Siapa yang tidak mengenal Rayna Almahyra Farobi. Putri satu-satunya tuan Ardhi Al Farobi dan Tsurayya Ednika Frederick
Rayna, alias Ina memiliki seorang kakak lelaki bernama Rayhan Putra Farobi dan dua orang adik lelaki bernama Rayyan Alvarendra Farobi dan Rayendra Putra Farobi
Kebayang ya.. satu anak perempuan dikelilingi bodyguard-bodyguard kesayangan
Ina, gadis yang lembut, berwibawa, cerdas dengan segudang prestasi.
Lean, putra dari Leon (baca Love Story yaa) yang jatuh cinta pada Ina sejak pandangan pertama
Bagaimana kisah mereka?
Akankah Lean menjadi generasi ke 3 yang kandas percintaannya dengan satu keturunan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qnoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 17
Malam sudah turun saat Leo memasuki apartemennya. Suasana terasa sepi
"Boy..?" Panggil Leo.
Pria itu melongok ke kamar Lean. Kosong. Kemana lagi anak itu, pikir Leo sembari melihat jam yang menunjukkan pukul 19.30
Segera Leo masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, Leo menunaikan kewajiban 5 waktunya. Setelah mengenal Aya dulu, ia mulai mempelajari kewajiban-kewajiban agamanya
Iapun mengajarkan Lean beribadah, walau hanya dasarnya saja. Cukup baiklah untuk seorang seperti Leon yang bertahun-tahun hidup dalam dunia hitam
Lama Leo terpekur diatas sajadahnya. Ia seperti teringat sesuatu benda. Segera di carinya benda tersebut di laci penyimpanannya. Bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat benda yang ia cari
Seuntai kalung emas yang indah dengan liontin batu biru di tengahnya. Leo menggenggam kalung itu erat-erat. Pria itu nampak sedikit berfikir, kemudian ia kembali tersenyum
Klek.. pintu apartemen terbuka. Lean sudah pulang. Terdengar pintu kamar sebelah dibuka lalu ditutup kembali. Leo segera menghampiri kamar Lean dan mengetuknya
"Boy..apa kau sudah makan?" Tanya Leo. Tidak ada jawaban dari dalam. Leo menghela nafas, mungkin Lean berada di kamar mandi, pikirnya
Lean memang sedang membersihkan diri di kamar mandi. Setelah mandi, ia mematut dirinya di kaca besar dalam kamarnya
Di telitinya baik-baik sosoknya dalam kaca. Tubuh yang menjulang dengan otot-otot di lengan dan perutnya. Wajahnya yang blasteran dengan mata biru keabu-abuan. Rambut coklat gelap yang lebat.
Prestasi? Dia punya segudang prestasi di bidang akademik. Bela diri? Dirinya mengantongi sabuk hitam di Karate Dojo dan sering ikut kejuaraan lintas Universitas. Menembak? Sejak kecil ia sudah diajarkan Leo cara tepat membidik lawan
Leandre merasa tidak memiliki kekurangan pada dirinya. Tidak ada yang pernah menolak seorang Leandre, bahkan banyak wanita yang terang-terangan menyatakan suka padanya. Gadis secantik dan sepopuler Mariska pun mengejar-ngejar dirinya.
Dia tidak kalah dari seorang Ray Eagle..
Sesaat dia tersenyum kecut
"Apa yang kau lihat dari Ray, Na.." bisiknya pelan
Ina.. hanya Ina yang menolaknya dengan dalih tidak ingin pacaran.
Lean mendesah. Sejak kecil ia sudah menyukai saat pertama melihat seorang gadis yang dibawa ayahnya mengelilingi museum zoologi. Seorang gadis dengan poni dan rambut dikepang dua. Seorang gadis bernama Rayna
Kembali ia mengingat kejadian saat Ina membonceng Ray juga kejadian tadi pagi saat Lean tidak sengaja melihat Ina,Ray dan Leo berbincang-bincang hangat di taman.
Amarahnya membuncah pada Ray. Bukan hanya Ina, Daddy nya pun seperti berpihak pada Ray, saingan terberatnya
Sejenak Lean menatap postur tubuhnya di cermin. Sebersit senyum tersungging dari bibirnya
***
Bel pulang sekolah berdering. Anak-anak SMU XYZ berhamburan keluar sekolah. Ina melangkahkan kakinya menuju gerbang. Ian sedang berada di ruang OSIS untuk melantik pejabat OSIS yang baru
Langkah Ina terhenti saat ia melihat Lean sedang bersandar di mobil Chevrolet Camaro merahnya. Penampilan mencolok Lean mengundang perhatian banyak siswa
"Bang Lean..?" Sapa Ina mendekati Lean. Ina menatap tampilan Lean dengan seksama.
Ada yang beda dari Lean. Senyum hangat yang biasa ia tampakkan kaku. Gayanya yang sederhana berubah mencolok. Motor Ho*da CBR yang biasa menemaninya tergantikan dengan mobil Chevrolet milik Leo
"Hai.." sapa Lean sedikit kaku
Ina hanya tersenyum membalas sapaan Lean
"Ada perlu apa?" Tanya Ina
Lean mendecih
"Jangan GR. Abang lagi janjian sama teman di sini." Kata Lean berbohong
"Oh.." Ina mengangguk. Ada sedikit kecewa di hati Ina mendengar Lean datang bukan bertemu dirinya, namun tidak ditampakkannya perasaan itu di wajahnya.
Ina membingkai wajahnya dengan senyum manis. Hal itu menambah jengkel Lean yang tadinya berharap Ina cemburu
"Kalau gitu, Ina pulang dulu ya bang. Assalamu'alaykum.." Gadis itu segera berbalik pergi menuju mobilnya
"Na.." cegah Lean tiba-tiba membuat Ina menghentikan langkahnya. Ina menoleh memandang Lean
"Na.. tentang kejadian di cafe..kamu nggak tanya apa-apa?"
Ina menggeleng
"Buat apa? Itu hak bang Lean. Ina nggak berhak ikut campur kan." Kata Ina sambil tersenyum
Lean tertegun. Benar gadis ini tidak punya perasaan istimewa padanya. Setelah sekian tahun mereka berteman, perasaan Ina tetap menganggap Lean sebagai saudaranya
"Inaa.." Teriak Ian yang ternyata sudah berada di dekat mobilnya
Ina menoleh lalu berkata "Tunggu bentar Yan.."
Kembali gadis itu menatap Lean
"Semoga hubungan abang langgeng ya dengan kakak itu. Ina pulang dulu ya bang.." kata Ina sambil berbalik dan berlari menuju mobilnya
"Ngomong apa sama bang Lean?" Tanya Ian yang juga memperhatikan penampilan Lean yang berubah
"Nggak, bang Lean lagi janjian sama temannya." Kata Ina pelan
Gadis itu memandang keluar jendela, menyembunyikan titik airmata yang jatuh dari pelupuk matanya
Lean menatap mobil Ina pergi menjauh dari area sekolah. Pemuda itu menghembuskan nafas kasar. Segera ia memasuki mobilnya dan pergi dari area sekolah SMU XYZ
***
Suasana kantin rektorat cukup ramai karena Dewan Mahasiswa baru saja mengadakan rapat di gedung utama.
Nampak Ray tengah duduk dengan Marvin, Ghea, Zalynda dan Farris
"Sekali lagi gua ucapkan terima kasih karena kalian sudah mau mendukung Iron Eagle untuk pemilihan nanti." Kata Ray
"Terima kasih juga untuk supportnya dalam penelitian kami. In syaa Allah dua bulan lagi akan ada perkembangan signifikan dari penelitian yang bisa membuat temuan baru dalam bidang sains." Kata Farris bangga
"Jangan lupa, penggunaan styrofoam dan sedotan plastik untuk semua kantin dibatasi. Kasihan Bumi yang menerima sampah styrofoam." Ghea ikut nyeletuk sambil mengaduk es tehnya dengan sedotan stainless miliknya
"Kami usahakan wahai Ratu Ghea sang penjaga Bumi." Kata Marvin menggoda Ghea membuat gadis itu tertawa menampilkan barisan giginya yang rapi
Ray pun ikut tertawa. Pemuda itu melirik Zalynda yang juga tertawa mendengar guyonan Marvin
"Elo bagaimana Za?" Tanya Ray
Zalynda menatap Ray sambil tersenyum.
"Kegiatan kita sama Ray, memberikan wadah pada anggota perempuan untuk berekspresi dan saling dukung satu sama lain." Kata Zalynda lembut
Ray mengangguk
Marvin, Farris dan Ghea saling memandang satu sama lain
Plok.. tiba-tiba Marvin menepuk pipi Farris, membuat pria berkacamata itu mengaduh
"Nyamuk..ada nyamuk.." kata Marvin sarkas. Ghea terkikik geli
Tiba-tiba Lean masuk bersama Ero dan langsung menghampiri meja Ray
"Dengar-dengar elo lebih suka cewek yang pakai kerudung kan Ray?" Tanya Lean sambil mengambil kursi dan duduk di sebelah Ghea
Ray mengerutkan kening
"Maksudnya?" Tanya Ray
"Kemarin gue lihat elo boncengan sama cewek jilbaban. Masih SMA juga. Selera elo selain jilbaban juga masih anak ingusan ternyata." Kata Lean lagi sambil menatap Zalynda yang langsung menatap Ray dengan pandangan tak biasa
Lean menyunggingkan senyumnya
"Mesra banget pokoknya Za.." kata Lean lagi
"Tunggu.. jilbaban, anak SMA.. jangan-jangan itu.." Ucapan Marvin terpotong karena Ray memberikan tanda agar Marvin tidak meneruskan ucapannya
"Kenapa emangnya kalo gue boncengan sama cewek jilbaban itu? Masalah buat elo?" Tanya Ray
Lean terkekeh
"Nggak sih, baguslah. Hilang satu saingan di Universitas Gemilang ini untuk dapatkan gadis-gadis cantik." Kata Lean sambil berdiri, lalu menatap Zalynda sambil tersenyum. Zalynda membuang pandangannya
"Dah ah.. gue pergi dulu. Bye.." kata Lean sambil pergi meninggalkan bangku Ray dkk
Marvin menatap wajah Zalynda yang tertunduk
"Andre kenapa sih? PMS bukan?" Tanya Farris
"Nggak jelas." Kata Ghea
"Ray.. elo bener pacaran sama anak SMA?" Tanya Zalynda tiba-tiba
Ray menatap Zalynda lembut. Gadis itu segera menundukkan pandangannya menatap gelas minumannya
"Kenapa? Elo mau gue kenalin sama dia?" Tanya Ray
Zalynda tersenyum terpaksa sambil menggeleng
"Lupakan saja. Itu melanggar batas privasi." Kata Zalynda
"Yang dimaksud Andre itu pasti Ina." Kata Marvin sambil terkekeh
Zalynda menatap Marvin
"Adeknya Ray." Kata Marvin lagi
"Adek?" Tanya Zalynda agak keras. Gadis itu langsung menutup mulutnya. Ray tertawa melihat reaksi Zalynda
"Iya,adek gue. Entah apa maunya Andre Phoenix. Ketawain aja deh." Kata Ray
"Ooh.." Zalynda mendesis pelan. Sebersit senyum terbit di bibirnya. Ray melihat senyum itu dan ikut tersenyum
ga seru klo ga baca novel sebelumnya..
cerita ini sebenarnya sangat bagus
ayo bantu ramaikan
sedih tapi Yo pingin ketawa
mati aku 🤣🤣🤣
ternyata kisahnya sambung menyambung...
aku jadi fans mu sekarang Thor...
cerita mu keren keren...