semoga suka ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak org, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 17
"hiks... hiks.... hiks" Yeri mendongakkan kepalanya, menatap wajah tegas suaminya
cup~
sebuah kecupan manis mendarat di bibir Aryan.
tidak ingin melewatkan kesempatan istimewa ini. Yeri yang awalnya ingin menarik kembali kepalanya. tiba-tiba saja, Aryan sudah lebih dulu menarik tengkuk Yeri dan melumat bibir Yeri dengan lembut.
awalnya memang lembut. sampai seiringnya waktu ciuman itu berubah menjadi brutal, membuat Yeri kewalahan menghadapi ciuman agresif Aryan
"Enghh" lenguh Yeri di sela-sela ciuman mereka.
"enghh. mas~ hmm" Yeri menepuk-nepuk dada Aryan.
Aryan yang paham pun melepaskan ciuman itu. tapi tidak bertahan lama, Aryan kembali melumat bibir Yeri dengan intens
"hmn mas~ udah ahh!"
"sayang bibir kamu manis banget hmm"
sampai sebuah tepukan di punggung Aryan menghentikan aktivitas mereka. keduanya langsung menolehkan kepalanya ke arah orang yang menepuk-nepuk pundak Aryan.
"hahaha sudahlah nak"
"ibu" lirih Aryan, menatap wajah cantik ibunya.
"sepertinya anakmu sangat merindukan putriku deh Lea. lihat, dia bahkan tidak mau melepaskan pelukannya sama sekali"
"kau benar Tuan Raksa. anakku memang sangat mencintai anakmu. itu sebabnya dia jadi se-agresif ini" sahut Lea terkekeh dengan tingkah putranya.
Yeri yang merasa malu karena digoda oleh Ayah dan ibu mertuanya langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Aryan
Aryan yang melihat wajah memerah Yeri hanya bisa terkekeh kecil, lalu mengelus punggung sempit Yeri
"tidak usah malu sayang lagi pula kita kan memang sepasang suami istri.... hum" bisik Aryan di telinga Yeri
"ihhh tapi tetap aja aku malu" rengek Yeri
dan semua orang yang ada di sana langsung tertawa terbahak-bahak mendengar rengekan Yeri
"sudah-sudah kalian membuat menantuku jadi malu. ayok kita semua duduk" ajak Lea kepada mereka semua yang ada di sana.
dan akhirnya mereka pun duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu. dengan Aryan yang masih memeluk tubuh Yeri dengan erat.
Lea yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan terkekeh kecil.
"oh iya, kalian kapan pulangnya, Ayah ibu?" tanya Aryan menatap kedua orang tuanya dan satu mertuanya.
"kita udah dari semalam pulang, Aryan" jawab Darman sambil meminum kopi hitamnya yang tadi dibawakan oleh sekretarisnya Aryan.
mendengar penjelasan Ayahnya, kening Aryan tiba-tiba berkerut. melihat kebingungan putranya, Darman pun berucap lagi.
"ini semua rencana istrimu, Aryan. dia yang minta kami semua untuk menginap saja di hotel. katanya biar surprise"
Aryan mengalihkan pandangannya ke arah Yeri yang sedang memainkan kancing kemejanya.
"hehehe maaf" cemberut Yeri
"kamu ini... hmm" gemas Aryan lalu mencium seluruh wajah Yeri
"hihihi geli, mas"
"Dasar bucin" gumam Raksa
"kayak Lo enggak aja, Raksa" bisik Darman sambil menyenggol siku Raksa
"oh iya mas, bukankah hari ini hari ulang tahunmu? bagaimana kalo kita rayakan di restoran ibu saja?"
"ya ampun ibu hampir lupa. untung saja Yeri mengingatkan. kalo begitu ibu Langsung telpon aja ya koki-kokinya ibu" ujar Lea sambil mengambil ponselnya dari dalam tas
"tunggu, malam ini?" tanya Aryan
"iyalah. emangnya kamu besok apa ultahnya? kan ultah kamu hari ini gimana sih"
Aryan terdiam sesaat
"kenapa nak? apa ada yang menggangu pikiranmu?" tanya Lea yang sudah selesai menelpon para kokinya
"jangan-jangan kamu sedang memikirkan istri keduamu itu ya" tuduh Yeri sambil bangkit dari duduknya.
"Ah tidak, sayang. mana mungkin aku memikirkan orang lain selain dirimu" ucap Aryan kelayapan
"bohong mana mungkin kamu tidak memikirkannya jelas-jelas kamu diam aja pas aku ngomong tentang ultah kamu!!" sentak Yeri menatap tajam ke arah Aryan
"tidak, sayang. aku benar-benar tidak memikirkannya" Aryan berdiri dari duduknya dan menggenggam kedua tangan Yeri
"aku nggak percaya! aku tahu, ya mas. kamu itu udah nikah sama istri kedua kamu itu. dan aku enggak masalah akan hal itu. tapi kamu dengan teganya malah memikirkannya di saat bersama aku!!!" tunjuk Yeri pada dirinya sendiri
"astaga, enggak sayang"
"kamu tahu kita udah hampir 3 tahun gak ketemu mas, dan kamu!... udah mas aku malas kalo udah gini. kamu memang gak bisa dipercayai mas. aku benci kamu" ujar Yeri lalu berlalu dari ruangan Aryan dengan perasaan marah.
"sayang! sayang! dengarkan aku dulu" kejar Aryan
setelah kepergian sepasang suami istri itu, sejenak ruangan mendadak hening. sampai terdengar suara teriakan yang menggema di seluruh ruangan dari salah satu wanita yang masih berada di sana.
"mas! lihat, gara-gara keputusan kamu tahun lalu anak aku sama menantuku jadi bertengkar!" kesal Lea pada suaminya
"sayang, kamu lupa? aku-" belum sempat Darman menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sudah dipotong lebih dulu oleh istri cantiknya
"iya, aku tahu! kamu menginginkan seorang cucu dan juga penerus dari Aryan dan Yeri kan?! tapi lihat, mas! karena ulah kamu yang menikahkan Aluna dan Aryan hubungan Yeri dengan putra kita jadi kayak gini!"
"iya aku tahu aku salah. tapi, aku melakukan ini semua demi penerus kita, sayang" ucap Darman menatap wajah kesal Lea dengan sendu.
"tapi kamu udah keterlaluan mas!!" sentak Lea tepat di depan wajah Darman.
karena kesal terus-menerus disalahin oleh istrinya, Darman yang sudah tersulut emosi mencengkram kedua tangan istrinya dengan kuat sampai meninggalkan bekas kemerahan di pergelangan tangan istrinya.
"aku enggak akan melakukan hal ini kalo seandainya Yeri bisa memberikanku sebuah penerus Lea!!!" bentak Darman menatap Lea dengan tajam.
Lea yang juga tidak ingin kalah dengan suaminya semakin menaikkan nada suaranya. yang membuat suaminya makin tidak suka dengan nada bicara istrinya kepadanya.
"tapi kalo seandainya Aluna tidak bisa memberikan seorang cucu seperti yang kau inginkan bagaimana?! apa kau akan menikahkan putra kita lagi dengan wanita-wanita di luar sana hah!!"
Darman tidak langsung menjawab pertanyaan Lea. Dia memejamkan matanya sejenak untuk menetralkan amarahnya di dalam dirinya.
"jawab kenapa kau malah diam? Apa kau akan menikahkan putra kita lagi kalo sampai Aluna tidak bisa memberikan seorang cucu yang sesuai keinginan kamu hah? jawab!!!"
"Akhhh!" pekik Lea kesakitan saat Darman semakin mencengkram kedua tangannya
beruntung Raksa tidak ada di sana karena dia tadi ikut mengejar putrinya setelah putrinya pergi dari ruangan Aryan.
"Akhh! sakit mas!" Lea terus memukul-mukul tangan suaminya berusaha menjauhkan tangannya dari genggaman tangan kekar suaminya itu.
"mas sakit!!! hiks hiks" Lea masih berusaha menjauhkan tangan Darman dari tangannya.
Dan Darman hanya melihat ke arah lea dengan wajah datar.
"mas sakit! lepasin hiks hiks kamu denger gak sihhh"
Darman yang tidak tega melihat wajah Lea yang sudah menangis histeris akhirnya Darman pun melepaskan tangan Lea, lalu menarik tubuh Lea ke dekapannya dan mengelus punggung Lea pelan sembari mengucapkan kata maaf.
sedangkan di sisi lain.
"wahh akhirnya selesai juga ini dekorasinya" ucap Nisa merebahkan tubuhnya di karpet berbulu dan memejamkan kedua matanya sejenak untuk mengisyaratkan tubuhnya.
"Apa dekorasinya sudah selesai?" tanya Aluna menghampiri kedua temannya bersama Aini yang berjalan di sampingnya.
"sudah, Aluna" jawab Aya
"lalu bagaimana dengan kalian, apa punya kalian udah selesai?" tanya aya balik
"sudah kok. tinggal tunggu nanti malam aja tuan Aryan nya" jawab Aini yang sedang memainkan pipi gembul Nisa yang tertidur di karpet berbulu.
"huh, aku harap mas Aryan sukanya sama ini" ucap Aluna sedikit agak gugup
"tenang aja, Aluna. Tuan Aryan pasti suka" ucap Aya menenangkan Aluna agar sedikit tenang.
"iya, aku harap juga begitu"
Jam 21.10 malam.
"Aluna, kenapa tuan Aryan belum datang juga ya?" tanya Nisa menatap tubuh Aluna yang sedari tadi terus berdiri menghadap ke arah pintu yang masih saja tertutup.
"hum, entah. mungkin mas Aryan sedang ada sedikit pekerjaan lagi Nisa" jawab Aluna tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nisa.
"tapi kamu beneran kan kalo tuan Aryan akan pulang bentar lagi?"
"hum, aku yakin Kok. tadi sebelum pergi mas Aryan sempat bilang kalo dia bakal cepat pulang malam ini"
dan ketiga temannya hanya bisa menghela napas panjang melihat keteguhan Aluna yang masih saja ingin menunggu kepulangan Aryan yang nyatanya tidak pernah kunjung tiba.
maaf kalo gak nyambung dan typo bertebaran 😁 jangan lupa di like sama komen nya❤️