Farel Stuart Alfredo harus merelakan wanita yang dicintainya secara diam-diam yaitu Salmafina bertunangan dengan kekasihnya.
Nada Maura Hermawan juga baru saja patah hati diputuskan oleh pria yang dipacarinya selama Lima tahun.
Keduanya bertemu di pesta pertunangan Salma dan berakhir di atas ranjang dengan sama-sama tidak menggunakan pakaian.
Sebulan kemudian Nada hamil dan Farel yang mengetahui hal itu langsung berinisiatif untuk bertanggung jawab.
"Ayo kita nikah, aku akan bertanggung jawab!" ucap Farel.
Nada masih tidak percaya jika dirinya hamil oleh pria asing yang baru ditemuinya dipesta sahabat baiknya itu.
Akankah Nada dan Farel bisa mempertahankan pernikahan mereka yang begitu tiba-tiba karena adanya anak di antara mereka, padahal keduanya sama-sama memiliki cinta lain yang sulit dilupakan.
Apakah cinta akan hadir, ataukah mereka memilih berpisah setelah Nada melahirkan?
Yuk ikuti kisah mereka, jangan lupa subscribe like dan kasih gift yang banyak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navizaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin Nikah
Happy Reading.
"Nada, tunggu!" Farel menyusul Nada, dia berjalan di samping perempuan yang memilih diam di sepanjang jalan itu.
"Mobilku di sebelah sana," Farel menunjuk ke arah tempat parkir.
"Aku naik taksi aja."
"Kan ada aku, ngapain naik taksi? lagi pula kamu tidak mungkin tahu di mana apartemenku 'kan?" Farel sebenarnya tidak tahu apa yang diinginkan oleh wanita itu.
"Siapa yang mau ikut kamu? Aku mau pulang ke Jakarta," jawab Nada.
"Kok pulang ke Jakarta?" tanya Farel. "Sekarang ini rumahmu," lanjutnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Nada memutar bola matanya dia tidak peduli lagi lantas melanjutkan langkah untuk ke luar.
Dia akan memesan taksi online agar lebih cepat.
"Nad, ada banyak yang harus kita bicarakan," Farel menarik pelan lengan Nada.
"Apa lagi?"
"Mengenai anak, orang tua dan semuanya," jawab Farel.
Mata Nada membulat, dia tidak pernah memikirkan hal itu, benar kata Farel, bagaimana dengan orang tuanya, kakaknya, dia hanya meringis dan kemudian menurut para Farel.
Sedangkan Farel tersenyum puas sambil mengedipkan satu mata pada Nada, sementara Nada mencibir ke arah Farel.
"Kamu cantik kalau lagi kayak bebek kayak gitu," Farel memuji sambil mencubit dagu Nada gemas.
Spontan ada memukul tangan Farel, "jangan pegang-pegang!"
Tawa Farel menggema sambil berlari menuju mobilnya, sementara Nada memilih tinggal berdiri menunggu, dadanya mulai sesak karena sebal antara ingin menangis dan ingin meneriaki Farel dengan kencang.
Mobil hitam asal Eropa itu berhenti tepat di depan Nada. Nada mencoba membuka pintu mobil di bagian belakang, sayangnya meskipun sudah mencoba beberapa kali dan mengerahkan tenaganya, pintu itu tidak terbuka, dia pun mengetuk-ngetuk pintu kaca mobil.
"Pintu belakang rusak coba yang di depan, Siapa tahu kebuka," kata Farel dari kursi kemudi.
Nada tahu itu hanya akal-akalan Farah saja dia tidak peduli lagi dan hanya menurut, benar pintu itu terbuka.
Dia pun masuk dan disambut cengiran Farel, setelah memasang seat belt, Nada melipat tangan kemudian memalingkan pandangannya dari Farel, matanya terus menatap keluar dari kaca mobil, suasana mobil itu hening hanya suara dulu mesin mobil Farel yang terdengar. Tiba-tiba Farel banting setir dan menghentikan mobil di salah satu tempat parkir gedung pertokoan.
"Bentar ya, aku kebelet, kamu tunggu sini aja," ucap Farel.
Tidak ada jawaban dari Nada, dia bahkan tidak berbalik selama Farel pergi. Tatapan Nada memandang masih menempel pada mobil yang terparkir tepat di samping mobil Farel.
Kemudian Nada memilih menyandarkan kepalanya dalam hati dia bersyukur di tinggal sendirian, bodoh amat dengan Farel yang tidak balik, ditinggal selama di toilet pun tidak apa-apa.
Sekitar lebih 15 menit menunggu, akhirnya Farel datang dan membuka pintu, Nada segera membalikkan wajah ke kaca jendela mobil lagi.
"Aku lama, ya?"
Nada terdiam.
"Ini," Farel menyodorkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru
Nada masih tidak berbalik.
"Nada, balik dulu!"
"Apa lagi?" Nada merasa hilang sudah kesabarannya. Ingin berteriak tapi dalam beberapa detik dia langsung terdiam melihat kotak yang dibuka oleh Farel.
Di kotak itu ada dua cincin yang berbeda ukuran. Tatapan Nada tertuju pada cincin yang ukurannya lebih kecil dan tipis.
Dia memang tidak menyukai Farel, tapi dia sangat menyukai cincin dengan ukiran ukiran unik yang berkilau di sepanjang benda melingkar itu.
"Ini untuk apa?"
Farel tersenyum, "ini adalah cincin untuk mengikat kita, dan aku suka fisolofinya, katanya hubungan pernikahan itu seperti cincin yang tidak punya akhir."
Mendengar Farel menjelaskan dengan serius dan suara lembut, membuat Nada tidak tahan dan kemudian tergeletak.
Sebenarnya dia lebih memilih sikap menyebalkan pria itu, daripada suara yang terdengar sangat serius.
"Aku bercanda kamu marah-marah, giliran serius malah ketawa, aneh," ujar Farel dengan gelengan singkat.
"Lihat lah, apa cincin itu punya awalan? Nggak 'kan?" Nada tidak setuju dengan filosofi yang dipercayai oleh Farel.
Farel mengambil cincin yang ada di kotak itu, "sini tangan kamu!"
Nada memberikan tangannya, dia mencoba menaksir harga cincin itu, sayangnya dia tidak ahli dalam hal perhiasan.
"Ini awalnya!" ucap Farel sambil memasang cincin itu di jari manis Nada.
Kemudian menatap Nada sambil tersenyum.
Mata Nada juga menatap Farel, entah kenapa Nada tidak mau melepas tatapannya dari senyum lelaki itu.
Udara seakan menipis di samping Nada, sehingga dadanya mulai sesak, sadar akan hal aneh yang terjadi di dalam dirinya, Nada segera membuang wajah dan menarik tangannya dari pegangan Farel.
"Ini, pasang untuk," Farel menyadarkan cincin pada Nada.
Nada hanya terdiam menatap cincin itu, "ayo pasang cincin ini di jariku." ucap Farel.
"Kalau kamu nggak mau masang, itu namanya nggak adil, sekarang kita lagi bertukar cincin." lanjutnya.
Tidak mau berdebat, Nada meraih cincin itu dan juga tangan Farel, ia memasang cincin di jari manis Farel dengan cepat lantas melemparkan tangan para begitu saja.
"Padahal kamu ini manis kalau bisa lembut sedikit, Nad."
"Bodo amat! Ayo jalan."
"Nggak sabar banget, ini belum malam sayang," goda Farel.
"Jangan mulai, Farel!"
Farel hanya tertawa pelan, "pinjam tanganmu dong!"
Farel mengangkat tangan Nada, menggenggam dan mengatur agar cincin yang berada di tangan Nada dan tangannya tampak melalui kamera.
"Untuk apa?" tanya Nada dengan kening mengkerut.
Tidak ada jawaban dari Farel, pria itu sibuk dengan ponselnya.
"Mau aku tag?" tanya Farel memperlihatkan layar ponselnya yang siap meng-upload gambar tangan nya dan Nada yang dihiasi cincin pernikahan.
"Jangan!" larang Nada.
Farel mengangguk dan lanjut meng-upload gambar itu.
"Lihat ini," Farel memperlihatkan hasil upload nya di Instagram-nya.
Bukan hanya tangan itu yang menarik, tapi caption singkat yang dituliskan oleh Farel cukup menjelaskan arti dari foto cincin itu.
'Mr. And Mrs. Alfredo.
Bersambung.
*
*
*
Hai semuanya, aku ada rekomendasi karya keren dari temen ku nih.
Judul : Hasrat Cinta Putra Sang Penguasa
Author : Reni t
calon pelakor mulaibetaksi 😃😃😃
gawaaatttt...
jangan y salma jangan. ingat pisisi masing2, udah punya padangan halal. jangan sampaijadi pelakor, dengan me g atas nama kan persahabatan
merasa gak rela klufarel samacewek lain.
jangan serakah lo Dalna, ingat lo udah ferrysuami li, yg li cintai. biar kan farel drngan kehiduoan baru ny