Sekuel Dinikahi Konglomerat Sejagat!
Biar terasa greget baca dulu novel tersebut, baru maraton ke sini.
Devin terpaksa menikahi anak dari asisten pribadi orangtuanya, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya.
Perintah dari Argan selaku orangtua, tidak dapat dia tolak. Terpaksa menerima pengantin pengganti, meski dia tidak mempunyai perasaan apapun.
Akankah Devin bisa membangun cinta, bersama Tasya yang super cuek? Atau justru Tasya yang sulit membangun cinta, pada Devin yang dingin nan arogan?
Simak kisahnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagi Marahan
Devin mengerem mobil secara mendadak. Tasya merasa kesal, karena kepalanya terbentur kaca depan mobil.
"Bisa tidak sih, menyupir yang benar." Protes Tasya.
"Aku tidak suka bila kamu membantah titah ku. Sudah ku katakan, jauhi Ferdian." Jawab Devin.
"Devin yang terhormat, aku sudah menuruti kemauan kamu. Aku tidak memanggil kamu, dengan sebutan tuan lagi. Aku rasa itu lebih dari cukup." Ucap Tasya melawan.
"Kamu memang benar-benar iya." Devin hampir saja menggunakan intonasi tinggi. Apalagi saat melihat dasi, yang terpasang di kerah baju Tasya.
"Kenapa? Aku tidak pernah melarang kamu untuk mencintai si Clara itu. Aku juga tidak pernah protes, dengan penggemar di kampusmu itu." Jawab Tasya, dengan suara yang lantang.
Dia segera membuka sabuk pengaman, keluar dari mobil setelah membuka pintu. Dia memilih untuk menaiki taksi, sebelum Devin sempat mengejarnya.
"Tasya, mau pergi kemana kamu." Teriak Devin, di belakang mobil taksi yang melaju.
Tasya merasa kesal, menjadi pengantin pengganti harusnya tidak masalah. Devin tidak berhak mengatur, karena mereka tidak saling mencintai pikir Tasya.
"Kenapa dia harus mengaturku, kenapa sikapnya berubah. Dia sungguh keras kepala, sangat arogan bin egois." Gerutu Tasya, dengan berteriak.
"Sedang marah dengan pacarnya iya Dik." Ujar supir taksi.
"Tidak, hanya orang tidak penting." Jawab Tasya.
"Kita mau kemana ini?" Tanya supir.
"Kita ke jalan durian nomor 5 saja." Jawab Tasya.
Mobil melaju ke arah jalan durian. Tasya tidak mau bertemu dengan Devin di kantor. Dia akan menyelesaikan pekerjaan, bila dirinya sudah tenang.
"Assalamualaikum." Ucap Tasya.
"Waalaikumus'salam." Jawab suara dari dalam rumah.
Okta membuka pintu. "Tasya, kamu ngapain ke sini. Bukankah tadi kamu bilang mau kerja." Ujar Okta.
"Ceritanya panjang, nanti aku pulang ke rumah bersama kamu saja. Lagipula kamu mau menginap di rumahku 'kan?" Tanya Tasya.
"Iya Sya, ayo masuk dulu." Jawab Okta, dia menyuruh Tasya masuk.
Tasya masuk ke dalam rumah, dia melihat sekeliling tidak ada siapapun.
"Apa kamu sendirian lagi?" Tanya Tasya.
"Iya, orangtuaku sibuk bekerja siang dan malam." Jawab Okta.
"Ini juga demi anaknya." Ucap Tasya.
"Iya sih Sya." Jawab Okta.
Mereka berjalan bersama ke ruang makan. Tasya makan siang bersama dengan Okta.
"Sya, ceritain dong yang kamu dengan Devin." Ujar Okta.
"Nanti kamu marah sama aku." Jawab Tasya.
"Tidak, ayolah cerita." Ucap Okta.
"Sebenarnya, aku dan Devin berkelahi karena Ferdian." Jawab Tasya jujur.
"Jangan-jangan dia suka kamu." Okta mengedipkan matanya.
"Apaan sih, masak aku mau jadi saingan sama kamu." Jawab Tasya, sambil geleng-geleng kepala.
"Tidak masalah, kita bisa saingan sportif." Ucap Okta.
"Kamu saja, aku lagi kesal padanya" Jawab Tasya.
Pria muda masuk ke ruangan kerja Devin. Sudah bolak-balik tiga kali, karena Devin selalu protes dengan laporannya.
"Sungguh bodoh, kenapa salah terus. Kamu mau dipecat dari perusahaan ini." Devin menggebrak meja.
"Ampun tuan Devin, jangan pecat aku." Jawabnya.
"Cepat, keluar dari sini. Selesaikan pekerjaanmu dengan baik." Teriak Devin.
"Baik tuan." Jawabnya, sambil berusaha berdiri dari posisi duduknya.
Orang tersebut keluar dari ruangan CEO, dengan dada berdebar-debar. Dia merasa terkejut dengan teriakan Devin, yang menggema memenuhi seisi ruangan.
'Benar-benar kesurupan, berani-beraninya dia memarahi aku.' Batinnya.
Okta dan Tasya mengendarai mobil berdua. Tasya diam saja sepanjang perjalanan, dia tidak ingin berbicara.
"Sya, kamu kenapa diam saja." Ucap Okta.
"Biasanya aku juga seperti ini." Jawab Tasya.
"Walaupun kamu cuek, biasanya kamu masih mau bicara." Ujar Okta.
"Menurutmu karena apa coba." Jawab Tasya.
"Hmmm, jujur dong Sya." Rayu Okta, yang sebenarnya ingin mengetahui rahasia mereka berdua.
"Aku tidak akan mengatakannya sekarang. Diwaktu yang tepat, aku akan bilang pada kalian semua." Jawab Tasya.
Tasya sudah sampai ke rumah. Dia sengaja tidak balik ke rumah mertuanya, takut dicurigai.
"Eh Tasya, kamu sudah pulang?" Tanya Dera.
"Iya Ma, aku bawa temanku." Jawab Tasya, sambil tersenyum manis.
Dia menyalami tangan Dera lalu mencium punggung tangannya. Okta juga melakukan hal yang sama.
"Okta, kamu sudah lama tidak ke sini." Ujar Dera.
"Iya Tante, Tasya 'kan sibuk." Jawab Okta.
"Iya tidak apa-apa, malamnya juga dia pulang." Ucap Dera.
"Iya Okta, kamu bisa menginap sesuka hati." Timpal Tasya.
"Kamu memang sahabat terbaik." Jawab Okta.
"Kalian sudah makan?" Tanya Dera.
"Sudah dong Ma." Jawab Tasya.
Pada sore harinya, Tasya dan Okta duduk di kursi yang ada di depan rumah. Devin baru saja pulang dari kantor, dia melihat Tasya sedang bersama Okta. Karena rumah Tasya dan Devin memang dekat, ada di seberang jalan.
"Eh Sya, pangeran tampan melihat ke arah kita." Ujar Okta.
"Terserah." Jawab Tasya, sambil terus mempertahankan posisi wajah membuang ke sembarang arah.
"Ah Tasya, kenapa kamu tidak asyik. Oh iya, kamu 'kan masih marah padanya." Ucap Okta.
"Tentu saja, siapa suruh dia mengatur hidupku." Jawab Tasya.
Okta segera beranjak dari duduknya, melambaikan tangan pada Tasya. Dia menyeberang jalan, lalu menghampiri Devin.
"Hai!" Seru Okta.
"Hmmm." Jawab Devin.
'Wih, benar rumornya dia dingin dan arogan.' Batin Okta.
"Kamu Devin iya." Okta basa-basi.
"Hmmm." Jawabnya.
'Sungguh menyebalkan, aku pasti bisa mendapatkan Devin. Aku akan membuktikan ke Tasya, bahwa aku bisa meluluhkan hatinya.' Batin Okta.
"Kenalin, aku Okta." Ucap Okta, memberanikan diri.
"Oh." Jawab Devin.
"Apa kamu tidak mau memperkenalkan diri?" Tanya Okta, mulai canggung.
"Bukankah kamu sudah tahu namaku." Jawab Devin. Matanya kembali fokus melirik Tasya, yang sedang duduk di kursi.
"Apa salahnya memperkenalkan diri, karena teman-temanku dari SMA Pelita Raya akan masuk ke kampus Elite." Ucap Okta.
"Oh, bagus. Belajarlah yang benar." Jawab Devin.
Dia melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Okta merasa Devin benar-benar dingin dan arogan. Wajahnya yang tidak senyum saat orang menyapa, membuat kesal lawan bicaranya. Okta berjalan gontai, menghampiri Tasya.
"Bagaimana Okta, apa kamu ditawari untuk masuk rumah?" Tanya Tasya, sambil tersenyum.
"Tasya, kamu jangan tersenyum bila hatimu mengejek." Jawab Okta. Dia memajukan bibirnya, merasa tidak ingin mengejar Devin.
"Cup, cup, jangan sedih." Ujar Tasya.
"Dia benar-benar menyebalkan. Tidak semua pria tampan baik." Gerutu Okta.
"Makanya jangan lihat dari luarnya saja." Jawab Tasya.
"Kamu kok betah sih menjadi asisten di kantornya. Pasti kalau marah sangat seram." Umpat Okta.
"Dia memang galak, tapi bisa bersikap manis padaku." Jawab Tasya, dengan tertawa kecil.
"Bercanda mu tidak lucu. Aku akan kasih empat jempol, buat perempuan yang bisa mendapatkan ciuman dari pangeran tampan." Ujar Okta.
Tasya terdiam, dia meraba bibirnya sendiri.