NovelToon NovelToon
Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Membalas dendam / Balas Dendam / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 017: Pertemuan di Warung Padang

Mobil berhenti terlambat.

Saat Tan Hansel turun, Keira sudah menghilang di antara orang-orang yang baru keluar dari stasiun. Pengemudi menatap kanan kiri dengan gugup.

"Maaf, Koh. Tadi ada motor nyelip."

Hansel tidak memarahinya. Ia hanya melihat arus manusia, mencari ransel kumal dan langkah yang terlalu tenang. Tidak ada.

Lalu ban belakang Alphard mendesis.

Pengemudi memucat. "Bannya kena paku."

Hansel menatap jalanan Megawan yang panas, lalu warung Padang kecil di seberang. Bangku plastik merah. Etalase lauk. Bau rendang dan sambal hijau. Di salah satu meja, seorang gadis berseragam duduk dengan ransel di bawah kaki.

Keira.

Ia sedang makan nasi rendang seharga delapan belas ribu rupiah dengan ekspresi serius, seolah makanan murah itu lebih penting daripada pria yang baru saja turun dari mobil hitam.

Hansel masuk.

Ibu pemilik warung langsung cerah. "Makan, Mas? Nasi rendang? Ayam pop? Duduk sini saja, sebelah pacarnya masih kosong."

Keira hampir tersedak sambal.

Es teh di tangannya bergoyang. Setetes jatuh ke meja plastik.

Keira pernah menghadapi bom waktu, gas saraf, dan ruangan penuh pembunuh bayaran. Ia tidak menyangka satu ibu warung dengan senyum ramah bisa membuatnya hampir kehilangan kendali atas sambal hijau.

Hansel berhenti sejenak, lalu duduk di kursi seberangnya. "Rendang satu. Es teh tawar."

Keira menatapnya. "Anda mengikuti saya?"

"Bannya bocor."

"Alasan yang kreatif."

"Fakta."

Ibu warung menaruh piring di depan Hansel sambil tersenyum lebar. "Pacaran jangan tegang-tegang amat. Makan dulu."

"Bukan pacar," kata Keira.

Hansel tidak membantah.

Keira menatapnya lebih tajam. "Kenapa diam?"

"Aku tidak ingin membantah ibu yang sedang membawa rendang."

Di luar, pengemudi menunduk sambil menahan tawa saat mengganti ban. Keira memutuskan makan lebih cepat.

Namun Hansel tidak terburu-buru. Ia memperhatikan cara Keira memegang sendok, posisi ransel di antara kedua kaki, dan mata yang sesekali memantau pintu. Kebiasaan orang yang hidupnya tidak pernah aman.

"Kamu dari Jakarta," katanya.

"Banyak orang dari Jakarta."

"Membeli alat medis."

"Anda banyak bertanya untuk orang yang katanya kebetulan."

"Tidak banyak siswi SMA membeli jarum perak dan ramuan Glodok."

Keira meletakkan sendok. "Anda memperhatikan orang terlalu detail."

"Kebiasaan."

"Kebiasaan buruk."

"Sering menyelamatkan nyawa."

Keira mengangkat mata. Untuk pertama kalinya sejak duduk, ia benar-benar menatap Hansel beberapa detik lebih lama. Kalimat itu bukan bualan. Pria ini juga hidup dalam dunia yang menuntut orang membaca detail sebelum terlambat.

Itu membuatnya lebih berbahaya.

Hansel mengambil es teh. "Kebetulan bisa menjadi awal percakapan."

"Atau awal masalah."

"Tergantung orangnya."

"Dan Anda orang seperti apa?"

Hansel menatapnya di atas gelas. "Biasanya, orang lain yang menjawab."

"Berarti jawaban Anda buruk."

"Atau terlalu panjang."

Keira menyendok nasi. "Saya tidak suka jawaban panjang."

"Kita punya satu kesamaan."

Keira menatapnya beberapa detik. Pria ini tidak menekan seperti orang kaya biasa. Ia memberi ruang, tetapi ruang itu tetap terasa seperti lingkaran yang diam-diam ditarik di sekelilingnya.

Berbahaya.

Tapi tidak bodoh.

"Adikmu bagaimana?" tanya Hansel tiba-tiba.

Keira berhenti.

"Tidak sopan membahas keluarga orang asing."

"Aku melihat caramu berdiri di depannya kemarin."

"Banyak orang berdiri."

"Tidak banyak orang menggeser tubuh untuk menutup sudut kamera."

Keira menatapnya lebih dingin. "Anda juga melihat kamera?"

"Aku melihat semua yang perlu dilihat."

"Kalau begitu, Anda harus tahu kapan berhenti."

Hansel menatapnya cukup lama, lalu mengangguk kecil. "Baik."

Jawaban itu justru membuat Keira lebih waspada. Orang yang tahu cara berhenti biasanya lebih sulit diusir daripada orang yang memaksa.

Ibu warung kembali dengan kerupuk. "Ini tambahan. Buat yang pacaran tapi gengsi."

"Bu," Keira berkata datar.

"Iya, iya, bukan pacar. Belum." Ibu itu pergi sambil tertawa.

Hansel menunduk menyembunyikan senyum tipis.

Keira meletakkan uang pas di meja. "Saya selesai."

Saat ia mengambil ransel, lengan bajunya sedikit tersingkap. Di pergelangan tangannya masih ada noda tinta hitam dari catatan bahan obat. Hansel melihatnya.

Tangan itu.

Tulisan itu.

Tiga tahun lalu, Keluarga Tan menerima surat anonim yang menyelamatkan salah satu proyek mereka dari jebakan hukum internasional. Surat itu ditulis tangan, pendek, tanpa nama. Hansel menyimpan fotonya karena gaya tulisannya terlalu khas: tajam, ringkas, dan seperti orang yang tidak pernah membuang gerakan.

Surat itu datang satu hari sebelum Tan Group menandatangani kontrak akuisisi di Singapura. Jika mereka meneken dokumen itu, aset keluarga akan masuk dalam perangkap pencucian uang internasional. Tidak ada konsultan yang melihatnya. Tidak ada pengacara yang berani memastikan. Hanya selembar kertas tanpa nama yang menulis tiga pasal, dua rekening bayangan, dan satu kalimat:

Jangan tanda tangan kalau masih ingin punya tangan.

Hansel tidak pernah menemukan pengirimnya.

Sampai hari ini, ia mengira orang itu mungkin sudah mati.

Saat itu, tulisan anonim tersebut membuat Hansel menunda rapat sepuluh menit. Sepuluh menit cukup bagi Yannic menemukan rekening bayangan yang disebutkan. Sepuluh menit cukup untuk menyelamatkan Tan Group dari kerugian yang bisa merobohkan beberapa cabang luar negeri.

Sejak hari itu, Hansel tidak percaya pada kebetulan yang melibatkan tulisan tangan.

Dan sekarang, gadis SMA dari Megawan memiliki potongan ritme yang sama.

Noda tinta di tangan Keira bukan tulisan lengkap. Hanya angka dan singkatan. Namun lengkung angka tujuh, cara ia memotong huruf t, membuat ingatan itu muncul terlalu jelas.

Pengemudi masuk dari luar. "Koh, ban sudah selesai."

Keira mengangkat ransel.

Ia sebenarnya bisa pergi tanpa memberi Hansel satu kalimat pun. Tetapi cara pria itu menatap pergelangan tangannya membuat Keira tahu ada sesuatu yang lebih tua dari pertemuan hari ini sedang terbuka.

"Kalau Anda mau bertanya, tanyakan langsung," katanya.

Hansel menatap wajahnya. "Tiga tahun lalu, seseorang mengirim surat ke Tan Group."

Keira tidak berkedip.

"Banyak orang mengirim surat."

"Tidak banyak yang menyelamatkan keluargaku dari kerugian besar."

Ibu warung, yang tidak paham apa-apa, tiba-tiba menaruh kantong kerupuk di meja. "Ini buat jalan. Gratis. Kalian serasi kalau nggak berantem."

Keira mengambil kerupuk itu karena menolak akan memperpanjang urusan.

Hansel melihatnya menerima pemberian kecil itu tanpa canggung. Menarik. Gadis ini bisa menolak ucapan terima kasih miliaran rupiah, tetapi menerima kerupuk gratis dari ibu warung.

Keira berbalik ke pintu.

"Saya bukan orang yang Anda cari."

"Aku belum bilang mencari siapa."

Langkah Keira berhenti sepersekian detik.

Itu cukup bagi Hansel untuk memastikan satu hal: ia menyentuh titik yang benar.

Dan gadis itu tahu ia menyadarinya.

Permainan mereka baru saja dimulai di meja plastik warung kecil.

Hansel berdiri. "Keira."

Ia berhenti di ambang pintu.

Hansel menatap pergelangan tangannya.

"Tulisan itu..."

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bayu sama kakak nya ini seumuran apa gmna dia anak kandung bu Sri apa anak angkat
falea sezi
bagus
falea sezi
ini novel al kah
Erna Fkpg
makin misterius dan menegangkan
Erna Fkpg
ceritanya menarik dan menegakkan
Erna Fkpg
wah makin mantap ceritanya 💪💪💪
Erna Fkpg
pada akhirnya tetap ditakdirkan pd jalan yg selalu dihindari untuk mencari kenyamanan
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
ni sebenarnya Bu Sri orang kaya bukan sih kok selalu memerintah dengan uang
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
nah Lo malu sendiri GK tu Bu Sri ngomongnya ngurusin keyra padahal dijadikan babu
Erna Fkpg
harusnya Laras dapat nilai dibawah Bayu biar kalah telak dan mati kutu dengan kesombongannya 💪💪💪
Cty Badria
👍👍👍
Erna Fkpg
secangkir kopi untuk semangat up💪💪💪
Cty Badria
ayo semangat up lg ni hadiah /Rose/
Cty Badria
jgn lm2 up nya thor ni hadiah biar semangat /Rose/
Erna Fkpg
GK sabar nunggu hasilnya 💪💪💪🙏🙏🙏
Anne Soraya
lanjut 👍
Erna Fkpg
lanjut thor tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!