NovelToon NovelToon
Anak Genius: CEO Tampan Ayah Si Kembar

Anak Genius: CEO Tampan Ayah Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Misteri / Badboy / Pembunuhan
Popularitas:525k
Nilai: 4.9
Nama Author: Nani Anny

Tujuh tahun lalu, Alessia Karina mengalami malam tak terlupakan bersama Leon Arsenio, seorang CEO muda pewaris kerajaan bisnis Arsenio Group. Keesokan harinya, Leon pergi tanpa meninggalkan jejak, membuat Alessia patah hati. Tanpa sepengetahuannya, Alessia hamil dan memutuskan membesarkan sepasang anak kembarnya, Keenan dan Kierra, seorang diri.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Leon menemukan fakta mengejutkan: Alessia adalah ibu dari anak-anaknya. Di tengah kebingungan dan kemarahan Leon, Alessia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak dengannya demi masa depan si kembar. Namun, pernikahan ini bukanlah akhir dari perjuangan. Konflik masa lalu, rahasia besar yang melibatkan keluarga Leon, serta godaan dari pihak ketiga menguji cinta mereka.

Sanggupkah Leon membuktikan dirinya sebagai ayah dan suami yang pantas? Dan apakah Alessia bisa kembali mempercayakan hatinya kepada pria yang pernah meninggalkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nani Anny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kewaspadaan Fau dan Fer

Kaila dan Noah dengan kompak menoleh pada daun pintu yang terbuka. Ben berjalan masuk dengan Faustine tepat di belakangnya.

Faustine yang mengedarkan pandangannya saat berjalan masuk secara tidak sengaja bertemu dengan pandangan Noah selama beberapa detik setelah itu Fau pun segera mengalihkan pandangannya ke arah Ferdinan yang sedang terbaring di ranjang pesakitan.

Anak itu berjalan melewati kedua manusia dewasa itu yang terlihat sedang berargumen hebat, Fau bisa merasakan aura mencekam saat melewati mereka.

Faustine memungut kursi yang tergeletak di lantai, membenarkan posisinya tepat di sisi ranjang Fer lalu duduk di sana dan langsung meraih tangan Ferdinan yang bersedekap di atas perut. Fau menggenggam erat tangan adiknya itu seolah berkata bahwa dia membutuhkan Fer saat ini.

Sejenak suasana menjadi hening setelah kedatangan Fau dan Ben. Perdebatan sengit yang terjadi tadi seketika lenyap.

Tatapan Kaila yang semulanya berkobar menatap Noah kini meredup. Perlahan dia mengalihkan pandangannya pada anaknya yang sedang mengelus lembut tangan kembarannya.

Begitupun dengan Noah. Pria itu juga menatap Faustine. Namun tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu yang aneh dari dalam dirinya. Hatinya terenyuh sakit saat pria itu mengamati Faustine yang tengah menatap Ferdinan penuh empati. Raut wajah Faustine seolah mengatakan saat ini dia juga ikut merasakan sakit yang dirasakan saudara kembarnya.

Ada apa dengannya? Dia adalah tipe pria yang tidak pernah bersimpati pada siapapun. Namun kenapa dengan anak itu, dia merasakan hatinya begitu perih.

Noah menelan ludahnya dengan susah payah, matanya bergerak cepat dari anak itu yang saat ini tengah membenahi selimut Ferdinan, menariknya sampai batas dada.

"Kita pergi sekarang!"

Noah mengambil langkah untuk keluar dari ruangan itu. Dia tidak ingin berlama-lama lagi menatap anak itu. Dia takut air matanya akan tumpah.

"Tunggu!"

Belum sempat Noah meraih gagang pintu, dia kembali menoleh saat Kaila menahannya.

"Ada apa?"

"Ponselku. Jangan lupakan bahwa benda itu bukanlah milikmu." ketus Kaila.

"Aku tak akan pernah mengakui benda murahan itu adalah milikku."

Kaila berdecih, "kau sangat sombong."

"Itu kenyataan."

"Serahkan sekarang?" Kaila menadahkan tangannya ke arah Noah.

"Datanglah ke rumahku, jika kau membutuhkannya."

Kaila menyeringai, "sayangnya, aku tak akan sudi untuk menginjakkan kakiku di rumah terkutuk itu lagi."

"Itu artinya. Kau sudah mengikhlaskan benda itu berakhir di tempat sampah."

"Kau bisa memberikannya disini." Kaila geram.

Noah menyeringai, "sayangnya benda murahan itu begitu berat untuk selalu kubawa."

Kaila mendengus kesal. Pria gila.

Noah mengalihkan tatapannya pada Ben yang masih duduk di sofa terlihat enggan untuk beranjak, "sampai kapan kau akan duduk disitu?"

Setelah berucap dengan nada yang dingin seperti itu, Noah pun segera menghilang dari balik pintu.

Sementara Ben yang baru saja bersandar dengan nyaman di sofa harus menghela napas pasrah. Pria itu pun beranjak dari duduknya, "aku akan mengirimkan ponselmu, jika kau tidak ingin datang kesana lagi. Nyonya."

Ben tersenyum sopan lalu keluar dari ruangan itu. Yah, dia harus bersikap sopan pada wanita yang merupakan ibu dari anak-anak bosnya.

Sementara Kaila masih berdiri di tempatnya, masih menatap Faustine.

Setelah kepergian Noah dan Ben. Saat ini di dalam ruangan itu tersisa Kaila dan kedua anaknya. Kaila bergerak gelisah. Dia merasa canggung sekarang. Terlebih saat Kaila melihat wajah Faustine yang datar-datar saja dan tidak mau menoleh untuk menatapnya.

Faustine bukanlah anak yang bodoh. Yang tidak memahami teriakannya tadi, mengungkapkan sebuah fakta yang selama ini dipertanyakan oleh anak-anaknya. Siapa ayahnya?

Kaila tahu, saat ini anaknya itu sedang syok menerima fakta bahwa pria brengsek itu adalah ayahnya. Namun dia harus bagaimana lagi? Karena itulah kenyataannya.

Kaila menghela napas pelan. Sepertinya saat ini dia harus menghindar dari anaknya sebentar demi menghilangkan kecanggungan ini.

"Fau." Kaila berucap hati-hati dan melangkah perlahan mendekat ke arah ranjang Ferdinan.

"Bunda ingin kembali ke rumah sebentar untuk mandi dan berganti pakaian. Sekalian bunda juga ingin memeriksa keadaan adikmu di rumah." Kaila berjalan mengitari ranjang, dan berdiri tepat di sisi berlawan Ferdinan, tepat di depan Faustine. Anak itu terlihat mengalihkan pandangannya dari bundanya.

"Bunda hanya sebentar saja di rumah. Selama bunda tidak disini, tolong tetaplah di sisi Ferdinan. Jika terjadi sesuatu pada adikmu kau tekan tombol ini." Kaila menunjuk tombol merah di atas kepala ranjang rumah sakit.

Faustine menatap tombol itu lalu mengangguk tanpa melihat bundanya.

Kaila menghela napas pelan lalu melipat bibirnya sedih. Dia benci berada disituasi seperti ini. Anaknya mogok bicara padanya, itu adalah hal yang baru dan Kaila membenci itu.

"Baiklah bunda pergi dulu."

Kaila pun melangkah ke arah pintu. Namun baru saja dia hendak menarik daun pintu, Fausine tiba-tiba saja berucap.

"Berhati-hatilah Bun!"

Sebuah senyum tipis terulas di bibir sensual wanita itu. Meskipun Faustine berucap tanpa melihatnya, tapi kalimat perhatian itu sudah cukup meyakinkan Kaila bahwa anaknya tidak marah. Hanya butuh waktu.

"Tentu saja. Bunda akan segera kembali dengan membawa makanan kesukaanmu."

Kaila tersenyum lagi, lalu menghilang di balik pintu bercat putih itu.

Kini tinggallah Fau dan Fer di dalam ruangan itu.

"Fer!" Faustine terlihat memeriksa satu persatu jari-jari kecil Ferdinan. "Hari ini, hari yang sangat berat bukan?" Anak itu berbicara sendiri.

"Kau sangat cemen. Kau bertindak sok jagoan, tapi berakhir disini." Faustine terkekeh saat mengingat aksi membabi buta Ferdinan yang memukul kepala pengawal itu dengan kayu.

"Kau hanya pandai memukul tanpa tahu menghindar." Anak itu berdecih. "Tapi aku harus bersyukur karena kau tidak menghindari tendangan itu... karena jika kau menghindar, bunda tidak akan mengungkapkan rahasia yang selalu dia sembunyikan rapat-rapat."

Faustine menatap lekat wajah pucat Ferdinan, "apakah kau penasaran dengan rahasia itu? Maka sadarlah cepat, aku ingin membaginya padamu."

Faustine kembali memainkan jari-jari Ferdinan. Tidak lama kemudian, jari-jari itu bergerak pelan. Faustine segera beranjak lalu mencondongkan badannya ke wajah Ferdinan. Kelopak matanya tampak bergerak, tidak lama kemudian mata dengan manik abu-abunya itu terbuka pelan. Matanya langsung terbelalak saat wajah Faustine begitu dekat di depan matanya.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Ferdinan tampak menekan kepalanya, semakin tenggelam di bantal agar menjauhkan jarak wajahnya dari saudara kembarnya itu.

"Memeriksamu." Fau mengundurkan dirinya dan kembali berdiri tegak.

"Fau!"

"Hm?" Fau menatap adiknya yang terlihat memelas, "kau tidak pa-pa?"

Ferdinan mengangguk, "aku hanya haus."

"Kau haus." Degan sigap, Fau meraih botol di atas meja samping tempat tidur Fer. Lalu menyodorkannya pada adiknya.

"Aku tidak bisa minum dalam keadaan baring seperti ini."

"Oh, benar juga." Fau kembali meletakkan botol air itu lalu mendekat ke arah adiknya bermaksud untuk membantunya bangun.

"Punggungku sakit. Aku tidak bisa bangun." sergah Ferdinan.

Faustine menggerutu kesal, "lalu kau harus bagaimana? Kau tidak bisa minum dalam keadaan tidur, tapi kau juga tidak bisa bangun. Minum saja air liurmu."

"Atur posisi ranjang ini. Naikkan bagian kepalanya." Ferdinan nyaris teriak.

"Oh iya." Faustine melangkah pada bagian kaki ranjang lalu menunduk mencari engkol putaran yang mengatur posisi naik dan turun.

"Astaga Fau!" Ferdinan menepuk dahinya pelan, "ini ranjang elektrik, jadi menggunakan remot."

"Dimana remotnya?" kesal Faustine.

"Yah mana aku tahu." Ferdinan tak kalah kesal.

"Hish." Fau menggerutu lalu menemukan benda itu di atas meja. Anak itu pun mulai mengatur posisi kepala ranjang itu hingga posisi Ferdinan kini setengah duduk.

Faustine kembali meletakkan remot itu lalu menyambar botol minum dan menyuapi botol itu ke mulut Ferdinan dengan hati-hati, agar adiknya tidak tersedak.

"Oh yah Fau... kemana bunda?"

"Dia pulang sebentar." Faustine berucap sambil meletakkan kembali botol itu ke tempat semula.

"Dia baik-baik saja kan?"

Faustine menyipitkan matanya bingung. "Kau mengkhawatirkan bunda saat kondisimu seperti ini."

"Kenapa, kau cemburu? karena yang kutanyakan hanya keadaan bunda."

"Bukan—"

"Baiklah. Kau baik-baik saja kan?" Ferdinan menyela ucapan Faustine.

"Tidak!" Ketus Fau.

"Kenapa?"

"Kau kira aku baik-baik saja saat kau seperti ini." Fau berdecih, "ikatan batin kita cukup kuat. Jadi saat kau sakit seperti ini, aku juga sakit. Kau tau?"

"Baguslah."

"Maksudmu?"

"Itu artinya bukan hanya aku yang sakit."

Mereka pun kompak tertawa pelan.

"Fau?"

"Hm."

"Aku penasaran tentang kejadian tadi."

"Kejadian yang mana?" Faustine berkerut heran.

"Saat kau bersembunyi di dalam ruangan itu. Kau tidak menemukan apa-apa di dalam sana?"

Faustine tampak berpikir, "kenapa? Apa kau melihat sesuatu?"

"Melihat apa?"

"Sebuah cctv. Apakah ada cctv di dalam sana?"

Mata Ferdinan tampak berkeliling, dia ragu apakah dia harus jujur atau tidak pada Faustine. Tapi dia juga belum ingin mengungkapkan tuduhannya. Dia hanya ingin memastikannya.

"Tidak ada cctv di dalam ruangan itu. Itulah kenapa aku bertanya." Bohong Ferdinan, "Apakah ada sesuatu yang menjanggal di dalam sana?"

Faustine mengangguk, "di dalam ruangan itu ada ruangan lagi. Dan di dalam sana aku mendengar dua pria dewasa sedang berbincang."

"Apa yang mereka katakan?" Fer tampak bersemangat. "kau mengenali salah satu dari mereka?"

Faustine kembali mengangguk. "Satu pria itu suaranya terdengar sangat tidak asing. Sangat mirip dengan suara uncle Niko."

"Oh yah." Ferdinan berpura-pura terkejut, padahal pria itu memang Niko.

Ini adalah salah satu kemampuan Faustine. Anak itu mampu mengingat dan membedakan suara orang lain. Bahkan dia bisa mengenali orang itu hanya dari suaranya saja.

"Itu tidak mungkin uncle Niko kan?" Wajah Faustine nampak cemas. Dia akan sangat murka jika itu benar Niko. Karena kebenaran yang dia ketahui tentang pria itu melalui percakapan mereka.

"Aku tidak tahu!" Fer mengedikkan bahunya. "Apakah kau mengintip ke dalam?"

Fau menggeleng.

"Lalu apa yang dikatakan pria yang suaranya mirip uncle Niko itu?" Ferdinan masih mencoba mengorek.

"Mereka hanya saling menuduh satu sama lain. Pria yang mirip dengan uncle Niko meminta lawan bicaranya untuk menyerahkan bunda. Tapi lawan bicaranya itu hanya mengatakan jika dia tidak menculik bunda, dia menyelamatkan bunda. Dan lawan bicara itu mengatakan jika pria yang mirip uncle Niko itulah dalang dari penculikan bunda." Jelas Faustine.

Dada Ferdinan seketika bergemuruh. Keyakinannya tidak salah, ternyata uncle Niko kenal dekat dengan penculik bundanya. Bahkan mereka memiliki tujuan yang sama. Yaitu menyakiti bundanya. Buktinya mereka saling tuduh-menuduh.

"Apakah itu benar uncle Niko?" tanya Fau menatap Ferdinan. "pasalnya hanya dia pria yang dekat dengan bunda."

"Entahlah Fau. Pria yang dekat dengan Bunda tidak hanya satu orang saja. Kau lupa dengan Yusman, Agil dan Reno. Mereka tergila-gila dengan bunda. Bisa saja yang merencanakan penculikan salah satu dari mereka atau mungkin yang lain." Jelas Ferdinan berbohong.

"Yah, kau benar. Bunda banyak berurusan dengan pria. Terutama pria itu, pria yang berstatus Ayah kita." Faustine melanjutkan kalimat terakhirnya di dalam hatinya.

"Kita harus waspada sekarang Fau. Kita harus menjaga Bunda lebih ekstra lagi dari pria-pria jahat."

"Kau benar."

Mereka pun terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Faustine dengan pikirannya yang harus waspada pada Noah. Sementara Ferdinan dengan pikirannya yang harus waspada pada Niko.

Flashback on

"kau adalah dalang dari penculikan ini bukan?"

"Kenapa kau menuduhku?"

"Aku tidak sedang menuduhmu. Bukankah itu adalah keahlianmu? menculik seseorang lalu memanipulasinya." pria itu tertawa rendah.

Pria yang suaranya mirip Niko berdecih, "kau berkata seolah kau mengenaliku."

"Of course. I know you very well. Jika kau lupa, kau pernah melakukan hal yang sama padaku juga bukan? Kau dan ibumu."

"Kenapa kau mengungkit masa lalu, hm?"

"Bukankah masa laluku dan masa sekarang selalu berkaitan dengan aksi bejatmu itu. Sekarang kau memperdaya wanita itu untuk mengalahkan aku bukan?" pria itu kembali berdecih, "kau selalu seperti ini. Memanfaatkan orang lain demi mencari kelemahanku."

Pria yang suaranya mirip Niko terdengar menghela napas kesal, "aku tidak memiliki waktu untuk berdebat denganmu. Sekarang lepaskan wanita itu."

"Cih. Kau memerintahku seolah aku adalah penculik yang sebenarnya. Wanita itu terculik oleh orang-orangmu, lalu kenapa kau seperti sedang menganggapku pelaku dari penculikan ini. I was the one who saved her."

"Bukankah kau juga berniat menculiknya, but my people got it first."

"Tapi orang-orangku berhasil merebutnya bukan? karena itu jugalah, kau datang ke rumahku. Kau datang kesini bukan untuk menyelamatkannya bukan? You just want to negotiate with me."

Faustine yang sedang mendengarkan percakapan mereka sangat murka. Terlihat kobaran api di dalam manik abu-abunya yang tajam. Siapa mereka? Kenapa mereka menggunakan bundanya sebagai umpan untuk kepentingan balas dendam mereka. Brengsek!

Tangan Faustine yang terkepal kuat, berusaha meraih gagang pintu itu. Dia ingin masuk dan melihat wajah-wajah mereka. Rasa penasaran dan kemarahannya sudah memuncak sekarang.

Namun, saat anak itu sudah hampir mendorong pintu itu. Tiba-tiba saja suara derap langkah terdengar dari luar dan berhenti tepat di depan ruangan itu. Mata tajam Fau menyipit seiring pintu itu terbuka. Dengan langkah cepat, Fau segera bersembunyi di sisi rak buku besar itu.

Beruntung penerangan di dalam ruangan itu sedikit redup dan membuat bayangannya tak terlihat. Faustine juga tak dapat melihat wajah seorang pria yang berjalan masuk ke dalam ruangan itu.

Giginya bergelematuk. Dia harus segera mengeluarkan bundanya dari tempat ini. Sebelum orang dari dalam ruangan itu keluar.

Dengan langkah pelan penuh waspada Faustine meninggalkan ruangan itu. Dan saat dia sudah berhasil keluar, dia mencari ruangan dimana bundanya berada.

"Aku sudah keluar dari ruangan itu. Dimana bunda berada?"

Fau berjalan cepat sambil menekan benda di sisi telinganya lalu berbelok di koridor. Namun tidak ada respon dari adiknya itu.

"Fer!" Langkah Fau terhenti, seiring dengan pikirannya yang kacau. Apa terjadi sesuatu juga dengan adiknya di atap?

"Fer! Kau disana?"

Fau memutar tubuhnya berbalik arah, dia bersiap untuk berlari jika adiknya tidak menjawabnya, namun anak itu bernapas lega setelah mendengar jawab dari sana.

"Iya. Aku mendengarmu."

Fau menghela napas lega, "syukurlah, kukira kau tertidur." Candanya. "Aku sudah keluar dari ruangan itu. Sekarang tunjukkan dimana ruangan Bunda?"

Wajah Fau terlihat celingukan, mengawasi sekeliling.

"Dia berada di kamar ketiga, dari kamar tadi." kata Ferdinan.

Faustine mencoba menghitung berapa kamar yang dilewatinya tadi. Dan kamar ketiga itu tepat di depannya.

...Happy Reading ❤...

Hayeuhh. Kasihan yah, pria-pria tampan author, masing-masing ada pawangnya 😆.

Ok jangan lupa untuk selalu tinggalkan dukunganya.

1
Lai Lai
update please
Nur Yanah
Sampai lupa cerita nya
Lai Lai
semangat semangat update nya
Rafanda 2018
aturan end aja udah thorr
Rafanda 2018
bikin mls baca,,isinya penculikan mulu..sory thor ,end.
Rafanda 2018
katanya jenius ko ga tahu kalau widia jagat ck ck ck
Heri Herawati Siregar
lanjut ka
Dini Badar
lanjut thor
Glastor Roy
7p
Cinta Abadi
lanjut
yonahaku
ini author nya kemana lagi sakit 😷 ya cepat sembuh ya terus berkarya lagi
Diana Hayani
apa artinya triple twins ?
kl kembar dua disebut twins..
kembar tiga disebut triplet...
jangan di gabung jd rancu artinya..
Tha Ardiansyah
terusin dong ceritanya thorr
Zalva LP
Klo ngk di pake, ngapain bayar🤨🤨🤨
Sartika Arruan
udah 1 thn blom ada lanjutanx yh Thor😔
Bunga Kaktus
top markotop.. bagus bgt
Deisse Bunaen
next ka thor
Bilbina Shofie
ini lanjutannya kmn??
Fitri
😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣🤣yakin gk kuat aku nahan ketawa
ngatain nyumpahin dia sendiri judulnya 😂
Fitri
astaga naga yakin bab ini gk liat nahan ketawa anak mu tuh nurun tingkah kamu 😂😂😂😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!