NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romantis / Cintamanis
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Anindia ngambek, Keanu gemas

Tepukan di kepala Anindia masih terasa. Ia langsung mundur setengah langkah, menatap Keanu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Apa sih, Mas?" Ujar Anindia cepat. "Aku gak cemburu."

Kalimat itu keluar terlalu spontan, seperti seseorang yang justru ingin meyakinkan dirinya sendiri. Anindia langsung memalingkan wajah, menghindari tatapan Keanu.

"Aku cuma heran aja," lanjut Anindia dengan nada yang lebih pelan.

Keanu mengangkat alis. "Heran kenapa?"

Anindia mendengus kecil, matanya masih tidak mau menatap Keanu. "Ya karena kamu ngobrol deket banget sama dua cewek itu. Bahkan, gak ada jaraknya."

Hening sejenak, Keanu melangkah sedikit lebih dekat. Nada suaranya tetap santai seperti biasanya. "Jadi itu yang kamu pikirin dari tadi?"

"Enggak," sahut Anindia cepat. Bibirnya manyun sedikit, lalu menggumam nyaris seperti bisikan. "Udah tau cemburu, malah ditanya."

Anindia langsung diam, seperti sadar apa yang barusan ia katakan. Matanya langsung menoleh ke samping, tapi telinganya mulai terasa panas.

Keanu terdiam sepersekian detik, lalu sudut bibirnya naik tipis. "Istri aku cemburu, nih?" Ujarnya pelan dengan nada menggoda.

Anindia menoleh cepat, matanya membulat sedikit, antara kaget dan juga kesal. "Mas!" Nada suaranya sedikit naik. "Ya, aku kan-"

Anindia menghentikan perkataannya, lalu menghela nafas pendek. "Dibilang enggak, ya enggak!" Ujarnya ketus.

"Enggak peka maksudnya," lanjut Anindia, namun tidak ada suara, melainkan gerakan bibirnya saja. Namun, Keanu tidak menyadari itu.

Keanu hanya menatap, ekspresinya masih sama tenang, bahkan cenderung menikmati. Dan, itu justru membuat Anindia semakin kesal.

"Nyebelin!"

Anindia menghentak kaki ke lantai. Tidak keras, namun cukup untuk menunjukkan kekesalannya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Tanpa menunggu respon, Anindia langsung berbalik pergi.

Keanu mengernyit, refleks menunjuk dirinya sendiri. "Lah, salah aku apa?"

Keanu menoleh ke arah Anindia yang sudah berjalan menjauh, lalu menghela nafas pelan. Tanpa pikir panjang, ia langsung melangkah mengikuti.

"Sayang," panggil Keanu dari belakang, langkahnya dipercepat sedikit agar sejajar.

Tapi, Anindia tidak berhenti. Bahkan, untuk sekedar menoleh saja pun tidak. Keanu mengusap tengkuknya, menghela nafas pelan.

"Ngambek ya?" Gumamnya pada dirinya sendiri.

Di dalam hatinya, Keanu menyadari satu hal. Anindia biasanya memang jarang cemburu, bahkan hampir tidak pernah. Dan ternyata, sekali cemburu mode ngambeknya bakal tahan lama. Setidaknya begitulah yang ia pikirkan saat ini.

Keanu berjalan di belakang Anindia, tidak terlalu dekat, seolah memberi ruang pada istrinya itu. Matanya terus mengikuti Anindia yang jelas sedang dalam mode tidak ingin berbicara.

"Dek?" Panggil Keanu lagi, kali ini lebih pelan.

Tidak ada jawaban, Anindia justru mempercepat langkah melewati koridor menuju parkiran. Begitu sampai, ia berdiri diam di samping motor Keanu.

Keanu menyusul sampai ke parkiran, langkahnya sedikit dipercepat sebelum akhirnya berhenti di dekat Anindia. Ia tidak langsung bicara, matanya mengamati wajah istrinya yang masih cemberut.

Beberapa detik berlalu dalam hening. Lalu, Keanu membuka suara, nadanya lebih lembut dari sebelumnya.

"Sayang, kamu marah, ya?"

Anindia tetap menatap ke arah lain. Rahangnya sedikit mengeras, tapi suaranya keluar pelan.

"Enggak marah," jawabnya cepat, tidak benar-benar meyakinkan.

Keanu tidak menyela, hanya mendengarkan dengan sabar. Anindia menghela nafas kecil, lalu kembali berujar.

"Tapi, jangan terlalu dekat dulu."

Kalimat itu keluar pelan, hampir seperti permintaan yang dibungkus gengsi. Keanu terdiam sejenak, lalu ia mengangguk kecil.

"Iya," ujar Keanu singkat, tanpa menggoda. "Sekarang kita pulang, ya."

Keanu tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menarik nafas pelan, sebelum akhirnya menaiki motor. Tangannya memutar kunci, mesin langsung menyala.

Anindia akhirnya ikut naik, namun tidak seperti biasanya. Ia duduk di bagian paling belakang jok, menyisakan jarak yang cukup jelas antara dirinya dan juga Keanu. Tangannya tidak langsung bergerak, hanya bertumpu di samping.

Keanu yang siap jalan sempat melirik sekilas ke arah spion. Dan langsung menyadari tingkah istrinya. Alisnya sedikit terangkat, "Seriusan sejauh itu?" Gumamnya, nyaris tak terdengar.

Keanu menghela nafas kecil, tapi tidak protes. Ia mulai melajukan motornya perlahan, keluar dari area parkiran.

Beberapa meter pertama masih aman. Sampai akhirnya Keanu kembali berbicara. Nadanya tetap lembut, tapi kali ini sedikit lebih tegas.

"Pegangan sayang," ujarnya.

Anindia terdiam. Keanu melirik lagi lewat spion. "Dek."

Tetap tidak ada respon. Motor masih melaju, jarak di antara mereka masih sama. Keanu kembali menarik nafas, kali ini lebih dalam. "Pegangan, takut jatuh."

Anindia akhirnya bergerak, tangannya terangkat pelan. Tapi, bukan ke jaket, apalagi pinggang Keanu. Melainkan helm Keanu. Ia memegang bagian belakang helm itu, seolah cukup untuk menjaga keseimbangannya.

Keanu langsung terdiam. Untuk beberapa saat ia benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Lalu, tanpa sadar sudut bibirnya naik tipis.

"Ya ampun," gumam Keanu pelan, lebih ke dirinya sendiri.

Motor itu melaju, membawa dua orang yang sama gengsi. Satu masih ngambek, sementara yang satunya lagi berusaha sabar sambil menahan senyum.

Di dalam hati, Keanu membatin. "Ini, dia lagi ngambek atau lagi nyari cara baru bikin aku gemes?"

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang aneh itu. Hanya suara mesin motor dan hembusan angin yang menemani.

Tiba-tiba, Keanu memutar gas. Tidak kencang, tapi cukup untuk membuat motor melaju lebih cepat dari sebelumnya.

Refleks, tangan Anindia langsung mencengkram helm Keanu lebih erat. Tubuhnya sedikit condong ke depan, tanpa sadar jarak di antara mereka ikut berkurang, meski hanya sedikit.

Keanu yang merasakan itu langsung tertawa lepas. Bahunya sedikit terguncang karena menahan tawa.

Anindia langsung tersadar. Tangannya yang tadi memegang helm, kini mengendur sedikit. Wajahnya otomatis memanas.

"Mas!" Protes Anindia, nadanya campuran kesal dan malu.

Keanu masih tersenyum, tidak menyesal sama sekali. "Pegangannya kenceng banget," ujarnya santai.

Anindia langsung diam, makin kesal karena merasa ketahuan. Ia mencoba menjauh lagi sedikit, menjaga jarak seperti tadi.

"Sayang," panggil Keanu ketika melirik kaca spion.

"Apaan," balas Anindia ketus, tapi lebih pelan dari sebelumnya.

Keanu menahan tawanya, lalu berkata dengan santai tapi jelas menggoda. "Malu ih, diliatin orang."

Anindia langsung membeku, matanya refleks melihat sekitar. Dan itu justru membuat Keanu kembali tertawa. Sementara Anindia, wajahnya semakin terasa panas. Ngambeknya belum hilang, tapi kini malah bertambah malu.

Keanu masih tersenyum kecil, tapi kali ini ekspresinya berubah menjadi lebih serius. Motor tetap melaju stabil. Satu tangannya perlahan di lepas dari stang, hanya sebentar untuk meraih tangan Anindia.

"Eh?" Ujar Anindia refleks, sedikit terkejut.

Belum sempat Anindia menarik tangannya, Keanu sudah menggenggamnya dengan pasti. Gerakannya tenang, sentuhannya lembut. Lalu, Keanu menari tangan itu ke depan, melingkarkan tangan Anindia di pinggangnya.

"Pegang sini," ujar Keanu, nadanya lembut tapi tidak memberi pilihan.

Anindia terpaku, tubuhnya sedikit menegang, seolah ingin protes tapi tidak jadi. Tangannya kini berada di pinggang Keanu, meski genggamannya belum sepenuhnya erat.

"Helm bukan buat pegangan," lanjut Keanu pelan. "Bahaya."

Anindia menunduk sedikit, tidak terlihat dari depan. Wajahnya masih panas, bukan hanya karena malu, melainkan juga salah tingkah.

Beberapa saat ia diam, hingga akhirnya genggamannya perlahan menguat. Keanu merasakannya, sudut bibirnya kembali terangkat, lebih lembut.

Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Anindia lagi-lagi menunduk, menyembunyikan wajahnya yang masih menyisakan sisa-sisa kesal dan malu.

Sementara Keanu fokus mengendarai, tatapannya sesekali melirik ke arah spion. Bukan melirik jalan, tapi orang yang berada di belakangnya.

Tidak ada yang berbicara, tapi suasana tidak lagi se-tegang tadi. Ada sesuatu yang berubah, perlahan-lahan mulai mencair.

Beberapa menit melaju di jalanan, akhirnya Keanu memperlambat laju motornya ketika memasuki deretan perumahan. Motornya berbelok, masuk ke halaman rumah dan berhenti tepat di depan teras.

Mesin dimatikan, keduanya turun. Anindia dan Keanu langsung melangkah masuk ke dalam rumah. Tidak ada suara Shaka, tidak ada juga suara ibu Keanu di ruang tengah. Jelas, terasa sunyi.

Keanu melirik sekilas ke arah belakang rumah. "Mungkin di taman belakang," ujarnya pada dirinya sendiri.

Anindia langsung berjalan menaiki tangga menuju kamar. Di belakangnya, Keanu langsung menyusul. Begitu masuk ke dalam kamar, Anindia langsung berbalik.

"Mas, aku tuh," kalimatnya langsung mengalir tanpa basa-basi, seolah sedang mengungkapkan kekesalannya saat ini.

"Aku tuh gak suka ya, liat kamu tadi. Ngobrol dekat banget, terus dikasih nomor lagi. Aku tau kamu bilang itu bukan nomor kamu, tapi tetap aja bikin bete."

Anindia menghela nafas sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya. "Padahal aku di situ juga. Masa iya sih, kamu bakal mikir aku enggak liat. Terus cara mereka ngomong juga kayak sengaja ngedeketin kamu. Ntar kalo kamu kecantol gimana?"

Keanu tidak menyela, hanya berdiri di depannya. Ia memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut istrinya itu.

Anindia masih terus berbicara, mengeluarkan semua uneg-unegnya. "Dan kamu juga santai banget ngomongnya. 'Boleh', gitu doang jawabnya. Ya aku kesal lah Mas, aku tuh-"

Kalimat Anindia terpotong, bukan karena kehabisan kata. Tapi karena Keanu tiba-tiba menariknya sedikit lebih dekat, lalu mengecup bibirnya singkat. Semua kata yang tadi berdesakan di kepala Anindia langsung hilang begitu saja. Ia membeku di tempat, matanya membulat, jelas tidak menyangka.

Keanu mundur sedikit, menatap wajah Anindia. Sudut bibirnya terangkat jelas, ada rasa gemas yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Udah ngomelnya?" Tanya Keanu santai.

Anindia terdiam beberapa saat. Wajahnya perlahan memanas. "Mas! Aku lagi ngomong juga," protesnya, nadanya jauh lebih lemah dari sebelumnya.

Keanu terkekeh pelan, "Dari tadi ngomel terus, aku dengerin kok." Ujarnya ringan. "Tapi kalau dilanjutin, kayaknya sampai malam juga belum selesai."

Anindia menatapnya, antara kesal dan juga salah tingkah. Tangannya refleks mendorong bahu Keanu pelan. "Tapi jangan dipotong gitu juga!"

Keanu mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. Tapi senyumnya masih terlihat jelas. "Iya-iya, lanjut aja," ujarnya santai. "Aku dengerin lagi."

"Udah males ngomel," ujar Anindia sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.

Keanu tersenyum lebih lebar. Baginya, melihat istrinya yang cemburu dan ngambek seperti ini bukan suatu hal yang menakutkan. Tapi justru membuatnya merasa gemas.

Keanu masih memperhatikan, lalu menghela nafas pelan. Kemudian ia menggeser posisinya lebih dekat. "Sayang," panggilnya lembut.

Anindia tidak langsung menoleh, "Apa?"

"Maaf ya," ujar Keanu dengan nada yang lebih pelan.

Anindia akhirnya menoleh, sedikit mengernyitkan dahi. "Maaf kenapa?"

Keanu mengangkat bahu sekilas, "Ya, maaf aja." Ia mengusap tengkuknya, sedikit canggung. "Aku juga sebenarnya gak yakin salah aku dimana. Tapi kalau itu bikin kamu enggak nyaman ya aku minta maaf," lanjutnya jujur.

Anindia menatap Keanu cukup lama. Ekspresi kesalnya masih ada, tapi perlahan mulai melunak. "Kamu tuh ya, Mas," gumamnya.

Keanu menatap balik, kali ini lebih serius. "Aku gak ada niat bikin kamu kepikiran," ujarnya. "Tadinya cuma pengen cepat selesai, terus pulang."

Anindia menunduk sedikit, jemarinya memainkan ujung bajunya. "Aku tau," ujarnya. "Cuma aku gak suka aja liatnya."

"Iya, aku ngerti," ujar Keanu. Lalu, ia mencondongkan tubuhnya, berusaha menangkap tatapan Anindia lagi. "Nanti aku lebih jaga jarak."

Anindia tidak langsung menjawab. Tapi, kali ini ia tidak lagi menghindar. Keanu memperhatikan itu, sudut bibirnya kembali naik.

"Jadi, masih jangan deket dulu?" Ujar Keanu santai.

"Enggak tau," jawab Anindia, nadanya tidak se-kesal tadi.

Keanu terkekeh kecil, tanpa diduga ia merentangkan kedua tangannya lebar. "Mau peluk?"

Wajah Anindia sudah memerah sejak tadi, kini justru semakin jelas. Matanya melirik sekilas ke arah Keanu, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan. "Apa sih, Mas?" Ujarnya.

"Katanya gak marah," ujar Keanu menggoda. "Harusnya gak gengsi dong."

Anindia mendengus kecil. Sisa kesalnya masih ada, tapi entah kenapa tidak sekuat tadi. Kini justru terasa lebih canggung.

"Nyebelin," ujar Anindia, namun langkahnya berjalan mendekat.

Awalnya pelan dan ragu-ragu, tapi pada akhirnya Anindia benar-benar masuk ke dalam pelukan itu. Keanu menurunkan tangannya, memeluk Anindia dengan hangat. Satu tangannya mengusap pelan punggung Anindia.

"Masih marah?" Tanya Keanu lembut.

Anindia menggeleng singkat, wajahnya bersembunyi di dada bidang Keanu. "Enggak," jawabnya singkat. Lalu, dengan suara yang nyaris seperti bisikan, ia menambahkan. "Tapi kesel."

Keanu tertawa kecil, dagunya menyentuh pucuk kepala Anindia. "Iya-iya, kesel ya?" Ujarnya, menahan senyum. "Yang penting peluk dulu."

Anindia tidak membalas, tapi genggamannya sedikit menguat. Keanu merasakan pelukan itu, meski tidak ada kata yang keluar lagi dari mulut Anindia.

"Besok, kalau ada yang minta nomor lagi," ujar Keanu di sela-sela keheningan. "Aku kasih nomor kamu aja, ya?"

Anindia langsung bergerak sedikit, wajahnya terangkat menatap Keanu dengan perasaan yang campur aduk. "Kok gitu?"

Keanu tertawa, tangannya membelai rambut Anindia. "Biar mereka langsung tau, yang punya siapa."

Anindia mendengus kecil, tangannya masih di pinggang Keanu, seolah enggan melepaskan. "Udah, sana mandi." Ujarnya, mengalihkan pembicaraan.

"Iya bawel," ujar Keanu santai.

Di dalam kamar itu tidak ada lagi ketegangan. Yang tersisa hanya kehangatan yang sederhana, dari dua orang yang masih belajar, tapi selalu kembali satu sama lain.

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!