Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Lisa
Malam merayap semakin larut di kawasan perumahan elit Menteng, namun ketegangan di dalam penthouse mewah milik Rendy Pratama justru baru saja mencapai puncaknya.
Kamar tidur utama yang luas, yang didominasi oleh interior marmer Italia dan lampu kristal gantung yang temaram, malam itu terasa seperti medan perang yang pengap.
Bau parfum mawar yang menyengat dari tubuh Lisa bercampur dengan aroma wiski dari gelas yang digenggam erat oleh Rendy.
"Kau keterlaluan, Rendy! Kau benar-benar menganggapku tidak ada!" pekik Lisa, suaranya yang melengking memecah keheningan malam. Ia berdiri di depan ranjang berukuran king-size, menunjuk wajah Rendy dengan kuku-kukunya yang dicat merah menyala.
Rendy yang duduk di tepi ranjang memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Setelan jasnya sudah berantakan, dasinya sudah ditarik lepas dan dilemparkan ke lantai. Pertemuan siang tadi dengan Elena Van Doren yang menguras energi psikologisnya, ditambah dengan kepanikan memikirkan manipulasi data audit, membuat tingkat kesabarannya berada di titik nol.
"Jaga bicaramu, Lisa! Ini urusan bisnis besar, bukan tempat untuk merengek seperti anak kecil!" balas Rendy, suaranya meninggi, baritonnya bergetar menahan amarah yang siap meledak
"Bisnis besar? Atau karena kau terpesona dengan wanita jalang Eropa itu?!" Lisa melangkah maju, dadanya kembang kempis oleh emosi yang membakar. "Aku tidak bodoh, Rendy! Sekretarismu bilang kau sengaja mencoret namaku dari daftar tim yang ikut ke kantor Van Doren Group siang tadi. Kau sengaja meninggalkanku karena jalang itu memintanya, bukan? Kau malu membawaku di depannya?!"
Rendy berdiri dengan sentakan kasar, membuat Lisa mundur satu langkah karena terkejut. "Dia bukan jalang, Lisa! Dia adalah Elena Van Doren! Pewaris tunggal Van Doren Group yang memegang dana segar dua triliun rupiah! Dua triliun! Kau tahu apa artinya angka itu bagi kita saat ini? Jika dana itu tidak cair dalam dua minggu, Adiguna City akan disita oleh bank, kontraktor akan menyeretku ke pengadilan, dan kita berdua akan membusuk di penjara karena utang!"
Rendy melangkah mendekati Lisa, menatap wanita itu dengan pandangan yang sarat akan tekanan frustrasi. "Elena menuntut profesionalisme mutlak. Kemunculanmu di pesta peluncuran kemarin dengan pakaian murahan dan sikap kekanak-kanakanmu hampir saja merusak kesepakatan awal kita. Aku harus menyelamatkan muka perusahaan di depannya!"
Lisa tertawa sumbang, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa sakit hati dan ketakutan yang mulai menjalar di dadanya. "Pakaian murahan kau bilang? Kau yang membelikan gaun ini dengan uang asuransi Alana, Rendy! Jangan lupa siapa yang membantumu berdiri di posisi ini! Jangan lupa siapa yang memberikan ide untuk membuang istrimu yang mandul itu ke sungai agar kita bisa menguasai saham mayoritasnya!"
"Diam, Lisa!" bentak Rendy, wajahnya mendadak pucat. Ia menatap sekeliling kamar dengan panik, seolah-olah dinding-dinding mewah itu memiliki telinga yang siap merekam setiap kata yang keluar dari mulut mereka. "Jangan pernah menyebut nama itu lagi! Berapa kali harus kukatakan padamu?!"
"Mengapa? Kau takut hantunya kembali?!" Lisa menantang, egonya yang terluka membuatnya kehilangan akal sehat. "Kau menatap Elena Van Doren seolah-olah kau melihat malaikat. Tapi asal kau tahu, Rendy, di mataku, kau hanya pria pengecut yang sedang ketakutan. Kau menyingkirkan Alana demi aku, tapi sekarang kau berniat mencampakkan aku demi wanita kaya yang baru kau kenal selevel Elena?!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Lisa. Kekuatan pukulan Rendy membuat tubuh wanita itu terhuyung dan jatuh terduduk di atas karpet bulu domba. Sudut bibir Lisa pecah, meneteskan setitik darah segar yang kontras dengan kulit wajahnya yang putih karena riasan.
Keheningan yang mencekam mendadak mengunci ruangan itu. Lisa memegangi pipinya yang terasa panas dan kebas. Ia mendongak, menatap Rendy dengan pandangan yang tidak percaya.
Selama dua tahun menjadi selingkuhan pria itu, Rendy selalu memanjakannya dengan kemewahan dan kata-kata manis. Ini adalah pertama kalinya Rendy menggunakan kekerasan fisik terhadapnya.
Rendy sendiri terpaku menatap telapak tangannya yang bergetar. Sisa-sisa amarahnya mendadak menguap, digantikan oleh rasa sesal dan ketakutan yang bercampur baur. Namun, egonya sebagai seorang pria yang kini berada di puncak kekuasaan menolak untuk meminta maaf.
"Jangan pernah ... jangan pernah mengancamku dengan masa lalu, Lisa," bisik Rendy, suaranya parau dan terdengar sangat dingin. "Kita berada di kapal yang sama. Jika aku tenggelam, kau akan ikut tenggelam ke dasar neraka bersamaku. Masuklah ke kamarmu. Jangan mengacaukan pikiranku lagi."
Tanpa menunggu jawaban dari Lisa, Rendy berbalik, menyambar botol wiskinya, dan melangkah keluar menuju ruang kerja pribadinya di lantai bawah penthouse, meninggalkan Lisa yang menangis terisak sendirian di kegelapan kamar.
*****
Di saat yang sama, beberapa kilometer dari penthouse Menteng, di dalam ruang kerja rahasia Arka yang terletak di lantai teratas gedung apartemen super eksklusif Pacific Place, suasana justru terasa sangat tenang. Ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya temaram dari layar monitor komputer berukuran besar yang menampilkan draf analitik dan grafik data keuangan.
Elena duduk di sebuah kursi kulit panjang, menatap keluar jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta yang tak pernah tidur. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel pintar yang terhubung dengan sistem pelacak audio.
Klik.
Arka yang berdiri di dekat meja kopi menekan sebuah tombol di tabletnya.
Suara rekaman pertengkaran hebat antara Rendy dan Lisa yang baru saja terjadi beberapa menit lalu terdengar sangat jernih memadati keheningan ruangan. Suara tamparan keras yang mendarat di pipi Lisa bergema, disusul oleh isak tangis wanita itu.
Elena memejamkan matanya perlahan. Setiap kata yang diucapkan oleh Lisa mengenai malam di tepi jembatan itu seperti siraman minyak tanah ke dalam api dendam yang berkobar di dalam dadanya. Jemarinya mencengkeram pinggiran kursi hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gemuruh emosi yang mencuat ke permukaan.
"Mereka mulai saling menggigit," ucap Arka dengan nada suara yang datar namun dingin. Ia berjalan mendekati Elena, meletakkan segelas air putih di meja kecil di samping wanita itu. "Retakan pertama selalu menjadi yang paling menarik dalam sebuah aliansi yang dibangun di atas darah."
Elena membuka matanya kembali. Tatapannya yang sedingin es kini terarah penuh pada monitor yang menampilkan profil wajah Rendy dan Lisa. "Lisa mulai merasa terancam. Wanita itu memiliki insting bertahan hidup yang kuat, tapi dia terlalu emosional. Kelemahannya adalah egonya."
"Dan Rendy mulai kehilangan kendali atas emosinya karena tekanan finansial yang kita berikan," Arka menambahkan. Ia bersandar pada meja kerja, melipat kedua tangannya di dada. "Skenario audit yang kau ajukan siang tadi benar-benar membuatnya terpojok. Budi baru saja melaporkan bahwa tim keuangan Rendy sedang bekerja lembur malam ini di kantor pusat mereka, mencoba membuat lapisan perusahaan cangkang baru di luar negeri untuk menyamarkan dana asuransi Alana."
Elena menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan kelicikan. "Biarkan mereka bekerja keras malam ini, Arka. Semakin banyak mereka memindahkan dana tersebut, semakin banyak jejak digital yang mereka tinggalkan untuk tim forensik keuanganmu."