Disarankan untuk membaca novel sebelumnya "Jodoh Sang Dokter Duda" karena disana ada silsilah seluruh keluarga ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Alana sudah pulang, dan bermain dikamar bersama Imran
Seperti biasa, Hanan ada tamu yang akan mengontrak rumah petaknya, tidak tanggung tanggung. Dua orang datang dan semuanya deal, sampai kontrakan tersebut akhirnya habis tidak ada yang kosong.
Rumah petaknya semuanya terisi. Tinggal mencari modal, jika sudah siap, ditengah tengah yang masih luas bisa dibangun lagi walau hanya beberapa pintu
-
Hanan masuk kekamar. Ia menutup pintu kembali dan menatap Alana yang sedang sibuk mengusap usap punggung Imran
"Belum tidur ?" Hanan menunjuk Imran
Alana menaruh jarinya dibibirnya, bertanda jangan berisik "Hampir"
Hanan menaruh dua amplop didalam laci yang berada dimeja lampu tidur "Yang kemarin sudah disatukan ya bund ?" Hanan sambil mengangkat kedua amplop tersebut
"Sudah kak" Alana bangun dari rebahannya "Kakak bawa amplop dua?"
"Iya ini" Hanan memberikannya pada Alana "Kontrakannya sudah penuh semua, nggak ada yang kosong"
"Oh, syukurlah" Alana turun dari ranjang, mengambil uang dilaci almari, yang biasa ia manaruh uang disitu, sebelum dibawa kebank, dan mengambil amplop barusan
Hanan rebahan disamping Imran "Imran nggak dipindahin bund"
Alana menoleh "Biarin sih, sekali kali tidur dengan kita"
"Kau ini kayak nggak tau aja kalau dia nangis njerit njerit kejer"
"Kenapa sih anak sendiri digituin"
"Bund, jangan dibiasakan tidur dengan anak anak kita bareng terus seperti ini"
"Memangnya kenapa. Imran masih bayi kak"
"Kan ada pengasuhnya bund"
Alana tidak menjawab, ia masih sibuk menggabungkan uang yang belum sempat ditabung dibank
"Berapa jumlahnya itu bund" Anand menunjuk uang yang berada ditangan Alana
"40 juta. Besok aku setorin ya kak"
"Iya, tapi jangan semua. Buat pegangan kamu. Soalnya aku nggak bisa ngasih uang bulanan lagi kekamu"
"Kakak nggak punya duit?"
"Punya, tapi tipis. Ntar kalau dapat gaji saja, sepertinya nggak bisa ngasih uang kekamu. Buat bikin kontrakan lagi yang ada ditengah. Itu kan masih luas, sayang"
"Pakai uang yang masuk kerekeningku saja kak, kan bisa"
"Ya nggaklah, itu kan uangmu. Simpan dan gunakan sesuai kebutuhanmu"
"Tapi kalau kakak butuh buat itu, pakai aja kak. Kalau kakak nggak enak, pinjem deh, ntar kalau uang kakak sudah ada dikembalikan, bagaimana? kakak mau?" Tawar Alana
"Sudah ah, masalah itu gampang" Imran sudah didalam gendongan Hanan "Jangan buru buru tidur, mindahin Imran dulu"
-
Esok harinya
Alana berangkat ke bank. Dia datang sendiri karena datang kekampusnya agak siangan
Alana sudah mengambil kertas antrian, dan duduk menunggu nomor antriannya dipanggil, yang tertera dimesin nomor antrian angka diatas meja para kasir
"Nomor 11" Ucap seorang kasir, yang dipapannya tertulis nama Budi S "Nomor 11" Budi akhirnya berdiri, memanggil nomor antrian tersebut berulang kali. Namun, terlihat tidak ada yang maju satupun
Budi kembali memencet tombol dan berganti nomor 12
Alana berdiri, karena nomornya sudah terpampang berwarna merah diatas meja kasir yang bernama Budi. Alana menghampirinya dan masih tetap berdiri didepan meja kasir tersebut
"Alana / Kak Budi" Ucap mereka bersamaan
"Oh, kak Budi sekarang kerja disini ?" Tanya Alana sumringah
"Iya, kau masih kuliah" Jawabnya dengan senyum tampannya
"He em... Sebentar lagi wisuda. Kakak disini sudah lama?"
"Sekitar 8 bulan"
"Oh, kemarin kemarin aku kok nggak lihat"
"Kemarin aku didalam. Dan hari ini, kasir yang tugas disini lagi cuti nggak bisa masuk"
"Oh.. "
Walaupun mereka mengobrol, tangan Budi dengan lincah memainkan keyboard untuk bertransaksi. Budipun sudah mengeprint buku tersebut milik Alana. Ia mengangkatnya keatas.
Budi berdiri "Wow tabunganmu banyak banget Alana, ikut program deposito saja ya?"
"Deposito??" Alana kurang faham urusan program deposito
"Iya itu tabungan berjangka. Ada program jangka waktu 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, dan 36 bulan. Nilai bunganya juga berbeda. Semakin kamu ambil yang jangka lama, bunganya akan besar"
"Ih, nggak ah. Takut ntar butuh"
"Kalau begitu, ambil jangka waktu yang lebih pendek aja, misal satu tahun"
"Nggak ah, takut. Orang itu uang buat jaga jaga"
"Anak kuliah buat jaga jaga apa sih. Gaya, kaya emak emak aja kamu"
"Kan calon emak wek"
"Ya sih.. Eh, ambil yang 3 bulan aja ya?" Budi masih tetap merayu
"Nggak nggak, dibilang nggak ya nggak"
"Jangan semua, uangmu hampir 200 juta ini. Sayangkan, ada program ikutin beberapa puluh juta saja, jangan semua"
"Nggak. Aku takut kalau aku butuh"
"Busyet.. Kaya emakku modelnya ini mah" Budi terkekeh
"Kalau aku ikutkan program tersebut, terus sebelum jatuh tempo aku butuh, dan aku ingin mengambilnya bagaimana?"
"Ya kamu dikenakan denda pinalti"
"Yah, berarti nggak jadi. Niatku, aku menabung disini, buat jaga jaga. Karena dirumah nggak mungkin nyimpen duit segitu. Ntar duitnya diambil terus, habis"
"Ya sih, kamu dirayu susah terus. Nggak orangnya nggak duitnya. Padahal ngarahin duitnya biar nggak cepet abis. Merayumu susah banget, ya udah"
Alana nyengir "Maksud merayu orangnya apaan"
"Nggak. Oiya, nanti jam 12 masih dikampus?"
"Kayaknya masih, kenapa ?"
Budi menyerahkan buku tabungan milik Alana "Ini. Tunggu aku disana ya, ntar aku datang"
"Ngapain?"
"Uda sana kekampus. Lihat tuh tamuku, antri" Budi masih berdiri sambil menunjuk para nasabah yang tambah siang tambah penuh. Apalagi hari senin, antrian padat merayap
-
Alana Dan Olivia berjalan keluar setelah berurusan dengan para dosen pembimbing usai. Tinggal nunggu wisuda beberapa minggu lagi
"Alana, aku ingin main ketempatmu. Mumpung aku nggak bawa mobil, boleh ya" Ujar Olivia
"Memangnya mobilmu kenapa?"
"Mogok"
"Oh, ayuk" Alana merangkul Olivia menuju parkiran
Olivia menarik baju Alana agar Alana berhenti melangkah "Kita nggak makan dikantin dulu?"
"Nggak usah, jajan dirumahku banyak"
"Wih"
"Buah tangan dari papi katanya"
"Wah, sejak kapan kamu panggil papamu dengan sebutan papi?"
"Heh? sejak kapan ya.. Eh, kan beda orang. Sudah yuk" Alana menarik lengan Olivia agar tidak terlalu keppo urusan orang lain
-
Alana Dan Olivia sudah membuka mobil untuk keluar dari parkiran kampus
"Alana!!" Teriak suara laki-laki yang belum tau wujudnya
"Alana, sepertinya ada yang memanggilmu "
"Iya ya, siapa?" Alana Dan Olivia celingak celinguk
"Mana sih yang manggil" Olivia masuk kemobil disamping kemudi, lalu melihat arah depan "Alana, cowok depan yang ganteng dan berdasi itu siapa? kayanya itu deh yang manggil"
Budi berjalan cepat menuju mobil Alana, tapi karena banyak mobil yang keluar masuk parkiran, Budi kesusahan menuju mobil Alana
"Alana, kau mau kemana?" Budi sudah berdiri disamping kemudi, yang sudah ada Alana disana
"Pulang"
"Pulangnya nanti. Turun, makan dulu yuk"
"Nggak ah, sampingku bagaimana ?"
"Eng, ajak juga nggak apa apa. Kita kecafe depan.. Yuk"
"Jalan kaki?"
"Iya" Jawab Budi
Alana menoleh kearah Olivia "Olivia, ikut yuk"
"Kemana?"
"Diajak makan. Katanya kamu lapar"
"Hssst pacarmu ya..." Olivia menggoda Alana
BERSAMBUNG....
saya suka saya suka saya suka