NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Permintaan Daren agar ayahnya merahasiakan semuanya dari sang ibu—Nyonya Maya Safitri—ternyata berbuah kejutan besar. Daren benar-benar tidak menyangka bahwa selama ini ia justru telah salah menilai ibunya sendiri.

Mobil hitam keluarga Adrianata melaju mulus melewati jalan berbatu menuju desa tempat Mala tinggal. Daren yang duduk di kursi depan terlihat gelisah, memegangi kepala seolah mencoba mempersiapkan diri untuk sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Jadi… Ibu tahu semua yang terjadi?” tanya Daren tanpa menoleh.

Tuan Armand terkekeh pelan sambil memutar cincin di jarinya. “Bukan hanya tahu. Dialah orang yang memaksa ayah untuk segera datang ke sini.”

Daren memejamkan mata. “Astaga… aku kira Ibu bakal panik, marah, atau histeris. Makanya aku minta Ayah tutup mulut dulu.”

Tuan Armand menepuk bahu putranya. “Kau anak yang hebat, Ren. Tapi satu hal yang harus kau pahami… Ibu itu jauh lebih kuat dari yang kau kira. Kau pikir hanya ayahmu yang berpengalaman menghadapi masalah besar? Hm… Ibu punya caranya sendiri.”

Daren menoleh cepat. “Ayah serius?”

“Serius,” jawab Tuan Armand sambil tersenyum penuh arti. “Ibumu itu kelihatannya lembut dan santai. Tapi ingat… dialah yang dulu berani berdiri di depan ayahmu ketika musuh berusaha merusak keluarga ini.”

Daren terdiam. Selama ini ia hanya melihat ibunya sebagai wanita elegan yang mudah panik, tapi ternyata… tidak.

Di kursi belakang, Nyonya Maya Safitri tampak justru paling tenang. Wanita anggun itu sibuk memijat kedua pelipisnya sambil berkata, “Nanti kau jelaskan semuanya lagi, Ren. Tapi setelah Ibu melihat menantu Ibu dulu.”

“M-Menantu?” Daren menelan ludah, pipinya memanas. “Bu… Ibu jangan bikin Mala terkejut.”

“Terlambat, Nak. Yang harus terkejut itu kau, bukan dia.” Maya menyahut santai.

---

Gerbang rumah Mala terbuka perlahan saat mobil Adrianata berhenti. Mala, yang sedang berdiri di halaman, terdiam membeku. Rambutnya yang diikat separuh tertiup angin sore; wajahnya terlihat lelah namun tetap manis dipandang.

Daren buru-buru keluar terlebih dahulu. “Mala… maaf aku datang mendadak. Ini… rumit dijelask—”

Pintu belakang terbuka sebelum Daren selesai bicara.

Nyonya Maya turun dengan langkah mantap, tanpa sedikit pun ragu. Wajahnya langsung berbinar ketika melihat Mala.

Dan tanpa aba-aba…

BRUK!

Ia langsung memeluk Mala sangat erat hingga gadis itu hampir kehilangan napas.

“Oh ini… menantu ibu yang disembunyikan pria kaku sok berani ini!” seru Maya sambil menepuk-nepuk punggung Mala.

Daren terhenyak. Tuan Armand hanya geleng kepala sambil menahan tawa.

“M-M-Men… menantu?” Mala berkedip cepat, wajah memerah, tangan gemetar di samping tubuh Nyonya Maya.

Ia bahkan tidak sempat menegakkan badan ketika Maya menggenggam kedua pipinya. “Astaga, cantik sekali kamu! Pantas anakku jatuh cinta mati-matian sampai berlari-lari dari kantor waktu dapat telepon.”

“Bu!” Daren hampir tersedak udara.

Mala menatap Daren seolah meminta tolong, tapi laki-laki itu justru makin gugup.

“Bu… aku belum jelasin apa-apa sama M—”

“Anak-anak sekarang, masa mau pacaran diam-diam sama orang tua sendiri saja takut,” gumam Maya sambil mengibaskan tangan.

Mala semakin bingung. Wajahnya memanas, tapi ada juga rasa hangat yang merambat di dadanya. Dalam kondisi genting seperti ini, ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan sehangat ini dari ibu mertua yang bahkan belum resmi ia kenal.

Sementara itu, dari balik pintu rumah, Bapak Wira—ayah Mala—muncul dengan langkah berhati-hati. Wajahnya tampak kaku melihat tamu-tamu besar itu.

Tuan Armand melangkah maju dan langsung meraih tangan Bapak Wira dengan hormat. “Saya Armand Adrianata, ayah dari Daren.”

“Wira… ayah Nirmala.” Suaranya tegas, tapi matanya jelas sedang menilai siapa saja yang datang.

Dalam hitungan detik, suasana berubah lebih serius.

“Nirmala bilang ada bahaya mengincarnya,” ucap Tuan Armand langsung pada inti masalah. “Kami datang untuk memastikan keselamatannya.”

Bapak Wira menatap dalam, lalu mengangguk. “Terima kasih sudah peduli. Saya khawatir sejak kejadian terakhir.”

Daren menatap ayahnya, kaget bagaimana Tuan Armand bisa berubah dari ayah santai menjadi seorang pemimpin yang mengintimidasi hanya dalam satu kalimat.

Maya mencubit lengan Daren. “Kamu juga. Masa istrimu diincar orang jahat, kamu malah mau kerja sendirian?”

“Aduh, Bu…” Daren mengusap tengkuknya, salah tingkah.

Mala memandang Daren dengan mata berkaca-kaca. “A-aku… aku tidak tahu harus bagaimana. Aku takut, Ren.”

Daren langsung memegang tangannya. “Aku di sini. Sekarang keluargaku juga bersama kita.”

Mala menunduk, berusaha menahan tangis haru yang tiba-tiba menyeruak.

---

Malam itu, keluarga Adrianata duduk bersama Bapak Wira dan Mala di ruang tamu kecil yang hangat. Reyhan juga hadir, duduk rapi seperti anak sekolah yang takut dimarahi.

Tuan Armand memulai pembicaraan. “Cerita dari Daren cukup lengkap. Tapi saya ingin mendengarnya langsung dari Mala.”

Mala perlahan mengangguk, lalu mulai menceritakan semua yang ia rasakan: sosok-sosok asing yang mengawasinya, langkah kaki di malam hari, pesan ancaman samar, dan kejadian beberapa waktu lalu saat ia hampir terjebak dalam rencana Melisa.

Setiap kata yang keluar dari mulut Mala membuat rahang Tuan Armand semakin mengeras.

Sementara Maya semakin lama semakin gemas. “Anak siapa sih Melisa itu sampai berani-beraninya mengganggu menantu Ibu? Kurang ajar sekali!”

“Bu, tenang,” Daren mencoba menahan.

“Apa? Ibu sangat tenang sekarang,” bantah Maya.

Reyhan menutupi wajahnya. “Kalau ini tenang… saya gak mau lihat beliau marah.”

Akhirnya, setelah pembicaraan panjang, Tuan Armand berdiri. Suaranya berat, tegas, tak memberi ruang untuk keraguan.

“Mulai malam ini, keselamatan Mala menjadi tanggung jawab keluarga Adrianata.”

Bapak Wira mengangguk perlahan. “Terima kasih. Saya… saya tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi.”

“Tidak perlu diminta,” jawab Armand. “Mala bagian dari keluarga kami.”

Mala terpaku. Kata-kata itu terasa seperti selimut hangat yang menutupi seluruh tubuhnya.

Sementara itu, Daren memandang ayahnya dengan bangga dan lega. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian menghadapi masalah ini.

Maya akhirnya bangkit dan memeluk Mala sekali lagi. “Mulai sekarang, kamu tidak sendirian, sayang. Ada kami, ada Daren, dan Ibu janji… tidak ada yang boleh menyentuhmu.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mala merasa aman.

Benar-benar aman.

Assalamualaikum selamat pagi

Selamat membaca 🥰🥰🥰

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!