NovelToon NovelToon
Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami

Status: tamat
Genre:Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Mengubah Takdir / Angst / Romansa / Tamat
Popularitas:176.5k
Nilai: 5
Nama Author: chibichibi@

Karena perubahanku, pantaskah kalian menghina?
Bukankah aku seperti ini, lantaran telah melahirkan penerus keluarga!

"Seharusnya, Mas membelaku! Bagaimanapun, aku ini adalah istrimu. Jika, bukan suami ... siapa lagi yang akan melindungiku? Haruskah, aku mencari tempat perlindungan lain? Apakah itu maumu, Mas Azam!" Lika.

"Kita ini hanya seorang anak, sudah seharusnya kita mengalah!" Azam.

Mampukah, Lika bertahan atau memilih pergi dari sisi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18. Tragedi Tengah Malam.

Ternyata harapanku Allah kabulkan dan menjadi kenyataan. Lulu menangis di dalam kamar, sementara Heru tidur di kasur depan. Ruang tamu hanya di batas oleh gorden. Aku, diam sebentar berharap mas Azam memerintahkan ku untuk turun dari tubuhnya. Kami bermain di atas sofa Ibu dalam keadaan lampu dimatikan.

"Biarkan saja, nanti juga diam sendiri!" Mas Azam kembali mendorong pinggul ku agar kembali bekerja. Hati ini dilema, tak ada kenikmatan yang kurasakan ketika pikiran bercabang. Aku takut jika ...

Brugh!

"Maaa!"

"Ya Allah, maaf, Mas!" Aku langsung melepaskan diri tak peduli tatapan horor dari suamiku itu. Ku kenakan dengan cepat daster kumalku itu, lalu menghambur ke kamar, hingga aku hampir terjungkal karena kepeleset.

"Allahuakbar, Lulu!" Putriku yang baru berusia setahun lebih itu, telah terjungkal dari atas kasur dengan posisi kepala lebih dulu. Tangisannya sangatlah kencang. Mungkin lantaran sakit dan juga kaget tidak aku di sampingnya.

"Ya Allah , Mas! Lulu jatoh!" teriakku pada suami sambil menahan tangis. Ku gendong putriku itu ke ruang tamu.

"Mas, aku takut, Lulu keseleo," ucapku yang timbul tenggelam lantaran teriakan campur tangis putri kedua kami itu.

"Lagian kamu sih gak becus banget jadi ibu! Udah tau anak tidur gak bisa diem, kenapa tidak di halangi pinggiran kasurnya! Udah tugas sebagai istri aja kamu belum selesai! Sekarang aku harus mendengar jerit tangis Lulu tengah malam begini!" omel suamiku marah. Sungguh tidak lantas di saat seperti ini bukan?

"Sudah, Mas. Sudah, Adek halangi pakai guling kok. Tapi gak tau kenapa, Lulu masih bisa jatuh juga," jawab ku sambil menelungkup kan Lulu dan mengusap bahu serta lehernya menggunakan balsem urut bayi.

"Kamu tuh, selalu menjawab apapun ucapan suamimu! Jangan mentang-mentang bisa nyari duit, lalu kau pikir harkat martabat mu di atas laki-laki!" Seruan mas Azam seketika menyentak hatiku yang tengah gamang ini. Air mata pun jatuh mengalir dengan deras seiring dadaku yang sesak. Aku sedang bingung setengah mati mendengar tangisan Lulu yang belum juga berhenti. Bahkan, putriku ini meronta bagaikan kesakitan. Sepertinya memang ada yang terkilir sebab, jarak tempat tidurku dengan lantai cukup jauh.

"Sudah jangan menangis! Urus saja sendiri hasil perbuatanmu itu. Awas saja kalau sampai, Lulu kenapa-napa! Sana, cari tukang urut!" hardik mas Azam lagi, kencang. Aku kembali tersentak hingga menjengit kaget. Mas Azam begitu tega membentakku berkali-kali. Apakah segitu marahnya dia! Karena permainan kami berhenti mendadak di saat, mas Azam sedang tinggi-tingginya.

"Maaf, Mas. Tapi, Lika gak tau mau cari dimana malem-malem begini ...," lirihku, sedih sekali. Aku membayangkan putriku ini kesakitan karena terjatuh tadi. Kenapa kamu begitu lincah sayang, sampai guling yang mama tumpuk saja bisa kamu tendang? tanya ku dalam hati.

"Itu bukan urusanku! Sialan!" Kudengar mas Azam mengumpatku saking kesalnya. Aku paham, aku maklum dan mengerti. Mungkin efek jamu tadi belum menghilang, sehingga mas Azam memutar kursi rodanya cepat ke kamar mandi. Tak lupa ia juga membawa ponsel pintarnya. Entah apa yang akan di lakukan suamiku di dalam sana semoga saja itu tidak menjadikan ku terseret ke dalam dosa.

"Mas, maafkan, Lika. Lulu, sabar ya sayang. Mama gak tau mau mencari tukang urut kemana malam-malam begini. Sebentar ya, Nak!" Aku membawa putriku kedalam kamar, lalu aku menyalakan ponselku. Membuka salah satu media sosial yang dapat membantu mencarikan cara mengurut bayi yang keseleo.

Media sosial berwarna persegi panjang merah itu menampilkan Vidio berdurasi sekitar dua puluh menit. Ku lihat daftar dari ciri-ciri balita yang terkilir. Ternyata aku harus menenangkan psikis Lulu terlebih dulu. Kuabaikan mas Azam yang melewati kamar sambil berdecak. Sepertinya ia telah selesai melakukan pertolongan pertama pada dirinya sendiri. Aku hanya akan fokus dahulu pada Lulu.

Ku susui, putriku sambil menyangga bagian bahu nya dengan bantal. Karena sepertinya, yang terkikir adalah bagian bahu. Alhamdulillah, Lulu mau menyusu dan mulai tenang. Tapi jika bergeser sedikit ia akan kembali menangis. Setelah kenyang menyusu, ku bawa Lulu ke depan kulkas. Ku gendong ia dengan kain Jarit.

Ku buka kulkas mencari es batu. Lalu ku ambil handuk kecil. Ku pecahkan es batu tersebut dan memasukkannya ke dalam handuk. Setelah itu, ku gunakan untuk mengompres bagian bahu yang hampir bengkak kebiruan. "Maa!" Lulu menjerit kencang, mungkin putriku ini kaget. Ada rasa dingin yang meresap melalui kulitnya.

Ku kecup beberapa kali kening, pipi dan juga kedua matanya. Mencoba tersenyum untuk memberi ketenangan itu. Ku tatap kedua matanya yang basah. Lalu kukatakan padanya ...

"Sabar ya, Lulu sayang, Mama lagi mencoba mengobati, Dedek. Mengompres dengan es batu. Agar persendian kamu yang keseleo bisa lekas membaik ya, sayang ..."

Ku baca di artikel, jika bekas keseleo jangan di urut sembarangan. Nanti akan menyebabkan bagian otot yang cidera menjadi bertambah parah. Karenanya aku memilih mengompres bagian yang sakit dengan es batu. Lalu meletakkan kompres demam pada bagian yang sakit. Aku menidurkan Lulu dengan meninggikan bantal. Lalu, aku memberi pijatan lembut pada sekitar lengan bukan pada bagian yang bengkak. Hanya bermaksud membuat peredaran darah Lulu kembali lancar. Juga memberi efek relaksasi. Alhamdulillah, Lulu perlahan tenang dan tertidur kembali.

Seketika, terasa ada yang lepas dan luruh dari pundak ini. Aku pun ikut membantu merebahkan raga di atas kasur. Tanpa peduli lagi apa yang mas Azam pikirkan nanti. Aku sudah lelah, tak terasa jam di dinding telah menunjukkan angka 02.15. Dini hari.

Keesokan harinya, aku pergi ke area supermarket dekat rumah. Aku ingin mengirim uang tambahan untuk biaya operasi, bapak. Ingin rasanya aku berlari ke rumah sakit tempat dimana bapak di rawat. Tentu saja itu tidak mungkin ku lakukan sekarang ini.

Syukur ku panjatkan ke hadirat Allah yang maha kuasa. Keadaan Lulu telah membaik setelah treatment yang ku lakukan semalam dan ku ulangi lagi tadi pagi.

"Ayah, belum juga pulang kerumah sudah hampir tiga hari. Lena pulang kerumah marah-marah. Ia mengeluh capek dan lelah, serta tidak bisa merawat dirinya karena harus menunggu ibu sendirian. Entah kemana perginya keluarga ibu dan bapak. Padahal keponakannya banyak. Tapi, di saat seperti ini tidak satupun yang hadir menengok.

Inikah pertanda jika bahasa kita kurang baik terhadap orang lain? Ya, meskipun kau sering memberi sekalipun. Akan tetapi, jika pemberian darimu selalu di awali dengan hinaan ... maka inilah balasan yang akan kau dapat.

Sejatinya, lisanmu lah yang akan menempatkan dirimu. Mau itu di sukai atau pun tidak. Berusahalah menjaga perasaan orang lain dari bahaya lisanmu.

"Terus siapa yang jaga ibu? Bisa nanti aja kan ke salonnya! Nela!" Ku dengar, mas Azam berkali-kali meneriaki adik perempuannya itu. Tapi, Nela tetap dengan pendiriannya yang ingin perawatan ke salon.

"Assalamualaikum, Mas Azam!" ku lihat dari ruang tamu jika janda genit itu datang menemui mas Azam yang masih ada di teras. Aku hendak menghampiri mereka berdua tapi ...

"Maa ... Dedek empup!" Aku pun hanya bisa mengeluarkan desah. Karena lagi-lagi gagal menemui tetangga kami yang memiliki niat tidak baik, menurut perasaanku. Semoga ini tidak termasuk ke dalam suudzon atau prasangka buruk.

...Bersambung ...

1
Rina Arie
good
Hera sasuwe
👍
Dyah Oktina
aamiin ya Allah
Indah Rohmiatun
kasih bonus donk thor
Ran Aulia
Luar biasa , ceritanya bagus, ada ilmunya juga 👍👍👍👍😍😍😍😍

terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
Dwika Artama
thor karyamu ini sungguh bikin aku nyesek tapi lanjutttttt.👍👍👍bikin para pembacanya gedeg ama keluarga si suami
Dwika Artama
thor karyamu ini sungguh bikin aku nyesek tapi lanjutttttt.👍👍👍bikin para pembacanya gedeg ama keluarga si suami
Silvi Vicka Carolina
permpuan hanya butuh tempat tuk bisa curhat ,bergosip ,sandaran ..laki laki yang di harapkan pwempuan laki laki yang bisa semua nya bisa jadi ayah .kakak.sahabat .bisa jadi tukang ledeng .biaa jadi tukang kuli bangunan.bisa jadi tukang listrik .bisa jadi tkang cuci bqju .cuvi piring .bisa jadi koki .waa pokoknya arus serba bisa ....
Ratih
Novel yg luar biasa , bagus bgt 🤗🤗🤗
Mak Aul: makasih udah baca karya2 aku
total 1 replies
Khusnul Khotimah
tp karma yg di terima sama azam cuma KATANyA kok gk langsung sih thor.. pasti seru kisah e azam pas tau istri barunya tdr ma bpk nya sendiri 😁😁
Mimik Pribadi
Nah lhooo,,,,ada berita apaan y???
Mel Rezki
mertua oh mertua 😣
Mel Rezki
ampun deh mertua begitu 🤧
‼️n
Gedeg aq ma si Azam .....
Sulati Cus
ye tu klu lakinya cm liat body ae lagian yg bikin melar sp??? cantik jg perlu modal kali😂
Mak Aul: otak lakiannya dari oncom
total 1 replies
Asyatun 1
keren
Mak Aul: makasihh lanjut season keduanya Terjerat pesona janda
total 1 replies
Echatiganecha
semangat lika
angel
emang dosa apa ya gk layanin laki ????bingung dgn aturan yg ada..laki kaya gt emang kudu di layanin ..?
angel
pusing bacanya ..bisa gk Thor bikin novel tuh yg gk bw2 agama. ...yg netral aj
Mak Aul: ini memang khusus religi. klo yang gak bawa agama banyak kok novel otor yang lainnya
total 1 replies
Yunia Afida
semangat terus💪💪💪💪💪, terimakasih
Mak Aul: maksiihh juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!