⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di perjalanan pulang, Disty masih memikirkan keadaan Zaffar yang tidak baik-baik saja. Apa mungkin dua hari yang lalu keadaannya lebih parah dari yang sekarang?
"Jav."
"Hm."
Setelah memanggil Disty diam sejenak. Apakah kalau ia bertanya tentang Zaffar, Javeno tidak akan marah?
"Dia nggak patah tulang, cuma pecah bibir kena hantaman helm dua kali," kata Javeno memberitahu sendiri, karena ia tahu kalau Disty tidak akan berani bertanya tapi gadis itu penasaran.
Disty melotot tidak menyangka. Pakai helm? Ya pantes aja pecah kalau di hantam nya pakai helm, pikirnya.
"Kalau aja kamu nggak demam, dia mungkin udah nggak ada di dunia sekarang," kata Javeno melanjutkan.
Disty semakin tidak percaya ini. Really?
Pada kenyataannya memang seperti itu, andai saja Gaveno tidak bicara kalau Disty yang jatuh demam pada saat itu, nyawa Zaffar sudah di pastikan melayang detik itu juga.
Sayang sekali nyawa Zaffar terselamatkan karena kabar Disty yang sakit, pikir Javeno.
"Dia sampe mau bunuh orang?" batin Disty tidak percaya.
Karena selama setahun ini ia mengenal Javeno. Javeno itu memang kejam, selalu bertindak sesukanya kalau memang menurutnya itu salah. Sering membuat orang-orang yang berusaha dekat dengan Disty masuk ke rumah sakit sangking parahnya, tapi tidak pernah sampai memiliki keinginan untuk membunuh.
~•~•~
Perhari ini, hari di mana pertemanan Disty dan Zayna di mulai.
Javeno selalu memperhatikan dari kejauhan interaksi dua gadis itu.
"Dia lebih bahagia," batin Javeno menilai senyum manis Disty yang terpancar.
"Tapi alasan dia senyum bukan karena gue," batin Javeno lagi merasa cemburu tapi ia sendiri yang memberi izin Disty untuk berteman.
Selagi Zayna tidak berlebihan, ia akan coba tahan perasaan cemburu ini.
Tapi Disty jadi lebih dekat dengan Zayna, padahal baru satu hari, dan Javeno sudah merasa sesak duluan.
Saat pulang sekolah, baru lah Disty dan Zayna terpisah. Dan Disty kembali bersama Javeno lagi.
Mereka sudah sampai di rumah sekarang. Sudah di kamar juga.
"Kamu terlalu banyak ketawa dan bicara sama Zayna," ucap Javeno sedikit ketus sambil melempar tas nya di sofa kamar.
"Kan kamu yang kasih izin," sahut Disty yang membuat Javeno langsung menatapnya tajam.
Disty meletakkan tas nya juga. "Kamu marah?" tanyanya pelan.
Javeno berdecak lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan otaknya yang panas.
"Jav," panggil Disty mengetuk pintu kamar mandi nya.
"Kalau mau ikut, masuk, nggak usah berisik," sahut Javeno terdengar marah dari dalam.
Disty cemberut. "Padahal kan dia udah kasih izin buat berteman sama Zayna. Aku juga nggak ngelanggar apa-apa, nggak berinteraksi sama siapa pun kecuali Zayna," gerutu nya sambil berjalan kearah walk in closet, mengganti baju.
"Masa cuma karena aku yang ketawa sama Zayna dia jadi marah? Tapi aku nggak berlebihan. Ketawa seadanya doang, ngomong juga seperlunya," lanjutnya tetap menggerutu.
Disty melangkah keluar dari dalam kamar, melangkah ke dapur.
"Aku buatin sesuatu deh, tapi apa ya," pikir Disty sudah sampai di dapur.
"Nona butuh sesuatu?" tanya Anggun mendekat. Gadis itu masih mengenakan seragam pelayan.
Disty menoleh, memberi gelengan kepala. "Kamu nggak jadi pindah ke rumah Gaveno?" tanyanya heran.
"Besok," jawab Gaveno muncul dari belakang Disty lalu merangkul pinggang Anggun yang merasa malu di depan Disty.
Disty sendiri acuh dengan itu.
"Ingat untuk cari aku kalau kamu memang mau lari dari Javeno," kata Gaveno tersenyum hangat.
Disty diam sebentar lalu memberi senyum tipis dan memilih berjalan mendekat kearah kompor.
"Kenapa Nona Disty harus lari dari Tuan Javeno?" tanya Anggun menatap Gaveno polos.
Gaveno mengidikkan bahunya sebentar. "Nggak tau," jawabnya segera membawa Anggun keluar jalan-jalan.
Disty menghela napas lalu melihat ke meja.
"Buat kornet keju aja deh," gumam Disty menyiapkan semua bahan-bahan nya.
"Nona? Anda ingin apa? Saya dan Hana akan menyiapkan," ucap Amel datang dengan panik bersama Hana.
"Nggak," tolak Disty. Ia ingin membuat ini sendiri untuk Javeno.
"Jangan ganggu," lanjutnya.
Membuat para pelayan itu mundur, memberi jarak dan memperhatikan. Membiarkan Disty yang akan membuat kornet keju untuk camilan.
Hampir satu jam Disty di dapur, dan sekarang sudah selesai. Senyumnya merekah melihat hasil yang memuaskan, walaupun itu sederhana tapi usahanya ada di sana.
"Tolong siapin di piring, dan buatin dua cangkir teh ya, nanti antar ke kamar," pinta Disty menatap semua pelayan yang mengangguk patuh.
Disty mengangguk dan keluar dari dapur. Sebelum nanti makan camilan ini di balkon bersama Javeno, Disty akan mandi dulu sebentar.
Saat masuk, ia melihat Javeno yang sedang sibuk dengan tugas-tugas sekolah.
"Ada PR?" tanya Disty berhenti sebentar.
"Hm," dehem Javeno tanpa menoleh.
"Aku mau mandi," kata Disty.
"Hm," dehem Javeno acuh.
"Tumben, biasanya dia langsung berdiri dan bawa aku ke kamar mandi walaupun dia udah mandi," batin Disty merasa heran.
Disty acuh juga dan segera mandi. 15 menit kemudian ia keluar dengan pakaian santai juga yang pendek.
"Non."
Suara Amel terdengar dari luar. Disty segera membuka pintu dan menerima nampan berisi kornet dan dua cangkir teh yang sudah di siapkan.
Setelah itu masuk lagi.
"Aku buat kornet," ucap Disty meletakkannya di meja.
Javeno diam, fokus dengan tugas sekolahnya tanpa menoleh hanya sekedar melihat apa yang Disty buat.
Disty mendengkus lalu membawa secangkir teh dan satu kornet di tangannya, meletakkan teh di meja belajar Javeno.
"Cobain," kata Disty menyodorkan dekat mulut Javeno.
"Nanti," ucap Javeno menolak halus.
"Enak loh, masih anget ini. Biar fresh juga sambil ngemil belajar nya," ucap Disty.
"Nanti Disty," ucap Javeno dingin.
Disty diam, ia duduk sedikit di ujung meja sambil memakan kornet nya, melihat Javeno yang sangat serius kalau belajar. Sampai satu kornet yang ia pegang habis pun, Javeno belum selesai.
"Masih banyak?" tanya Disty.
"Nggak," jawab Javeno tetap merespon walau tanpa memandang wajah cantik Disty.
"Bawa minum dulu aja, ini teh nya udah mulai dingin," ucap Disty berdiri dan mengambil teh yang sempat ia letakkan tadi.
Tapi entah kenapa, tangannya malah terasa licin memegang cangkir itu dan..
Byurrr
Prangg
"DISTY!" bentak Javeno langsung berdiri sambil menyelamatkan buku-buku nya yang sayangnya sudah terkena tumpahan teh.
Disty langsung mundur dengan gugup dan menunduk.
"Ma-af," cicitnya.
Javeno berdesis geram. "Aku udah bilang nanti kan? Kenapa malah ganggu?" tanyanya dingin.
"Maaf, aku nggak sengaja," cicit Disty dengan rasa bersalah.
"Apa berteman sama Zayna buat kamu bodoh sampai terlalu berani ke aku?"
Disty segera menggeleng.
"Jangan mendekat lagi padanya," perintah Javeno mutlak dan ia segera keluar dari kamar sambil membawa beberapa bukunya yang basah.
Disty menangis. Baru sehari ia bebas berteman walaupun cuma sama Zayna, tapi karena kecerobohan nya sendiri, Javeno kembali melarang. Dan dia tidak bisa membantah selain patuh serta menurut.