tadi begitu berdetak dengan kencang hingga membuat ku sakit." Jawabnya yang berhasil membuat Leo terdiam setelah mendengar satu kalimat yang membuatnya tidak percaya dia bisa mendengar hal semacam itu meskipun ia kini tahu bahwa istrinya masih di bawah kendali minuman alkohol.
"Apa kau selalu bersikap sangat manis saat kau mabuk Yoona, aku penasaran siapa saja yang sudah melihat mu seperti ini." Ucapnya seakan akan ia melihat kepribadian lain dalam diri Yoona.
"Yoona jujurlah padaku apa kau tadi habis jatuh, katakan apa yang sakit selain kakimu itu?" Tanyanya.
"Semua tubuhku sakit, apa lagi kepalaku sepertinya sedikit memar." Keluhnya sembari menyentuh area kepalanya.
Leo tersenyum tipis sembari membelai lembut rambut Yoona hingga ia merasakan ada benjolan kecil di kepalanya. "Andai kau mau terus tersenyum seperti ini pada ku Yoona," ucapnya.
"Tersenyum, tersenyum seperti ini."
Leo menangguk tipis seakan akan ia ingin istri nya itu terus dipengaruhi alkohol agar ia bisa melihat senyum manis dan cantik di wajah nya yang semu memerah akibat alkohol yang ia minum.
Leo mulai melajukan mobilnya itu meninggalkan tempat tersebut, di sepanjang perjalanan Yoona terus menceloteh tidak jelas, namun Leo sama sekali tidak menghiraukannya, dia terus fokus pada jalanan tanpa harus memperhatikan istrinya itu, hingga beberapa jam kemudian akhirnya Yoona yang kelelahan itupun tertidur begitu saja dalam mobil. Menyadari hal itu membuat Leo semakin memperlambat mobilnya hingga memakan waktu yang begitu lama.
Kini di pukul 12 malam akhirnya mobil Leo sampai di tempat tujuan, bukan di rumah tuan Vigor, Kini Leo membawa Yoona pulang ke rumahnya. Seusai berhasil memarkirkan mobilnya, Leo pun turun dan membawa Yoona yang masih tertidur lelap itu masuk kedalam rumahnya.
"Selamat datang tuan." Sapa salah satu Bodyguard yang menyambut kedatangan mereka.
"Masukan mobilku ke garasi, dan iya bawa semua barang yang ada di dalam masuk kedalam, kalian letakan saja di ruang kerja ku, setelah itu kalian bisa pulang." Pinta Leo.
"Baik Tuan, terimakasih." Jawab mereka namun Leo sama sekai tidak menghiraukannya dan langsung masuk begitu saja kedalam rumah itu.
Leo menggendong dan membawa gadis itu naik dan masuk kedalam kamarnya, dengan begitu perlahan ia meletakan tubuh kecil istrinya itu di atas ranjang dengan harapan ia tidak terbangun karenanya, setelah itu ia melepaskan kedua sepatu heels miliknya dan menyelimutinya begitu saja. Seusai menyelesaikan tugasnya pria itupun masuk kedalam kamar mandi untuk membebaskan dirinya dari rasa gerah di dalam tubuhnya.
Beberapa menit kemudian Leo pun akhirnya menyelesaikan rutinitas terakhirnya, dengan rambut hitam yang basah dan hanya membalut handuk mandi di tubuhnya, pria itu keluar dan hendak masuk ke ruang ganti nya, namun saat langkahnya baru saja keluar dari dalam kamar mandi, pandangannya tiba tiba tertuju pada Yoona yang masih tertidur pulas diatas ranjangnya, melihat hal itu membuat pria itu sontak mengurungkan niatannya dan malah berjalan menghampirinya.
Leo menatap wajah Yoona dengan begitu lekat dan dalam, dia begitu memperhatikan setiap inci wajah cantiknya yang terlihat begitu cantik meskipun masih sedikit memerah akibat alkohol, hal itu membuat Leo meringis dengan kedua ujung bibirnya yang sedikit terangkat.
"Ternyata kau lebih mengerikan saat mabuk Yoona, dan anehnya orang seperti dirimu bisa terlihat begitu tenang saat tertidur seperti ini, aku tidak tahu siapa saja yang sudah melihat mu seperti ini." Gumamnya saat melihat wajah tenang Yoona yang memang sebelumya terlihat begitu mengerikan.
Leo terus memperhatikan paras cantik Yoona sembari mengingat beberapa hal yang ia jumpai di rumah Laurent tadi. "Sungguh tidak masuk akal, lagi pula kenapa aku pergi kerumahnya tadi." Lanjutnya hingga tidak lama kemudian pandangan nya tertuju pada luka yang ada pada siku gadis itu. Melihat hal itu membuat Leo seketika membuka laci meja dan mengambil sebuah salep luka yang ia simpan disana.
Pria itu dengan perlahan mulai membuka dan mengoleskan salep itu pada luka Yoona sebelum memberikan plester padanya. Setelah menyelesaikan semuanya itu di kembali mengembalikan salepnya itu dan beranjak pergi dari hadapan Yoona. Namun saat ia ingin melangkahkan kakinya untuk pergi tiba tiba saja seseorang mencekal tangannya kirinya hingga berhasil menghentikan langkahnya.
Kedua mata Leo langsung tertuju pada sebuah tangan yang menggenggam erat pergelangan tangannya. "Kau mau kemana?" Tanya Yoona yang mulai membuka kedua matanya.
"Kau tidurlah disini, aku akan tidur di kamar lain." Jawabnya singkat sembari berusaha melepaskan genggaman tangan Yoona.
Namun Yoona sama sekali tidak ingin melepaskan cekalan nya itu. "Di kamar lain? Kau tidak ingin menemani ku disini?"
Leo melepaskan tangan Yoona yang sedari tadi menggenggam erat pergelangan tangannya. "Tidak, kau bisa tidur sendiri disini. Lagipula aku ada pekerjaan yang harus ku selesaikan." Dinginnya yang langsung beranjak pergi begitu saja dari Yoona, namun sekali lagi Langkah nya terhenti saat gadis itu tiba tiba bangkit dari tidurnya dan kembali menarik tangan Leo hingga sontak mendekat ke arahnya.
"Ayo bermain dengan ku lagi, lakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan semalam." Pinta Yoona.
"Tidak Yoona kau masih mabuk sekarang, lagi pula untuk apa kau ingin aku melakukan nya lagi kalau pada akhirnya kau menyesali semua nya, sudah lupakan."
"Aku sudah sepenuhnya sadar Leo, lakukan sekali lagi untuk menghilangkan rasa cemas ku, setidaknya aku harus terbiasa sebab kau sudah mengambil setengah dari kehidupanku, aku tahu pilihan hidupku saat ini hanya ada dua dimana aku harus mati atau hidup diatas rasa malu, tapi setidaknya aku tidak hidup diatas penghianatan," jawabnya yang membuat Leo seketika memiringkan kepalanya seakan akan ia merasa ada yang tidak beres dengan istrinya itu.
"Apa sudah terjadi sesuatu padamu?"
"Banyak sekali hal yang terjadi dan menimpa ku, dan puncak dari semua itu adalah saat aku menikah denganmu, aku tidak tahu omongan dan perkataan lagi siapa yang harus ku yakini dan ku percaya, semuanya seakan akan sedang membodohi dan mempermainkan diriku."
"Jangan percaya dan dengarkan perkataan orang lain Yoona, kunci dari sebuah kehidupan adalah percaya dan yakin pada diri sendiri, jangan biarkan siapapun mengendalikan pikiranmu kecuali dirimu sendiri." Tutur Leo.
"Seperti saat ini, menurutmu tujuan kita berdua menikah itu sangat jauh dari kata Cinta, kau bisa meyakini kepercayaan mu itu, meskipun tidak semua pemikiran itu benar."
"Apa kau sungguh mencintai ku Leo." Tanya Yoona tiba tiba yang membuat Leo terdiam di tempatnya.
"Sudah kukatakan tidak semua kebenaran itu terucap dari mulut tapi bisa terungkap dari perilaku, dengar Yoona, bahkan ada pepatah cinta itu tidak perlu diucapkan tapi hanya perlu dibuktikan, terserah kau menganggap nya apa, yang terpenting tidak ada yang bisa mengubah tujuan hidupku kemari."
"Sudah lupakan, sekarang tidurlah, aku ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan." Lanjutnya kembali yang kemudian langsung pergi begitu saja dari hadapan Yoona, namun dengan cepatnya Yoona langsung menarik tangan Leo hingga ia kembali mendekat padanya.
"Kenapa kau terus menolak ku, padahal aku sudah suka rela memberikan tubuhku padamu."
"Percuma aku bisa memiliki tubuhmu namun bukan hatimu, itu sama saja aku seperti pemuas hasratmu." Sahut Leo.
"Kau sangat menyakiti hatiku Leo, namun ini bukanlah mengenai hasrat tapi aku ingin melampiaskan semuanya dan melupakan semua masalahku, kau yang sudah merebut kesucian ku, jadi apa mungkin kau ingin aku bermain dengan pria lain setelah semua yang kau lakukan padaku, setidaknya aku bisa terbiasa padamu." Ucapnya yang membuat Leo seketika terdiam.
Yoona dengan perlahan menarik leher belakang pria itu dan langsung meninggalkan kiss Mark disana seakan akan ia sedang berusaha memancing gelora nafsu pada dirinya. Namun Leo segera menjauhkan tubuh Yoona dan menatapnya.
"Kau sungguh ingin melakukannya? Apa kau tidak khawatir jika permainan malam ini akan menghasilkan buah hmm?"
"Apa kau takut, puluhan ribu benihmu sudah tertanam di dalam rahimku Leo, untuk apa aku takut, jika memang permainan malam ini akan menghasilkan buah, kau tenang saja aku akan menghancurkan buah itu sebelum melihat ke dunia ini."
"Sudah jangan banyak bicara, mulai saja permainannya darling, kemarin malam kau bermain seperti binatang buas, sekarang lakukan hal yang sama padaku." Pintanya sembari menarik tali handuk kimono Leo yang memang masih terbelit di tubuhnya, sementara itu Leo pun langsung menyerbu bibir gadis itu dengan begitu brutalnya sembari menidurkan kembali istrinya itu di atas ranjang.
Permainan panas malam itupun di mulai, mereka saling bertukar peluh keringat di dalam ruangan dingin di tambah lagi cuaca yang saat ini memang terasa dingin, suara keluh desah kenikmatan terus menggema di setiap sudut ruangan, mereka bermain seperti binatang buas yang lupa akan jati dirinya tanpa adanya perasaan apapun yan tersimpan di dalam diri mereka, seakan akan aktifitas itu hanya untuk sekedar pelampiasan dan pemuas nafsu.
Setelah Berjam jam lamanya akhirnya Yoona yang kelelahan pun tertidur di bawah selimut tebal milik Leo, melihat hal itu membuat Leo pada akhirnya bisa beranjak pergi dari ranjangnya itu dan meninggalkan Yoona sendirian di sana.
Pria itu masuk kembali kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah itu bukannya kembali untuk tidur, dia malah pergi ke ruang kerjanya yang terletak di lantai bawah. Sesampainya disana, dengan mengenakan piyama biru Dongker pria itu duduk di kursi mejanya dan membuka kembali buku yang ia temukan di perpustakaan tadi siang.
Ia mulai membaca kembali setiap kalimat yang ada di dalam buku itu dengan di temani secangkir kopi di sampingnya.
"Aneh sekali, kenapa aku sama sekali tidak mendapatkan petunjuk, seharusnya aku tahu banyak tentang keluarga Anthony termasuk perusahaan nya, namun kenapa aku tidak bisa mendapatkan informasi apapun tentang perusahaan Anthony, seakan akan semua jejak informasi sengaja di hilangkan" Gumamnya sebab tidak hanya di buku, namun di internet pun dia sama sekali tidak bisa menemukan satupun informasi yang bisa membantunya.
"Aku ingat keluarga Anthony pernah membangun mall dan hotel besar, tapi dimana? Kenapa aku tidak tahu dimana lokasinya." Leo terus berpikir keras namun satu ingatan tiba tiba terlintas di dalam benaknya.
"Dan lagi disini sama sekali tidak membahas tentang mengenai klien klien lama, ahh sial, seharusnya ada satu nama yang bisa ku jadikan petunjuk." Keluhnya dan yang pada akhirnya dia sama sekali tidak tidur alias bergadang di ruang kerjanya.