Dokter playboy Vs gadis preman kampung.
Karena sering berbuat ulah Susi di jodohkan oleh ayahnya dengan anak sahabat yang terkenal playboy dan pecinta wanita dewasa.
Bagaimana nasib rumah tangga star Susi yang setiap harinya selalu bertengkar dan bertengkar?
Akankah mereka bercerai atau mereka berdamai dengan takdir yang mengikat mereka dalam sebuah pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana kiezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susi titisan Samson.
Hidup hanya tuhan yang tau kemana nasib membawa kita melangkah, hanya satu hal yang haru kita lakukan yaitu menjalani dan berusaha agar hidup kita jauh lebih baik Dan lebih baik lagi di masa depan, jangan pernah menyerah sebab tuhan tak akan pernah menguji hambanya Jauh dari batas kemampuan kita.
★★★
Jeritan mama Divya amat melengking, jerit itu tentunya mengagetkan papa Dion dan orang-orang di luar sana.
Brakkk... pintu di buka, papa Dion masuk, “Ma ini kenapa?" tanya papa Dion, kaget melihat Susi kejang-kejang.
Jiwa Dokter papa Dion langsung pulang kampung, sebab tadi masih mode ngeblank karena syok menantunya sakit tiba-tiba.
“Denyut nadinya lemah!” kata papa Dion.
“Astaga apa si Susi kesurupan di dalam?” bisik-bisik tetangga.
“Kasian bener nasib si Susi ya,” ujar si B.
“Ia, mungkin pak Bowo pengen bawak putrinya kali ke dalam kubur biar bisa buka praktek buka nomer togel,” kata si C mulai ngawur .
Gedebuk... bunyi sesuatu jatuh mengagetkan semua orang yang mengintip di pintu.
“Tenggelem!” kata seorang gadis yang nafas yang naik turun, “Eh papa, mama!” panggil Susi ketika melihat mertuanya duduk di lantai, ‘Ada apa ini?’ bingung gadis itu, ia masih ingat kejadian tadi.
Dimana ia tengah berada di sebuah danau indah tiada tanding. Tempat eps kemarin si Susi berkeluh kesah. (Padahal itu hanya mimpi si Susi).
★Cerita dalam mimpi si Susi
“Haih disini kalog mancing enak ya, airnya jernih, ikanya keliatan tuh, pasti dangkal!” kata Susi yang mulai bosan bermain di lempar batu. Ia tergiur dengan ikan-ikan yang menari di bawah air.
“Nyebur ahh!” kata si Susi...
Byuuurrrr ... tubuh melompat ke dasar danau, “Lah kenapa seperti ini?” jerit Susi, sebab ketika gadis itu melompat ia seakan masuk ke dalam laut lepas entah berapa dalamnya, tubuh gadis itu seakan di tarik oleh magnet besar hingga menyulitkan Susi bernafas dan berenang ke permukaan.
Ia meronta-ronta seakan nyawa tengah di cabut dari tubuhnya. “Sus, Susi!” panggilan seorang di telinganya begitu jelas.
“Sus, Susi,” lagi-lagi panggilan itu terdengar.
“Susi!" panggilan itu lagi. Tak lama kemudian sebuah kabut Cahaya yang silau menerpa tubuhnya, karena merasa terganggu ia menyingkirkan kabut itu dengan sekali kebasan siapa sangka yang ia kebas adalah mertuanya hingga terjungkal.
★Mimpi end...
“Pa, ma. Kenapa?" tanya Susi Bagun dari tidurnya, “Kenapa di infus segala itu tangan,” Susi menggerutu. Jlek... jarum infus di tarik. Lalu wanita itu menggendong tubuh kurus mama di Divya ke atas kasur.
“Papa bisa bangun?" tanya Susi.
“Pinggang papa encok nak, rasanya keretek-keretek ini,” keluh papa Dion.
“Hati-hati pa, bahaya sakit pinggang," Susi memapah papa Dion lalu di dudukan di samping mama Divya.
‘Mantuku keturunan Samson bener!' batin papa Dion, pinggang tuanya rasanya mau encok.
Sedangkan Mama Divya masih diam membisu, wanita itu kaget menantunya bangun-bangun segar bugar, padahal tadi jantungnya hampir copot karena nadi Susi sempat hilang tadi.
“Wah, ini baru Susi si preman kambing di kampung kita, jangankan santet, malaikat mau pun urung memberikannya penalti,” kata warga.
Semua orang bersyukur Susi bangun dan segar bugar, pantes saja ‘Pantas saja almarhum Bowo bilang kalog Susi ini akan aman-aman saja, demit pun gak berani nempel sama anak ini, sungguh keren mantuku,' batin papa Dion.
“Nak, Susi apakah kamu merasakan nyeri di era pengeboran batu tambanganmu?” tanya mama Divya.
Susi bingung, ia melihat mama Divya memajukan bibir menatap ke atas dan kebawah sebagai kode, kali ini Susi baru ingat jika semalam ia sakit perut lalu tak sadarkan diri.
“Ma, sebenernya Susi sakit apa?" tanya papa Dion pelan persis orang berbisik.
“Tetanus pa!” kata Mama Divya, seketika papa Dion pucat pasi, “Mana bocah nakal itu?" tanya papa Dion.
“Bukanya dia itu sama papa di luar,” kata mama Divya.
“Enggak ada," kata papa Dion, pasangan suami Istri itu saling memandang.
“Nak, Susi!” panggil papa Dion. Papa Dion bangun mendekati Susi, “Biarkan mamamu periksa dulu nak, papa keluar dulu,” ujar papa Dion.
Pria paruh baya itu keluar dari kamar, mengambil duit segepok di sakunya lalu memberikan uang kepada pak RT sebagai upah keributan yang tak berfaedah tersebut.
Mata papa Dion memindai seluruh ruangan, lalu pandangannya tertuju ke lantai atas yang tak di singgahi orang.
Bulu hidung keriting gantung papa Dion menyembul ketika hidung pria itu kembang kempis menahan amarah yang menggebu-gebu.
Brakkk... pintuk kamar itu di buka dengan kasar...
“STAAAAARRRRR!!!” Teriak papa Dion menggelegar.
TBC...