Kiran adalah wanita yang mempunyai wajah jelek, bahkan semua orang menyebutnya dengan sebutan wanita si buruk rupa. Kiran dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pengusaha tampan bernama Viki.
Viki terpaksa menikahi Kiran untuk menyelamatkan perusahaan orangtuanya yang hampir bangkrut.
Kehidupan Kiran sangatlah menderita, hingga suatu saat Kiran memergoki Viki sedang selingkuh dengan wanita lain. Kiran memutuskan untuk bercerai dengan Viki, dan bertekad ingin membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita.
Akankah Kiran berhasil membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 DESI
Viki dan kedua orang tuanya sangat terkejut melihat berita mengenai Ishika.
"Astaga, Ishika ditangkap polisi," seru Mama Sasmita.
"Baguslah, jadi aku tidak susah-susah untuk menyingkirkan wanita itu," sahut Viki.
"Kamu harus berhati-hati sama wanita bernama Tina itu, bisa jadi dia akan menjadi Boomerang bagi kita," seru Papa Ajay.
"Tidak mungkin Pa, Tina adalah wanita yang sangat baik dan Viki yakin kalau Tina calon istri yang baik untuk Viki."
"Memangnya kamu sudah punya rencana ingin menikahi Tina?" tanya Mama Sasmita.
"Jelaslah Ma, Viki itu sangat mencintai Tina jadi Viki akan segera melamar Tina karena pria di luaran sana banyak yang mengincar Tina."
Mama Sasmita dan Papa Ajay hanya saling pandang satu sama lain, terlihat sekali kalau putranya itu saat ini sedang tergila-gila kepada wanita yang bernama Tina itu.
Viki sarapan dengan terburu-buru karena Viki ingin cepat-cepat bertemu dengan pujaan hatinya itu. Beberapa saat kemudian, Viki pun sudah sampai di depan rumah Kiran.
"Pagi sayang!"
"Pagi, juga."
Viki langsung memeluk Kiran, Kiran terpaksa membalas pelukan Viki walaupun dalam hatinya Kiran begitu sangat benci kepada Viki.
"Aku sangat merindukanmu, sayang."
"Jangan lebay deh Mas, setiap hari kita bertemu kok."
"Iya, tapi bagi aku tidak bertemu satu jam saja denganmu rasanya seperti satu tahun saja."
"Alah, gombal."
"Oh iya, sekarang aku harus antar kamu ke mana?" tanya Viki.
"Hari ini aku gak ada jadwal shooting, jadi hari ini aku mau ke salon saja."
"Oke kalau begitu, aku antar kamu ke salon paling mewah di kota ini."
Kiran pun dengan menyunggingkan senyumannya masuk ke dalam mobil Viki dan Viki pun dengan cepat melajukan mobilnya menuju sebuah salon kecantikan.
"Aku antar kamu ke salon langganan Mama aku saja ya, kebetulan hari ini Mama juga mau ke salon sekalian aku kenalin kamu sama Mama."
"Boleh, dengan senang hati."
Butuh beberapa menit untuk sampai di salon itu, hingga Viki pun menghentikan mobilnya di depan sebuah salon yang memang terlihat sangat mewah dan Kiran bisa memastikan kalau harga perawatan di salon itu lumayan mahal.
"Kurang ajar, ternyata wanita tua itu sering menggunakan uangku untuk pergi ke salon mewah ini," batin Kiran dengan geramnya.
"Ayo sayang kita masuk ke dalam, sepertinya Mama sudah ada di dalam."
Kiran menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Viki, ternyata benar saja Mama Sasmita terlihat sedang melakukan perawatan tubuhnya di salon itu.
"Ma, kenalkan ini yang namanya Tina," seru Viki.
Mama Sasmita menoleh, dia menyuruh pekerja salon untuk menghentikan sejenak perawatannya. Mama Sasmita berdiri dan menatap Kiran dengan tatapan kagum, tapi berbeda halnya dengan Kiran yang sangat benci melihat wajah mantan mertuanya itu.
Ini adalah pertama kalinya Kiran bertemu langsung dengan mantan Mama mertuanya, setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Ya ampun, kamu cantik sekali sayang, pasti kamu melakukan perawatan yang sangat mahal ya di Korea?"
Kiran hanya menyunggingkan senyumannya, dia sama sekali tidak tertarik membalas ocehan Mama Sasmita.
"Apa kamu mau perawatan tubuh juga seperti Tante?" tanya Mama Sasmita.
"Tidak Tante, aku hanya ingin creambath saja."
"Melakukan perawatan juga tidak apa-apa, soal biaya tenang saja nanti biar Viki yang membayarnya. Iya kan, Vik?"
"Tentu saja, Ma."
"Tidak, aku tidak tertarik karena perawatan tubuh aku itu tidak sembarangan karena aku sudah punya dokter kecantikan pribadi," sahut Kiran dengan angkuhnya.
Mama Sasmita langsung terdiam, dia merasa rendah di hadapan Kiran. Kiran pun duduk dan meminta pekerja salon untuk melayaninya, sedangkan Viki memutuskan untuk pergi ke kantor karena hari ini dia ada meeting.
"Sayang, aku pergi ke kantor dulu, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal?"
"Iya Mas."
Viki pun mencium kening Kiran, setelah itu mencium pipi Mamanya. Setelah Viki pergi, Kiran mengotak-ngatik ponselnya entah apa sekarang yang sedang Kiran rencanakan untuk mantan Mama mertuanya itu.
"Kamu sepupunya Kiran, ya?"
"Iya."
"Kamu tahu Tina, Tante sangat sedih saat Kiran kabur dari rumah padahal Tante sangat menyayangi dia, tapi tidak tahu kenapa Kiran kabur dari rumah dan Tante mendengar kalau Kiran sudah meninggal. Sungguh Tante tidak mengerti dengan pemikiran Kiran, kalau seandainya Kiran tidak mau menikah dengan Viki seharusnya Kiran bicara dari awal, jangan main kabur seperti itu," seru Mama Sasmita.
Kiran mengepalkan tangannya sembari sedikit menyunggingkan senyumannya dengan sinis.
"Secara logika, kalau Tante dan keluarga Tante sangat menyayangi Kiran, tidak mungkin Kiran kabur secara tiba-tiba. Kalau Kiran kabur, itu artinya ada yang masalah dengan keluarga kalian," sinis Kiran.
Seketika Mama Sasmita emosi, dia bangkit dari duduknya bahkan pekerja salon pun kaget.
"Maksud kamu apa mengatai keluarga ku seperti itu? Kamu menuduh kami sudah melakukan macam-macam kepada Kiran?" sentak Mama Sasmita.
Kiran masih duduk dengan santainya sembari mengotak-ngatik ponselnya.
"Kenapa Tante marah? Kalau Tante tidak melakukan macam-macam kepada Kiran, seharusnya Tante santai saja jangan emosi seperti itu. Justru dengan Tante marah-marah, itu semakin membuktikan kalau Tante sudah melakukan hal yang membuat Kiran kabur," seru Kiran dengan santainya.
"Astaga, ternyata ucapanmu sangat pedas dan tidak mencerminkan wajah kamu yang cantik itu. Saya jadi ragu untuk menikahkan mu dengan putra saya," kesal Mama Sasmita.
Kiran hanya menyunggingkan senyumannya, dia malas membalas ocehan mantan mertuanya itu.
Mama Sasmita sudah tidak mood lagi, dia menghentikan perawatannya dan Kiran tampak mengedipkan matanya kepada salah satu pekerja salon sebagai kode.
"Saya sudah tidak mood lagi, pokoknya lihat saja saya tidak akan mengizinkan Viki menikah dengan wanita sepertimu," geram Mama Sasmita.
Di saat Mama Sasmita hendak pergi, seorang pekerja salon menghampirinya.
"Maaf Nyonya, karena Nyonya adalah member tetap salon kami maka dari itu kami memberikan krim wajah ini untuk Nyonya. Ini krim wajah paling bagus di dunia karena semua artis dunia memakainya. Dan kami jamin, jika Nyonya memakai krim ini maka Nyonya akan terlihat lebih muda," seru salah satu pekerja salon.
"Iyakah? Ini krim asli kan, bukan bohongan?" seru Mama Sasmita.
"Mana ada bohongan Nyonya, kalau Nyonya tidak percaya, Nyonya bisa langsung cek di google dan sudah dicek juga mengenai keamanannya."
"Sebentar, aku cek dulu."
Mama Sasmita pun mengotak-ngatik ponselnya dan ternyata krim itu memang ada.
"Wah, krimnya memang bagus, terima kasih ya."
"Sama-sama, Nyonya."
Mama Sasmita langsung pergi, sedangkan pekerja salon itu tampak menyunggingkan senyumannya ke arah Kiran dan tentu saja Kiran membalas senyuman pekerja itu.
"Lihat saja apa yang akan terjadi kepadamu, Nyonya Sasmita," batin Kiran.