NovelToon NovelToon
Papa Merindukannya

Papa Merindukannya

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:166.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anggraeni.arp

Cerita karangan fiksi
Awal bab memang bertele-tele, para pembaca harus sabar dan terus membacanya agar faham okey?

Kisah sepasang suami istri yang terpaksa harus berisah karena kesalah fahaman di malam kekacauan itu. Perusahaan besar sekalipun ternyata dapat lengah.

Ilona, ia adalah istri sang CEO yaitu Arthur. Ilona, melarikan diri dalam keadaan hamil, dan ia belum sempat untuk memberitahukan kabar baik ini pada Arthur.

1 tahun kemudian, setelah melahirkan Ilona kembali ke rumah Arthur, namun hanya untuk memberikan anaknya pada Arthur, tujuannya agar ia tau bahwasanya dirinya sudah memiliki seorang anak.

Singkatnya 9 tahun kemudian. Sang putra kecil Arthur pun telah tumbuh menjadi anak yang sangat genius terutama di bidang bisnis, yaps ia mewarisi kemampuan dari papahnya. namun rasanya di ultah kali ini ia merasa ada yang kurang yaitu kehadiran sosok seorang Ibu.

Nama anak genius itu adalah Afmar.

Bagaimana cara Afmar menemukan bundanya kembali?

Dari pada kepo baca yu... (・ω-)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggraeni.arp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Tekad

"Iyah, tapi mau sampai kapan?" tanya Sindi.

"Itu... urusanku, lagi pula suami dan putraku siap untuk menungguku hingga kapan pun." jawab Ilona yang berbicara tegas.

"Baiklah, hentikan mode serius ini, aku mengerti perasaanmu, akupun akan selalu menunggumu membawa Afmar kesini." Sindi berusaha menghentikan pembicaraan serius ini, karena ia tidak mau apabila jadi sebuah perselisihan.

Ilona menghela nafasnya seraya untuk menenangkan diri. "Maafkan aku Sindi."

"Tidak apa-apa, kita ini seorang teman tidak boleh berselisih okay."

"Iyah, kau benar, kamu sudah memaafkan aku kan? tadi aku hanya sedikit terbawa emosi dengan pertanyaan mu." Ilona menempelkan jari telunjuknya dengan raut wajah menggemaskan, tujuannya untuk merayu Sindi agar memaafkannya.

"Ah... jangan kamu tunjukan muka memelasmu kepadaku, iyah... aku maafkan, sudah berapa kali aku tak suka melihat wajahmu seperti itu." Sindi munutup matanya menghindari tatapan Ilona.

"Hahaha... biarin ah aku suka melihatmu seperti ini, kau lebih menggemaskan tau!" seru Ilona yang terus menggoda Sindi.

"Ilona! aku akan menggelitikmu kalau kau terus begini."

"Coba saja kalau bisa." Ilona menantang Sindi.

"Awas kamu!" Sindi mulai menggelitik Ilona.

"Hahaha... hahaha... geli..." teriak Ilona karena kegelian.

Sudah lama mereka tak bertemu tetapi pada akhirnya mereka berkumpul lagi, seorang teman yang baik akan selalu berada di sisi temannya yang lain, menjaga satu sama lain, dan memperlakukan teman nya seperti saudara sendiri.

"Sindi, sebenarnya tadi aku habis dari rumah sakit."

"Hah? kamu kenapa?" tanya Sindi yang terkejut.

"Itu kejadian nya sangat panjang sekali..."

"Kau! cepatlah cerita." ujar Sindi yang kesal.

"Iyah tenanglah nyonya, tadi ada sedikit kecelakaan di proyek pembangunan, inti dari kejadian nya itu ada barang yang jatuh dari kerangka bangunan lantai 2, awalnya itu akan menimpaku, namun tiba-tiba Afmar malah menggantikan posisiku. Emm... jadi, Afmar yang ketimpaan barang itu, aku panik dan bergegas meminta Arthur untuk langsung membawanya ke rumah sakit."

"Astaga! tapi dia sangat baik sekali, lalu bagaimana dengan keadaannya sekarang?" seru Sindi yang mulai hawatir.

"Kamu tenang saja, putraku itu sangat kuat, sudah kuat, tampan, IQ nya tinggi, cerdik, ah... pokoknya akan aku pastikan Afmar mewarisi otak encernya Arthur, sekaligus ia akan menjadi CEO selanjutnya di perusahaan Sheng dengan sangat baik, eh... bukan sangat baik, namun lebih baik... lagi." Ilona sangat bersemangat ketika memuji Afmar.

"Ah... kau ini, seorang ibu yang baru bertemu dengan anaknya, dan baru saja di promosikan sebagai seorang ibu. Mode seorang ibu di aktifkan!" ujar Sindi yang mengejek Ilona.

"Aku di panggil Afmar bukan ibu akan tetapi bunda." jawab Ilona dengn wajah polos.

"Argh... kau ini tidak pernah mengerti apa yang sedang aku katakan!"

"Lagian benerkan, aku bukan robot yang ada mode-modenya, terus aku di panggil Afmar bukan ibu tapi bunda, kamu mengerti?"

"Iyah... iyah... bundanya Afmar. Ilona, carikan aku pacar dong, atau sugar daddy juga gapapa."

"Astaga! Sunsan, kau ini wanita yang sangat cantik, kau ini model! mana mungkin tidak ada seorang laki-laki yang mau bersanding dengan mu, pasti banyaklah." seru Ilona tang keheranan.

"Yakan, aku juga ingin mendapatkan laki-laki seperti suamimu, pria yang sangat berwibawa, tampan, pintar, sangat di segani banyak orang, pengusaha sukses di dalam negeri maupun luar negeri. Suamimu itu sangatlah hebat! aku mau yang seperti itu."

"Kau ini kalau begitu menikahlah dengan Rio, Rio juga sama seperti Arthur. Hmm... atau jangan-jangan kau diam-diam menyukai suamiku lagi! awas yah."

"Mana mungkin bodoh! aku ini adalah teman sejati mu, mana mungkin aku akan tega menghianati temanku yang imut ini." ujar Sindi sambil mencubit pipi Ilona.

"Nah... akhirnya kamu mengakui kalau aku ini imut, huhuhu... jadi sedih aku." ucap Ilona yang mengejek Sindi.

"Yayaya... terserah kamu saja, aku hampir lupa untuk membungkuskan brownies ini. Bi... tolong bungkuskan 3 box brownies ini yah untuk temanku." teriak Sindi yang memanggil suruhan nya.

"Oh baik nyonya." jawab salah satu suruhan Sindi.

"Terimakasih bibi." ujar Ilona yang berterimakasih.

"Aduh, nyonya Ilona suka membuat saya malu, tidak apa-apa." ucap suruhan Sindi yang tersipu karena kebaikan hati Ilona.

"Kita sesama manusia harus berterimakasih, aku betul kan Sindi?"

"Iyaps betul sekali."

"Sindi, sebaiknya aku bergegas pulang sekarang, aku takut ibu menghawatirkan ku."

"Eum... baiklah, aku tunggu kamu bawa Afmar kesini yah!" seru Sindi yang mengingatkan janji yang telah Ilona ucapkan.

"Iyah Sindi! kau sangat cerewet sekali, aku mengingatnya dengan sangat jelas, tenanglah. Yasudah, aku pulang dulu dan brownies ini aku bawa kabur, bai... bai..." Ilona melambaikan tangan nya untuk pulang.

"Dadah... nyonya Sheng, berhati-hatilah di jalan!" Sindi berteriak menjawab perpisahan Ilona.

Ilona bergegas pulang ke rumah Rio, karena ia tau bahwa Rio akan menghawatirkannya. Sesampainya Ilona di rumah, ia mengendap-endap untuk masuk ke dalam rumah, namun ternyata Rio sudah menunggunya di depan pintu.

"Hmm... hmm... apa kamu bisa jelaskan ini?" Rio mulai menginterogasi Ilona.

"Ett... eh ada Rio, apa yang kamu lakukan di depan pintu seperti itu? hehe." jawab Ilona yang gugup.

"Kau kemana saja nyonya! untung aku bisa sedikit berbohong pada ayah dan ibu, kau tau tidak mereka itu sangat menghawatirkan mu!" Rio berbicara berlahan, namun ia sangat memperlihatkan kemarahan nya.

"Iyah nanti akan aku ceritakan, sekarang kamu masuk kamar duluan sana."

"Huh... kau ini. Ibu, Ayah, Ilona sudah pulang." teriak Rio.

"Oh yah? syukurlah, suruh dia makan dulu baru boleh istirahat." saut ibu Rio.

"Baiklah." jawab Rio

"Yasudah, kau duluan ke kamar aku mau ambil dulu cemilan, soalnya aku sudah makan."

"Argh... Ilona, awas saja nanti!" Rio pergi meninggalkan Ilona.

Ilona bergumam sambil berjalan ke dapur. "Eum... sebaiknya aku memberitahukan Rio soal ini, agar dia tidak menghawatirkan ku lagi."

Setelah beberapa menit Ilona akhirnya masuk ke dalam kamar, ia langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

"Rio... aku bawakan makanan untuk kita makan, kebetulan tadi aku ke rumah Sindi ada brownies nih." Ilona berusaha membujuk Rio.

"Kamu habis dari rumah Sindi? kenapa kamu tidak izin dulu? cepat ceritakan kronologisnya sekarang!"

"Astaga kamu ini bawel sekali, iyah akan aku ceritakan, tapi kamu jangan kaget yah."

Rio mengambil kue brownies yang Ilona bawa, dan ia langsung mengalihkan pembicaraan agar Ilona cepat cerita. "Iyah... iyah cepat!"

"Sebenarnya pemilik dari proyek pembangunan itu adalah Arthur..."

Lagi-lagi sama seperti Sindi, respon yang Rio berikan ketika ia mendengar nama Arthur adalah tersedak. "Uhuk... uhuk... Arthur? kok bisa?"

"Ish kamu nih, pelan-pelan aja makannya!. Awalnya aku juga gak tau kalo proyek itu punya Arthur, kamu tenang aja aku udah nerima ini dengan baik-baik, dan hubungan kitapun sama sekali gak di publik."

"Kamu waktu itu sama sekali gak baca dulu surat-suratnya. Baguslah kalo begitu, kamu jadi bisa ketemu sama Arthur sekarang, eh tapi tanggapan Arthur ke kamu baikkan?" tanya Rio serius.

"Sangat baik, dan hal yang paling mengejutkan nya adalah... aku bertemu dengan Afmar..." Rio menyela Ilona berbicara.

"What? Afmar siapa?" tanya Rio bingung.

"Nahkan, jangan main nyela aja dong kan belum beres ngomong, Afmar itu nama putraku."

"Hah!? kenapa Arthur membawa anaknya kesini?" Rio terkejut sekaligus heran karena pertemuan diantara mereka bertiga itu terjadi dengan sangat cepat.

"Ini adalah takdir, putraku itu sangat unggul loh, dan kau tau alasan diriku mampir ke rumah Sindi? itu karena aku takut kalau Arthur akan salah faham terhadap dirimu jika aku pulang kesini."

"Ya ampun! kok bisa begini ceritanya, huhuhu... aku sangat sedih." Rio tiba-tiba menangis dengan di iringi tingkah konyolnya.

"Sudah jangan menangis."

"Huhuhu... ini semua membuatku sangat terkejut Ilona, tapi aku bahagia, hua..." Rio tetap menangis dengan tingkah konyolnya.

"Kau benar, tadi saat aku turun dari mobil Afmar menarik tanganku, dan memintaku untuk ikut bersamanya ke hotel, namun aku menolaknya." ujar Ilona dengan raut wajah sedih.

Rio langsung mengusap air matanya, dan mode menasihati di aktifkan. "Hmm... aku fikir kau harus segera kembali ke dalam pelukan mereka, kau tau? sudah terlalu lama kamu meninggalkan mereka, coba bayangkan 10 tahun lamanya."

"Aku tau, Sindi juga mengatakan hal yang sama sepertimu tadi." Ilona menundukan kepalanya.

"Baiklah, aku mengerti perasaanmu untuk sekarang, sebaiknya kamu istirahat sekarang, besok kamu harus kembali bekerjakan?" Rio mengusap kepala Ilona.

"Iyah, aku akan tidur, selamat malam Rio."

"Selamat malam Ilona. Aku bawa 1 box browniesnya yah, hihihi." ujar Rio yang awalnya serius, namun secara tiba-tiba berubah mode, menjadi mode pecicilan.

"Hahaha... bawa saja semuanya, bodoh!" Ilona tertawa kecil.

"Baiklah, kau sangat baik, terimakasih." Rio pergi meninggalkan kamar Ilona.

🌻🌻🌻

...♥Bersambung..... lanjut baca Bab 19 yah!, makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.♥...

Jangan lupa like + vote

...づ ̄ ³ ̄)づ...

Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤

Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam

Waktunya iklan check💘

1
Indah Rohmiatun
bukti sudah ada ,itu namanya slingkuh arthur
Indah Rohmiatun
kelamaan thor
Windi
maless gmpang banget maafin , terserah lah cukup sampai disini aja baca'y
Muhibbah
lanjut tor 💪👍
Arp: Mampir yu kek Novel baru boleh liat di profil atau cari yang judulnya Cinta Dalam Balas Dendam🙏🖤
total 1 replies
Almahyra
Rp
re
Next
Dewi Yulianti
Lanjut thiur
~🌹eveliniq🌹~
nyicil baca lg ya support selalu
Arp: Mee to
total 1 replies
Yuli Yulianti
Novita si ulat bulu nggak tau malu emang
Arp: Suka banget sama kak Yuli ini. Selalu suport, terimakasih kak sudah membuat saya tambah semangat buat up
total 1 replies
Mystorios _ Writer
udah mampir kak, di tunggu jejaknya di Menikah dengan Tuan Ares☺
Saae
Masuk rak kak,, bacanya nyicil ya..

Salah dari malaikat tak bersayap..
Yuli Yulianti
Novita mau nya cepat dibasmi biar nggak gatal
Arp: Assiap... tunggu up bsk yah, soalnya author baru sembuh nih.
total 1 replies
Yanny Rinata
semangat thor
Arp: Makasihhh kakak
total 1 replies
Yuli Yulianti
jgn sampai keinginan Novita tercapai Thor ..Bima bodoh mau aj diperalat si ulat bulu coba tundukan novita dgn cara mu
Arp: Siap laksanakan
total 1 replies
Laila Nabilah
next ya kakak semngt
Arp: alhamdulillah, pasti kak
total 1 replies
~🌹eveliniq🌹~
hadir memberi support selalu
Arp: Terimakasih kak eveliniq...
total 1 replies
Arp
Novel ini semoga semakin besar, dan author dapat menciptakan karya lebih bagus lagi, dan noveltoon dapat menanggapinya dengan baik seperti penulis lain yang mendapatkan penghasilan begitu tinggi. aamiin
Ihsan.MIM
rumah sakit
Arp: Rumah Dari cinta kita
total 1 replies
Whya Fajria
masa gk ada fotonya mamanya dlm rumah kak
Arp: Gapapa kak, terimakasih.
Karna awalnya Arthur udah putus asa buat nyari keberadaan istrinya semenjak pertemuan kembali, Ilona bilang jangan kejar aku dengan alasannya, namun setelah pertemuan pertama kalinya lagi setelah 10 thn, Afmar berusaha untuk mempersatukan mereka kembali
total 3 replies
Whya Fajria
permisi kak aku mampir ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!