NovelToon NovelToon
Rahasia Si Gadis Cupu

Rahasia Si Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Berliana Febbyola

"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.

Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.

Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.

Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"

Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.

Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.

Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 DUA TATAPAN, SATU NAMA

Dan mereka berdua, melihat tingkah orang tuanya hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Ana melirik kiri dan kanan, ada yang kurang. Citra dan Ibu.

"Kak Citra dan Ibu, kemana?" tanya Ana.

Sedangkan Raka terlihat sibuk mengunyah makanannya.

"Ibu langsung ke Kedai dan Kak Citra dia bilang mau ketemu teman lamanya." jawab Ayah, sambil menuangkan sup untuk anak-anaknya.

"Em.. kurang lengkap." sahut gadis itu sambil menatap makanan di depannya.

"Mungkin hari ini mereka nggak makan bersama tapi besok kita akan makan bersama lagi di meja makan." sahut Ayah, menghibur Ana.

"Em, baiklah Ayahanda.."

"Dih, pasti ada maunya nih, hab-" mulutnya kena sumpal roti oleh Ana.

[Mengunyah.] "KEJAM!" sambil mulut penuh.

"Ih jorok, kunyah dulu baru ngomong dong. Huh! Bye, duluan." timpal Ana.

Ana berpamitan juga kepada ayahnya, sedangkan Raka masih mengunyah.

"Najel. Nggak akan pergi bareng naik motor?" tanya Raka.

"Nggak. Mau naik bis aja, bye." teriak Ana yang sudah mau membuka pagar rumah.

"Hem.. Oke bye!" singkatnya.

Ayah yang melihat tingkah kedua putra dan putrinya hanya bisa menggaruk - garuk kepala. Bagaimana tidak, kelakuan anak-anaknya yang seperti itu sudah pasti cerminan dirinya.

"Raka, kamu hati - hati berangkatnya ya." sahut Ayah, lalu Raka tersenyum sambil mengangguk.

Ana menaiki bis, untung pada saat itu bisnya tidak terlalu banyak penumpang. Sesampainya di gerbang, tampak dekorasi dan tulisan "Festival Bakat."

"Duh, a-aku sedikit gugup ya?" mempererat kepalan tangannya.

Tiba - tiba dari ujung terdengar suara teman - temannya yakni Sheila dan Jeje yang sudah menunggunya.

"ANABELLA!! KITA DISINI!" dengan suara khas cemprengnya, Sheila memanggil.

"Oh, Hai!" dengan sumringah dan langsung berlari menghampiri teman - temannya.

Tak lama dari belakang, sosok cool dan paling disegani berjalan tanpa melihat bahwa semua mata tertuju pada ketampanannya, Kai.

Kai yang memakai kaos putih polos, membuatnya semakin kharismatik. Memang dresscode untuk acara festival itu bukan seragam tapi kaos putih polos dan jeans bebas.

"Hari ini, Kai keliatan ganteng banget." batin Ana. Tak sadar memuji Kai padahal sebelumnya dia kesal karena harus belajar bersama cowok kulkas seperti Kai.

Kai melihat Ana dan menaikan satu alisnya, seperti isyarat. "Hai, aku sudah datang."

Ana hanya tersenyum samar untuk sekedar membalas bahasa tubuh cowok itu.

"Ana kamu udah siapkan keberanian kamu kan?" tanya Sheila.

Ana mengangguk sambil tersenyum, padahal hatinya sedang campur aduk.

Lomba dimulai dari dance yang dimana Bryan, kekasih Sheila ikut serta dalam lomba tersebut. Sheila tersenyum palsu dan menutupi wajahnya malu.

"Dasar si Bryan, udah aku bilang nggak usah ikutan. Huft.." gerutu Sheila.

Jeje tak kuasa menahan tawa, "Hiburan sedikit biar nggak stress, Shel." Ledek Jeje.

Sheila memutar mata, Ana pun ikut tertawa karena lucu.

Dari awal Kai datang, ia tidak mengalihkan pandangannya ke arah Ana dan disaat Ana tertawa, Kai semakin menatapnya dengan lembut dan bukan menatapnya dengan tajam.

Setelah beberapa lomba ditampilkan, nama Ana mulai dipanggil dan gadis itu mulai berdiri di atas panggung sembari membawa selembar kertas. Karya puisinya sendiri.

Dengan nada yang lembut, Ana membaca puisi tentang cinta. Membuat semua mendengarkan dan tidak ada satupun yang berisik.

Kai dan Nathan seperti terhipnotis dengan puisi karya Ana.

Puisinya berbunyi :

~Hampa dan Rindu~

Setitik rindu yang terbelenggu

Melepas semua kenangan itu

Tak kala hatiku menggebu

Melihat potret dirimu yang semu

Hampa menerjang hidupku

Titik balik kehidupan yang pilu

Kenang lah aku...

Dalam dekapmu..

Dalam senyummu..

Dan dalam mimpi indah mu

Dan jadikan aku..

Sebagai pemilik hatimu

Hampa mulai menyerbu

Hati yang kosong tanpamu

Tolong... Kembalilah padaku

Karena aku masih menunggu

Semuanya terdiam dan saat puisi selesai dibacakan, semuanya bertepuk tangan. Mereka tidak menyangka, kalau si cantik siswi pindahan tersebut pandai membuat puisi.

Kai dan Nathan tak bisa mengalihkan pandangan kepada Ana, mereka berdua kagum dan merasa semakin menyukai kehadiran gadis itu tanpa sadar.

Ana kembali turun dari atas panggung dan menghampiri kedua temannya. Jeje dan Sheila masih ternganga.

"Wah.. puisi kamu menyentuh banget. Hati mungilku ikut baper.." sahut Sheila kagum.

"Biasa aja ah." jawab Ana, malu pipinya sudah merah.

Jeje pun tak bisa berkata apa - apa, hanya bisa tepuk tangan dan tersenyum.

Nathan segera mendekati Ana dan berlagak sombong,"em.. boleh juga." celetuknya.

Ana hanya memutar bola matanya dan mengajak kedua temannya untuk mencari tempat duduk.

"Lah, kok dia malah pergi? Apa aku salah bertanya ya?" tanya Nathan pada dirinya sendiri, lalu menggaruk kepala tak gatal.

"Eh itu disana ada tempat duduk!" pekik Sheila, sambil menunjuk bangku panjang yang masih kosong.

Namun saat Ana lebih dulu melangkah maju mendekati bangku tersebut, tiba - tiba dari arah samping ada seseorang yang sedang berlarian tak melihat ada Ana.

Tubuh gadis itu mulai tak seimbang dan akan terjungkal.

Melihat Ana akan terjungkal ke belakang, Nathan segera berlari tapi..

Sret!

Kai lebih dulu menahan tubuh Ana dan tidak jadi terjungkal. Lengannya yang kuat menahan pinggang Ana, dan Ana yang masih menutup matanya pun perlahan membukanya.

"Apa aku udah jatuh? Kok nggak sakit.." matanya langsung bertemu dengan mata Kai.

Mereka menatap cukup lama, hari itu entah kenapa dada Nathan terasa sesak melihat mereka berdua sangat dekat.

Semuanya yang ada di festival bakat langsung terpaku melihat adegan Kai dan Ana saling menatap.

"Wah Kai yang dinginnya sedingin es, jadi selembut salju gini ketika ada anak baru itu." sahut salah satu siswi yang iri.

"Apa jangan - jangan, si cewek itu pakai santet?" jawab temannya siswi tersebut.

Jeje yang mendengar percakapan itu langsung berjalan menghampiri mereka dengan tatapan seperti akan menelan mereka bulat - bulat.

"Kalian bilang apa tadi? Ana pake santet? Mata kalian yang harus ditusuk sama dukun santet!" geramnya, membuat kedua siswi itu menunduk takut.

Jeje yang cuek, garang, tapi lembut, tak bisa menerima teman dekatnya diejek.

Ana langsung menjauhkan dirinya dari Kai karena semua orang terus memandangi mereka. Disisi lain Nathan yang merasa semakin panas, langsung pergi begitu saja meninggalkan acara.

Sadar dengan apa yang dilakukannya, Kai pun langsung kembali dengan wajah kalem dan cuek.

"Lain kali Hati - hati." sahutnya singkat, lalu pergi.

Ana yang masih berdiri mematung, langsung cegukan karena gugup.

"Hum.. kayaknya udah ada yang mulai tumbuh bulir - bulir cinta nih." Batin Sheila.

Jeje langsung menghampiri Ana dan disusul dengan Sheila.

"Kamu baik - baik aja, kan?" tanya mereka bersamaan.

Ana hanya mengangguk dan melihat Kai yang semakin menjauh.

"Dia menolongku, tapi kenapa rasanya aku seakan pernah ditolong sebelumnya. Ah pasti pikiran aku lagi kacau nih" batin Ana.

#Bersambung...

1
Berliana Febbyola
Iya kah? Lebih terpontang panting kalau yang iniiii🤭
NonaMudaDesi
Ceritanya mirip drakor true beauty yah, tapi ini lebih dark nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!