sebuah kisah dua orang asing yang ditakdirkan menjadi keluarga. tanpa tau bahwa pertemuan mereka akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zean amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 17
Malam telah tiba..
Di ruang makan, beberapa hidangan telah tersaji di atas meja. Aroma masakan yang masih hangat memenuhi ruangan itu. Clara datang dengan membawa beberapa hidangan penutup. Disana, sudah ada Adrian yang duduk di ujung meja.
mereka duduk dengan tenang sambil menunggu putranya turun.
tidak lama, terdengar suara langkah dari tangga. Gavin turun dengan hp ditangannya. sesampainya, dia langsung menggeser kursi dan duduk. tidak ada sapaan apapun, dia langsung mengambil beberapa hidangan.
"Gavin."
Tangan Gavin berhenti sejenak.
"Apa?" jawabnya singkat, masih menatap makanannya.
"Kami duduk disini menunggumu. setidaknya sapa dulu kami saat datang. Jangan langsung duduk dan mengambil makanan begitu saja, Gavin, " ucap Adrian.
ting!
Gavin meletakkan garpunya. dan menoleh ke arah papanya.
"hai" dengan wajah malas.
Adrian ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi Clara langsung mencegahnya.
mereka pun akhirnya makan malam dengan tenang.
"jadi, apa rencanamu? " tanya Adrian memulai percakapan.
Gavin menoleh dan mengangkat alis kirinya.
"Aku bertanya tentang ujianmu. kau sudah mengusir guru terbaik yang papa carikan. jadi apa selanjutnya? "
"ga ada. " jawab Gavin singkat.
huhh.. hela nafas lelah Adrian.
"Clara, bagaimana dengan putramu? " tanya Adrian tiba-tiba.
Damn! suasana nya kembali berubah.
Gavin yang menyantap makanannya degan tenang, kini berhenti sejenak mendengar pertanyaan papanya.
'ah dia lupa dia punya saudara tiri.
"Ah dia, dia baik-baik saja. dia fokus belajar sekarang. sebentar lagi ujian nasional. " jawab Clara.
Gavin tidak peduli, dia kembali melanjutkan acara makannya.
srett!!
tidak, saat... Clara kemudian mengulurkan beberapa buku ke hadapan Gavin.
Gavin yang melihat itu, mendongak dan mengerutkan dahi.
"Gavin,.. ini, buku catatan miliknya. catatan yang dia gunakan untuk belajar di ujian nasional nanti. mama meminjam darinya. mungkin, itu bisa membantu mu dalam belajar. " jelas Clara.
Gavin menatap buku catatan itu dengan wajah tidak suka.
"huh" desisnya.
dia kemudian bertepuk tangan pelan,..
"lihat. wanita rendahan ini ingin mengatur tuan muda disini. " ucap Gavin kejam.
"GAVIN,. jaga ucapanmu. " bentak Adrian. dia muak dengan tingkah putranya ini.
Gavin hanya menatap papanya sinis. kemudian
Kemudian, ia kembali menjawab dengan nada ketus.
"Belajar itu urusanku pa. Nggak ada yang boleh ikut campur."
Setelah mengatakan itu, Gavin berdiri dari kursinya. Ia hendak meninggalkan meja makan, tetapi suara Adrian menghentikan langkahnya.
"Kalau kamu pergi tanpa membawa buku itu, mulai besok HP dan kartumu akan Ayah bekukan."
Gavin langsung menoleh. Tatapannya semakin tajam.
"mengancamku? "
Gavin ingin membiarkan nya,.. tapi, tidak. wanita murahan itu pasti akan tertawa melihatnya tidak punya apa-apa nanti.
Beberapa detik Gavin hanya terdiam, seolah menahan kesal. Akhirnya, dengan wajah masam, ia kembali ke meja makan dan mengambil buku catatan tersebut dengan kasar.
"Puas?" ucapnya ketus pada Clara. setelah itu, dia pergi ke kamarnya.
hening sesaat..
Clara memperhatikan beberapa pelayan yang membersihkan lantai yang tertumpah makanan gara-gara Gavin tadi.
"Kamu menemuinya? " tanya Adrian memecah keheningan..
ah,. "iya mas,. aku menemuinya tadi siang." ucap Clara.
"kenapa tidak mengajakku? aku ingin melihat nya secara langsung. " lanjut Adrian.
Clara terkejut mendengar nya...
"aku penasaran, seperti apa dia sekarang. Kamu hanya menunjukkan foto kecilnya. pasti sekarang, dia menjadi anak yang sangat tampan." ucap Adrian.
Clara kemudian tersenyum mendengar hal itu.
"iya mas. nanti kalau ada kesempatan kita pergi bersamamu menemuinya. " jawab Clara lembut.
.....