Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BLACK DEMON
Di sebuah ruangan yang diselimuti keheningan.
Seorang pria duduk membelakangi jendela besar dengan kedua tangan bertumpu di sandaran kursi. Wajahnya tertutup bayangan, membuat sosoknya sulit dikenali.
Di hadapannya, beberapa pria berbaju hitam berdiri dengan kepala tertunduk.
"King..."
"Kami gagal."
Tak ada jawaban.
"Maafkan kami. Kami tidak menyangka akan ada dua gadis yang ikut campur."
Pria itu perlahan mengangkat dagunya, lalu berkata, "Sekelompok orang..."
"...tidak mampu mengalahkan dua gadis SMA." Nada suaranya tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat anak buahnya bergidik.
"Sungguh memalukan."
Tak seorang pun berani mengangkat kepala.
"Pergi. Sebelum kesabaranku habis."
"Baik, Tuan."
Mereka buru-buru meninggalkan ruangan, menyisakan pria misterius itu seorang diri.
Ia memandang ke arah jendela. Tatapannya tajam.
'Sepertinya kali ini, gue harus turun tangan.'
...****************...
Sementara itu...
Adrian kini telah berada di sebuah markas yang tersembunyi di pinggiran kota. Dari luar, bangunan itu tampak seperti gudang tua biasa. Siapa sangka, di balik dinding-dinding kusamnya tersimpan berbagai fasilitas modern, termasuk sebuah ruang medis khusus.
Pria tampan itu duduk tenang di atas ranjang pemeriksaan, sementara seorang gadis cantik seusianya dengan telaten mengobati luka di pelipisnya.
"Awss..." ringis Adrian.
"Diam," ucap gadis itu dingin.
"Pelan-pelan Ri," pinta Adrian.
"Apasih? Dari tadi juga udah pelan," ucap gadis itu sedikit kesal, namun tangannya bergerak semakin pelan.
Di sudut ruang medis, Gavin dan Ezra duduk santai di sofa sambil menghabiskan sebungkus keripik singkong.
Kriuk...
Kriuk...
Keduanya menatap ke arah yang sama sejak tadi.
Gavin tersenyum tipis, "Andai gue punya pacar kayak Ariana."
Ezra yang sedang mengunyah keripik langsung menoleh.
"Andaikan saja," ucap Ezra yang langsung diangguki oleh Gavin.
"Soalnya mustahil," ucap Ezra lagi, membuat Gavin menoleh ke arahnya dan mengernyit.
"Kenapa mustahil?" tanyanya.
Ezra mengangkat bahu santai. "Karena Ariana itu adik kembar Adrian. Kalau lo pacaran sama dia..."
"...siap-siap dihajar dulu sama kakaknya. Apalagi Ariana itu cantik, kalau di pasangin sama lo jadi kayak kurang serasi gitu."
"Hah?! Maksudnya apa?!" Gavin langsung melempar bantal sofa ke arah Ezra.
Ezra refleks menangkapnya. "Oh, mau berantem?"
"Ayo kalo mau berantem mah!" seru Gavin, lalu meletakkan bungkusan keripik singkong nya di atas meja.
Bruk!
Keduanya langsung bergulat di atas lantai seperti dua petinju amatir.
"Rasakan jurus baru gue!" teriak Gavin dramatis.
"Jurus apaan? Itu mah nyakar!" ledek Ezra.
"Heh! Lepas!"
"Enggak!"
Saat keduanya masih saling mengunci kepala satu sama lain...
"AARRGGHHH!!"
Suara teriakan Zion tiba-tiba menggema dari ruangan sebelah. Gavin dan Ezra sontak menghentikan aksi mereka. Mereka saling berpandangan.
"Lah..."
"Itu suara Zion, kan?" tanya Ezra.
Tanpa berpikir panjang, keduanya langsung bangkit dan berlari secepat mungkin menuju ruangan sebelah dengan wajah panik.
"Jangan-jangan dia kenapa-kenapa!" seru Gavin panik.
Brak!
Pintu ruang medis langsung terbuka setelah ditendang secara bersamaan oleh mereka berdua.
Namun...
Pemandangan di depan mereka membuat keduanya terdiam.
Zion tengah meringis di atas ranjang pemeriksaan, sementara seorang perawat wanita dengan santainya mengganti perban di lengannya.
"Aduh! Pelan dikit dong, Sus!"
"Kalau sakit ya ditahan, Mas."
Perawat itu menjawab datar tanpa menghentikan pekerjaannya. Gavin dan Ezra saling berpandangan.
"..."
"..."
"Kirain sekarat," celetuk Gavin.
Zion langsung mendelik. "Sini gantian kalo berani!"
Mendengar itu, Gavin dan Ezra kompak berbalik arah.
"Nggak jadi."
"Kita lanjut makan keripik aja."
"WOI!! ANAK DAJJAL!!"
Tanpa mempedulikan teriak tidak jelas dari Zion, Ezra dan Gavin kembali ke ruang medis sambil tertawa tanpa henti.
"Hahaha... Astaga..."
"Ekspresi Zion barusan... Hahaha!"
Keduanya bahkan harus berpegangan pada kusen pintu karena terlalu asyik tertawa.
Adrian mengernyit heran. "Kenapa?"
Ariana yang baru saja merapikan kotak P3K ikut menoleh.
"Gagal waras?" tanya Ariana.
Ezra berusaha menghentikan tawanya. "Bukan..."
"Tadi kami kira Zion kenapa-kenapa."
Gavin menyambung sambil masih terkekeh.
"Pas kami masuk... ternyata dia cuma teriak gara-gara dipakein perban."
"Mana teriaknya kayak mau mati lagi."
"Hahaha!"
Ariana spontan menggeleng pelan.
Drttt... drttt....
Ponsel Ariana tiba-tiba bergetar. Ia melirik nama yang muncul di layar.
Bibi Karen.
"Gue angkat telepon dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Ariana melangkah keluar dari ruang medis, meninggalkan Adrian bersama Gavin dan Ezra yang masih sesekali tertawa mengingat ekspresi Zion beberapa saat yang lalu.
Setelah Ariana keluar dari ruangan, Adrian langsung berubah serius.
"Zra, cari informasi tentang dua cewek semalam."
"Yang mana?" tanya Ezra.
"Yang nolongin kalian berdua semalam?" tanya Gavin.
"Hmm."
...****************...
Sementara itu, di rumah Viana...
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar yang masih tertutup rapat. Suasana rumah tampak lengang. Sesekali hanya terdengar suara kendaraan yang melintas dari luar.
Di atas ranjang, Viana masih bergelung di dalam selimut. Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas panjang sebelum meraih ponsel yang tergeletak di nakas.
"Lama juga tidur gue..." gumamnya pelan sambil melihat jam yang sudah menunjukkan hampir siang.
Tanpa membuang waktu, Viana langsung mencari nama Aura dan Aleta di daftar kontak, lalu menekan tombol panggil. Tak lama kemudian, panggilan video tersambung.
Di layar, tampak Aura dan Aleta duduk bersebelahan, jelas keduanya masih berada di apartemen milik Aleta.
"Kenapa baru telepon sekarang? Dari mana aja sih?" tanya Aura.
"Barusan dari alam mimpi, hehe..." Viana terkekeh kecil.
Aura langsung menggeleng. "Wah, parah. Gara-gara lo, kita bertiga jadi nggak sekolah."
"Gapapa lah, sekali-kali." Viana lalu mengubah posisi duduknya. "Eh iya... kalian masih ingat Arwan?"
Aura mengangguk. "Ingat... Kenapa?"
"Tadi gue iseng kepoin kasus dia."
"Lalu?"
"Ternyata dia benar-benar divonis hukuman mati."
"Dan tau nggak kenapa dia bisa mencium aroma orang yang habis masuk ke Sungai Terlarang?"
"Emang ada baunya?" Aura mengernyit.
Viana mengangguk pelan sebelum melanjutkan, "Gue juga awalnya heran. Tapi ternyata Sungai Terlarang udah lama tercemar berbagai bahan kimia. Bau khasnya nempel di tubuh orang yang masuk ke sana dan susah hilang."
"Ooh..." Aura dan Aleta hanya mengangguk pelan.
"Dan yang lebih mengejutkan lagi..." lanjut Viana. "Katanya, Arwan sendiri yang selama bertahun-tahun sengaja membuang berbagai bahan kimia ke sungai itu."
Aura membelalakkan mata.
"Jadi... dia sengaja bikin sungai itu punya bau khas?"
"Kurang lebih begitu." Viana mengangkat bahu. "Makanya dia bisa tahu kalau ada orang asing yang masuk ke wilayahnya hanya dari aromanya."
"Masuk akal," ucap Aleta.
"Seram Let..." Aura bergidik ngeri.
...****************...
Di sudut ruangan, Ezra duduk di depan sebuah laptop dengan beberapa tab pencarian yang terbuka bersamaan. Sesekali ia mengetik nama, menghapusnya lagi, lalu mencoba kata kunci yang berbeda.
Ezra mencoba mencari berbagai informasi. Mulai dari nama, foto, media sosial, data sekolah. Namun...
Sama sekali tidak ada petunjuk yang mengarah pada dua gadis misterius itu.
"Gila."
"Mereka kayak hantu."
Sementara itu...
Kruk...
Kruk...
Gavin justru duduk santai di sofa sambil menikmati keripik singkong.
Sebungkus habis.
Disusul bungkus kedua.
Lalu ketiga.
Hingga tanpa sadar, sudah hampir satu jam berlalu. Dan Gavin masih betah duduk di tempat yang sama sambil menonton Ezra.
Ezra menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Huft... "
"Capek." Ia memijat jemarinya yang mulai pegal akibat terus mengetik.
"Vin," panggilnya.
"Yaa?"
"Bantuin napa. Ini jari-jemari gue udah letih banget."
Gavin yang masih asyik mengunyah hanya mengangguk pelan. "Sama. Jari-jari gue juga."
Ezra menoleh datar. "Letih apanya? Letih makan?"
"Lo udah ngabisin sepuluh bungkus keripik, Vin... Astagaaa..."
Gavin menghentikan kunyahannya. Ia menatap tumpukan bungkus kosong di meja lalu menghela napas panjang.
"Hadehhh..."
"Iya deh, iya deh."
Gavin akhirnya meletakkan bungkus keripik terakhir, lalu menarik kursi di samping Ezra.
"Geser. Biar mas Gavin bantu."
"Dihhh."
Keduanya kembali menelusuri berbagai informasi. Namun, hasilnya tetap nihil.
Ezra memejamkan mata sejenak. "Nggak ada."
"Aneh." Gavin ikut menyandarkan tubuhnya.
"Kalian udah habisin waktu berjam-jam tanpa hasil. Serius begini cara anggota inti Black Demon kerja?" cibir Zion yang sejak tadi diam memperhatikan keduanya.
Sementara Adrian yang berada di sampingnya, menatap tajam keduanya.
"Dri..." gumam Ezra.
"Kita nyerah Dri. Ini terlalu susah buat kita, sumpah," ucap Gavin.
"Hmm. Biar Zion yang cari tahu."
"Loh kok gue, Dri?"
Tanpa menjawab pertanyaan Zion, Adrian langsung meninggalkan ketiganya begitu saja tanpa pamit.
"Pffttt..." Gavin menahan tawa.
"Mampus," ucap Ezra.
"Hahahahaha...."
...****************...
SMA Alexander School
Brummm...
Bruuumm...
Bruumm...
Lima Kawasaki Ninja H2 memasuki area parkir SMA Alexander School secara beriringan. Suara supercharged engine-nya langsung menyita perhatian para siswa. Motor-motor itu berhenti tepat di area parkir VIP. Kelimanya turun hampir bersamaan.
Perlahan...
Mereka melepas helm full face masing-masing. Rambut yang sempat tertutup helm kini tertiup angin pagi.
"AAAAAA!!"
"GANTENG BANGET!!"
"ARIANAA LOOK AT ME!"
"ADRIAN!! LIHAT KE SINI!!"
"ZION!! AKU DI SINI!!"
"GAVIN SAYANG!!"
"EZRA CINTAKU DUNIAKU!!"
Berbagai teriakan terus bermunculan dari segala arah, membuat suasana parkiran mendadak jauh lebih ramai dari biasanya.
sementara itu...
Adrian hanya memasukkan kunci motornya ke saku celana. Zion mengembuskan napas pelan, seolah sudah terbiasa dengan keributan itu. Sementara Ezra hanya tersenyum tipis sebelum berjalan menyusul ketiga temannya. Tapi Gavin bahkan sempat melambai singkat, membuat jeritan para siswi semakin pecah.
Tak lama kemudian...
Brumm...
Sebuah Kawasaki Ninja H2 hitam lainnya memasuki area parkir.
Viana melepas helm full face-nya, lalu mengibaskan rambut panjangnya sekilas sebelum mengunci motor.
"VIANAA!"
"AKU PADAMUU!!"
Tanpa memedulikan teriakan dan tatapan orang-orang di sekitarnya, ia langsung berjalan menuju sebuah sedan hitam yang terparkir tak jauh dari sana.
Di dekat mobil itu, Aleta dan Aura tengah mengobrol santai sambil membelakangi area parkir. Keduanya sama sekali tidak menoleh, seolah hiruk-pikuk yang memenuhi parkiran sekolah hanyalah suara angin yang lewat.
"Tu cewek siapa ya? Kok ga pernah liat," ujar Gavin.
"Gue juga baru lihat," ucap Ezra sambil merangkul Gavin yang terus menatap ke arah Viana yang perlahan menjauh.
"Cantik ya," gumam Gavin.
"Mustahil dimiliki sih."
"Kenapa mustahil?" tanya Gavin sambil menatap Ezra.
"Soalnya ga ganteng."
"Ga ganteng? Maksud nya apaan?!"
"Luka lo gimana?" tanya Ariana pada Adrian.
"Masih nyut-nyutan," jawab Adrian.
"Syukurlah."
"Ya?" tanya Adrian, memastikan pendengaran nya tidak bermasalah.
"Syukurlah belum mati rasa," ucap Ariana di akhiri kekehan.
Sementara itu...
Zion tiba-tiba menghentikan langkahnya saat indra penglihatannya menangkap sesuatu yang familiar. Tatapannya terpaku pada sedan hitam yang terpakir di depannya. Ia mempersempit sorot matanya.
B 1789 ATL
Deg!
Setelah melihat nomor polisi kendaraan tersebut, wajahnya berubah serius.
"Plat itu..." gumam Zion.
Adrian ikut menoleh ke arah yang sama. "Kenapa?"
"Itu mobil yang kita lihat malam itu."
"Mobil apa Zi?" tanya Ariana.
"Kemarin kan Adrian sama Zion dikeroyok, trus ditolongin tuh sama dua cewek cantik. Nah, mobil yang mereka pake malam itu sama persis dengan mobil yang kita lihat sekarang," jelas Ezra.
"Benar ga Zi? Dri?" tanya Ezra, memastikan dirinya menerjemahkan ucapan Zion dengan benar.
"Iyaa," jawab Zion singkat.
"Berarti..."
"Mereka sekolah di sini," ucap Ezra.
"Dan selama ini kita satu sekolah dengan mereka!" heboh Gavin.
"Anehnya kita ga ngeh ada bidadari."
mana dipanggil honey lagi /Doge/