Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Goyah
Alea memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Untuk beberapa saat, ia masih duduk diam di dalam mobil.
Tatapannya kosong menatap lurus ke depan, sementara pikirannya dipenuhi oleh satu keputusan yang baru saja ia buat.
Mulai hari ini, ia akan menjaga jarak dengan Agam. Ia tidak akan lagi menunggu pesan dari Agam.
Tidak akan lagi sengaja mencari alasan untuk menghubungi pria itu. Dan yang paling penting, ia tidak boleh lagi membiarkan dirinya merasa terlalu nyaman dengan perhatian yang diberikan pria itu.
“Aku harus melakukannya. Ini yang terbaik.” gumamnya kepada dirinya sendiri.
Ia harus mulai menerima kenyataan. Agam yang sekarang bukan Agam yang dulu. Pria itu sudah tidak sendiri lagi.
Ia sudah memiliki seseorang.
Seseorang yang mungkin jauh lebih pantas berdiri di sampingnya dibandingkan dirinya.
Alea menghembuskan nafas panjang sebelum keluar dari dalam mobil. Alea mengambil tasnya, lalu membuka pintu mobil itu.
Namun, baru beberapa langkah ia berjalan menuju gedung kantor, ponselnya kembali bergetar di dalam tas.
Langkahnya spontan terhenti. Ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap pesan itu kembali berasal dari Agam.
Namun, Alea segera menepis pikiran tersebut. Ia tidak boleh berharap lagi kepada pria itu.
Dengan langkah yang dipaksakan tetap tenang, Alea melanjutkan perjalanan menuju lobi kantor.
Pagi itu, Alea berusaha menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan.
Ia memeriksa beberapa dokumen, menghadiri rapat, lalu kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan laporan yang sempat tertunda.
Biasanya, di sela-sela kesibukannya, ponselnya akan selalu berada di dekat tangannya.
Sesekali ia akan memeriksa layar.
Menunggu pesan dari Agam.
Namun hari ini berbeda. Ponsel itu sengaja ia letakkan jauh dari jangkauan.
Bahkan ketika layar ponselnya beberapa kali menyala karena notifikasi masuk, Alea tidak langsung memeriksanya.
Ia mencoba fokus kepada pekerjaan saja. Tetapi semakin ia berusaha tidak memikirkannya, justru pikirannya semakin tertuju kepada pria itu.
Tentang pesan-pesan sederhana yang selama seminggu terakhir ini ia terima hampir setiap hari.
Tentang suara Agam ketika berbicara dengannya. Tentang cara pria itu memberikan perhatian.
Kini semuanya terasa berbeda. Sekarang Alea tahu, mungkin semua itu hanyalah bentuk perhatian dari seseorang teman.
Bukan karena Agam memiliki perasaan khusus kepadanya. Pikiran itu seharusnya membuat Alea lega.
Namun entah kenapa, justru terasa menyakitkan. Hingga menimbulkan rasa sesak.
Tok…
Tok…
Tok…
Ketukan di pintu membuat Alea tersentak, lalu terbangun dari lamunannya.
“Masuk.” serunya sambil kembali mencoba fokus pada pekerjaannya.
Tidak lama, pintu pun terbuka. Jihan muncul dengan membawa beberapa berkas di tangannya.
“Lea, ini dokumen yang tadi kamu minta.”
“Taruh saja disana.” jawab Alea tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop dan juga berkas yang ada di tangannya.
Jihan meletakkannya di atas meja, lalu menatap sahabatnya itu selama beberapa detik.
“Alea.”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
Refleks, Alea langsung mengangkat wajah saat Jihan bertanya.
“Kenapa? Memangnya aku kenapa?”
“Hari ini, kamu aneh banget deh. Tidak seperti biasanya,”
“Aneh bagaimana?”
“Biasanya kamu paling tidak bisa lepas dari ponsel.”
Jihan menunjuk ponsel yang sejak tadi tergeletak jauh di sudut meja.
“Hari ini malah seperti sengaja menghindarinya.”
Alea terdiam. Jihan mempersempit pandangan.
“Jangan bilang kamu bertengkar sama Agam?”
“Enggak. Kenapa juga aku harus bertengkar dengan Kak Agam,”
“Lalu?”
“Lalu apa?”
“Iya… tumben saja kamu berjarak dengan benda itu,” lanjut Jihan sambil menunjuk ke arah ponsel Alea.
“Enggak ada apa-apa. Aku cuma mau fokus selesaikan berkas-berkas ini.”
Jihan tidak langsung percaya.
Ia terlalu mengenal Alea, sampai-sampai Jihan tahu kapan Alea berbohong dan kapan Alea berkata jujur.
Namun sebelum Jihan sempat bertanya lagi, Alea sudah lebih dulu berkata,
“Aku cuma sedang banyak pekerjaan, Jihan.”
Jihan masih menatapnya dengan tatapan ragu.
“Yakin?”
“Yakin.” jawab Alea mengangguk.
Jihan akhirnya menghela nafas panjang. Ia tahu kalau Alea sedang berbohong, namun, mungkin ini bukan waktunya mendesak Alea untuk menceritakan apa yang terjadi dengan wanita itu.
“Baiklah.”
Ia hendak berbalik, tetapi langkahnya terhenti ketika ponsel Alea kembali menyala.
Keduanya sama-sama menoleh.
Sebuah notifikasi pesan muncul di layar.
Agam. Nama itu terlihat jelas sebagai pengirim pesan itu. Jihan kembali menatap Alea.
Sementara Alea hanya diam. Dadanya kembali berdebar. Ia harus berusaha menahan diri karena ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjaga jarak dengan pengirim pesan tersebut.
“Katanya gak ada apa-apa?” ucap Jihan sambil mengangkat alisnya.
“Memang gak ada.” jawab Alea segera mengambil ponselnya.
Sementara itu, Jihan masih menatap Alea dengan tatapan penuh dengan tanya.
“Jihan.”
“Kenapa? Aku gak bilang apa-apa. Aku diam loh.” jawab Jihan tersenyum kecil sebelum akhirnya keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, Alea kembali menatap layar ponselnya. Pesan dari Agam masih belum dia buka.
Ada keraguan untuk membuka pesan itu. Namun pada akhirnya, Alea menyerah, dan membuka pesan itu.
[Agam: “Sudah makan siang belum? Mau makan siang di mana?”]
Alea memejamkan mata. Lagi dan lagi. Pria itu berhasil membuat hatinya kacau.
[Alea: “Belum. Di kantor. Ini baru mau ke kantin kantor.”]
Tidak lama kemudian, balasan dari Agam pun masuk.
[Agam: “Dikantor? Dengan siapa? Sendirian?”]
Alea terdiam. Ada sesuatu dari pertanyaan itu yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Namun ia segera menyadarkan dirinya sendiri. Agar tidak meng salah artikan lagi perhatian Agam.
[Alea: “Iya. Sendirian.”]
Beberapa detik berlalu, tapi masih belum ada balasan dari Agam. Namun, saat Alea akan menutup ponselnya, layar ponsel itu kembali menyala. Menampilkan balasan dari Agam.
[Agam: “Tunggu.”]
Alea mengerutkan kening saat membaca isi pesan itu dari notifikasinya.
Tunggu? Maksudnya apa?
Belum sempat ia mengetik pertanyaan, sebuah pesan kembali masuk.
[Agam: “Jangan makan dulu. Aku kesana, sekarang.”]
Deg.
Seketika, tubuh Alea langsung membeku dengan mata yang membulat sempurna.
Jantung Alea berdegup semakin keras. Perasaan gugup langsung menyelimuti. Alea bahkan sampai menggigit bibir bawahnya demi menekan rasa gugupnya.
Tidak seharusnya tidak boleh seperti ini. Seharusnya ia menolak. Seharusnya ia mencegah Agam untuk datang.
Namun, lidahnya kenapa tiba-tiba terasa kelu dan tidak bisa mengatakan kata “jangan”.
Bukankah ia baru saja berjanji untuk menjaga jarak? Namun, baru saja Alea akan mengetik balasan, Agam kembali mengirimkan pesan.
[Agam: “Tunggu aku. Sepuluh menit lagi aku sampai.”]
Alea terdiam. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Ingin sekali menghindari pria itu, namun, tampaknya. Hati dan otak Alea sedang menolak untuk bekerja sama.
Sampai akhirnya, Alea pun tidak membalas lagi dan membiarkan Agam mendatangi dirinya.