INVESTASI CINTA YANG SALAH
Oleh: AwandaMw
"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."
Sinopsis:
Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.
Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.
Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
***Bab 17 Papan catur Persidangan
🌸🌸🌸🌸
Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan berdiri megah di bawah terik matahari pagi. Puluhan awak media telah memadati pelataran sejak pukul delapan. Kamera, mikrofon, dan kendaraan siaran langsung berjajar rapi, siap merekam jalannya persidangan kasus penggelapan dana korporasi terbesar yang melibatkan mantan eksekutif media papan atas.
Di dalam ruang sidang utama, udara terasa dingin menekan. Bangku penonton dipenuhi oleh wartawan, pengamat hukum, serta jajaran staf perbankan dan media.
Reno duduk di kursi terdakwa dengan wajah tirus, pucat, dan mata yang menatap kosong ke arah lantai. Kemeja putih polos yang dikenakannya tampak longgar di tubuhnya yang kian mengurus setelah dua minggu mendekam di sel tahanan. Di sebelahnya, Sella duduk dengan menunduk rapat, menyembunyikan wajahnya dari jepretan kamera.
Di meja penasihat hukum pelapor, Nadia duduk dengan sangat tenang. Ia mengenakan setelan jas wanita berwarna hitam keabuan yang terpotong rapi, dipadu dengan kemeja sutra putih di bagian dalam. Di sampingnya, Pak Hendra dan tim hukum senior Cakrawala Capital sibuk merapikan tumpukan berkas bukti di meja mereka.
"Hadirin dimohon berdiri. Majelis Hakim memasuki ruang sidang," seru panitera, mengalihkan seluruh perhatian.
Tiga hakim berjubah hitam melangkah masuk, menduduki kursi majelis di bagian depan. Hakim Ketua—seorang pria paruh baya dengan tatapan mata yang tajam dan berwibawa—mengetukkan palu sidang tiga kali.
TOK. TOK. TOK.
"Sidang perkara pidana penggelapan dalam jabatan atas nama terdakwa Reno Pratama dan Sella Anindya resmi dibuka dan terbuka untuk umum," tegas Hakim Ketua.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) langsung berdiri, membacakan lembar dakwaan tebal yang merinci setiap tindakan penggelapan yang dilakukan Reno dan Sella. Angka demi angka yang dibacakan, mulai dari pembelian perhiasan ratusan juta hingga pengalihan kas operasional perusahaannya, bergema di seluruh sudut ruangan.
"Atas tindakan tersebut, Jaksa Penuntut Umum menjerat Terdakwa I Reno Pratama dan Terdakwa II Sella Anindya dengan Pasal 374 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang Penggelapan dalam Jabatan secara Bersama-sama," pangkas JPU tegas.
Hakim Ketua menatap Pengacara Lukman yang duduk di meja penasihat hukum terdakwa. "Apakah Penasihat Hukum Terdakwa akan mengajukan nota keberatan atau eksepsi?"
Pengacara Lukman berdiri, membungkuk sopan ke arah majelis hakim. "Terima kasih, Yang Mulia. Kami mengajukan eksepsi atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum. Kami menilai ada kekeliruan pembuktian aset, karena Terdakwa I Reno Pratama merupakan Co-Founder yang membangun Apex Media dari nol, sehingga penggunaan dana korporasi merupakan bagian dari kesepakatan internal rumah tangga yang belum terpisah."
Mendengar argumen tersebut, Pak Hendra langsung berdiri mengajukan tanggapan dengan izin Hakim Ketua.
"Izin menanggapi, Yang Mulia," ujar Pak Hendra tenang seraya menyerahkan sebuah dokumen tambahan kepada panitera untuk diteruskan ke meja hakim.
"Argumentasi Penasihat Hukum Terdakwa sangat keliru dan mengabaikan hukum perseroan. Apex Media bukanlah aset pribadi rumah tangga, melainkan perseroan terbatas di mana PT Cakrawala Capital memegang saham mayoritas sebesar enam puluh persen secara sah sejak awal pendirian. Semua dana yang ditransfer oleh Nyonya Nadia Kirana disalurkan atas nama institusi Cakrawala Capital, bukan atas nama pribadi Terdakwa I."
Pak Hendra kemudian menyodorkan bukti transfer berkala dan akta pendirian yang sudah disahkan oleh Notaris dan Kementerian Hukum dan HAM.
Hakim Ketua memeriksa berkas tersebut dengan saksama melalui kacamata bacanya, lalu mengangguk-angguk pelan.
"Eksepsi Penasihat Hukum Terdakwa ditolak," tegas Hakim Ketua tanpa ragu. "Persidangan dilanjutkan ke agenda pembuktian dan pemeriksaan saksi."
Reno menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Argumen hukum yang disiapkannya bersama Pengacara Lukman patah dalam hitungan menit di hadapan bukti-bukti otentik yang dihadirkan tim hukum Nadia.
Hakim Ketua kemudian beralih menatap Nadia. "Kepada Pihak Pelapor, Nyonya Nadia Kirana, disilakan memberikan kesaksian di depan persidangan."
Nadia berdiri dengan anggun, melangkah menuju kursi saksi di tengah ruang sidang. Sikap tubuhnya yang tegap dan gesturnya yang tenang menarik decak kagum dari beberapa pengamat hukum di bangku penonton.
Setelah mengucapkan sumpah di bawah kitab suci, Nadia menatap Majelis Hakim dengan pandangan mata yang jernih.
"Nyonya Nadia Kirana," panggil Hakim Ketua. "Bisa Anda jelaskan posisi dan peran Anda dalam kepemilikan dana yang dialihkan oleh Terdakwa I?"
"Terima kasih, Yang Mulia," jawab Nadia dengan suara merdu namun sangat jelas memecah keheningan. "Lima tahun lalu, saya menyetorkan modal awal sebesar sepuluh miliar rupiah melalui PT Cakrawala Capital untuk mendirikan Apex Media. Saya memberikan kepercayaan penuh kepada Terdakwa I selaku Direktur Utama untuk mengelola operasional harian, tanpa saya campuri."
Nadia melirik sekilas ke arah Reno yang menunduk rapat.
"Namun, dalam enam bulan terakhir," lanjut Nadia, "terjadi penyimpangan kas yang sistematis. Terdakwa I dan Terdakwa II menyalahgunakan kewenangan mereka untuk mencairkan kas perusahaan demi kepentingan pribadi, tanpa persetujuan RUPS dan tanpa melalui prosedur akuntansi yang sah."
"Apakah ada upaya dari Terdakwa I untuk mengembalikan dana tersebut sebelum proses hukum ini berjalan?" tanya Hakim Anggota.
Nadia menggelengkan kepala pelan. "Tidak ada, Yang Mulia. Bahkan saat ditegur mengenai pengeluaran yang tidak wajar tersebut, Terdakwa I secara tegas menyatakan di depan publik bahwa seluruh dana perusahaan adalah milik pribadinya dan mengabaikan eksistensi PT Cakrawala Capital."
Suasana ruang sidang makin menyudutkan posisi Reno. Setiap pernyataan yang keluar dari mulut Nadia tersusun sangat sistematis, diperkuat dengan tanggal, nominal, dan lampiran dokumen bukti yang presisi.
Di meja terdakwa, Sella yang menyadari bahwa pembuktian ini sudah tidak bisa dilawan lagi, mendadak mengangkat tangannya seraya terisak.
"Yang Mulia! Saya mohon izin bicara!" tangis Sella memecah formalitas sidang.
Hakim Ketua menatap Sella. "Silakan, Terdakwa II."
Sella berdiri seraya menunjuk ke arah Reno dengan pandangan penuh kebencian. "Saya dimanfaatkan oleh Reno Pratama, Yang Mulia! Seluruh transaksi barang mewah dan penggunaan kartu kredit korporat dilakukan atas perintah dan persetujuan Reno! Dia membohongi saya dengan mengaku sebagai pemilik tunggal perusahaannya!"
Reno menoleh ke arah Sella dengan mata membelalak murka. "Sella! Kamu jangan asal bicara ya! Kamu yang minta perhiasan itu setiap hari!"
"Tapi kamu yang menggesek kartunya, Reno!" raung Sella histeris di depan Majelis Hakim. "Kamu yang bilang ke aku kalau uang perusahaan itu nggak bakal ada yang mengaudit karena istri kamu cuma wanita bodoh!"
TOK! TOK! TOK!
Hakim Ketua memukul palunya dengan keras ke papan kayu. "Harap tenang! Terdakwa harap menjaga ketertiban di ruang sidang!"
Pertengkaran sengit antara Reno dan Sella di depan persidangan menjadi tontonan yang sangat memalukan. Wartawan dengan cepat mencatat setiap detail pertengkaran tersebut untuk dijadikan bahan berita utama sore ini.
Nadia menatap pemandangan di depannya tanpa kepuasan yang berlebihan. Di matanya, pertengkaran Reno dan Sella hanyalah drama menyedihkan dari dua manusia yang hancur oleh kesombongan mereka sendiri.
Hakim Ketua mengetukkan palunya satu kali lagi untuk menutup sesi pemeriksaan hari ini.
"Sidang ditunda hingga minggu depan dengan agenda pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum," putus Hakim Ketua.
Saat para hakim meninggalkan ruangan, petugas kepolisian segera menghampiri Reno dan Sella untuk memasangkan kembali borgol di tangan mereka.
Reno yang berjalan melewati meja saksi, sempat menghentikan langkahnya di dekat Nadia. Dengan mata yang memerah dan tubuh gemetar, Reno menatap wanita yang dulu diabaikannya itu.
"Nadia..." bisik Reno dengan suara parau penuh keputusasaan. "Kamu puas melihat aku hancur seperti ini?"
Nadia berdiri dari kursi saksi, merapikan blazernya dengan gerakan yang sangat halus. Ia menatap Reno dengan pandangan dingin yang menghujat.
"Ini bukan soal kepuasan saya, Reno," jawab Nadia pelan, suaranya hanya terdengar oleh Reno. "Ini adalah hasil dari setiap benih kesombongan dan pengkhianatan yang kamu tanam sendiri."
Nadia membalikkan badannya, melangkah keluar dari ruang sidang diiringi oleh tim hukumnya.
Di luar gedung pengadilan, Bimo sudah menunggu seraya menyodorkan ponselnya kepada Nadia.
"Nadia, Aris Wijaya dari Vanguard Group baru saja melayangkan pesan darurat," ujar Bimo cepat. "Obligasi jatuh tempo mereka tidak sanggup dilunasi hari ini. Aris memohon untuk mengadakan pertemuan tertutup dengan kamu sore ini."
Nadia menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman penguasa yang siap melangkah ke papan catur berikutnya.
"Jadwalkan pertemuan itu, Bimo," perintah Nadia dingin. "Mari kita selesaikan musuh kita satu per satu."
🌸🌸🌸🌸
Wanita kalo sudah kecewa sangat mengerikan yaaa🥶