gadis yatim piatu yang harus berjuang hidup sendiri tanpa memiliki sanak saudara. ia melanjutkan kuliahnya dari bea siswa dan bekerja di sebuah tempat karaoke keluarga milik sahabnya.
namun semuanya berubah saat seorang pria yang mabuk memperkosanya. sehingga ia hamil.
bagaimana kelanjutan kisahnya.
nafisa. gadis cantik berusia 20 tahun. seorang mahasiswi di fakultas ekonomi. yg bekerja sebagai waiter di salah satu tempat karoke.
aldiansah Pratama
seorang mahasiswi dan pengusaha. berusia 21 tahun.
Julian Saputra.
pria mapan berusia 28 tahun.
seorang pengusaha muda yg sukses.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 18
aku yang terlalu yakin bahwa
kau tercipta hanya untuk ku.
luka yang teramat perih saat
aku tau kau memilih yang lain
bukan aku
~aldi~
“Maaf pak. Nona Nafisa menolak untuk masuk ke dalam mobil. Ia lebih memilih naik busway.”
“Ya sudah. Jalan.”
“Baik pak.” Jawab Randi.
Julian tampak diam di dalam mobil. Tak satu kata pun ia keluarkan. Ia teringat akan wajah wanita yang telah menjadi istrinya. Wajah pucat dan tubuh yang semakin kurus. Saat ini ia sudah menjadi laki-laki terjahat yang ada di dunia.
********
Amera masuk ke dalam ruangan yang besar tersebut. Ia melihat calon suaminya yang duduk melamun. Gadis itu langsung mendekati calon suaminya dengan sangat manja dan senyum yang mengembang diwajahnya. Ia melingkarkan tangannya di leher pria tersebut.
Julian tersenyum saat melihat sosok yang selalu di rindukannya.
“Mas, hari ini kita fitting baju pengantin.” Dengan manjanya gadis itu mencium bibir calon suaminya dengan lembut.
“Jam berapa,” tanya Julian
“Jam 9 ini mas.” ucap Amera yang tersenyum
“Kita langsung ke sana.” ucap Julian sambil mencubit hidung mancung gadis tersebut.
********
Amera mulai mencoba baju kebaya modern yang akan di pakainya saat akad nikah. Ia begitu sangat cantik memakai baju kebaya tersebut. Ujung bawah kebaya tersebut sangat panjang terjuntai. Di bagian lehernya terbuka lebar, memperlihatkan belahan dadanya yang terlihat begitu sangat seksi. Baju yang berwarna silver tersebut sangat pas di tubuh cantiknya.
Melihat hal tersebut, Julian terbayang Nafisa. Bagaimana gadis tersebut datang ke KUA tanpa ada memakai make up sedikit pun. Dengan hanya memakai baju kemeja, rok panjang dan jilbab. Ia masih teringat bagaimana gadis itu datang dengan naik ojol dan nafas ngos-ngosan karena berlari. Untuk mas kawin ia hanya memberikan seperangkat alat sholat tanpa ada satu kata pun yang dijawabnya. Ia teringat pagi tadi saat melihat wajah gadis tersebut sangat pucat. Tubuhnya yang dulu memang terlihat kurus namun sekarang tubuhnya sudah terlihat sangat kerempeng. Julian mengusap wajahnya dengan sangat kasar.
“Mas,” suara Amera yang sudah mulai berteriak. Membuat Julian mengangkat kepalanya.
“Ada apa sayang?” Ucap nya
“Mikirin apa sih mas. Di panggil diam aja.” omel gadis tersebut.
“Cuma masalah kantor.” jawab Julian.
“Ada apa?” Tanya Julian.
“Kalau ini menurut mas gimana?” ucap Amera sambil memutar tubuhnya memperhatikan baju yang dikenakannya.
“Sangat cantik sayang. Aku suka. Kamu terlihat sangat seksi." ucap Julian sambil mengedipkan matanya.
Senyum termanis tampak terukir di wajah cantik Amera. Sebentar lagi ia resmi menjadi nyonya Julianda Saputra. Pewaris tunggal yang hartanya tidak akan habis 7 keturunan. Ia juga tidak perlu capek-capek menjadi seorang model dengan kerja bisa nostop 24 jam. Ia tidak harus bersusah payah menjaga pola makan, agar berat badan tetap stabil. Ia bisa menghabiskan waktunya berjam-jam di salon tanpa harus di teror telpon yang berbunyi setiap detik dari manejernya. Senyum penuh kebahagiaan merekah di wajah cantik tersebut.
“Mas Julian, ini ye boleh coba terlebih dahulu. Apakah baju ye sudah pas, honny.” Kata pria seksi tanpa bulu kaki tersebut, yang selalu memamerkan tubuh seksi langsing dan tinggi. Yang memiliki rambut panjang lurus berwarna merah. Celsi, itu namanya. Kalau dia diam tanpa suara semua orang yang melihat, akan mengatakan ia perempuan. Namun begitu mendengar ia berbica, para laki-laki akan meragukannya sebagai wanita. “Apa perlu eke yang memakaikan baju ye?”
ucapnya sambil tersenyum genit
Julian mengambil baju tersebut dari tangan celsi dengan kasar. “Gak perlu. Gua bisa sendiri.” ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam ruang pas.
Celsi tersenyum melihat tubuh tinggi tegap tersebut dari belakang. “Cowok ganteng yang sanger.” Celetuknya.
Amera hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Celsi.
“Udah tahu garang, masih aja lu ganggu.” ucapnya.
“Habis eke gemes lihatnya.” ucap Celsi
Julian keluar dengan memakai baju jas abu-abu tersebut. Amera tersenyum saat melihat calon suaminya terlihat sangat tampan. Mulut celsi terbuka dengan besar.
“Tutup mulut lu.” Amera menegur celsi yang tampak takjub melihat Julian.
“Eke minta maap. Yei terlalu ganteng.” ucapnya tanpa malu.
Julian memperlihatkan wajahnya yang semakin kesel melihat celsi. Setelah selesai mereka fiting baju mereka masuk ke toko perhiasan khusus berlian, Julian membelikan sepaket perhiasan berlian yang seharga 300 juta di tambah lagi dengan perhiasan lainnyanya yang di minta Amera. Kemudian mereka mengambil undangan yang sudah di pesan seminggu yang lalu. Julian menghabiskan waktunya untuk mempersiapkan pernikahan mereka.
********
Nafisa duduk di pojok dekat jendela. Ia duduk sendiri sambil menjatuhkan kepala di atas meja. Setelah peristiwa ia menyampaikan prihal pernikahannya, Aldi tidak pernah menegurnya. Aldi juga tidak pernah datang ke tempat usahanya.
Nafisa mengangkat kepalanya dan mengeluarkan susu kotak dari dalam tasnya. Untuk saat ini hanya susu tersebut yang bisa memberikan tenaga untuknya. Ia memakan nasi apa bila perutnya benar-benar lapar.
Aldi masuk ke dalam kelas, dilihatnya Nafisa ada di dalam kelas tersebut. Ia langsung pergi keluar dari kelas. Ia sepertinya sangat membenci Nafisa. Air mata Nafisa terjatuh dengan sendirinya. Nafisa hanya sendiri di kampus. Ia memang tidak begitu dekat dengan teman-teman di kelasnya. Selama ini ia selalu bersama dengan Aldi.
Setelah selesai kuliah, Nafisa naik busway ke tempat kerjanya. Ia selalu bekerja dengan rajin.
Hari ini, hari yang sudah di tunggu-tunggu Nafisa, apa lagi kalau bukan gajian. Saat ia memegang uang gaji yang di berikan bendahara tersebut, tampak rona bahagia di wajahnya. Ia pulang kerumahnya setelah jam kerja selesai.
Nafisa mandi, setelah seharian kuliah dan kerja membuat tubuhnya merasa sangat lengket. Ia perlu mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Ia memakai daster.
Nafisa terkejut saat pintu rumahnya di ketuk seseorang. Dilihatnya, sudah jam 11 malam. Dengan penuh keraguan dibukanya pintu tersebut. Nafisa terkeju melihat sosok yang berdiri di depan pintu rumahnya.
“Ada apa anda ke sini. Saya tidak ada mengatakan kepada siapa-siapa tuan. Saya tidak bohong tuan. Saya mohon biarkan kami hidup,” katanya sambil memeluk perutnya.
Julian hanya diam mendengarkan perkataan gadis tersebut. “Aku akan menikah dengan tunangan ku.” ucapnya
“Saya janji tuan, saya tidak akan datang ke pernikahan anda, saya tidak akan menggangu rumah tangga anda dan saya tidak akan muncul di hadapan anda. Saya janji tuan.” ucapnya lagi, dengan wajah yang pucat Pasih
“Aku akan tidur di sini.” ucap Julian sambil masuk ke dalam rumah Nafisa.
“Saya tidak punya kasur dan juga sofa.” ucap Nafisa.
“Aku tidur di lantai.” jawab Julian.
Nafisa hanya diam. Ia kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ia keluar dengan membawa selimut dan bantal. Meletakkannya di lantai dan ia kembali masuk ke dalam kamarnya.
Julian memandang tubuh kecil dan kurus tersebut sampai menghilang di balik pintu. Julian tidur di lantai. Memejamkan mata yang tidak tertidur. Setelah ia menghabiskan waktunya bersama Amera, ia datang ke rumah Nafisa.
Tengah malam Julian mendengar pintu kamar Nafisa yang terbuka. Ia melihat Nafisa ke dapur, entah mungkin ke kamar mandi pikirnya. Namun cukup lama Nafisa tidak muncul.
Ia pergi ke dapur. Dilihatnya gadis tersebut sedang makan. “Kau sedang apa.” Tanya Julian.
“Perut saya sangat lapar. Makanya saya makan. Maaf kalau tidur anda terganggu.” ucapnya.
“Kau makan apa?” Tanya Julian.
“Nasi.” Jawab Nafisa.
Dilihatnya piring Nafisa yang hanya ada nasi tanpa sayur dan juga lauk. “Kau mau makan apa, ayo kita cari ke luar.” ucap Julian saat melihat nasi putih saja yang ada di dalam piring tersebut.
“Tidak saya sudah kenyang,” ucap Nafisa sambil nyuap kan nasi tersebut ke mulutnya dan langsung menelan air putih di gelasnya. Gadis tersebut berdiri dari duduknya.
“Permisi tuan.” ucapnya saat ia melewati Julian.
Julian diam tanpa bergeser sedikit pun. Ia berjalan ketempat piring makan Nafisa, dicobanya nasi yang tertinggal di pinggir tersebut yang terasa asin. Julian kembali ke ruang tamu setelah beberapa lama ia berdiri di dapur. Dilihatnya pintu kamar Nafisa sedikit terbuka. Diintip Nya ke dalam. Dilihatnya Nafisa yang sedang duduk di depan leptop nya. Julian kembali merebahkan tubuhnya di lantai.
Subuh-subuh Nafisa sudah keluar dari kamarnya. Ia tampak berlari sambil memegang menutup mulutnya. Julian melihat Nafisa yang berlari ke arah dapur. Ia mendengar Nafisa muntah di kamar mandi. Sangat lama ia mendengar suara gadis tersebut mengeluarkan isi perutnya. Julian ke dapur, di lihatnya pintu kamar mandi tertutup. Suara gadis tersebut masih mengeluarkan isi perutnya. Julian mematung di depan pintu kamar mandi.
Setelah puas mengeluarkan isi perutnya yang sudah berwarna merah, Nafisa sangat takut saat melihat darah segar mulai banyak keluar dari mulutnya. Nafisa duduk di lantai kamar mandi dengan tubuh yang amat lemas. Setelah dirasanya ia sudah mampu berdiri ia mengambil wudhu. Saat ia membuka pintu kamar mandi Nafisa terkejut saat melihat Julian ada di depan pintu kamar mandi.
“Aku akan membantu mu.” ucap Julian yang akan memegang tangan Nafisa, namun gadis itu langsung menjauh.
Dengan suara yang hilang Nafisa berusaha untuk menjawab, “Tidak usah saya bisa sendiri.” ucapnya.
Julian melihat Nafisa berjalan dengan memegang dinding. Wajahnya tampak semakin pucat. Nafisa masuk ke dalam kamarnya dan ia mengambil mukenanya yang tergantung dan sholat. Selesai sholat Nafisa tidur, ia bangun jam 7 pagi. Julian masih ada di rumahnya. Ia keluar dari kamar dengan memegang handuk dan baju ganti.
Nafas masuk ke dalam kamar mandi. Saat Nafisa masuk ke dalam kamar mandi, Julian masuk ke dalam kamar Nafisa. Dilihatnya kamar yang hanya ada kasur busa tipis dan lemari kain kecil. Matanya tertuju melihat mukena yang tergantung di dinding. Mukena yang di berikan nya sebagai mahar pernikahan.
***
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungan nya. 😂😂🙏🙏