Warning!!
***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.
Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.
Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.
Pernikahannya bukan tentang cinta.
Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.
Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.
Suaminya.
Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.
Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.
***
“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.
Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”
Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.
Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17.
0o0__0o0
Ruang tengah kembali sunyi.
Langkah Rison sudah lama menghilang. Mawar pun tak lagi di sana. Yang tersisa… hanya Margaret.
Wanita itu masih duduk di sofa. Majalah terbuka di tangan-nya, namun sejak tadi tak ada satu halaman pun yang benar-benar ia baca.
Tatapan-nya kosong. Lalu perlahan… berubah. Tangan-nya mencengkeram tepi majalah itu sedikit lebih kuat.
“Semakin hari dia semakin tak peduli padaku ?” ucapnya pelan, mengingat perdebatan dengan Rison tadi.
Bibirnya menegang.
Matanya menyipit.
“Apa dia punya wanita lain di luar sana ?” gumam-nya, kini mulai dipenuhi nada curiga.
Margaret mengingat kembali setiap detail kecil.
Nada suara Rison.
Tatapan dingin-nya.
Cara pria itu bersikap… tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Dan yang paling mengganggu... Cara suami'nya begitu saja… menolak keinginan-nya.
Margaret mendengus pelan. Kepalanya menoleh ke arah tangga, seolah bisa melihat bayangan Rison di lantai atas.
“Ada yang salah dengan ku ?” bisiknya sinis. “Atau… memang dia sudah bosan dengan aku yang semakin menua ?”
Pertanyaan itu tidak lagi terdengar rapuh.
Melainkan tajam.
Berapi-api.
Brak!
Margaret meletakkan majalah itu di meja dengan sedikit keras.
“Jangan-jangan…” napasnya tertahan sesaat. Pikiran-nya mulai bergerak ke arah yang tidak ia sukai, namun sulit di hentikan.“…benar dugaan ku selama ini.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Berat.
Margaret langsung menggeleng.
“Tidak mungkin,” bantahnya cepat. Namun suaranya tidak seyakini itu. Tangan-nya terlipat di dada. Jari-jarinya mengetuk pelan, gelisah. “Rison tidak seperti itu…”
Tapi ingatan lain menyusul.
Perubahan sikap.
Nada bicara.
Dan jarak yang semakin terasa.
Matanya perlahan mengeras.
“Kalau pun…” gumamnya lirih, kini lebih dingin, “kalau pun benar…”
Senyum-nya muncul.
Tipis.
Namun tidak lagi hangat.
“Siapa pun itu… yang berani sekali mengambil sesuatu yang sudah jadi milikku. Aku akan hancurkan tanpa sisa.”
Tatapan-nya kini tajam, penuh klaim. Bukan sekadar cemburu. Tapi kepemilikan.
Margaret bangkit dari duduknya dengan anggun. Ia merapikan bajunya, mengangkat dagu sedikit lebih tinggi. Harga dirinya tidak akan membiarkan ia kalah.
“Baik, Pa…” bisiknya pelan, nyaris seperti janji. “Kalau kamu mulai berubah…” Ia melangkah perlahan menuju arah tangga.“…Mama juga tahu bagaimana cara membuat mu kembali melihat ke arah yang benar.”
Langkah-nya berhenti sejenak. Matanya melirik ke arah tempat Rison tadi berdiri.
Senyum-nya kembali muncul.
Lebih tipis.
Lebih berbahaya.
“Dan kalau ada yang mencoba masuk atau bahkan mengusik rumah tangga ku…” tambahnya lirih. “…Mama akan pastikan dia menyesal pernah terlahir ke dunia.”
0o0__0o0
Di dalam kamar.
Rison berdiri sejenak di dalam ruangan itu.
Sunyi.
Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar.
Tangan-nya terangkat, merapikan kerah kemeja yang tadi sempat di sentuh Mawar.
Gerakan kecil.
Namun terasa berbeda.
Ia melangkah masuk lebih dalam, duduk di tepi ranjang. Pandangan-nya lurus ke depan… tapi pikiran-nya tidak.
Justru terlalu penuh.
Bayangan tadi kembali.
Cara Mawar mengambil tasnya. Cara wanita itu melepaskan jasnya tanpa canggung, tanpa berlebihan.
Dan yang paling mengganggu… Perhatian kecil yang terasa tulus. Perhatikan yang tidak pernah ia dapatkan selama membina rumah tangga dengan Margaret.
Rison menghembuskan napas panjang. “Seharus-nya hal seperti itu… biasa saja,” gumam-nya pelan.
Tapi tidak.
Tidak lagi terasa biasa.
Jantung-nya berdetak kencang.
Laki-laki itu menyandarkan tubuh ke kepala ranjang, menatap langit-langit kamar. Alisnya sedikit berkerut.
Selama ini, Rison punya segalanya.
Kekuasaan.
Uang.
Status.
Namun entah sejak kapan… rumah itu terasa kosong. Hampa. Dan malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Perasaan yang berbeda.
“Mawar…” namanya terucap pelan, hampir tak sadar.
Ada jeda.
Rahangnya mengeras sedikit.
“Dia… terlalu tahu cara memperlakukan orang. Dan entah kenapa aku semakin menyukai-nya... Bahkan menginginkan perhatian itu terus terjadi.”
Rison menutup matanya sesaat. Namun alih-alih tenang, bayangan itu justru semakin jelas.
Senyum tipis.
Nada suara lembut.
Dan sikap tenang yang tidak menuntut apa-apa… tapi justru memberi rasa nyaman.
Tangan-nya mengepal perlahan. Ada sesuatu yang bergerak dalam dirinya.
Bukan sekadar ketertarikan.
Lebih dalam.
Lebih gelap.
Keinginan memiliki yang semakin menggebu-gebu. Untuk menarik sesuatu yang bukan miliknya… menjadi miliknya sendiri.
Hanya miliknya.
Matanya terbuka kembali. Tatapan-nya kini berbeda.
Lebih tajam.
Lebih berat.
“Aku merasa gila…” gumam-nya rendah. "Benar-benar tergila-gila sama menantu ku sendiri."
Namun tidak ada usaha nyata untuk menghentikan-nya. Justru sebaliknya.
Ia bangkit dari duduknya, berjalan ke jendela. Tirai sedikit di sibakkan, menatap gelapnya malam di luar.
Pantulan dirinya terlihat samar di kaca.
Dan untuk pertama kalinya, Ia menyadari sesuatu. Bahwa garis batas… mulai kabur.
Dan ia tidak yakin… apakah ia ingin menarik diri. Atau justru... melangkah lebih jauh lagi.
0o0__0o0
Keesokan paginya.
Cahaya matahari menembus jendela besar ruang tengah. Suasana terlihat tenang… terlalu tenang untuk rumah sebesar itu.
Margaret sudah duduk rapi di sofa. Penampilan-nya sempurna seperti biasa—elegan, tak bercela. Namun sorot matanya masih menyisakan sisa-sisa kekesalan semalam.
Tap!
Tap!
Tap!
Langkah kaki terdengar pelan.
Mawar datang.
Berbeda dari biasanya, perempuan itu membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam di tangan-nya.
“Selamat pagi, Ma,” sapanya lembut.
Margaret menoleh sekilas. Datar.
“Pagi.”
Tak ada senyum.
Tak ada kehangatan.
Namun Mawar seolah tidak terganggu. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti di depan meja. Kotak kecil itu di letakkan dengan hati-hati.
“Ada sesuatu yang ingin aku berikan untuk mama,” ucapnya pelan.
Alis Margaret sedikit terangkat.
“Apa itu ?” tanyanya, nada suaranya masih menjaga jarak. "Saya tidak menerima barang murahan."
Mawar membuka kotak itu.
Di dalam-nya sebuah kalung berlian. Kilauan-nya halus, elegan… dan mencolok tanpa terlihat berlebihan.
Sejenak, Margaret terdiam. Matanya menangkap kilau itu. Persis seperti yang ia inginkan semalam. Meskipun tidak sama dengan yang ada di majalah kemarin.
Tatapan-nya langsung beralih ke Mawar.
“Apa maksud-nya ini ?” tanyanya, kini lebih tajam. "Kamu ingin menyogok ku... Agar dapat restu ?"
Mawar tersenyum tipis. Bukan senyum lebar yang mencolok, melainkan lengkungan kecil di sudut bibir yang nyaris tak terbaca.
“Kalau mama menganggap-nya sogokan… berarti mama sedang merendahkan nilai dari pemberian itu sendiri,” ucapnya tenang, suaranya lembut namun berlapis makna.
Ia melangkah mendekat, matanya menatap lurus ke arah mertuanya tanpa gentar.
“Kalung itu bukan untuk membeli restu.” Jeda sejenak. “Saya hanya… mengembalikan sesuatu yang memang pantas berada di tangan mama.”
Mawar menunduk sedikit, seolah hormat—namun sorot matanya tetap tajam, tersembunyi di balik bulu mata.
“Saya tahu posisi saya di rumah ini belum sepenuh-nya di terima.” lanjutnya halus. “Dan saya juga tidak sebodoh itu untuk berpikir bahwa sebuah kalung bisa mengubah segalanya.”
Ia tersenyum lagi. Kali ini lebih dalam, lebih sulit di tebak.
“Tapi saya percaya… kesan pertama yang tepat, bisa membuka pintu yang selama ini tertutup rapat.”
Tangan-nya terlipat anggun di depan tubuhnya.
“Anggap saja ini… bukan usaha untuk mendapatkan restu,” bisiknya pelan, nyaris seperti rahasia, “melainkan langkah kecil… agar mama mulai melihat aku, bukan sebagai ancaman.”
Seketika, suasana terasa berubah.
Karena di balik tutur katanya yang halus, terselip sesuatu yang lebih tajam.
Ambisi.
Dan permainan yang baru saja di mulai.
0o0__0o0
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣