Musim telah berganti dengan begitu cepat. Denting waktu membawa kita pada detik ini. Musim pertama telah usai meninggalkan bait-bait kenangan yang begitu indah.
Mereka telah bersama setelah melewati rintik sendu. Kini saatnya berbahagia. Namun adakah waktu yang tidak terbatas untuk merasa bahagia?
Bagaimana cinta akan menjawabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17_Di Toko Mainan
Sore harinya, Vano mengantar pangeran kecil kembali kerumah. Neva tidak ikut bersama mereka karena ada temannya yang berkunjung.
Neva jongkok agar dia sepadan dengan pengeran kecil. “Hati-hati ya, Sayang.” Neva mencium si kecil Arai berkali-kali.
Arai memeluk lehernya. “Taaayang, Tante.”
Neva tersenyum dan mengusap punggungnya, “Sayang pangeran kecil kita.” Neva melepaskan peluka. Ia menangkup kedua pipi keponakannya dan kembali menciumnya. “Salam buat Mommy sama Daddy ya.”
Arai melambai saat mobil Vano perlahan meninggalkan halaman.
“Hati-hati, Sayang.” Neva berseru sambil membalas lambaian tangan si kecil.
Sebelum mereka sampai, Vano lebih dulu mengajak Arai kesebuah toko mainan di pusat kota. Tepat saat mereka sampai, hujan turun begitu lebat. Vano segera mengambil payung dan menggendong Arai untuk Vano masuk kedalam.
“Kau mau apa, sayang?” ia menawari tapi Arai menggeleng. “robot kau mau?” ia menawari lagi tapi Arai masih menggeleng.
“Aku tudah memilki temuanya,” jawab si kecil.
“Oh ya?” kini Vano mengajaknya duduk disalah satu tempat duduk di toko itu. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya. Ia tahu ada mainan terbaru yang baru launcing hari ini di negara ini. Lima belas robot yang bisa dijadikan menjadi satu, bisa juga dijadikan berbagai macam bentuk. Jika kau pandai merakitnya, robot itu akan berbicara dan melakukan intruksi darimu.
“Kau sudah punya ini?” tanya Vano. Sikecil memperhatikan layar ponsel Vano dan Mata bulatnya semakin membulat. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, memperhatikan tanggal. Kemudian ia segera berdiri dari duduknya. Vano tersenyum lebar.
“Aku lupa jika hari ini adalah hari pertama mainan ini diluncurkan.”
“Ayo kita beli,” ajak Vano. Dia meraih tangan Arai dan segera melanjutkan ucapannya sebelum si kecil menolak. “hari ini, kau adalah rajaku yang manis. Jadi … robot keren adalah hadiahmu. Ok.”
Sikecil mengangguk. Kemudian mereka berjalan menuju tempat dimana mainan itu berada tapi mereka harus kecewa karena antrian begitu panjang. Sebenarnya Vano sudah memesannya sedari pagi jadi ia tidak khawatir jika mainan itu kehabisan.
“Bagaimana jika kita mencari mainan yang lain dulu?” Vano menawarinya tapi Arai seolah enggan. Ia diam ditempat sambil terus memegangi jari Vano. “Kita ambil nanti setelah antrian tidak begitu panjang.”
Arai mendongak menatap Vano. Itu sangat menggemaskan. Mata bulat jernihnya menatap Vano dengan ekspresi cemas.
“Bagaimana jika aku tidak kebagian?” ujar si kecil lugu. Genggaman tangannya semakin erat di jari Vano.
Vano jongkok di depannya. Memperhatikan wajah rupawan yang begitu imut. Awalnya ia ingin mengerjainya bilang jika mainan itu sudah habis. Tapi setelah menatap wajah lugu si kecil, ia menjadi tidak tega.
“Kau tenang saja. Mainan itu pasti kamu dapatkan.”
“Tapi kita datang terlambat, Paman.”
Vano mengusap layar ponselnya dan memperlihatnya struk pembayaran mainan itu. Hanya satu kedipan mata dan Arai paham.
“Yeyyyy.” Dia berseru dengan bahagia. Ia bahkan melompat-lompat sambil mengangkat kedua tangannya. “Terima kacih, Paman,” ucapnya tulus. Ia memeluk Vano.
“Sama-sama, Sayang,” jawab Vano. “Yuk, kita cari mainan lain. Sini ….” Vano menepuk pundaknya. Arai menggeleng pelan. Itu tidak sopan. Vano menepuk pundaknya lagi. “Naik kesini, agar kau lebih bisa melihat mainan yang kau inginkan.”
“Aku---”
“Tidak apa-apa. Sini, Paman yang memintamu.” Vano menyahut sebelum si kecil menolaknya. Entah bagaimana Leo dan Yuna mendidik anaknya. Hingga si kecil memiliki pribadi yang sopan dan tidak merepotkan orang lain. Ia bahkan bisa menahan apa yang ia inginkan dan tidak meminta apapun dari orang lain.
Vano mengangkat tubuh Arai lalu menempatkan di atas pundaknya.
“Yeyy, ayo kita mencari mainan,” seru Vano.
Si kecil mengangguk setuju. “Ayo ….” Jawabnya dengan bahagia. Vano membawanya berjalan diantara rak mainan. Dan tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka.
“Hai, kalian ada disini,” ujar Yuna dengan senyum bahagia kerena ia tidak menyangka bertemu putranya di toko mainan.
“Mommy,” Arai langsung berseru riang setelah tahu siapa yang meyapa.
“Dimana Neva?” tanya Yuna setelah ia memperhatikan sekitar dan tidak menemukan Neva ada bersama Vano dan Arai.
“Dia ada di rumah. Sedang ada tamu,” jawab Vano.
Yuna mengangguk pelan kemudian ia mendongak menatap putranya. “Sayang, kemari, turun yuk. Itu tidak sopan.” Dengan suara halus Yuna meminta Arai untuk turun dari pundak Vano.
“Tidak apa-apa. Aku yang menyuruhnya,” sahut Vano segera. Arai tersenyum disana. Tentu itu adalah keinginan pamannya.
“Dia sudah besar, Vano,” ucap Yuna merasa tidak enak.
“Dia ingin melihat tempat mainan ini dari atas,” jawab Vano. Namun kemudian dia menyadari satu hal. Rambut Yuna basah. “Kau kehujanan?” tanyanya.
“Hanya sedikit,” jawab Yuna. Dia kembali mendongak untuk menatap putranya. “Sayang, apa yang ingin kau beli?”
Arai diam. Dia memperhatikan bibir Yuna yang bergetar saat bertanya padanya.
“Paman, tolong turunkan aku,” pintanya pada Vano. Vano segera menurunkan si kecil dengan hati-hati. Arai langsung membuka kancing jaketnya lalu membukanya.
“Momm.” tangannya mengulur untuk memberikan jaket di tangannya. Yuna tersenyum dan mengusap rambut pangeran kecilnya. Dia tahu maksud Arai. Putranya itu memiliki kepekaan yang eksra mirip Daddynya. Dia bahkan bisa membaca bahasa tubuh seseorang bahkan dari bayangannya saja. Sesuatu yang membuat Yuna begitu
penasaran kenapa dulu Leo selalu tahu saat ia mengomel dalam hati.
Yuna mengambil jaket dari tangan Arai lalu memakaikannya kembali ketubuh putra tampannya itu.
“Cuaca saat ini sangat dingin,” ujar Yuna. “jangan sampai kedinginan, okey.” Lanjut Yuna.
Arai mengangguk patuh. Ia ingin Mommynya tidak kedinginan tapi saat ia membuka jaketnya ternyata ia begitu kedinginan. Tidak ada pilihan lain selain meneyetujui untuk tetap memakai jaketnya kembali. Kemudian dengan pelan, kedua tangan mungilnya menyentuh pipi Yuna. Ia berusaha untuk membuat Yuna sedikit hangat.
Vano tersenyum melihat betapa romantisnya pangeran kecil ini pada Yuna. Inilah putra kecil yang diajarkan memiliki cinta yang besar dan tulus pada wanita yang mereka sebut ibu. Menyayangi dan memulyakan Ibu.
Vano kemudian membuka kancing jaket yang ia kenakan.
“Pakai jaket milikku,” ujarnya.
Yuna menatapnya.
“Tidak perlu, Vano. Terima kasih,” jawab Yuna.
“Leo pasti akan marah jika mengetahui kau sampai kedinginan,”
“Dan dia akan semakin marah jika tahu aku memakai jaket milikmu,”
Vano terkekeh. “Situasinya beda, Yuna. Apa Leo akan tetap membiarkanmu kedinginan dari pada memakai jaket milikku. Setelah ini kau bisa mandi kembang tujuh rupa jika kau takut terkena panu,” ujar Vano. Arai langsung tertawa mendengar kalimat terakhir Vano.
“Atau kau ….”
“Atau apa? Sejak kapan Vano panuan.”
“Nih,” Vano mengulurkan tangan memberikan jaket miliknya.
“Terima kasih tapi tidak perlu,”
“Keras kepala,” ucap Vano. Dan Yuna bersin setelah itu. Arai langsung menarik jaket di tangan Vano.
“Momm, pakai ini agar Momm hangat. Aku yang akan tanggung jawab jika ada yang marah cetelah ini. Kita keluarga kenapa harus marah.”
“Uhh manisnya.” Vano mengacak-acak rambut sikecil.
____
Catatan Penulis.
JANGAN ADA YANG NYONTEK ATAU PLAGIAT TULISAN INI. DARI AWAL SAMPAI AKHIR. ATAU AKAN KUCABIK-CABIK HINGGA HANCUR.
Jangan lupa like komentar ya kawan tersayang. Makasih temuanya ... ilupyufull.
Bersambuuung ...